Merdeka

Beyond Borders
Beyond Borders

Yogyakarta, Agustus 1996

Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.

Continue reading “Merdeka”

Bakat

Tinggal dan besar di sebuah desa di Bali di tahun 1980an kadang membuat dunia terasa sempit. Terkait dengan seni, tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi kecuali seni khas Bali yang sudah ada dan diwariskan turun temurun. Metetabuhan (gamelan) adalah salah satu hal yang tidak pernah mati di desa saya, Tegaljadi dan menjadi satu dari sangat sedikit alternatif seni yang bisa dinikmati dan dipentaskan.

Continue reading “Bakat”

Reinkarnasi

reluctant-messenger.com
reluctant-messenger.com

Made Kondang tidak mau masuk surga, apalagi mencapai moksa. Dia jelas tidak mau. Selain karena yakin dirinya tidak layak untuk surga, Made Kondang masih punya mimpi yang di kehidupannya sekarang belum tercapai. Saat reinkarnasi nanti, Kondang ingin memperbaiki kehidupannya. Dia ingin menjalani apa yang sekarang tidak bisa dijalaninya.

Made Kondang punya mimpi-mimpi yang indah. Yang jelas dia bosan dengan kehidupannya sekarang yang monoton dan tidak berguna. Dia memimpikan sebuah kehidupan yang dinamis, bergairah dan heboh. Ingin sekali dia mewarnai dunia dan namanya disebut-sebut dalam kasus yang menggetarkan bangsa-bangsa. Apa daya, Kondang hanyalah seorang petani penggarap. Dia hanya bisa bermimpi.

Continue reading “Reinkarnasi”

Moon Walk

Saya telah lama terjebak dalam dunia ‘kanan’, berperan sebagai anak yang baik-baik saja. Saat tumbuh menjadi seorang anak kecil di desa yang letaknya bahkan tak tercatat di peta nasional, ukuran kebaikan seorang anak di desa saya sangatlah sederhana. Kalau sisiran rambut saya rapi, dibelah samping dan licin mengkilat oleh minyak kelapa lalu baju dimasukkan rapi, meskipun tidak sedang sekolah, maka saya sudah layak disebut anak baik. Jika saya menyapa orang yang saya temui di jalan dan menyalami mereka yang mampir ke rumah, maka saya sudah layak disebut anak teladan. Jika saya bertamu ke rumah orang atau berkunjung ke tempat-tempat umum (termasuk rumah sakit) dan menaggalkan sendal jepit lusuh saya lalu bertelanjang kaki menapaki lantai, maka saya sudah bisa disebut disiplin. Begitulan ukuran kebaikan dan keteladanan seorang anak kecil yang tumbuh di Desa Tegaljadi di tahun 1980an.

Continue reading “Moon Walk”

She is nobody

She is nobody
She is nobody

The leader is a woman. This woman is nobody. She was born and raised in a forgotten corner of the world. She is not a politician, not a public figure. She is not a famous one either. She is an ordinary woman but she is the rock of her family. She is a strong woman. She is a literally strong woman. In the 70s and early 80s, she worked in a traditional rock mining somewhere you could not even see in the premium Google Earth.

Early in the morning at around 4 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice field as if she learned the footpath by hearth. She walked, she jumped, she ran in the darkness and she never fell down. Her feet had eyes that can see in the darkness. She did it everyday for the live of her family. She is a persistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.

Continue reading “She is nobody”

Beda satu huruf

Ambalat di Kompas
Ambalat di Kompas

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.

Continue reading “Beda satu huruf”

Ambalat

Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Continue reading “Ambalat”

Happy Mother’s day!

No, she is a girl!

I am excited to meet Shin Tay,” Lita berteriak girang saat akan saya antar ke sekolahnya. Saya baru kali ini mendengar nama temannya ini. Spontan saja saya bertanya, “is she a Chinese?” Lita juga spontan menjawab “No, Ayah. She is a girl. She is my best friend!

Saya tercenung sesaat, menyadari betapa bodohnya pertanyaan saya pada anak yang belum lagi genap 4 tahun usianya. Mungkin sulit mencari pertanyaan yang lebih bodoh dari perihal ras kepada anak balita. Mana peduli mereka dengan ras, mana urusan mereka dengan warna kulit. Apalagi agama, mereka tak ambil pusing.

Continue reading “No, she is a girl!”

Tokyo, 13 April 2009

Andi in Tokyo
Andi in Tokyo

Diapun mengangkat kepalanya, menegakkan dagu dan diam sejanak. Matanya menyapu sekitarnya dan akhirnya menemukan percaya diri. Diapun mulai berucap:

H.E. Mr. Sasakawa,
Dr. Bailet,
Professors,
My Fellow Alumni,
Distinguished Guests,
Ladies and Gentlemen:

When I was asked by Dr. Bailet to prepare a short speech, I was a bit uncertain. Not because I have nothing to say but in contrary, there is too much to say about this fellowship program. Honestly, I am a little bit nervous standing here in a respected stage because I am representing great young spirit of the Asia Pacific Region. I hope what I am going to say can, to an extent, address common impression we have.

Continue reading “Tokyo, 13 April 2009”