Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara

Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.

Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara”

Knowledge is …

Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.

Continue reading “Knowledge is …”

Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia

Catatan tentang KIPI dan Kongress PPIA 2010

I Made Andi Arsana*

Dalam pembicaraan diselingi kelakar di sebuah warung sederhana di Jogja tahun 1998, seorang kawan mengatakan “kelak kita akan membuka buku sejarah, dan mendapati salah satu bab-nya berjudul ‘Kerusuhan di Gejayan’. Dalam bagian lain, akan ada satu pembahasan penting tentang Angkatan ’98, disejajarkan namanya dengan Angkatan ’45, dan Angkatan ’66. Namaku akan terpampang di sana, sebagai salah satu pemimpin Long March dari Grha Sabha Pramana ke Alun-Alun lalu bergerak di sepanjang Jalan Malioboro. Nama-nama kita akan tercatat sebagai generasi yang menumbangkan orde baru.” Sementara itu, saya dan beberapa kawan lain tersenyum kecil menganggap itu sebuah kelucuan biasa sambil menenggak teh manis, menyeka keringat bercucuran setelah seharian melakukan demonstrasi.

Continue reading “Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia”

Email saya dibajak?

Saya sering sekali menerima email yang isinya tidak jelas dari seseorang yang saya kenal baik. Dengan memperhatikan isi emailnya dan membandingkan dengan pribadi teman saya ini, tidak sulit untuk mengetahui bahwa email itu bukanlah darinya. Mengapa email itu bias ke tangan saya? Apakah emailnya telah dibajak seseorang sehingga username dan passwordnya diketahui? Ada banyak dugaan terkait kasus ini.

Alternatif pertama, emailnya memang dibajak. Dengan berbagai cara, mungkin saja seseorang berhasil mencuri passwordnya. Untuk ini, memang sebaiknya kita rajin mengganti password secara berkala. Alternatif kedua, bisa saja itu perilaku sebuah virus. Kini virus memang bisa menyebar dengan berbagai cara. Jika suatu saat Anda menerima email bervirus dan membukanya, bukan tidak mungkin virus itu akan mengacaukan email Anda sendiri. Salah satu dampaknya adalah virus secara otomatis akan mengirim email dengan isi yang diinginkannya kepada semua alamat kontak yang ada di daftar alamat email Anda. Untuk ini, rajin-rajinlah mengenali perilaku virus dan jangan sekali-sekali membuka email yang tidak diyakini asal dan isinya.

Continue reading “Email saya dibajak?”

Betul, penghargaan memang akan datang

Sekolahnya Lita

Saya pernah menulis di blog ini bahwa penghargaan akan datang. Tugas saya adalah berbuat yang terbaik yang saya mampu maka penghargaan yang pantas untuk kualitas yang saya berikan adakan datang. Saya yakin itu.

Sejak bersekolah di Wollongong, saya cukup sering berbagi informasi terutama kepada teman-teman yang akan bersekolah ke Wollongong. Saya merasakan, tidak mudah untuk datang ke lingkungan baru tanpa bantuan dari rekan yang sudah mengalami terlebih dahulu. Tidak istimewa sesungguhnya yang saya lakukan. Hanya membalas email, memberikan tips-tips sederhana tentang belanja, tentang transportasi, tentang komunitas Indonesia dan hal-hal sederhana lainnya. Kadang saya tulis pengalaman di blog. Hal ini berlanjut hingga saya jadi Ketua PPIA Wollongong. Hobi membantu orang ini masih berjalan. Saya katakan ‘hobi’ karena memang saya melakukan tanpa tekanan, di sela waktu luang, bukan karena kewajiban, dan dengannya saya mendapat kesenangan. Bukankah hobi memang demikian?

Continue reading “Betul, penghargaan memang akan datang”

Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing

Mereka yang melanjutkan sekolah pascasarjana (S2 atau S3) umumnya memerlukan pembimbing atau supervisor atau professor. Intinya, jika bersekolah yang ada komponen penelitiannya (menulis tesis atau desertasi), kehadiran pembimbing adalah wajib. Hal ini tentu tidak berlaku pada mereka yang menempuh studi S2 by coursework karena memang tidak diwajibkan membuat tesis. Program S2 semacam ini, setahu saya, ada di Australia yang bisa ditempuh dalam waktu setahun.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing”

Beasiswa atau Sex Bebas?

Saya telah ngeblog selama lebih dari enam tahun. Jika dikumpulkan dan ada yang mau melakukan (dan dianggap layak), blog ini tentu sudah menjadi beberapa buku. Selama menulis, saya mengamati satu fenomena menarik. Judul posting ternyata sangat berpengaruh. Saya yakin misalnya ada orang yang membaca posting ini karena dalam judulnya ada kata-kata ‘sex bebas’. Atau jika mau jujur, pasti lebih banyak orang yang tergelincir membaca posting ini secara tidak sengaja, karena kata-kata ‘sex’, bukan karena kata ‘beasiswa’. Meski begitu, orang itu pastilah bukan Anda.

Continue reading “Beasiswa atau Sex Bebas?”

Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement

Tidak sedikit yang bertanya pada saya cara membuat sebuah personal statement atau statement of purpose yang diperlukan untuk melamar beasiswa atau melamar sekolah pascasarjana di luar negeri. Meskipun pernah mendapat beasiswa, saya bukanlah orang yang ahli soal ini dan tidak memiliki kualifikasi resmi untuk menilai sebuah personal statement (PS). Menariknya, setelah saya mengecek di internet, ada banyak sekali tips pembuatan PS yang disediakan oleh berbagai institusi dan berbeda satu sama lain. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan mana yang baik dan mana yang buruk. Meski demikian, toh saya memang pernah membuat PS dan dengannya saya mendapat beasiswa. Oleh karena itu, ketika diminta mengisi workshop di UII Yogyakarta beberapa waktu lalu, yang saya andalkan bukanlah teori, tetapi pengalaman. Yang saya tawarkan kepada peserta bukanlah petunjuk teknis membuat PS tetapi pengalaman saya dalam membuat PS yang akhirnya membuat saya mendapat beasiswa.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement”

When a Surveyor Met a Diplomat

Bersama Hassan Wirajuda

Jakarta, 21 Mei 2010
Pagi itu, suasana Porta Venezia di Aryaduta Semanggi tidak telalu subuk. Restoran itu adalah bagian dari Hotel/Apartemen Aryaduta sehingga pagi itu diramaikan oleh mereka yang tinggal di sana. Di salah satu pojok, di sebuah meja dengan temaram lampu yang tidak telalu terang, duduk seorang lelaki berusia matang. Tampilannya sederhana saja, namun elegan berwibawa. Yang tidak memperhatikan tentu tidak sadar bahwa lelaki itu adalah salah satu diplomat terbaik Indonesia. Pada masanyalah dua perundingan batas maritim antara Indonesia dengan negara tetangga, Vietnam dan Singapura, berhasil diselesaikan. Lelaki itu adalah Dr. Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri Indonesia selama dua periode. Di depannya terlihat duduk takzim seorang anak muda. Tentu saja anak muda ini bukan anaknya, bukan juga diplomat kawakan seperti Pak Hassan. Anak muda ini adalah saya, seorang surveyor.

Continue reading “When a Surveyor Met a Diplomat”

Kartono

Yogyakarta, 21 April 2237

Sahabat pejuang,

Nama saya Kartono. Saya tinggal di Yogyakarta, kota yang mungkin tidak pernah Anda dengar namanya, kecuali sempat membaca buku-buku sejarah yang kini hampir punah dan dilarang. Konon seratus tahun lalu, kota yang kini hampir mati pernah menjadi pusat kebudayaan di negeri ini. Di kota ini dulu berjaya sebuah pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Hingga usianya lebih dari 100 tahun, tak satupun perempuan yang memegang puncak pimpinan. Kini semua itu tinggal cerita. Kekuasaan dan pusat peradaban telah bergeser. Konon di awal abad ke-20, kota ini bahkan pernah menjadi ibu kota sebelum dipindahkan ke Jakarta yang kini hanya bisa kita lihat di museum. Alam telah menenggelamkan Jakarta. Demikianlah jika makhluk manusia tak berupaya, alam akan menyediakan jalan keluarnya sendiri. Konon, para penguasa jaman itu adalah laki-laki, kaum kita.

Continue reading “Kartono”