Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012

Musim dingin di Australia

Jika harus ditulis dalam satu kalimat singkat, maka tulisan ini menjadi “Asti berhasil memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship untuk S2 di Australia”. Meski demikian, kita selalu tahu, bukan ujung cerita yang paling penting tetapi rangkaian cerita menju kesimpulan itu. Itulah sebabnya, seorang pembaca buku Harry Potter akan menahan diri untuk tidak buru-buru ke halaman paling belakang. Kalaupun ada teman yang sudah selesai membaca, dia akan dengan sekuat tenaga menjauhkan diri dari teman itu agar tidak jadi korban ‘spoiller’. Dengan asumsi bahwa Anda juga termasuk tipe pembaca demikian, pembaca yang mementingkan proses menuju kesimpulan, saya tulis kisah ini untuk Anda.

Entah bagaimana awalnya, saya sering menerima pertanyaan soal beasiswa, terutama Australia. Mungkin karena saya suka iseng menuliskan pengalaman, teman-teman di dunia maya sering bertanya ini dan itu. Saya menjadi konsultan beasiswa amatir. Saya gunakan istilah “amatir”, pertama karena saya memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi konsultan secara formal sehingga jawaban saya ‘seadanya’. Kedua karena memang saya tidak melakukannya untuk imbalan uang. Saya amatir dalam pengertian sesungguhnya.

Continue reading “Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012”

Ketika tidak ada sinyal

Obama and his BB

Dengan smartphone yang terkoneksi dengan media sosial seperti Facebook dan Twitter, seseorang betah berada di satu tempat tetapi jiwanya melayang ke mana-mana. Tidak mudah menjumpai anak muda yang berbicara dengan orang-orang tidak dikenal saat menunggu bus di halte misalnya, karena masing-masing sibuk tersenyum dan tertawa dengan handphonenya. Tidak hanya anak muda, yang tidak terlalu muda pun melakukan hal yang sama. Saya juga kerap ada dalam situasi itu: asik berbagi lewat twitter tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar saya. Menariknya, naluri berbagi yang cukup tinggi itu justru terjadi bersamaan dengan ketidakpedulian saya pada orang-orang yang sesungguhnya secara geografis lebih dekat dengan saya pada saat itu. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama?

Continue reading “Ketika tidak ada sinyal”

Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS/AAS

taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Untuk contoh jawaban pertanyaan di bawah, silakan klik tulisan ini.

Daftar pertanyaan yang saya buat ini adalah hasil ingatan masa lalu dan prediksi berdasarkan pemahaman saya secara umum terhadap maksud dan tujuan adanya beasiswa ADS ini. Ini sama sekali bukan bocoran tetapi saya yakin seorang kandidat ADS harus bisa menjawab pertayaan-pertanyaan berikut dengan baik 🙂 Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda tambah semangat dan rajin menyiapkan diri.

Continue reading “Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS/AAS”

Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012

Jika Anda akan wawancara Beasiswa ADS tahun 2013 ini silakan baca tulisan ini.

Winter tahun 2010

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan doa yang tulus agar Anda, para pembaca sekalian, mendapat manfaat dari tulisan ini. Bagi sahabat yang akan mengikuti wawancara beasiswa ADS pada bulan Januari 2012, dengan segala ketulusan hati saya mendoakan yang terbaik. Kita semua percaya bahwa memperoleh beasiswa adalah misteri illahi tetapi kita juga yakin bahwa tidak ada hasil yang baik tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Seperti yang dipercaya Alif dalam Negeri Lima Menara, Manjadda wajadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang baik. Thomas Jefferson bernah berujar, “semakin keras saya bekerja, semakin beruntung saya merasa”. Usaha Anda membaca tulisan ini adalah manifestasi dari kesungguhan. Doa dan ikhtiar itu semoga menjadi semakin sempurna karena saya menuliskan tips kecil ini juga dengan kesungguhan.

Continue reading “Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012”

Sekali waktu, gertakan juga perlu

dipinjam dari http://www.sesawi.net/

Peristiwa ini terjadi tahun 2005, di sebuah tempat di Sydney, Australia. Hari itu saya menunggu bus untuk berangkat kerja di sebuah perusahaan pembuat kue (pastry). Jarak dari rumah ke halte bus cukup jauh sehingga saya berangkat pagi-pagi agar bisa tiba di halte sebelum bus tiba. Saya tahu, bus yang tepat untuk saya adalah nomor 357 pada jam 8.25 pagi karena saya harus mulai bekerja jam 9.00 pagi. Saat tiba di bus, saya melihat seorang kawan yang juga orang Indonesia sudah menunggu bus dengan santai. Rina, nama kawan itu. Saya sempat melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 8.15, berarti saya memiliki waktu sepuluh menit sebelum bus tiba. Lebih dari cukup, saya pikir. Sayapun menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Rina.

Continue reading “Sekali waktu, gertakan juga perlu”

Pisang dan rambutan

Dipinjam dari http://blog.baliwww.com/

Dalam perjalanan dari Kaliurang menuju kota Yogyakarta, saya melihat penjual pisang dan rambutan di pinggir jalan. Dari sekian banyak, di deretan paling selatan nampak dua perempuan yang sudah tidak muda lagi menjajakan dagangannya. Seorang perempuan yang sudah layak dipanggil simbah menjual pisang emas yang kuning berkilauan. Di dekatnya duduk seorang perempuan lebih muda menjajakan rambutan. Tergoda oleh buah-buahan itu, saya berhenti tidak jauh dari mereka lalu berjalan mendekat. Asti dan Lita juga turun dari mobil, kami siap membeli pisang. Bagi saya, pisang adalah barang mewah karena harganya memang sedang mahal di Australia. Liburan di Indonesia harus dimanfaatkan untuk menikmati buah-buahan tropis yang berlimpah dan tidak mahal. Bisa dibayangkan berbinarnya saya melihat pisang yang di Australia bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu sekilonya berisi 5 atau 6 bulir saja.

Continue reading “Pisang dan rambutan”

Parkir

Genjo megadakan reuni, temu kangen dengan teman-temannya sesama lulusan luar negeri. Belum lengkap satu bulan mereka di tanah air, kerinduan sudah memuncak dan mereka memutuskan untuk mengadakan reuni. Isinya sederhana saja, kangen-kangenan sambil mengenang segala kehebatan luar negeri.

Continue reading “Parkir”

Kebaikan kecil

Saya pernah membaca sebuah artikel di pertengahan tahun 1990an yang cukup menarik. Menurut artikel itu, orang sering merasa kagum dan bahkan terkesima kepada orang yang jujur, misalnya jika orang itu mengembalikan sebuah dompet yang ditemukannya di jalan. Yang menarik, artikel itu menganggap tindakan mengagumi itu sesungguhnya perwujudan dari kerusakan moral yang terjadi di masyarakat. Lebih jauh artikel itu membahas bahwa berbuat kebaikan seperti itu adalah sebuah keharusan karena diwajibkan agama, dibenarkan norma dan bahkan dianjurkan hukum. Singkatnya, mengembalikan dompet yang tertinggal kepada pemiliknya tidak lebih dari sekedar melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini tidak berbeda dengan makan atau sikat gigi. Perlukah orang dikagumi atau dipuji-puji berlebihan gara-gara rajin makan atau sikat gigi? Anak muda sekarang mungkin bilang “biasa aja kaleee”.

Continue reading “Kebaikan kecil”

Vacuum Cleaner dan Mop

vacuum cleaner

Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak saya, sering mendapat tugas ngepel lantai setidaknya sekali sehari setiap sore. Inti dari ngepel lantai adalah menggosok sekuat mungkin hingga kotoran terkikis dari lantai. Jika terburu-buru karena tidak ingin melewatkan episode terayar sandiwara radio Misteri Gunung Merapi, gerakan menggosok harus cepat dan makin kuat.

Continue reading “Vacuum Cleaner dan Mop”

Pengemis cantik

Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.

Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “Do you have 2 dollars and fifty cents please?” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.

Continue reading “Pengemis cantik”