Lelaki tua


Lelaki tua ini tersenyum tenang. Sangat berwibawa bibir tuanya menebar kehangatan yang bersahaja. Siapa sangka, di balik kulit keriputnya tersimpan misteri yang pernah ditakuti oleh siapapun yang pernah berguru di padepokan ini. Dialah Sang Tua yang kata-katanya bahkan harus dituruti oleh punggawa padepokan yang kini menyandang mahkota tertinggi. “Boleh saja kamu mendapat restu dari baginda raja padepokan ini tetapi kamu tidak akan mendapatkan apapun tanpa persetujuanku”, begitulah pernah diucapkannya sabda dari mulut berbisanya.

Hari ini Sang Tua nampak anggun, tenang menghempaskan tubuhnya yang mulai ringkih. Tenang ia terduduk di lembutnya kursi berlapis kulit rusa di ruang tengah kehormatan. Kepadaku yang muda, dia tidak henti-hentinya meluncurkan nasihat yang menggugah perasaan. Nasihat yang lebih sering dimanifestasikannya lewat bentakan kecil menjadi ciri yang tak kan dilepasnya sampai kapanpun. Telunjuknya menari tanpa henti menunjuk diri dan lawan bicaranya tanpa lelah. Ingin sepertinya dipindahkannya Gungung Merapi dengan gerakan tangannya. Aku terpesona dalam kewibawaan dan kebersahajaan yang terangkum sempurna dari paras, kata dan keyakinannya. Seperti itulah aku mengangguk sederhana menghayati setiap kata yang disabdakannya. Aku tenggelam dalam lautan pelajaran yang dalam dan luas tak bertepi.

“Melihatmu aku merasa tenang” katanya. “Aku bahkan bisa melihat watak seseorang dari wajahnya, meskipun itu hanya citra. Melihatmu aku merasa tenang”, katanya mengulangi. “Berapa umurmu sekarang?” sang tua bertanya dan kujawab dengan taksim. “Masih ada 10 tahun lagi untukmu. Setelah itu, sikap dan perilakumu akan memberi warna terhadap hidupmu. Hitam atau putih jalanmu akan kamu tentukan di dekade kelima. Aku kira kamu akan mencapai sesuatu” imbuhnya tanpa jeda.

Aku sendiri menerawang tidak percaya sekaligus tersanjung melayang hingga langit ketujuh. Entah ini pujian entah cacian, bagiku terdengar tidak berbeda sore itu, sampai sang tua mengeluarkan kalimat pamungkasnya. “Kalau tak seagama ya saya tidak komentar. Kalau Tuhannya sudah salah ya susah!” Lelaki berwibawa ini, selain lihai karena silat lidahnya, kini memberikan pelajaran yang paling berarti bagiku. Mendengar ucapan pamungkasnya aku tersenyum dan tidak sedikitpun terkejut. Dalam hati aku lepaskan tawa yang paling hebat yang pernah kumiliki. Pak Tua, biarlah aku mencatat namamu dan tesenyum oleh kelakarmu. Tak pantas luka, apalagi marah karena kelucuan sederhanamu sebab Tuhanku pun pstilah sedang terpingkal-pingkal.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s