Cincin Merah di Barat Sonne

Buku ini mengungkap sisi lain dari perburuan ilmu pengetahuan. Isinya cerdas, kocak, mengharukan dan terutama inspiratif.

(Najwa Shihab – Metro TV)

Dapatkan di Toko Buku Terdekat, atau beli secara online

http://www.andiarsana.com/cincin

Saya ingin sekali menyebut buku ini sebuah ‘Memoar Geospasial’. Entahlah, apakah dia layak disebut seperti itu. Dalam buku ini saya berkisah tentang perjalanan mengarungi Samudra Hindia untuk melakukan survey dasar laut (landas kontinen). Tentu saja di dalamnya tidak hanya soal geospasial, ada juga dimensi lain dari kehidupan seorang manusia biasa, mahasiswa, dosen, peneliti, ayah, anak, dan keluarga umumnya.

Continue reading “Cincin Merah di Barat Sonne”

Lima tahun Made Kondang

Koala

Made Kondang telah berusia lima tahun hari ini. Bagi pembaca yang kadang mengunjungi blog ini, mungkin kerap bertemu dengan Made Kondang dan mengikuti pemikiran dan keluguannya. Made Kondang saya ciptakan sebagai tokoh virtual pada tanggal 18 Januari 2005, ketika saya ada di Jakarta. Saat itu, saya berstatus sebagai mahasiwa di UNSW, Sydney dan sedang melakukan penelitian (field work) di Indonesia.

Menjadi dan berperan sebagai diri sendiri kadang membuat saya tidak mudah dalam menyampaikan gagasan. Ada saja yang membatasi dan tidak mudah untuk dijelaskan. Untuk itulah, saya menciptakan tokoh yang bisa mewakili pemikiran-pemikiran saya atau mimpi-mimpi yang tidak memerlukan terlalu banyak justifikasi. Made Kondang, lahir karena alasan dan kebutuhan itu. Dia kadang mewakili saya sendiri, meskipun lebih sering mewakili sosok imajinatif yang ada dalam angan-angan saya. Made Kondang kadang menjadi simbol gagasan, seringpula menjadi obyek penumpahann rasa senang atau tidak senang yang saya miliki. Dia kerap mewakili orang lain di sekitar saya yang menarik perhatian dan saya rasa penting untuk dibahas perilaku atau sifatnya.

Continue reading “Lima tahun Made Kondang”

Kilas Balik 2009

Purnama terakhir tahun 2009

Sepertinya baru kemarin sore saya menulis sebuah posting dengan judul yang terakhir di blog ini untuk memperingati berakhirnya tahun 2008, sekarang tiba-tiba saya sudah harus menulis sebuah ‘rekap’ untuk tahun 2009. Waktu memang cepat sekali berlalu, kadang saya tidak sempat menikmatinya, apalagi memetik pelajaran. Meski mungkin tidak banyak yang terjadi, tahun 2009 tetap layak saya catat sebagai masa yang penting dalam hidup.

Continue reading “Kilas Balik 2009”

Kaca mata minoritas

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

http://i.dailymail.co.uk

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.

Continue reading “Kaca mata minoritas”

Telur Colombus


columbus_egg
http://www.gutenberg.org

Di sebuah kamar kecil berukuran tak lebih dari 2,5 meter kali 2,5 meter, saya melihat seorang kawan sedang tertegun melihat setumpukan kertas di atas meja. Saya tidak melihat wajahnya terpesona apalagi terkesima. Dari air mukanya dan mimiknya yang hambar, saya bisa meyakini bahwa dia tidak bergitu kagum pada apa yang dilihatnya.

Mung koyo ngene iki kok bisa menang, Ndi!” demikian katanya yang kira-kira berarti tulisan jelek begini kok bisa menang! Dia baru saja menyelesaikan membaca tulisan saya yang berjudul “Menggugat Korea” yang dinyatakan sebagai salah satu pemenang lomba Essay tentang Korea bulan Oktober tahun 2000. Kawan saya ini tidak salah, tulisan saya memang tidak istimewa. Dia tidak lebih dari sekedar gumaman seorang manusia biasa yang melihat kenyataan dan kemudian menuliskannya. Tulisan itu bukanlah analisis seorang pakar, tak juga terlihat pintar dengan berbagai istilah yang sulit. Tulisan itu adalah ungkapan jujur yang sederhana, tidak lebih tidak kurang.

Continue reading “Telur Colombus”

Kuningan di Sydney

kuningan0ct09

Lihat ceritanya di balebanjar

Jalan Panjang ke Paris

slog.thestranger.com
slog.thestranger.com

Jumat malam, 9 Oktober 2009

Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.

Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.

Continue reading “Jalan Panjang ke Paris”

Sepuluh tahun mengenal dunia

Gadis itu memakai baju terusan batik berwarna merah hati, rambutnya rapi tertata, kulitnya putih bersih. Sambil tersenyum dia menawarkan handuk kecil putih yang berasap. Aku baru pertama kali melihat pemandangan ini, aku yang udik tidak pernah melihat handuk panas berkepul asap yang baru saja disodorkan kepadaku. Untuk apa benda kecil ini? Ternyata itu adalah handuk untuk membersihkan tangan dan wajah. Memang segar rasanya setelah menyapu wajah dengan handuk panas itu. Pengalaman yang sangat berkesan. Pramugari muda yang cantik itu telah memberiku kenangan yang kuat.

Continue reading “Sepuluh tahun mengenal dunia”

Menuliskan Sejarah

The Champion
The Champion

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.

“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.

Continue reading “Menuliskan Sejarah”

Bertahanlah Indonesia!

belanegarari.files.wordpress.com
belanegarari.files.wordpress.com

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.

Continue reading “Bertahanlah Indonesia!”