Selamat Natal dan Tahun Baru

Saya selalu bertekad, Natal dan tahun baru kali ini harus sedikit
istimewa dengan mengirimkan kartu ucapan dan tidak hanya dengan e-card
apalagi “hanya” email. Natal dan Tahun baru seperti tiba-tiba sudah
datang kembali dan persis seperti tahun-tahun sebelumnya, kartu belum
sempat dibeli, apalagi dikirim. Nampaknya saya harus mengulang tradisi
yang usang, mengirimkan ucapan selamat natal dan tahun baru dengan
email.

Biarpun hanya lewat email, percayalah ini ditulis dengan kesungguhan,
meski memang jujur saja belum terbayang kepada siapa ucapan ini akan
dikirim ketika ia dituliskan. Setidaknya, saya dengan serius
memikirkan alamat email yang akan dikirimi sebelum harus menekan
tombol “send”. Ada wajah yang terbayang akan senang menerima email
ini. Semoga ini juga masih dianggap kepedulian yang tulus.

Teknologi informasi dan Komunikasi memang telah mengubah kehidupan
kita dan bahkan mengubah cara kita bersahabat. Kartu ucapan berganti
sms, paket natal berganti email dan sinterklas bertualang lewat film
pendek yang disebar melalui rapidshare. Semoga perubahan ini tidak
mengurangi makna dan kemudahan ini tidak membuat kita malas bertegur
sapa.

Selamat natal dan tahun baru,

salam cinta
Andi

Terbang Rendah di Dunia Maya

Tulisan ini terbit di Suara Merdeka tanggal 1o Desember 2006. Fitur-fitur yang dibicarakan dalam tulisan ini mungkin sudah berbeda dengan yang ada saat ini.

Menikmati layanan peta di internet Internet boleh jadi memang bukanlah hal yang baru. Beberapa peta statis dalam bentuk jpg atau bmp sampai peta interaktif yang bisa “ditanyai” kini bertebaran di internet. Sebuah layanan yang bisa menjadi penunjuk jalan di dunia maya.
Beberapa situs peta interaktif sudah ada sejak cukup lama, terutama untuk daerah di luar Indonesia. Sebut saja Multimap.com misalnya, sebuah situs peta online paling populer di Eropa. Meski keluaran Eropa, situs ini memuat peta seluruh dunia, hanya saja dengan ketelitian yang tidak sama. Eropa dan Australia, misalnya, tentu saja jauh lebih detail dibandingkan peta Papua. Jika untuk Sydney, kita bahkan bisa mencari sampai level gang (lane), untuk Indonesia kita hanya bisa mencari nama kota atau kecamatan seperti Sabang (Aceh), atau Penebel (Tabanan, Bali). Situs ini juga menawarkan fitur pencarian alamat rinci untuk kawasan Great Britain dengan dukungan peta dari Ordnance Survey’s (semacam Badan Koordinasi Survey dan Pemetetaan Nasional kita). Sayang sekali beberapa fasilitas semacam ini hanya bisa dinikmati dengan cara berlangganan dan tidak gratis. Selain peta garis, Multimap juga menampilkan peta foto hasil pemotretan udara.

Continue reading “Terbang Rendah di Dunia Maya”

Tidak Berhenti Mencoba

Teman-teman saya boleh saja menghibur. Wah, kamu hebat bisa nulis di koran bergengsi. Kompas, Jakarta Post, dll. Barangkali benar saya harus senang dan berbangga hati.

Yang tidak mereka tahu adalah tulisan yang muncul di Kompas adalah hanya satu saja dari belasan yang sudah saya kirim. Dan yang lebih penting lagi, saya belum pada tahap merasa aman dan mudah memasukkan tulisan ke Kompas. Tulisan yang dimuat beberapa waktu yang lalu, sama sekali tidak membuat penolakan belasan tulisan saya berakhir. Setelah “kebanggaan” itu, ketahuilah sudah ada beberapa tulisan lain yang ditolak (lagi).

Saya tidak berani menasihatkan apa-apa. Dalam masa yang kritis ini mungkin masih akan tetap relevan mengutip ucapan presiden Amerika yang termasyur “Jangan pernah berhenti mencoba”.

Menyerah pada sang waktu

Sang aku boleh saja bersikeras tentang kebisaannya, tentang kepiawaiannya dalam berkarya dan menebarkan asa. Sang ego boleh saja berbusa bibirnya ketika meyakinkan kesendiriannya untuk tetap berpesona. Ada yang tidak bisa dikesampingkan. Adalah kekuasaan sang waktu yang terbagi tepat adil kepada setiap yang sering membuat sang aku menyerah. Luluh lantaklah sang ego ketika harus menghadapi masa. Duapuluh empat masa, mohon ampun, tidak bisa ditambahkan kepada siapapun. Pun tidak untuk mereka yang bercita-cita menjadikan sang dewa sebagai karibnya. Ada kalanya kita harus menyerah, tunduk dan mengaku kalah kepada sang waktu.

Perempuan Luar Biasa

Dalam hidup yang baru bejalan beberapa saat ini, aku beruntung telah bertemu dengan banyak sekali orang hebat. Di antara mereka yang hebat, aku telah bertemu dengan setidaknya empat perempuan yang luar biasa.

Perempuan pertama adalah dia yang kusebut Ibu (atau Meme’ dalam Bahasa Bali). Kehebatannya terletak pada kesederhanaan dan ketulusannya. Kasih sayang yang tidak muluk-muluk telah mengantarkan aku melompat tinggi, melampaui apa yang pernah bisa diimpikannya. Meme’ adalah perempuan luar biasa.

Perempuan luar biasa kedua adalah istriku. Keluarbiasaannya adalah keberaniannya membiarkan aku memilih jalan yang terjal curam penuh risiko dengan tetap tersenyum menyaksikan setaiap kegagalan dan keberhasilanku. Kehebatannya terletak pada keaslian pribadinya yang kata seorang kawanku ”genuine” dengan tidak pernah berusaha menjadi orang lain. Dia tersenyum karena memang baik, bukan karena terpaksa tersenyum. Istriku menjadi alasan untuk tetap kuat dan mencapai lebih banyak hal.

Ibu mertua adalah perempuan hebat ketiga yang mengisi hidupku. Kehebatannya bersandar pada ketelitian dan ketelatenannya, memberikan contoh kepadaku tentang makna persiapan hidup. Kepadanya aku menyandarkan diri akan banyak persoalan kecil rumit yang hanya memerlukan ketabahan dan kesediaan. Kepadanya aku memasrahkan segala urusan kecil yang tak akan terselesaikan tanpa menggerakkan tangan dan kaki yang sederhana. Ibu mertua, kadang menjadi bayangan tinggi yang aku inginkan semua perempuan menjadi sepertinya.

Putriku adalah hasil dari semua banyangan perempuan yang di mataku luar biasa. Dilahirkan jauh dari tanah sendiri, perempuan kecil ini telah menunjukkan kerjasama yang luar biasa bahkan sejak dalam kandungan ibunya. Perempuan ini, meskipun, masih terlalu hijau untuk dinilai, telah menunjukkan kesungguhannya mendukung pencapaianku dengan meminimalisir keruwetan dan kegaduhan yang ditimbulkannya karena ke-bayi-annya. Putriku adalah perempuan luar biasa.

Hidup di antara empat perempuan luar biasa memberiku inspirasi. Mungkin saatnya untuk berpikir bahwa kalki awatara sebaiknya perempuan, agar terbebas dunia ini dari dominasi kaum adam.

Kebenaran yang bersinggasana di dalam

Selamat Galungan, begitu seorang kawan mengirimkan sms pagi ini. Ini adalah Galungan yang kesekian kalinya terlewatkan di luar Bali, di mana umumnya orang berpesta dan beritual di saat yang sama. Suasana yang senantiasa membangkitkan kerinduan.

Apa makna Galungan kini? Kemenangan Dharma atas Adharma, itu jawaban standar yang dipelajari bahkan sejak dalam kandungan. Makna ini kini berterbangan di angkasa melalui sms dan di belantara maya melalui email, website dan blog. Mudah ditemukan dan mudah dingat. Ketika teknologi sudah merambah bilik-bilik spiritual, berbagai kemudahan ternikmati. Sms yang hanya 300 rupiah membawa ucapan Selamat Galungan lintas benua. Dia membawa makna kemenangan Dharma atas Adharma ke manapun pikiran sempat singgah. Kartu ucapan yang dulu harus dikirim pos seminggu sebelum hari raya, kini menjelma menjadi kartu elektronik yang dikirim dalam hitungan detik tepat pada hari h. Tidak ada lagi pak pos yang sumringah mengantar kartu ucapan di sebuah gang kecil di pelosok Bali Utara atau Bukit Jimbaran di ujung Selatan Bali. Semuga instan, cepat, murah dan canggih.

Surat yang dulu ditulis satu atau dua halaman dengan berpikir dan mencurahkan perhatian, kini berganti sms yang bahkan hasil forward dari pengirim sebelumnya. Isinya pun kadang tidak sempat kita lihat, apalagi maknanya. Yang pasti tujuannya pasti sama, mengucapkan Galungan kepada orang yang dicintai.

Kecanggihan dan kebudayaan yang serba instan menawarkan kemudahan. Meski demikian, bukan berarti membuat kita tidak lagi mempertanyakan kebenaran alias Dharma itu sendiri. Kemenangan Dharma atas Adharma ini harus dicari konteksnya dalam tatanan hidup yang lebih modern, serba cepat dan instan seperti sekarang ini. Pun dalam dunia yang sakit di mana orang semakin susah membedakan baik dan buruk, dharma dengan adharma, pemaknaan Galungan senantiasa harus dilakukan.

Seorang sahabat muda bertanya di suatu pagi. Mengapa ketika kita berbuat baik (baca: dharma) kita justru mendapat imbalan yang tidak menyenangkan? Kalau memang benar hukum Tuhan bahwa kebaikan akan melahirkan kebaikan, mengapa ini tidak selalu terjadi?

Dalam konsep Hindu, pertanyaan ini mudah sekali dijawab. Karma Pala adalah kuncinya. Jangan lupa, perbuatan bisa berbuah di masa kini atau masa depan. Sebaliknya, apa yang kita nikmati masa kini bisa jadi adalah buah perbuatan masa kini, bisa juga perbuatan di masa lalu. Jawaban ini jelas cukup ampuh. Kebenaran akan menjelma, meski tidak harus hari ini. Itu pasti!

Di mana kita mencari kebenaran? Jika berhasil menemukan, silahkan cari di deretan sms, serangkaian email atau blog yang dibaca setiap hari. Mungkin benar jika orang mengatakan the truth is out there atau up there. Setelah cukup lama membiarkan diri menikmati kebenaran dan ketidakbenaran, saya sampai pada kesimpulan yang barangkali bukan yang terarkhir bahwa kebenaran bersinggasana di dalam diri. Barang siapa yang membiarkan dirinya merenung sekali waktu, berdialog secara damai dengan hati nuraninya dan berkonsultasi tentang kebaikan dan kebenaran, maka kepada dialah akan diingatkan bahwa kebenaran itu sesungguhnya ada di dalam hati.

Ketika para tetangga hanya bisa menyaksikan kita di pagi dan sore hari saat mulut dihiasi senyum, wajar jika dia melihat kita sebagai orang baik. Tetapi, jika dalam keadaan merenung dan bertanya kepada sang diri, kita tetap menemukan jawaban bahwa kita adalah orang yang baik, itulah barangkali penilaian terjujur yang harus dipercaya. Kebaikan itu ada di dalam diri, tidak perlu mencari ke mana-mana. Persoalannya adalah sang diri seringkali tidak kita biarkan berekspresi, kita tutup dengan segala macam identitas yang mungkin kadang tidak perlu. Mari berbaik hati pada kebenaran yang bersinggasana di dalam diri. Selamat Galungan!

Menangislah sekali lagi

Menangislah sekali lagi, seperti ketika kamu belum terbiasa berjalan tegak dan belum dagumu mendongak tak pernah jatuh. Menagislah sekali lagi, karena mungkin ini kesempatan terakhir untukmu menjadi orang biasa. Tangisanmu adalah kejujuran yang mungkin tak kau peroleh lagi di tempat baru.

Air matamu adalah pertanda kesahajaanmu yang sesungguhnya mahal. Air mata adalah perwakilan cinta yang sesungguhnya tidak pernah kering dalam telaga hatimu. Keluarkanlah. Wakilkan keharuan dan kebaikan putihmu yang sebenarnya tidak pernah ternoda. Wakilkan semua ketulusan itu dengan isak dan senggukmu yang berlinang air mata. Jangan. Jangan kau tahun, pun kau seka. Jangan pula biarkan perasaan malu dan kelelakianmu terhina hanya karena air matamu.

Air matamu, sesungguhnya adalah siraman untuk tanaman cintamu dan bibit keperkasaanmu sebagai lelaki. Jangan perhah hinakan tetasannya yang sesungguhnya melegakan dadamu. Menangis, dan sadarlah.

Pintu Sorga

Satu lebaran lagi terlewati. Pintu maaf dibuka lebar-lebar, tidak saja bagi yang puasa sebulan penuh seperti Cak Mamat, tetapi juga bagi Kondang yang tidak pernah puasa karena kebetulan bukan muslim. “Kosong-kosong, ya Cak”, Kondang tergopoh mendekati Cak Mamat sambil menyalaminya. Cak Mamat kontan menjadi terkenal karena dia satu-satunya orang yang merayakan lebaran di desa itu. Dengan Bahasa Arab terbata, Kondang pun menirukan ucapan selamat lebaran di TV yang kurang lebih artinya “mohon maaf lahir dan batin”. Kodang juga sering menambahkan dengan kalimat “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”.

Lebaran kali ini, Kondang rajin mendengarkan kasetnya GIGI terbaru yang bertajuk Pintu Sorga. Ada rasa teduh ketika mendengar suara Armand melantunkan lagu rohani. Kondang semakin terbius karena teringat salah satu pentolan band mapan Indonesia itu adalah Dewa Budjana yang orang Bali dan Hindu. Inilah kolaborasi lintas iman yang menyentuh hati Kondang. Semestinya semua orang begitu, pikirnya.

Selain Pintu Sorga, Kondang juga mendengarkan Nyanyian Dharma 2 yang diprakarsai Dewa Budjana. Yang menjadikannya istimewa adalah Nyanyian Dharma kali ini merupakan kolaborasi yang juga lintas iman. Dengar saja Trie Utami yang melantunkan Gayatri Mantram dan mengumandangkan Karma. Juga Emil, penyani cilik yang jauh-jauh dari Palembang mengumandangkan ajaran Tri Kaya Parisudha. Betapa indahnya! Toleransi yang sebenarnya lewat seni.

Di sela sumringah hatinya menyambut lebaran, Kondang sedikit terusik. Seorang kawannya mengeluh karena ditegur oleh temannya ketika mendengarkan lagu rohani di kantornya. Kondang bertanya-tanya apakah si teman yang kebetulan puasa ini juga wajib puasa dalam hal menikmati lagu? Atau jangan-jangan karena lagu rohani itu tidak termasuk dalam lingkaran kitab sang teman? Kondang hanya bisa menyimak, tidak tahu karena sayang sekali Kondang bukan pemuka agama.

Menyebut nama Tuhan

Kondang belakangan ini rajin nonton TV. Salah satu dampaknya adalah dia mulai menyerap berbagai kata gaul dari dunia luar. Kondang yang sehari-hari membajak dan mencangkul, tidak segan-segan mengatakan “kasihan, deh lu” kepada seorang pengangon bebek yang menceritakan bebeknya malas betelur. Begitulah kondang, telah dicapainya banyak kemajuan dalam hidup dari menonton TV.

“Sh*t!” begitu kondang sering berujar kalau sedang kesal. Tak jarang pula dia berujar “f*ck” kalau sedang kecewa pada temannya. Kontan temannya yang lugu dan rata-rata sopan menasihatkan. “Kamu jangan terbiasa mengucapkan kata-kata kasar begitu. Biasakanlah mengucapkan nama Tuhan, pun saat kita kesal.” “Om Sairam”, “Oh my God”, “Masya Allah” pasti terdengar lebih baik.” begitu nasihat kawannya.

Kondang tersentuh.. benar juga ya… pikirnya.
Hari-hari berikutnya, Kondang mulai mempraktikkan 🙂

“Oh my God!” ucapnya ketika sedang kesal. Satu yang terasa aneh, Kondang merasakan kekesalan yang sama, kedongkolan yang tak berkurang dan kebencian yang juga tidak tertawarkan ketika menyebut nama Tuhan ini. Terasa agak janggal ketika Kondang menyadari, perasaan yang persis sama terjadi ketika dia menyebut nama Tuhan dan mengatakan “f*ck”. Mungkin ada yang salah…

Penerima Australian Partnership Scholarship (APS) 2006

Pengumuman berikut diambil dari situs resmi APS Jakarta. Ditampilkan di sini agar bisa dilihat langsung tanpa perlu mendownload. Jika ingin mendapatkan file aslinya, silahkan download dari website APS Jakarta dalam format EXCEL.


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]