Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.
Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.







