Saya telah ngeblog selama lebih dari enam tahun. Jika dikumpulkan dan ada yang mau melakukan (dan dianggap layak), blog ini tentu sudah menjadi beberapa buku. Selama menulis, saya mengamati satu fenomena menarik. Judul posting ternyata sangat berpengaruh. Saya yakin misalnya ada orang yang membaca posting ini karena dalam judulnya ada kata-kata ‘sex bebas’. Atau jika mau jujur, pasti lebih banyak orang yang tergelincir membaca posting ini secara tidak sengaja, karena kata-kata ‘sex’, bukan karena kata ‘beasiswa’. Meski begitu, orang itu pastilah bukan Anda.
Category: Contemplations
Kartono
Yogyakarta, 21 April 2237
Sahabat pejuang,
Nama saya Kartono. Saya tinggal di Yogyakarta, kota yang mungkin tidak pernah Anda dengar namanya, kecuali sempat membaca buku-buku sejarah yang kini hampir punah dan dilarang. Konon seratus tahun lalu, kota yang kini hampir mati pernah menjadi pusat kebudayaan di negeri ini. Di kota ini dulu berjaya sebuah pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Hingga usianya lebih dari 100 tahun, tak satupun perempuan yang memegang puncak pimpinan. Kini semua itu tinggal cerita. Kekuasaan dan pusat peradaban telah bergeser. Konon di awal abad ke-20, kota ini bahkan pernah menjadi ibu kota sebelum dipindahkan ke Jakarta yang kini hanya bisa kita lihat di museum. Alam telah menenggelamkan Jakarta. Demikianlah jika makhluk manusia tak berupaya, alam akan menyediakan jalan keluarnya sendiri. Konon, para penguasa jaman itu adalah laki-laki, kaum kita.
Membela yang lemah
Ajaran ini, membela yang lemah, menjadi favorit saya sejak kecil. Hal ini juga diajarkan mungkin oleh semua agama dan norma. Sangat mudah menjumpai orang tua dan para bijak yang menasihatkan seorang anak atau murid agar membela yang lemah. Brama Kumbara, tokoh dalam sandiwara radio Saur Sepuh yang pupuler di tahun 1980an sangat menginsipirasi saya. Brama adalah contoh ideal seorang manusia yang gemar membela yang lemah. Seperti dijuluki, Brama adalah manusia setengah dewa.
Empat belas April
Saat masih semester awal di UGM, saya sering bermain ke kos para senior, mahasiswa yang kartu mahasiswanya tinggal beberapa bulan masa berlakunya. Di mata saya, mereka sudah sedemikian hebat, sudah tinggi dan sudah bijaksana. Suatu kali saya menemukan tulisan yang menarik tertempel di dinding sebuah kamar kos seorang mahasiswa senior. “Tutut love Nila” demikian kira-kira bunyi tulisan yang grammar-nya salah itu. Dalam hati saya tersenyum, ternyata orang-orang hebat inipun berlaku seperti anak ABG, menuliskan nama dan orang yang dicintainya di dinding. Demikian saya berpikir. Waktu itu, saya duga hanya anak-anak semester awal saja yang berlaku demikian, ternyata mereka yang sudah akan menyandang gelar sarjana pun masih ekspresif dalam urusan cinta.
Nyepi…
Pada tahun 2007, saya melewatkan hari raya Nyepi di Bali. Ini sebuah peristiwa langka karena saya sudah melewatkan sangat banyak Nyepi di luar Bali. Nyepi di luar Bali tentu berbeda, tidak ada suasana Nyepi yang saya anggap ‘asli’.
Seperti sudah diatur demikian, kedatangan saya ke Bali tahun 2007 itu disambut berita duka. Nenek saya masuk Rumah Sakit Tabanan, beliau dirawat karena mengalami muntaber. Nenek saya sudah tua. Selain mudah diserang sakit, beliau juga pikun, tidak bisa mengenali siapapun. Ada banyak sekali cerita mengharukan dan bahkan lucu tentang kepikunannya yang mungkin tak habis diceritakan di sini.
Dua nasihat
Made Kondang berkerut jidatnya, serius mendengar nasihat mantan guru yang kini menjadi temannya. “Kondang”, kata temannya itu, “Calon pengasuhmu itu adalah orang terkenal. Dia sakti mantraguna, tersohor kanuragannya. Hanya saja, dia tidak akan mempedulikanmu. Dia akan biarkan kamu berjalan sendiri tanpa bimbingan ketat, kamu akan tertabrak sana sini dan tersesat. Mana mungkin dia mau mengarahkanmu setiap hari. Kamu akan ditelantarkan oleh dia. Aku sarankan kamu mencari pengasuh lainnya.”
Tempat paling nyaman
Kisahkanlah padaku tempat yang paling nyaman di muka bumi. Adakah tempat yang lebih aman di muka bumi selain malam yang tenang, tidur diapit oleh ayah dan ibu yang nafasnya teratur turun naik? Nafas yang menjaga dari segala marabahaya sambil berbisik: “bahkan para Dewapun sudah kuajak bersekutu untuk memastikan jalanmu. Jika saja kaurelakan tubuhmu tergeletak diantara tubuh-tubuh tua kami dengan segenap penerimaan.” Selamat Valentine.
Jok Mobil

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.
Cinta sederhana

Para Sahabat
Bocah itu berlari sekencang-kencangnya, keringatnya bercucuran membasahi baju seragam SD putih merah yang sudah lusuh. Di kepalanya bertengger sehelai topi berlambang Tut Wuri Handayani, lusuh tak terkira. Sepatu hitamnya tak kalah mengenaskan, berdebu dan sedikit camping.
Dia mendapati apit surang rumahnya dan mulai mendesis. Sejurus kemudian melompatlah seekor tupai mungil dari balik rerimbunan kembang kertas. Mahkluk kecil itu berlari dan memanjat kaki sang bocah, mencengkramkan kuku-kukunya di kaos kaki, lalu ke lutut, ke celana merah hatinya dan akhirnya bertengger di bahu. Tupai itu mengendus-endus seakan hendak mencium.
Belum puas melepas rindu dengan si tupai, sang bocah bersiul siul seperti memanggil ke arah pohon kamboja di jaba sanggah tak jauh dari apit surang. Melesatlah dari sebatang dahan, seekor burung tekukur nan jinak. Belum sempat disadari, kakinya sudah bertengger di kepala si bocah yang masih ditutup topi lusuhnya. Dua binatang itu adalah sahabatnya.
