Kakek Mentari

12227075_10153851969019274_2788158824097702151_nSore ini saya menghabiskan waktu di bale bengong, bercerita tidak tentu arah dengan Bapak. Beliau berada di Jogja, membantu saya menyiapkan rumah yang baru saja kami tinggali. Bapak dan Ibu saya datang jauh-jauh dari Bali utuk membantu kami bertaman di rumah. Taman yang mulai hijau itu adalah hasil buah tangan mereka. Sore itu, kami menikmati suasana yang tenang dengan bercakap-cakap.

Continue reading “Kakek Mentari”

Pahlawan

Kisanak, jujur saja padaku. Coba Kisanak menjawab pertanyaan ini dengan cara membayang-bayangkan menggunakan akal sehat yang wajar. Apakah semua orang di Indonesia berhati baik dan mulia ketika bangsa ini berjuang di tahun 1940an? Apakah semua orang di saat itu berkarakter emas seperti yang kita baca di buku-buku sejarah saat ini? Betulkah ketika bangsa ini mengusir penjajah semua orang bersatu padu rela berkorban demi bangsa dan negara? Kita semua tabu jawabannya. TIDAK! Tidak semua orang ketika itu berjiwa pahlawan seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan dari kita. Tidak semua orang layak mendapat doa dalam hening cipta kita tiap hari Senin.

Continue reading “Pahlawan”

Tips Presentasi: Intermezzo 

salah Satu tips presentasi adalah memulai dengan mengesankan. Waktu Anda hanya dua atau tiga menit pertama. Jika gagal menarik perhatian di waktu kritis itu, mungkin Anda akan gagal seterusnya.

Agar bisa berkesan dan menarik perhatian di kesempatan pertama, melakukan intermezzo adalah salah satu pilihan. Saya selalu intermezzo dengan nama saya yang ‘aneh’ jika dibaca dalam pelafalan Bahasa Nggris. Mau melihat bagaimana saya melakukannya? Saksikan video ini 🙂

Kamu Ngerti Batas Maritim Nggak?

  

Jagi gini ya, batas maritim itu nggak serumit yang kamu kira atau bisa jadi nggak sesederhana yang kamu duga. Kamu pernah kan, waktu SD atau SMP atau SMA, diajari bahwa negara itu boleh mengklaim laut dengan lebar tertentu yang diukur dari garis pantainya. Coba ingat-ingat lagi pelajaran itu. Misalnya, negara boleh mendapatkan laut teritorial selebar 12 mil laut dari garis pantai. Okay, sebenernya istilah yang tepat adalah garis pangkal sih, bukan garis pantai. Selanjutnya bisa juga mendapatkan Zona Ekonomi Eksklusif alias ZEE yang lebarnya 200 mil laut serta landas kontinen atau dasar laut yang lebarnya bisa lebih dari 200 mil laut. Ngomong ngomong, kalau kamu nggak bisa ngebayangin, mil laut itu adalah satuan yang biasa dipakai dalam dunia kemaritiman. Satu mil laut setara dengan 1,852 meter. Artinya, sebuah negara bisa mengklaim 12 x 1,852 meter laut teritorial dan 200 x 1,852 meter ZEE dan seterusnya.

Continue reading “Kamu Ngerti Batas Maritim Nggak?”

Menghafalkan Dialog Film

Tidak seperti ‘lelaki sejati’ lainnya, saya sama sekali tidak suka nonton sepak bola. Tidak juga suka atau bisa olahraga permainan lainnya. Banyak yang menganggap ini keanehan atau kelemahan. Meski begitu, saya punya hobi lain: menghafalkan dialog film. Banyak teman saya yang menganggap hobi ini juga aneh. Atau kalau mau menggunakan bahasa yang positif, hobi ini tidak ‘mainstream’. Bukan hobi sejuta umat. Maka dari itu, saya berani bilang, menghafalkan dialog film adalah “my thing“. Entahlah apakah penyuka sepak bola bisa mengatakan dengan leluasa bahwa “nonton bola is my thing” karena certainly, itu almosteverybody’s thing“. Saya sengaja menggunakan istilah Inggris yang tidak penting dalam tulisan ini, semata mata karena iseng 😀

Untuk apa menghafalkan dialog film? Mungkin Anda bertanya. Sama dengan menghafalkan lagu, untuk menghibur diri saja. Tidak ada tujuan lagi. Jika penyuka lagu, akan mendendangkan lagu ketika mandi, saya akan ‘mementaskan’ dialog film sambil mandi, masak, nyetir mobil atau apa saja. Aneh? Ya, bagi banyak orang bisa demikian. Tapi tidak apa apa, masing masing orag punya pilihan sendiri. Saya juga. Yang pasti, hobi menghafalkan dialog film ini sering berguna kalau mengajar atau presentasi tentang apa saja. Karena tidak mainstream, informasi hobi menghafalkan dialog film ini selalu menarik perhatian ketika saya sampaikan di depan khalayak. Tentu memang lebih menarik dibandingkan hobi membaca, apalagi mengoleksi perangko. Atau jangan jangan mengoleksi perangko di abad 21 ini justru menjadi hobi yang menarik dan langka. Saya yakin, ada pembaca blog ini bahkan tidak tahu bahwa suatu saat dalam beradaban dunia, perangko itu bisa dikoleksi dan itu adalah sebuah hobi yang keren.

Yang menarik, hobi menghafalkan dialog film ini mendapat dukungan keluarga. Entahlah, ini dukungan atau karena keluarga saya sudah tidak bisa berbuat apa apa karena hobi aneh ini. Yag pasti, Asti dan Lita, isteri dan anak saya, mau meluangkan waktu mendengarkan, mengomentari serta memberi masukan ketika saya mulai melakukan keanehan ini. Lita mau merekam saya ketika menghafalkan dialog sebuah film. Asti juga demikian. Moral cerita ini adalah bahwa hobipun memerlukan dukungan keluarga agar tumbuh subur dan bertahan.

Video berikut ini adalah saat saya menghafalkan dilog film Independence Day, saat Presiden Amerika memberi motivasi kepada pilot tempur yang akan menghadapi Alien yang menyerang Amerika saat peringatan kemerdekaan mereka. Namanya Lita, tidak ada yang tidak dibumbui keisengan. Maka jadilah videonya seperti ini.

Video berikutnya adalah rekaman saat saya menghafalkan dialog film A few good men, ketika Colonel Jessuf melalukan pembelaanya di pengadilan. Saya suka dialog ini karena penuh emosi dan panjang. Ada tantangan tersendiri ketika harus menghafalkan dialog yang panjang dan penuh emosi. Dengan begini, saya belajar banyak hal. Salah satu yang paling nampak adalah belajar berbicara Bahasa Inggris dengan intonasi yang tepat untuk sebuah public speaking.

Seperti Anda yang mungkin sangat passionate dengan nonton bola atau menghafalkan lagu, demikian pula saya dengan menghafalkan dialog film. Bedanya, jika Anda menemukan banyak teman untuk membicarakan hobi Anda itu, saya sebaliknya. Dunia hobi ini sepi peminat dan saya berjalan di lorong sunyi. Meski begitu, hobi ini tetap menarik bagi saya. Seperti kata orang bijak, menjadi menarik itu tidak harus banyak jumlahnya. Oh ya, hobi Anda apa?

Visa Monaco: Sebuah Drama

Saya pernah presentasi di tempat tempat yang jauh dari tanah air. Sering saya ceritakan pengalaman demikian dan yang lebih sering nampak adalah senang dan kerennya. Tidak banyak yang tahu atau ingin tahun drama di balik presentasi yang kadang terkesan hebat itu. Saya mau ceritakan satu perkara yang sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari semua cerita mentereng tentang presentasi di manca negara.

Visa hampir selalu menjadi urusan penting jika harus berkunjung ke negeri negeri yang jauh dari Indonesia. Kali ini saya juga harus mendapatkan visa untuk bisa presentasi di Konferensi ABLOS 2015 di Monaco, sebuah negara kecil di selatan Perancis. Mereka yang menggemari perhelatan balap Formula Satu mungkin akrab dengan negara mungil nan elok ini. Ini bukan kali pertama saya ke Monaco tetapi urusan visa tetap saja tidak otomatis dan tidak tiba tiba.

Continue reading “Visa Monaco: Sebuah Drama”

Menebar Hormat Menuai Kagum

Time flies when we are having fun, kata pepatah. Ternyata tidak saja ketika kita bersenang senang, waktu memang cepat sekali berlalu dan meninggalkan mereka yang mudah terlena. Kapan saja, saat melakukan apa saja. Tidak peduli! Ini juga yang saya rasakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Waktu cepat sekali berlalu dan banyak perubahan drastis terjadi.

Suatu kali saya memimpin sebuah rapat penting, menghadirkan peneliti terkemuka dari belahan dunia lain yang berkunjung ke UGM. Yang juga hadir sebagai peserta rapat adalah seorang lelaki yang bagi saya begitu istimewa. Lelaki itulah, sekitar 19 tahun yang lalu ‘memungut’ saya sebagai ‘anak angkat’ ketika saya datang pertama kali ke Jogja sebagai calon mahasiswa UGM. Saya tidak akan pernah lupa beliau menjemput saya di terminal Umbul Harjo subuh-subuh dan mendapati seorang anak muda kampung yang tergagap-gagap datang ke Kota Pelajar Yogyakarta. Keramahan dan kepedulian yang tinggi membuat saya merasakan kenyamanan dan bahkan kemewahan meskipun mobilnya sederhana.

Continue reading “Menebar Hormat Menuai Kagum”

Segelas Teh yang Mendamaikan

Kita, para orang tua ini, tidak selalu bisa menemukan cara bijaksana untuk menyelesaikan persoalan. Pertengkaran kerap hadir menjadi jalan keluar, meskipun tidak diharapkan dan bukan jalan keluar yang ideal. Kami tidak istimewa, maka pertengkaran kadang jadi jalan keluar, seperti halnya suami istri lainnya.

Suatu malam, ada problema yang dengan terpaksa harus bermuara pada pertengkaran. Ini tentu bukan cerita yang saya banggakan karena ini adalah sebuah sisi gelap. Saya berbagi dengan satu tujuan, sahabat saya bisa memetik pelajaran dan tidak terjerumus di lubang yang sama.

Continue reading “Segelas Teh yang Mendamaikan”

Tulisan Tangan Pak Menteri

Tulisan tangan Pak MenteriAda pesan Whatsapp dari seorang karyawan Teknik Geodesi UGM yang mengabarkan bahwa saya mendapat sebuah paket kiriman. Tidak lupa disampaikannya foto paket itu melalui Whatsapp. Saya tidak tahu apa isi paket itu dan saya juga tidak sedang menunggu kiriman dari pihak manapun. Paket itu datang sebagai sebuah kejutan dan saya tidak sabar ingin melihat isinya.

Beberapa jam kemudian, di tangan saya ada sebuah paket yang cukup berat. Di salah satu sisi amplopnya tertera nama sebuah instansi pengirimnya dan itu tidak asing sama sekali di pikiran saya. Itu adalah nama kementerian yang bahkan sudah saya hafalkan sejak belum masuk SD di awal tahun 1980an silam. Nama kementerian atau departemen itu selalu ada di sampul buku bacaan semua anak sekolah dasar ketika itu. Di bagian belakang sampul ada sebuah tanda tangan yang menunjukkan nama pengirimnya. Nama yang tertera itu memacu adrenalin. Mendebarkan.

Continue reading “Tulisan Tangan Pak Menteri”

Belajar Menulis Panjang

Saya paling semangat mengatakan bahwa menulis itu penting. Dampaknya bisa begitu hebat, nyata dan kadang instan. Cepat sekali. Oleh karena itulah saya selalu menyarankan mahasiswa saya untuk menulis. Tidak saja menyarankan, saya juga mewajibkan mereka. Agak berbeda dengan teman teman dosen lain, saya mewajibkan mahasiswa saya membuat blog dan menulis satu post setiap minggu setelah mengikuti kuliah. Saya yakin ada banyak yang tidak suka dengan tugas itu dan berkeluh kesah. Ada yang mungkin benci pada saya karena dianggap berlebihan. Saya menyadari itu tetapi keyakinan saya akan prinsip di atas tidak pudar. Saya berketetaapan hati bahwa mahasiswa saya harus tetap menulis blog. Pada prinsipnya, saya ingin mahasiswa belajar menulis panjang.

Continue reading “Belajar Menulis Panjang”