Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.
Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.
Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.



Tidak sedikit yang bertanya pada saya cara membuat sebuah personal statement atau statement of purpose yang diperlukan untuk melamar beasiswa atau melamar sekolah pascasarjana di luar negeri. Meskipun pernah mendapat beasiswa, saya bukanlah orang yang ahli soal ini dan tidak memiliki kualifikasi resmi untuk menilai sebuah personal statement (PS). Menariknya, setelah saya 