Small is beautiful – ukuran bukan halangan

Manekken Pis di Brussels

Saya masih ingat ketika mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata saat berkunjung ke Washington di musim dingin 2007 silam. “Jika Anda datang ke Washington dan tidak melihat Gedung Putih, Anda akan menyesal” katanya bersemangat. Tentu saja saya ingin sekali melihat Gedung Putih, kantor Presiden Amerika itu, dari dekat. “Tapi”, katanya menambahkan, “kalau Anda sudah melihat Gedung Putih, Anda akan lebih menyesal lagi.” Semua peserta wisata spontan tertawa tanpa tahu persis maksudnya. Sayapun bertanya-tanya.

Beberapa menit kemudian saya sudah berdiri di dekat sebuah pagar besi, memandang sebuah gedung kecil putih di dalam pagar. Di depannya terlihat air mancur yang tidak besar. Sepintas gedung ini terlihat seperti rumah biasa, tidak begitu istimewa, sebelum saya akhirnya tahu, itu adalah Gedung Putih, alias the White House, kantornya Presiden Amerika. Tidak besar dan sederhana. Jauh dari kesen menyeramkan.  Rupanya pemberitaan di TV dan terutama film Hollywood telah menciptakan citra tersendiri tentang Gedung Putih yang sedemian sangar. Dia ternyata tidak lebih dari sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sudut Kota Washington. Setidaknya begitu saya berpendapat ketika melihatnya langsung.

Continue reading “Small is beautiful – ukuran bukan halangan”

Mengenang Ketut Margawan

Saat-saat terakhir

Sahabat kami, Ketut Yudia Margawan, telah berpulang pada usia 33 tahun 3 hari. Ketut pergi meninggalkan seorang putra yang tampan dan seorang istri yang tabah, Ekarini. Ketut telah pergi setelah menderita kanker selama beberapa tahun terakhir. Tidak kurang usaha dari Ketut dan keluarga, ternyata Hyang Widhi berkehendak lain. Ketut telah diberik kesempatan lebih dulu untuk bertemu Sang Pencipta. Kami mendoakan moksa untuknya, manunggal dengan Sang Paramakawi.

Continue reading “Mengenang Ketut Margawan”

Protes Perokok

http://www.adijaya.org/

Suka duka bekerja sebagai tukang bersih-bersih lantai di sebuah tempat hiburan sangatlah banyak. Salah satu yang membuat saya kelimpungan adalah sulitnya membersihkan abu rokok yang menempel di karpet karena terinjak-injak. Di tempat saya bekerja, ada sebuah ruangan mesin poker yang mengijinkan pengunjungnya merokok. Seperti layaknya di Australia pada umumnya, ruangan ini pasti jauh lebih kecil dibandingkan tempat bebas asap rokok. Meskipun kecil, waktu yang diperlukan untuk membersihkan bisa lebih lama karena abu rokok serta puntungnya yang berserakan dan menempel di karpet. Vacuum cleaner tidak berfungsi banyak.

Continue reading “Protes Perokok”

Rasis, nasionalis dan primordial

Genjo sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya sesama mahasiswa Indonesia di perantauan. Kali ini bukan tetang tesis tetapi soal pekerjaan paruh waktu. Part time job, kata orang-orang pinter.

Continue reading “Rasis, nasionalis dan primordial”

Menera ulang nasionalisme

Peringatan 17-an di Wollongong 2009

Tahun 2007, saya berkunjung ke Canberra dan mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik. Pembicaranya adalah mahasiswa dan peneliti Indonesia yang bermukim di Australia. Topik menarik yang diangkat adalah ‘pilihan peneliti Indonesia untuk bertahan di luar negeri atau kembali ke tanah air’. Urusannya tentu saja tidak sederhana dan pertanyaan itu, seperti bisa diduga, tidak bisa dijawab dengan singkat. Benar saja, pembicara memberikan berbagai terori. Bahwa bertahannya para peneliti Indonesia di luar negeri tidak selalu merupakan gejala brain drain, alias kaburnya asset intelektual bangsa karena godaan di negeri seberang lebih baik. Gejala ini juga merupakan brain overflow, alias tumpah dan melubernya asset intelektual hingga ke luar negeri karena di dalam negeri tidak tertampung. Sang pembicara menceritakan usahanya mencari pekerjaan di Indonesia lewat fasilitas internet (email) tetapi satupun tidak mendapatkan respon. Jangankan diterima, dibalaspun tidak. Berita penolakan juga tidak pernah ada, katanya berkelakar.

Continue reading “Menera ulang nasionalisme”

Mesin Poker

gambar dipinjem dari smh.com.au

Saya bekerja menjadi petugas kebersihan di sebuah tempat hiburan di Wollongong. Salah satu tugas saya adalah membersihkan mesin poker, mesin yang digunakan untuk bermain dan biasanya disertai dengan judi. Sesuai instruksi pelatihan saya selalu membersihkan layar mesin poker dan tombol-tobolnya agar terbebas dari bekas sentuhan tangan. Sidik jari harus benar-benar hilang dari tombol-tombol itu dan layar mesin poker kembali mengkilat sebelum digunakan setiap harinya.

Continue reading “Mesin Poker”

Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran

Ada hal yang belum pernah saya kisahkan di blog ini. Ketika saya dipanggil untuk ujian wawancara Australian Development Scholarship (ADS) pada bulan November 2002 silam, saya dalam keadaan tidak bersemangat. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak terlalu bergembira. Biasa saja. Bukan karena saya meremehkan Australian Development Scholarship dan telah yakin akan dipanggil, semata-mata karena saya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan utama pendidikan lanjut saya. Eropa adalah satu-satunya tempat yang terbersit di benak saya ketika itu. Belanda menjadi negara yang lebih spesifik lagi. Semetara itu, ADS ketika itu adalah sebuah kisah sambil lalu bagi saya. Kalau dapat, bagus, tidak dapat juga tidak masalah. Gejolak jiwa muda, Eropa adalah mimpi.

Continue reading “Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran”

Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali

Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.

Continue reading “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”

Galoongan

Marketing in Venus

Asti menari Legong

Awal Juni 2011 saya berlibur di rumah di Desa Tegaljadi di Tabanan. Saat asik di depan laptop karena harus menyelesaikan beberapa tugas, seseorang datang berkunjung. Lelaki 40an tahun itu mengenakan kain, memakai udeng dan berselendang. Dari penampilannya, nampak beliau sedang menjalankan tugas adat. Lelaki itu, tidak lain adalah Kelihan Banjar, kepala adat di kampung kami.

Continue reading “Marketing in Venus”