Cara Mendapatkan Surat Penerimaan (LoA) dari Universitas di Luar Negeri

Offer of Admission dari Uni of Wollongong

Untuk melamar beasiswa luar negeri guna meneruskan S2 atau S3, kadang diperlukan surat penerimaan dari salah satu universitas. Beasiswa ALA (Australian Leadership Awards) atau Endeavour, misalnya, mensyaratkan kandidat harus sudah diterima di sebuah universitas di Australia. Hal ini menandakan bahwa beasiswa akan diberikan hanya kepada orang yang layak secara akademik untuk meneruskan pendidikan di Australia. Dengan kata lain, penyandang dana beasiswa “ingin terima beres” bahwa orang yang diberi beasiswa pasti akan diterima untuk meneruskan pendidikan di institusi di Australia. Hal ini berbeda dengan beasiswa ADS (Australian Development Scholarship), misalnya, yang tidak mensyaratkan kandidat harus diterima di universitas di Australia terlebih dahulu.

Continue reading “Cara Mendapatkan Surat Penerimaan (LoA) dari Universitas di Luar Negeri”

Dengan Beasiswa ADS bisa nabung nggak?

Saya yakin, hampir setiap orang memiliki pertanyaan serupa tentang beasiswa luar negeri: bisa nabung nggak? Saya sering mendapatkan pertanyaan tentang ini dalam bentuk beragam. Ada yang bertanya sopan seperti “apakah selama ini jumlah beasiswa yang diberikan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang wajar di Austarlia?” Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling “bisa nabung berapa dollar sebulan?”. Saya mengerti, banyak orang penasaran tetapi semua orang punya alasan sendiri untuk memilih bertanya atau tidak bertanya. Untuk keduanya, saya bagikan pengalaman saya. Saya berikan peringatan, tulisan ini akan mengandung informasi tentang jumlah uang yang bagi sebagian orang dianggap sensitif tetapi saya rasa ini perlu dibagikan. Karena uang beasiswa ini bukan hasil kejahatan maka saya bisa sampaikan rinciannya tanpa merasa khawatir.

Continue reading “Dengan Beasiswa ADS bisa nabung nggak?”

Cinta Segitiga

Orang Bali punya pepatah, “bukit johin katon rawit” yang mirip dengan ungkapan Jawa “sawang sinawang”. Ungkapan ini kira-kira bermakna bahwa yang terlihat dari jauh kadang selalu mulus, indah dan halus. Kenyataannya belum tentu demikian. Hal ini sedang saya alami bersama keluarga.

Beberapa saat lalu kami bergembira karena Asti berhasil memenangkan beasiswa ADS yang bergengsi itu, saat ini kami dihadapkan pada situasi yang tidak satu keluargapun mengidam-idamkannya. Malam ini Asti terbang ke Bali untuk mengikuti pelatihan, saya masih berjuang di Wollongong dan Lita ditemani mbahnya sekolah di Jogja. Saat menulis ini saya melihat Asti dan Lita berkemas di Jogja lewat Skype Video Chat. Dalam kelakar saya menyebutnya sebagai “cinta segitiga: Bali, Jogja, Wollongong”. Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, rasanya tidak perlu saya kisahkan dengan kata-kata betapa tidak mudahnya ini semua. Yang muda dan belum menikahpun saya kira bisa mereka-reka. Semua orang pernah jadi seorang anak, setidaknya.

Continue reading “Cinta Segitiga”

Berbekal mimpi, keliling dunia walau tuna netra

Masih segar dalam ingatan saya saat berkenalan dengan Mas Taufiq Effendi beberapa waktu lalu. Mas Taufiq adalah penyandang tuna netra yang akhirnya bisa menunjungi berbagai negara untuk menimba ilmu dengan beasiswa. Mas Taufiq adalah bukti hidup sebuah ucapan “jangan pernah menyerah” atau “impossible is nothing” atau “the harder I work the more luck I seem to have”. Silakan baca kisahnya yang inspiratif di Motivasi Beasiswa. Saya sudah lama tidak menangis membaca sebuah tulisan, kini saya mengalaminya lagi setelah membaca kisah Mas Taufiq.

Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!

Visa Australia

Sejak sekolah di Australia, banyak teman atau saudara, terutama anak-anak muda, yang bertanya bagaimana caranya bisa ke Australia untuk bekerja. Jika saja pertanyaannya untuk liburan tentu saja tidak sulit menjawabnya. Visa turis adalah jalan keluarnya, meskipun hanya untuk tiga bulan. Untuk bekerja, urusannya tidak sesederhana itu. Umumnya, untuk bisa bekerja di Australia, seseorang harus menggunakan visa kerja atau visa pelajar. Sebagai pelajar, seseorang bisa bekerja 20 jam seminggu. Sementara itu, visa kerja biasanya bisa diperoleh jika sudah ada tawaran kerja dari perusahaan. Ini tentu saja tidak mudah. Di sisi lain, tidak banyak teman-teman dan saudara saya yang bisa datang ke Australia dengan status pelajar karena memang sangat mahal.

Mulai setahun atau dua tahun lalu, Australia mengeluarkan satu jenis visa baru yang disebut Working and Holiday Visa. Visa jenis ini berkode 462 dan selanjutnya saya sebut sebagai Visa 462. Dengan Visa 462 ini, seseorang bisa masuk ke Australia dengan tiga tujuan yaitu liburan, bekerja dan belajar pada saat yang sama. Pemegang visa 462 bisa berada di Australia selama satu tahun, bekerja pada satu perusahaan yang sama selama enam bulan dan belajar selama maksimal empat bulan. Selama setahun itu, pemegang Visa 462 bisa liburan di berbagai tempat/state di seluruh Australia.

Continue reading “Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!”

Pak Rektor yang Bersahaja

salah satu slide presentasi

Rabu tanggal 4 April 2012, ANCORS, pusat studi tempat saya belajar S3, kedatangan tamu istimewa. Vice-Chancellor atau yang kalau di Indonesia setara dengan Rektor, datang berkunjung. Selanjutnya saya akan sebut saja beliau sebagai Rektor. University of Wollongong memiliki Rektor baru bernama Paul Wellings dan dalam beberapa minggu terakhir aktif “turun ke lapangan” melihat situasi sesungguhnya. Agak berbeda dengan di Indonesia, adalah sangat biasa bagi sebuah universitas di Australia memiliki rektor yang berasal dari luar kampus. Paul sebelumnya adalah Vice-Chancellor Lancaster University. Meskipun secara hukum hal ini dimungkinkan di Indonesia, saya belum pernah tahu ada universitas negeri besar yang rektornya berasal dari luar universitas tersebut.

Continue reading “Pak Rektor yang Bersahaja”

Beasiswa ADS bagi orang awam

Tulisan ini telah dimodifikasi dan disempurnakan. Silakan lihat tulisan yang baru di sini.

PreOrder: info@indolearning.com
PreOrder: info@indolearning.com

Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri

Saya sering mendapat pertanyaan dari pejuang beasiswa luar negeri (biasanya Australia Awards Scholarship (AAS) atau dulu dikenal dengan nama ADS) yang bernada seperti ini:

“saya alumni jurusan xxx dari uiversitas yyy. Saat ini saya sedang bekerja di zzz. Jurusan apa yang kira-kira cocok untuk saya dan di universitas mana ya?”

Karena saya tidak bekerja sebagai konsultan pendidikan, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih tidak mudah lagi karena bidang ilmu si penanya sangat amat jauh dengan apa yang sedang saya pelajari. Awalnya saya senyum-senyum saja menerima pertanyaan seperti ini dan di kesempatan lain ada perasaan kurang nyaman juga. Coba dibayangkan, misalnya, ada orang yang memiliki latar belakang aktuaria (jangan khawatir, saya juga tidak tahu barang apa ini) dan tiba-tiba mengirim email pada saya dan minta nasihat jurusan dan universitas yang tepat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penanya ini tidak tahu bahwa saya adalah sarjana Teknik Geodesi yang pekerjaannya bercengkrama dengan peta dan sekali-sekali berurusan dengan perbatasan.

Continue reading “Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri”

Beasiswa ADS 2013 telah dibuka!

Kemungkinan yang ingin Anda cari adalah Beasiswa ADS 2014 karena untuk 2013 sudah tutup. Pendaftaran ADS 2014 dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013. Untuk informasi lebih lanjut silakan baca baca posting ini atau lihat halaman  Beasiswa ADS secara langsung atau silkan klik gambar berikut:

Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif

KulOn: Kulian Online 🙂

Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.

Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Continue reading “Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif”