Love Cartography

Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.

Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

Continue reading “Love Cartography”

Friday the 13th

Jalan Panjang ke Paris

slog.thestranger.com
slog.thestranger.com

Jumat malam, 9 Oktober 2009

Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.

Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.

Continue reading “Jalan Panjang ke Paris”

Selamat Galungan & Kuningan

galungan

Menuliskan Sejarah

The Champion
The Champion

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.

“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.

Continue reading “Menuliskan Sejarah”

Bertahanlah Indonesia!

belanegarari.files.wordpress.com
belanegarari.files.wordpress.com

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.

Continue reading “Bertahanlah Indonesia!”

Selamat Ulang Tahun Lita

litamorfosis

Hari ini Lita berusia empat tahun. Usia saat mana makhluk manusia sedang menunjukkan apa yang orang Bali sebut sebagai guna. Sedeng meguna, demikian katanya. Lucunya sangat, cantiknya bernilai, senyumnya meluluhkan hati yang penuh amarah. Demikianlah anak di usia empat tahun. Begitulah anak yang sedeng meguna.

Continue reading “Selamat Ulang Tahun Lita”

Wanita lain [4]

naughtyHubungan kami sesungguhnya sudah lama. Tidak saja kami berpelukan dan berciuman serta berinteraksi fisik lainnya, ada emosi yang terlibat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin itu. Cinta yang kata orang tak bersyarat.

Ketika Asti tidak ada, aku memanjakannya. Aku jadikan diriku budak atas gagasan-gagasan nakalnya yang liar. Hari Jumat, kami menjadi penguasa rumah karena Asti tidak ada. Dapur, kamar mandi, kamar dan ruang tamu menjadi ajang eksplorasi kreativitas dan kenakalannya. [bersambung]

Tujuh September


fineartamerica.com
fineartamerica.com

Kadang orang bisa kehabisan kata untuk menuturkan sesuatu yang sesungguhnya hebat tetapi terjadi berulang-ulang dan menjadi rutinitas. Di saat Tukul muncul dengan gaya khasnya di Empat Mata, hampir semua orang berbicara tentangnya. Saat stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan Empat Mata setiap hari, lambat laun orang menjadi kehilangan gairahnya. Hampir tidak ada lagi kejutan, hampir tidak ada lagi sesuatu yang baru, meskipun sebenarnya Tukul tetaplah lucu. Sesuatu yang menjadi rutinitas kadang bisa menimbulkan kebosanan, betapapun hebatnya.

Tujuh September tahun ini tepat duabelas tahun lalu saya bertemu Asti untuk pertama kalinya. Sebagai anak muda yang dilanda cinta ketika itu kami biasa memperingati hari penting ini bahkan hampir setiap bulan 🙂 Kini, ketika cinta beranjak dewasa, saat pelukan bukan lagi sesuatu yang layak disembunyikan dan saat bercinta bukan lagi sebuah larangan, kadang kami lupa. Lupa dengan gairah lama, karena rutinitas yang mendesak. Mungkin terlalu sedikit waktu tersedia untuk saling memuji, cinta dan kemesraan juga diinvasi oleh kewajiban-kewajiban teknis memandikan Lita, menyuapi makannya, mengantar sekolah, masak, nyuci, bersih-bersih rumah.

Continue reading “Tujuh September”

Wanita lain [2]

thrublurryeyes.com
ytimg.com

Sabtu malam, Asti sudah terlelap di sampingku yang masih terjaga. Kulihat lampu di ruang tamu nampak temaram. Samar-samar terdengar suara percakapan dari sebuah film di TV. Aku tahu, masih ada seorang perempuan yang menikmati acara TV di luar sana. Aku bangun hati-hati, Asti tak terjaga. Tanpa takut membuat gaduh, aku jalan ke luar ruangan tanpa perlu berjingkat. Aku yakin Asti tidak akan bangun.

Continue reading “Wanita lain [2]”