Dua perintah berbeda

Jam 10.37 malam

Andi, mop the floor please! Use the pink chemical and only hot water. We have to make sure all part of the floor is clean and properly moped. You cannot go home until you finish the moping, OK.” Seorang gadis Thailand berdiri di pintu memandang ke arahku yang bergegas mengambil ember dan alat pel tergantung di pintu.

Jam 11.42 malam

Hi, Andi! I am in SING at the moment, still preparing the lecture for tomorrow. Could you please make a small amendment to the slides that you made for me? I want you to generate another equidistance line between MR and INA’s PBt by ignoring SL. We will see then that the line lies to the south of SL so that it can be justifiable that MY may use SL as its basepoint. If you can make the amendment, please email it to me before the lecture tomorrow morning. Thank you very much.

Continue reading “Dua perintah berbeda”

Tips menulis (sebuah percakapan di bandara)

Misteri IELTS
Misteri IELTS

Pembicaraan atau pelajaran penting memang tidak harus selalu terjadi di ruang kelas. Seperti kata orang bijaksana, membaca pun tidak salalu berarti membaca buku, duduk diam di meja belajar dan tidak mau diganggu. Membaca yang sesungguhnya justru adalah membaca tanda-tanda jaman, katanya.

Pagi ini saya mengantar seorang kawan baik yang akan meninggalkan Australia untuk kembali ke tanah air karena sudah menyelesaikan tugasnya. “Mungkin aku akan kembali dan sekolah di sini. Sekarang mau belajar IELTS dulu”, katanya setengah berkelakar. “Eh, ada tips gak, gimana caranya mendapatkan skor IELTS yang tinggi, terutama untuk menulis?” tiba-tiba kawan saya ini bertanya agak serius. Pertanyaan seperti ini sebenarnya sangat usang, saya sudah dengar ribuan kali. Entah berapa orang sudah menanyakan ini di milis beasiswa, misalnya atau ketika saya dikarantina di Jakarta 5 tahun lalu.

Continue reading “Tips menulis (sebuah percakapan di bandara)”

Gubernur Bali

Sang Gubernur
Sang Gubernur

Saya tidak memiliki ketertarikan politik yang tinggi. Meskipun beberapa kawan saya adalah penggiat politik dan tahu persis percaturan politik Bali, tanah kelahiran saya, tetap saja saya bukanlah penyimak aktif. Saya memang mendengar bahwa Mangku Pastika adalah salah satu kandidat kuat. Itu saja. Selebihnya tidak banyak yang saya pahami.

Di luar urusan politik, saya mengagumi Mangku Pastika sebagai orang yang pintar dan berkaliber Internasional. Tidak mengecewakan memang kalau akhirnya Mangku terpilih sebagai Gubernur Bali untuk periode lima tahun ke depan. Meski demikian, saya tidak merasa perlu ikut pesta lawar atas kemenangan ini. Bukan karena saya anti pesta, semata-mata karena tidak merasa terlibat secara emosi dengan proses pilkada. Satu syukur yang perlu saya panjatkan adalah karena pilkada Bali berjalan lancar tanpa kerusuhan yang tak perlu.

Continue reading “Gubernur Bali”

Kebaikan sederhana

Saya adalah pencinta film, terutama yang patriotik. Saya mungkin sudah menonton film “a few good men” belasan kali dan menghafalkan dengan sempurna pidato Presiden Amerika di “Independence day” atau pembelaan memikat Endrew Shepherd di “The American President” Dari film saya belajar banyak hal, tidak saja hal besar, juga hal kecil. Khusus untuk “a few good men”, film ini, entah mengapa, selalu mengingatkan saya akan kebaikan-kebaikan yang sederhana yang dilakukan oleh sedikit orang di muka bumi.

Continue reading “Kebaikan sederhana”

Desak Made Sukri: Rest In Peace

Desak Made Sukri, meninggal di usianya yang sekitar 80 tahun. Memang tidak seorangpun mengetahui usianya yang sesungguhnya. Nenek tua ini memang lahir di suatu masa saat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti dan merasa perlu tentang makna penanggalan masehi. Begitulan jaman itu, saat ‘tegak oton’ menjadi cukup untuk mengenal kelahiran seorang manusia.

Setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan psikis agak lama, Desak Made Sukri menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008 pukul 5.42 WITA di rumah kediamannya yang tenang di Desa Tegaljadi, Tabanan, Bali. Tidak banyak yang dipesankannya saat kepergiannya karena beliau memang sudah tidak mampu berbicara sejak beberapa lama. Kepergiannya yang tenang di pagi yang sepi rupanya sudah diantisipasi oleh semua kerabat, terutama anak, menantu, cucu dan cicitnya. Tidak ada yang terlalu terkejut, pun tidak merasa perlu menangis. Bukan karena kepergian sang tua diharapkan kerabatnya, semata-mata karena semuanya bersepakat bahwa dharma bhaktinya telah paripurna.

Continue reading “Desak Made Sukri: Rest In Peace”

Berandalan itu buang sampah pada tempatnya

Pagi yang dingin, kami bertiga baru saja turun dari kereta yang membawa kami dari Wollongong ke Sydney. Suasana Sydney tentu saja lebih semarak dibandingkan Wollongong yang dingin. Sydney memang lebih happening kata temenku. Orang lalu lalang, kendaraan berisik, gedung tinggi, burung dara beterbangan, semuanya menambah suasana menjadi lebih hidup. Railway Square masih seperti dulu ketika kami tinggalkan dua tahun lalu.

Ini perjalanan keluarga pertama berlibur ke Sydney, Ode berjanji akan menjemput di Quay Street. Aku Asti dan Lita bergegas menuju Basement Book di lorong bawah tanah sambil menunggu saatnya ketemu Ode. Basement Book berada di bawah bus stop di Railway Square dan menjual berbagai buku. Ada yang bekas dan sangat murah, yang baru juga banyak. Sambil lalu aku menggamit sebuah novel merah, hanya $1. Meskipun belum yakin akan isisnya, nampaknya $1 terlalu sayang untuk dilewatkan.

Continue reading “Berandalan itu buang sampah pada tempatnya”

Sebatang sere = 18 ribu rupiah

Kekhawatiran akan kesulitan mendapatkan makanan Indonesia selama di Australia memang tidak ada. Kalau tinggal di Mebourne, Brisbane, Adelaide, Sydney atau Wollongong, semuanya beres. Di setiap kota tersebut, toko makanan Asia mudah sekali dijumpai. Satu-satunya isu yang sering menjadi masalah adalah harga.

Aku yang gemar sekali makan sambel matah berbahan sere, kerap menjumpai masalah ini. Sere, yang dalam bahasa inggris disebut lemon grass, memang mahal sekali di sini. Oh ya, in case ada yang tidak tahu, sere terdiri dari dua suku kata. Suku kata pertama adalah se diucapkan seperti pada kata serentak, sedangkan suku kata kedua yaitu re diucapkan seperti pada kata mereka sehingga pengucapannya menjadi seré. Ini merupakan sejenis rumput yang dalam bahasa latin disebut Cymbopogon citratus. Bagian ini jujur saja diinspirasi oleh Laskar Pelanginya Andrea Hirata yang selalu menuliskan nama latin tumbuhan yang dibicarakannya.

Continue reading “Sebatang sere = 18 ribu rupiah”

Di Australia makan nasi juga?

Masih terngiang percakapan terakhir di desa sebelum keberangkatan ke Australia. Malam setelah meninggalnya Mangku Kompyang, kerabat banjar berkumpul melek seperti layaknya tradisi yang bejalan entah sudah berapa lamanya. Orang selalu berkerumun di manapun aku berada, mereka ingin mendengar cerita luar negeri. Wayan Koncong, salah seorang sahabat lama, bertanya ”di Australi ada beras nggak?” Belum lagi sempat aku menjawab, Mangku Ngurah yang memang terkenal vocal memotongnya ”Nasi? yang bener aja. Australi kan gak makan nasi. Orang makan roti di sana. Namanya juga luar negeri. Itupun bahannya gandum.” Aku sendiri tersenyum saja mendengar perdebatan keduanya. Keduanya antusias, keduanya tidak pernah ke luar negeri dan keduanya hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP. Menurut buku geografi kita jaman dulu yang diterbitkan oleh PT Intan Pariwara atu Ganesha Ecaxt Bandung, orang Australia memang makan gandum. Memang buku SD atau SMP kita gemar sekali menjeneralisasi 🙂

Continue reading “Di Australia makan nasi juga?”

Seks bebas

Made Suama, sebut saja begitu yang tentunya bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sedikit kawan kecilku yang gaul pada jamannya. Suama adalah satu-satunya siswa SMP di kelas yang mengendari motor ke sekolah. Selain itu, dia selalu memiliki cerita yang seru untuk teman-temannya. “Di luar negeri, remaja itu menganut seks bebas lo”, katanya suatu hari memulai ceritanya. Kontan saja semua teman mengerubunginya, termasuk aku yang masih malu-malu kucing. “Kondom dibagikan gratis untuk remaja sehingga mereka bisa menggunakannya kapan saja”, Suama menambahkan. Ceritanya berlangsung lama dan sangat seru dengan beberapa hal detail yang hanya bisa kami banyangkan. Singkat cerita, Suama berhasil membuat kami membayangkan betapa beringasnya perilaku remaja luar negeri. Mereka tentu akan melakukan hubungan seks kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja yang mereka inginkan. Kami hanya bisa menduga-duga bagaimana rasanya menjalani kehidupan seperti itu.

Continue reading “Seks bebas”

Murah senyum

Ketika bersekolah SD di desa pertengahan ’80an dulu, sangat mudah mendapatkan informasi dari guru bahwa Indonesia adalah bangsa yang sopan santun, ramah dan penuh toleransi. Terlebih sebagai orang desa, Ibu Guru waktu itu dengan sukses meyakinkan bahwa orang desa lebih baik karena mengenal tetangga dengan baik, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di kota besar. Anggapan seperti ini cukup lama saya pegang dan percayai. Indonesia mungkin memang adalah bangsa yang santun dan baik hati, penuh toleransi.

Continue reading “Murah senyum”