Reinkarnasi

reluctant-messenger.com
reluctant-messenger.com

Made Kondang tidak mau masuk surga, apalagi mencapai moksa. Dia jelas tidak mau. Selain karena yakin dirinya tidak layak untuk surga, Made Kondang masih punya mimpi yang di kehidupannya sekarang belum tercapai. Saat reinkarnasi nanti, Kondang ingin memperbaiki kehidupannya. Dia ingin menjalani apa yang sekarang tidak bisa dijalaninya.

Made Kondang punya mimpi-mimpi yang indah. Yang jelas dia bosan dengan kehidupannya sekarang yang monoton dan tidak berguna. Dia memimpikan sebuah kehidupan yang dinamis, bergairah dan heboh. Ingin sekali dia mewarnai dunia dan namanya disebut-sebut dalam kasus yang menggetarkan bangsa-bangsa. Apa daya, Kondang hanyalah seorang petani penggarap. Dia hanya bisa bermimpi.

Continue reading “Reinkarnasi”

She is nobody

She is nobody
She is nobody

The leader is a woman. This woman is nobody. She was born and raised in a forgotten corner of the world. She is not a politician, not a public figure. She is not a famous one either. She is an ordinary woman but she is the rock of her family. She is a strong woman. She is a literally strong woman. In the 70s and early 80s, she worked in a traditional rock mining somewhere you could not even see in the premium Google Earth.

Early in the morning at around 4 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice field as if she learned the footpath by hearth. She walked, she jumped, she ran in the darkness and she never fell down. Her feet had eyes that can see in the darkness. She did it everyday for the live of her family. She is a persistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.

Continue reading “She is nobody”

Beda satu huruf

Ambalat di Kompas
Ambalat di Kompas

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.

Continue reading “Beda satu huruf”

Ambalat

Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Continue reading “Ambalat”

Happy Mother’s day!

Pendidikan

 

K.H. Dewantara
K.H. Dewantara

Malcolm Forbes pernah berkata, “Education’s purpose is to replace an empty mind with an open one”, bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah mengubah pikiran yang tadinya hampa menjadi terbuka. Forbes tidak mengatakan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk mengisi pikiran kosong dengan segala pengetahuan, kebenaran dan apalagi doktrin atau dogma. Pandangannya jelas dan sangat bijaksana bahwa pendidikan sesungguhnya bukanlah proses menggurui atau memaksakan kebenaran pada sesoerang atau sekelompok orang.

Saya bertemu dengan banyak orang yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi di luar negeri, di universitas kenamaan. Mereka yang mengikuti proses pendidikan sambil menyelami filosofinya, berkomentar senada: pandangan mereka lebih terbuka. Terbuka akan luasnya dunia, akan beragamnya isi jagat raya dan betapa tidak mudahnya segala sesuatu. Memperoleh gelar di luar negeri ternyata tidak serta merta membuat mereka yakin dan berjalan tegak dengan dagu terangkat bahwa mereka tahu segala sesuatu. Mereka adalah pribadi-pribadi yang justru rendah hati karena semakin mengetahui kelemahan dan kekuarangannya.

Continue reading “Pendidikan”

Dunia maya

Terjebak di dunia maya
Terjebak di dunia maya

Banyak orang tua yang menyangkan kelakuan remaja saat ini yang konon terperangkap di dunia maya dan miskin sosialisasi. Sepuluh tahun yang lalu atau lebih, sangat mudah menjumpai orang-orang menunggu bis atau berbaris dalam antrian dan bercakap-cakap satu sama lain, meskipun belum saling mengenal. Kini pemandangan menunggu bis atau ngantri sama sekali berbeda. Orang-orang, terutama kaum muda, lebih asik menekan tombol-tombol HP mereka dan senyum-senyum sendiri saat mengirim/membaca sms atau chatting. Tubuh mereka memang ada di sini, tetapi tidak jiwanya, begitu kira-kira kalau dilukiskan secara puitis meniru Dewa 19.

Continue reading “Dunia maya”

Tokyo, 13 April 2009

Andi in Tokyo
Andi in Tokyo

Diapun mengangkat kepalanya, menegakkan dagu dan diam sejanak. Matanya menyapu sekitarnya dan akhirnya menemukan percaya diri. Diapun mulai berucap:

H.E. Mr. Sasakawa,
Dr. Bailet,
Professors,
My Fellow Alumni,
Distinguished Guests,
Ladies and Gentlemen:

When I was asked by Dr. Bailet to prepare a short speech, I was a bit uncertain. Not because I have nothing to say but in contrary, there is too much to say about this fellowship program. Honestly, I am a little bit nervous standing here in a respected stage because I am representing great young spirit of the Asia Pacific Region. I hope what I am going to say can, to an extent, address common impression we have.

Continue reading “Tokyo, 13 April 2009”

Empat Belas April

Sydney Opera House
Sydney Opera House

Aku memandang ke luar jendela, mataku menerawang menyapu julangan pencakar langit yang malas berselimut dingin. Tokyo pagi ini menggigil, meski belum pula tuntas musim semi dipentaskan. Satu dua pohon sakura masih setia dengan kembangnya, menghiasi sudut-sudut kota yang tak lagi sumringah. Sakura yang gugur, orang yang melintas dingin dan pagi yang beku membuat suasana tak bersahabat.

Continue reading “Empat Belas April”

Tas Plastik

www.rileks.com
http://www.rileks.com

Saat menemani kawan dari Jakarta jalan-jalan di Sydney ketika summer, saya menenteng sebuah tas plastik berisi air mineral. Serta merta kawan saya ini, mengambil tas itu dan membawakannya untuk saya. “Tidak baik dilihat Pak Andi menenteng tas plastik” begitu katanya. Saya kurang bisa menangkap makna ucapan ini, apa yang salah dengan menenteng tas plastik?

Tiba-tiba saja saya ingat kejadian 20 tahun lalu di rumah sakit Tabanan. Bapak saya yang diminta membeli sesuatu, datang dengan tangan hampa. Ketika ditanya di mana barang yang dibeli, beliau mengatakan bahwa barang itu masih di kendaraan yang diparkirnya agak jauh. Alasannya sederhana, beliau merasa tidak pantas alias gengsi menenteng barang itu yang dibungkus tas plastik. Adalah tugas saya kemudian mengambilnya. Seperti halnya kejadian di Sydney, saya pun tidak mengerti benar, bahwa perkara tas plastik ini begitu runyam.

Continue reading “Tas Plastik”