Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
Cooking is something good for hobby but it certainly can be a burden when you have to do it every day. I have learnt something by being alone in Australia that I appreciate Asti, my wife, even more for her cooking. No matter what, the show must go on and I have to cook. Buying meals everyday is undoubtedly not a financially good idea when you live in Australia. There you go, I cook. Another problem is that I am not very good at cooking. Whom do I come to when I have recipe questions? Asti is certainly one of the very first options. However, with all my respect and love to Asti, my mother sometime fits this role even better. Whenever and wherever I face cooking issue, I just dial her number and ask. She will always come with brilliant and specific answer. The good thing that I like about this ‘distance recipe’ is that my mother always says “that’s OK” whenever I said “but I don’t have that ingredient, I have only this”. With her advice, anything seems to be good enough to produce quality food.
Malam itu saya bercakap-cakap dengan Prof. Hasjim Djalal, salah seorang veteran Hukum Laut Indonesia, di sebuah hotel di Manila, Filipina. Pak Hasjim, demikian saya memanggil beliau, adalah makhluk istimewa langka yang dimiliki tidak saja oleh Indonesia tetapi juga dunia. Beliau adalah salah satu tokoh di balik United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 yang termasyur itu. TB Koh dari Singapura menyebut Konvensi itu sebagai “Constitution of the Ocean”.
Percakapan malam itu tidak menyangkut tentang Hukum Laut tetapi hal-hal lain yang lebih santai. Entah bagaimana awalnya, saya beruntung bisa mendengar beliau bercerita soal watak dan otak. Yang mengagumkan dari Pak Hasjim adalah kesediaan beliau berinteraksi hangat dengan orang-orang ‘junior’ seperti saya. Pak Hasjim adalah orang yang ‘mudah dijangkau’ meskipun sudah sedemikian ‘tinggi’ posisinya. Beliau adalah Duta Besar Indonesia untuk PBB, Canada dan Jerman, lalu menjadi Duta Besar Keliling (at large) untuk Hukum Laut. Membaca CV beliau bisa membuat orang bergetar karena kagum. Saya tentu saja sangat beruntung bisa menimba ilmu dari beliau dalam suasana yang sangat akrab di meja makan.
Jika harus ditulis dalam satu kalimat singkat, maka tulisan ini menjadi “Asti berhasil memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship untuk S2 di Australia”. Meski demikian, kita selalu tahu, bukan ujung cerita yang paling penting tetapi rangkaian cerita menju kesimpulan itu. Itulah sebabnya, seorang pembaca buku Harry Potter akan menahan diri untuk tidak buru-buru ke halaman paling belakang. Kalaupun ada teman yang sudah selesai membaca, dia akan dengan sekuat tenaga menjauhkan diri dari teman itu agar tidak jadi korban ‘spoiller’. Dengan asumsi bahwa Anda juga termasuk tipe pembaca demikian, pembaca yang mementingkan proses menuju kesimpulan, saya tulis kisah ini untuk Anda.
Entah bagaimana awalnya, saya sering menerima pertanyaan soal beasiswa, terutama Australia. Mungkin karena saya suka iseng menuliskan pengalaman, teman-teman di dunia maya sering bertanya ini dan itu. Saya menjadi konsultan beasiswa amatir. Saya gunakan istilah “amatir”, pertama karena saya memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi konsultan secara formal sehingga jawaban saya ‘seadanya’. Kedua karena memang saya tidak melakukannya untuk imbalan uang. Saya amatir dalam pengertian sesungguhnya.
Di penghujung Januari 2012, saya terbang dari Australia ke Kuala Lumpur untuk selanjutnya menuju Manila. Perjalanan terasa sangat panjang, terutama karena saya sedang kurang sehat. Sudah beberapa hari sebelumnya saya pilek agak berat. Perjalanan jauh dari Indonesia ke Australia sebelumnya membuat saya lelah. Akibatnya, pilek menyerang tanpa ampun. Perjalanan ke Kuala Lumpur ini terasa semakin lama.
Untuk melewatkan waktu, tanpa semangat saya memilih film untuk ditonton dari layar pribadi di depan tempat duduk saya. Saya memilih Midnight in Paris, yang beberapa hari sebelumnya saya dengar ramai dibicarakan. Perpaduan antara deru mesin pesawat yang lumayan kencang, pendengaran bahasa Inggris saya yang tidak sempurna dan pilek yang cukup berat membuat pemahaman saya terhadap film itu tidak memuaskan. Meski begitu ada satu hal yang saya rekam dengan baik, bahwa orang memiliki kecenderungan untuk bernostalgia. Tokoh utama dalam film itu membayangkan bahwa Paris di tahun 1920 adalah masa yang luar biasa hebat. Maka dari itu dia ingin menulis novel berlatar belakang Paris di tahun 1920, biarpun dia berasal dari masa kini.
Peristiwa ini terjadi tahun 2005, di sebuah tempat di Sydney, Australia. Hari itu saya menunggu bus untuk berangkat kerja di sebuah perusahaan pembuat kue (pastry). Jarak dari rumah ke halte bus cukup jauh sehingga saya berangkat pagi-pagi agar bisa tiba di halte sebelum bus tiba. Saya tahu, bus yang tepat untuk saya adalah nomor 357 pada jam 8.25 pagi karena saya harus mulai bekerja jam 9.00 pagi. Saat tiba di bus, saya melihat seorang kawan yang juga orang Indonesia sudah menunggu bus dengan santai. Rina, nama kawan itu. Saya sempat melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 8.15, berarti saya memiliki waktu sepuluh menit sebelum bus tiba. Lebih dari cukup, saya pikir. Sayapun menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Rina.
Dalam perjalanan dari Kaliurang menuju kota Yogyakarta, saya melihat penjual pisang dan rambutan di pinggir jalan. Dari sekian banyak, di deretan paling selatan nampak dua perempuan yang sudah tidak muda lagi menjajakan dagangannya. Seorang perempuan yang sudah layak dipanggil simbah menjual pisang emas yang kuning berkilauan. Di dekatnya duduk seorang perempuan lebih muda menjajakan rambutan. Tergoda oleh buah-buahan itu, saya berhenti tidak jauh dari mereka lalu berjalan mendekat. Asti dan Lita juga turun dari mobil, kami siap membeli pisang. Bagi saya, pisang adalah barang mewah karena harganya memang sedang mahal di Australia. Liburan di Indonesia harus dimanfaatkan untuk menikmati buah-buahan tropis yang berlimpah dan tidak mahal. Bisa dibayangkan berbinarnya saya melihat pisang yang di Australia bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu sekilonya berisi 5 atau 6 bulir saja.
Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak saya, sering mendapat tugas ngepel lantai setidaknya sekali sehari setiap sore. Inti dari ngepel lantai adalah menggosok sekuat mungkin hingga kotoran terkikis dari lantai. Jika terburu-buru karena tidak ingin melewatkan episode terayar sandiwara radio Misteri Gunung Merapi, gerakan menggosok harus cepat dan makin kuat.
Saya masih ingat ketika mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata saat berkunjung ke Washington di musim dingin 2007 silam. “Jika Anda datang ke Washington dan tidak melihat Gedung Putih, Anda akan menyesal” katanya bersemangat. Tentu saja saya ingin sekali melihat Gedung Putih, kantor Presiden Amerika itu, dari dekat. “Tapi”, katanya menambahkan, “kalau Anda sudah melihat Gedung Putih, Anda akan lebih menyesal lagi.” Semua peserta wisata spontan tertawa tanpa tahu persis maksudnya. Sayapun bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian saya sudah berdiri di dekat sebuah pagar besi, memandang sebuah gedung kecil putih di dalam pagar. Di depannya terlihat air mancur yang tidak besar. Sepintas gedung ini terlihat seperti rumah biasa, tidak begitu istimewa, sebelum saya akhirnya tahu, itu adalah Gedung Putih, alias the White House, kantornya Presiden Amerika. Tidak besar dan sederhana. Jauh dari kesen menyeramkan. Rupanya pemberitaan di TV dan terutama film Hollywood telah menciptakan citra tersendiri tentang Gedung Putih yang sedemian sangar. Dia ternyata tidak lebih dari sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sudut Kota Washington. Setidaknya begitu saya berpendapat ketika melihatnya langsung.