Golden age, memuji masa lalu

http://www.theculturist.com/

Di penghujung Januari 2012, saya terbang dari Australia ke Kuala Lumpur untuk selanjutnya menuju Manila. Perjalanan terasa sangat panjang, terutama karena saya sedang kurang sehat. Sudah beberapa hari sebelumnya saya pilek agak berat. Perjalanan jauh dari Indonesia ke Australia sebelumnya membuat saya lelah. Akibatnya, pilek menyerang tanpa ampun. Perjalanan ke Kuala Lumpur ini terasa semakin lama.

Untuk melewatkan waktu, tanpa semangat saya memilih film untuk ditonton dari layar pribadi di depan tempat duduk saya. Saya memilih Midnight in Paris, yang beberapa hari sebelumnya saya dengar ramai dibicarakan. Perpaduan antara deru mesin pesawat yang lumayan kencang, pendengaran bahasa Inggris saya yang tidak sempurna dan pilek yang cukup berat membuat pemahaman saya terhadap film itu tidak memuaskan. Meski begitu ada satu hal yang saya rekam dengan baik, bahwa orang memiliki kecenderungan untuk bernostalgia. Tokoh utama dalam film itu membayangkan bahwa Paris di tahun 1920 adalah masa yang luar biasa hebat. Maka dari itu dia ingin menulis novel berlatar belakang Paris di tahun 1920, biarpun dia berasal dari masa kini.

Continue reading “Golden age, memuji masa lalu”

Menentukan Otonan

Saya pernah menulis tentang otonan di blog ini hampir empat tahun lalu. Otonan, pada dasarnya adalah peringatan hari kelahiran berdasarkan kalender tertentu. Dewasa ini, semakin banyak orang Bali yang berada di luar Bali sehingga tradisi memperingati otonan bisa saja dilupakan. Saya tidak akan berpura-pura menjadi ahli dan mengatakan bahwa melupakan otonan itu bisa membuat sial apalagi masuk neraka. Sama sekali tidak. Meski demikian, sebagai orang Bali, rasanya cukup menarik untuk bisa mengetahui dan memperingati hari kelahiran menggunakan kalender sendiri. Di samping itu, para pendiri tradisi Hindu Bali pada zamannya tentu memiliki alasan yang tidak sederhana mengapa otonan ini perlu diingat dan dirayakan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, peringatan hari kelahiran setidaknya bisa menjadi sebuah kontemplasi.

Continue reading “Menentukan Otonan”

Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012

Jika Anda akan wawancara Beasiswa ADS tahun 2013 ini silakan baca tulisan ini.

Winter tahun 2010

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan doa yang tulus agar Anda, para pembaca sekalian, mendapat manfaat dari tulisan ini. Bagi sahabat yang akan mengikuti wawancara beasiswa ADS pada bulan Januari 2012, dengan segala ketulusan hati saya mendoakan yang terbaik. Kita semua percaya bahwa memperoleh beasiswa adalah misteri illahi tetapi kita juga yakin bahwa tidak ada hasil yang baik tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Seperti yang dipercaya Alif dalam Negeri Lima Menara, Manjadda wajadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang baik. Thomas Jefferson bernah berujar, “semakin keras saya bekerja, semakin beruntung saya merasa”. Usaha Anda membaca tulisan ini adalah manifestasi dari kesungguhan. Doa dan ikhtiar itu semoga menjadi semakin sempurna karena saya menuliskan tips kecil ini juga dengan kesungguhan.

Continue reading “Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012”

Sekali waktu, gertakan juga perlu

dipinjam dari http://www.sesawi.net/

Peristiwa ini terjadi tahun 2005, di sebuah tempat di Sydney, Australia. Hari itu saya menunggu bus untuk berangkat kerja di sebuah perusahaan pembuat kue (pastry). Jarak dari rumah ke halte bus cukup jauh sehingga saya berangkat pagi-pagi agar bisa tiba di halte sebelum bus tiba. Saya tahu, bus yang tepat untuk saya adalah nomor 357 pada jam 8.25 pagi karena saya harus mulai bekerja jam 9.00 pagi. Saat tiba di bus, saya melihat seorang kawan yang juga orang Indonesia sudah menunggu bus dengan santai. Rina, nama kawan itu. Saya sempat melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 8.15, berarti saya memiliki waktu sepuluh menit sebelum bus tiba. Lebih dari cukup, saya pikir. Sayapun menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Rina.

Continue reading “Sekali waktu, gertakan juga perlu”

Pisang dan rambutan

Dipinjam dari http://blog.baliwww.com/

Dalam perjalanan dari Kaliurang menuju kota Yogyakarta, saya melihat penjual pisang dan rambutan di pinggir jalan. Dari sekian banyak, di deretan paling selatan nampak dua perempuan yang sudah tidak muda lagi menjajakan dagangannya. Seorang perempuan yang sudah layak dipanggil simbah menjual pisang emas yang kuning berkilauan. Di dekatnya duduk seorang perempuan lebih muda menjajakan rambutan. Tergoda oleh buah-buahan itu, saya berhenti tidak jauh dari mereka lalu berjalan mendekat. Asti dan Lita juga turun dari mobil, kami siap membeli pisang. Bagi saya, pisang adalah barang mewah karena harganya memang sedang mahal di Australia. Liburan di Indonesia harus dimanfaatkan untuk menikmati buah-buahan tropis yang berlimpah dan tidak mahal. Bisa dibayangkan berbinarnya saya melihat pisang yang di Australia bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu sekilonya berisi 5 atau 6 bulir saja.

Continue reading “Pisang dan rambutan”

Vacuum Cleaner dan Mop

vacuum cleaner

Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak saya, sering mendapat tugas ngepel lantai setidaknya sekali sehari setiap sore. Inti dari ngepel lantai adalah menggosok sekuat mungkin hingga kotoran terkikis dari lantai. Jika terburu-buru karena tidak ingin melewatkan episode terayar sandiwara radio Misteri Gunung Merapi, gerakan menggosok harus cepat dan makin kuat.

Continue reading “Vacuum Cleaner dan Mop”

Pengemis cantik

Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.

Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “Do you have 2 dollars and fifty cents please?” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.

Continue reading “Pengemis cantik”

Say it with maps: popularizing geospatial

Recently, a Google Maps engineer, Ari Gilder, proposed his girlfriend, Faigy, for marriage using Google Maps for mobile. I call this as a geospatial marriage proposal. Ari describes in Google Blog how he managed to utilize My Maps in Google Maps to create a customized route for her girlfriend to follow. Using the map, Faigy finally reached a place where Ari was anxiously awaiting her arrival at the Roosevelt Island lighthouse nearby Manhattan in New York City. Ari asked the big question and it turned out to be a very romantic and memorable married proposal.

Continue reading “Say it with maps: popularizing geospatial”

Ganyang Malaysia, selamatkan Siti Nurhaliza?

Persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia tak kunjung berakhir. Setiap tahun selalu saja ada isu yang menjadi ‘musim panen’ bagi media masa. Kali ini, isu perbatasan di Kalimantan (Borneo) yang menadi persoalan. Konon Malaysia mencaplok wilayah RI di Camar Bulan/Tanjung Datu. Banyak pihak emosi dan slogan ‘Ganyang Malaysia’ kembali di teriakkan. Entahlah apakah kali ini juga diikuti oleh slogan lain yang terdengar lebih lucu ‘selamatkan Siti Nurhaliza’. Ingin tahu duduk perkara kasus ini? Silakan simak analisis saya di BorderStudies.info.

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Camar Bulan

 

Discovering Jogja in Ho Chi Minh City

Street vendors

I was standing in front of a street food vendor and staring at noodle and meatball, thinking of having something for dinner. A lady approached me and started talking in a language that I could not understand. I believed it was Vietnamese. I looked at her and smiled and shook my head to signal her that I did not get it. Having realized that she was facing a foreigner, she called a man whom I believed to be her husband. She asked for help to communicate with me but apparently she called a wrong guy. The man spoke no English. What could I do?

Continue reading “Discovering Jogja in Ho Chi Minh City”