Makrab di Pantai Drini dengan @Geodeleven @Geodesiugm
Saya pernah ikut makrab, malam keakraban, dengan sekelompok mahasiswa di Teknik Geodesi UGM. Terasa istimewa karena itu bukan hal yang biasa dilakukan dosen dosen di tempat kami bekerja. Saya menikmati suara ombak yang menjadi latar suasana malam itu. Kawan kawan mahasiswa menyiapkan sebuah acara malam yang memikat. Api unggun di tengah menghangatkan suasana dan celoteh anak anak muda tanpa henti melambungkan ingatan saya ke beberapa belas tahun silam saat menjadi mahasiswa. Kini hadir di tengah tengah mereka sebagai dosen, ada rasa yang berbeda. Ada pemahaman baru saat melihat anak anak muda itu bercengkrama, bergurau dan saling cela satu sama lain dengan akrabnya. Yang penting, ada makna baru yang tidak bisa didapatkan dengan tatap muka di ruang kelas.
While writing the thesis as a whole was challenging, this acknowledgement part is the one I wrote nervously for there are too many parties I owe thanks to in the completion of this journey. First and foremost I sincerely thank my wife, Asti, for her enduring support that I can never describe in words. I understand that Asti’s decision to support my academic journey and put her career second is one of the toughest decisions she has ever made. I also thank my daughter, Lita, for her amazing support for behaving well during my absence due to the study. For both Asti and Lita, I dedicate this work. They are the reason I am.
Clive Schofield is the one who introduced me to this fascinating world of maritime boundaries. Clive, you are more than a good supervisor to me. Thank you for unlocking so many doors of opportunities by introducing me to many great scholars in this field. I felt welcome and it makes this journey enjoyable. I have enjoyed making maps for you and thank you for providing space for me to further develop my professional cartographic career to introduce the power of maps to a global audience. I also acknowledge Prof. Martin Tsamenyi for his support along the way. Martin, you have directly and indirectly taught me the way to communicate complicated issues such as maritime boundaries in a manner that is understandable by a non-expert audience.
Ada yang berbeda di Keraton Yogyakarta tanggal 5-7 Juli 2014. Sejumlah orang datang dengan seperangkat alat yang tidak lazim terlihat di Keraton: Terrestrial Laser Scanner (TLS). Alat ini bisa memancarkan sinar laser untuk merekam obyek bangunan dengan akurat dan mewujudkannya dalam bentuk digital tiga dimensi. Adalah Jurusan Teknik Geodesi UGM bekerjasama dengan alumni di PT. Lidar Indonesia dan PT. Leica Geosystem yang mewujudkan gagasan itu. Para surveyor itu melakukan pengabdian masyarakat dalam rangka Dies Teknik Geodesi UGM ke-55.
Jogja istimewa, kita semua tahu. Keraton adalah salah satu tanda keistmimewaan yang penting bagi Jogja. Bangunan Keraton, seperti halnya bangunan lain, sesungguhnya terancam keberadaannya oleh kondisi alam, polusi, bencana, peperangan dan kurangnya perawatan. Bangunan bersejarah ini dengan mudah bisa punah jika tidak dijaga. Yang lebih penting, renovasi dan rekonstruksi bangunan bersejarah ini juga tidak mudah dilakukan jika tidak atau belum pernah dilakukan dokumentasi yang sistematis dan akurat. Sebagai contoh, bagaimana mungkin Keraton bisa dibangun kembali sesuai bentuk aslinya jika dokumentasi teknis terhadap bentuk aslinya tidak pernah ada?
Agar tidak mengalami nasib yang sama seperti banyak tinggalan peradaban lainnya, pemeliharaan terhadap Keraton Yogyakarta mutlak diperlukan. Pemeliharaan ini dapat dilakukan dengan pendokumentasian yang berfungsi untuk konservasi. Konservasi Keraton Yogyakarta membutuhkan tingkat ketelitian dan kerincian yang tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan sains, khususnya bidang ilmu keteknikan.
Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”
Sudah jadi tradisi, kami bercerita tentang apa saja. Jangankan untuk hal hal penting, kisah serial MacGyver di tahun 1990an saja saya ceritakan setiap hari Jumat malam pada Ibu saya, meskipun mungkin beliau tidak tertarik. Setiap selesai nonton serial itu dari TV tetangga, saya akan bangunkan ibu untuk menceritakan kisahnya. Tradisi itu yang melekat dan berjalan terus hingga sekarang.
“Sebenarnya apa yang terjadi” demikian Ibu saya bertanya ketika menyimak kedua calon presiden menyatakan kemenangannya. Tentu saja beliau tidak sendiri. Sebagian masyarakat yang tidak memahami politik secara mendalam tentu akan bingung dengan perilaku calon presiden kita. Saya kemudian mengatur strategi untuk menjawab pertanyaan Ibu saya. Hal pertama yang mengkhawatirkan adalah pengetahuan formal saya terhadap pemilu yang mungkin tidak mumpuni karena saya memag tidak mempelajarinya secara resmi. Kedua, Ibu saya hanya lulus SD di tahun 1960an dan bukan pembaca buku atau koran. Perlu penggunaan bahasa yang sederhana agar beliau paham dengan gamblang.