Saya sedang terkantuk-kantuk di dalam sebuath subway alias kereta bawah tanah yang membawa saya dari Manhattan ke Queens di New York. Sore itu lelah sekali setelah seharian di depan komputer menyelesaikan berbagai tugas. Seorang perempuan muda datang dan duduk di sebelah saya. Saya menyapa, berbasa basi. Dia ramah dan sepertinya tertarik untuk ngobrol. Kami pun berbasa-basi sejenak tentang hari yang panjang, tentang winter yang dingin menusuk.
Category: Contemplations
Yang pertama
Jika posting sebelumnya adalah yang terakhir di tahun 2008 maka ini adalah posting yang pertama di tahun 2009. Januari hampir berakhir di tahun ini dan saya belum sempat menulis apa-apa. Pelayaran yang saya lakukan di akhir tahun lalu hingga 15 Januari tahun ini memang tidak memungkinkan saya memperbaharui blog.
Berbahasa

Alangkah luar biasanya bahasa itu. Saya ingat ucapan salah seorang dosen senior di penghujung tahun 90-an ketika mengajar tentang filsafat ilmu pengetahuan. “Bayangkanlah kalau kita harus mengabarkan satu situasi saat ada seekor burung dara putih sedang bernyanyi riang hinggap di dahan kering sebatang pohon turi di pinggir kali yang airnya bening mengalir. Bayangkan pula kalau kita harus mengambarkan paruhnya yang kuning dan kakinya yang bersisik halus kemerahan mengcengkram kuat dahan yang seperti mau mati. Alangkah sulitnya menggambarkan itu kalau kita tidak memiliki bahasa.” Demikian beliau memulai sebuah kuliah tentang makna bahasa. Bahasa yang bisa mendeskripsikan sesuatu memang sangat penting. Bahasa bankan menunjukkan bangsa.
Selamat Galungan…
Tips menulis di koran
Banyak kasus mengindikasikan bahwa pembaca blog ini tidak memerlukan tips cara menulis di koran. Kebingungan mereka bisa jadi hanya satu: ke mana tulisan harus dikirim? Kalau Anda ingin mengirim ke Kompas, kirim tulisan Anda sekitar 700 kata ke opini@kompas.com. Kalau mau terbit di The Jakarta Post, kirim artikel maksimal 1000 kata ke opinion@thejakartapost.com. Tulisan untuk media lain bisa dikirim ke email redaksi atau opini masing-masing yang bisa diperoleh dengan mudah di websitenya.
Jika informasi di atas sudah cukup, Anda tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Tidak banyak hal teknis yang akan Anda dapatkan. Percayalah!
Dumb Blonde
Made Kondang terhenyak dalam duduknya. Kelelahan menguasainya hingga habis dan tak tersisa semangat untuk beridiri. Kondang tenggelam dalam kenikmatan diam yang melegakan. Dalam mimpinya yang setengah sadar, Kondang mengingat perempuan cantik yang diselidikinya pagi tadi.
Gadis cantik itu, yang sepatunya berhak tinggi ternyata menderita kebodohan tak tertahan. Parasnya yang seperti Dewi Bulan, luruh seketika saat dicurinya pekerjaan kawannya dalam sebuah ujian hitung dagang suatu sore. Perempuan cantik itu, yang jika duduk di taman selalu dengan HP terbarunya dan tidak peduli dengan lingkungannya karena sibuk berSMS, ternyata rela menggadaikan kehormatannya dengan mencurangi petugas penjaga ujiannya.
Gadis belia yang kalau bicara sudah tidak seperti nenek moyangnya itu, dan lebih barat dari mereka yang lahir dan besar di dunia barat, ternyata menderita pendek akal yang tak terampunkan. Entah ke mana terbangnya kecantikan yang tak berwibawa seperti itu. Si perempuan mempesona lahirnya itu, yang sudah tidak kenal lagi makanan leluhurnya dan senantiasa berkelana di mall-mall mempertontonkan belahan dadanya yang mengundang penasaran, ternyata kebingungan mengerjakan tugas sederhana dari guru mudanya. Ke mana kau bawa keangkuhan duniawi itu? Pantaskan kecantikan yang dipadankan dengan kemewahan busana itu disandingkan dengan kebodohan yang bahkan kau pelihara dengan sengaja? Gadis ayu itu, yang lebih nyaman membeli pulsa HP dibandingkan buku kanuragan, ternyata menghina dina dirinya dengan bermesraan dengan kebodohan dan kerendahan yang dicumbunya dengan sadar.
Lelaki tua
Lelaki tua ini tersenyum tenang. Sangat berwibawa bibir tuanya menebar kehangatan yang bersahaja. Siapa sangka, di balik kulit keriputnya tersimpan misteri yang pernah ditakuti oleh siapapun yang pernah berguru di padepokan ini. Dialah Sang Tua yang kata-katanya bahkan harus dituruti oleh punggawa padepokan yang kini menyandang mahkota tertinggi. “Boleh saja kamu mendapat restu dari baginda raja padepokan ini tetapi kamu tidak akan mendapatkan apapun tanpa persetujuanku”, begitulah pernah diucapkannya sabda dari mulut berbisanya.
Hari ini Sang Tua nampak anggun, tenang menghempaskan tubuhnya yang mulai ringkih. Tenang ia terduduk di lembutnya kursi berlapis kulit rusa di ruang tengah kehormatan. Kepadaku yang muda, dia tidak henti-hentinya meluncurkan nasihat yang menggugah perasaan. Nasihat yang lebih sering dimanifestasikannya lewat bentakan kecil menjadi ciri yang tak kan dilepasnya sampai kapanpun. Telunjuknya menari tanpa henti menunjuk diri dan lawan bicaranya tanpa lelah. Ingin sepertinya dipindahkannya Gungung Merapi dengan gerakan tangannya. Aku terpesona dalam kewibawaan dan kebersahajaan yang terangkum sempurna dari paras, kata dan keyakinannya. Seperti itulah aku mengangguk sederhana menghayati setiap kata yang disabdakannya. Aku tenggelam dalam lautan pelajaran yang dalam dan luas tak bertepi.
Aku sendiri menerawang tidak percaya sekaligus tersanjung melayang hingga langit ketujuh. Entah ini pujian entah cacian, bagiku terdengar tidak berbeda sore itu, sampai sang tua mengeluarkan kalimat pamungkasnya. “Kalau tak seagama ya saya tidak komentar. Kalau Tuhannya sudah salah ya susah!” Lelaki berwibawa ini, selain lihai karena silat lidahnya, kini memberikan pelajaran yang paling berarti bagiku. Mendengar ucapan pamungkasnya aku tersenyum dan tidak sedikitpun terkejut. Dalam hati aku lepaskan tawa yang paling hebat yang pernah kumiliki. Pak Tua, biarlah aku mencatat namamu dan tesenyum oleh kelakarmu. Tak pantas luka, apalagi marah karena kelucuan sederhanamu sebab Tuhanku pun pstilah sedang terpingkal-pingkal.
Pilihan sulit: Ketika harus menolak beasiswa
Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.
Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.
Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.
PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour
Pekerjaan Baik
Entah disebut keberuntungan atau kebetulan, sebelum menamatkan kuliah, saya telah diterima di sebuah perusahan consumer good yang boleh dibilang top di Indonesia, Unilever. Kalau saya bilang, Unilever ini termasuk salah satu perusahaan ‘gila’ dalam meberlakuan proses training terhadap karyawannya. Untuk calon TSS (Territory Sales Supervisor), Unilever mengharuskan untuk training dengan cara langsung terjun ke lapangan, jualan sabun, pasta gigi bahkan margarin dan mie. Sebuah pekerjaan yang memang tidak pernah saya impikan sebelumnya.
