Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.
Month: April 2012
Prosa Sembilan tahun

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
Earthquake in the west of Sumatera
Inilah Pusat Gempa Aceh 11 April 2012 menurut USGS
Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!

Sejak sekolah di Australia, banyak teman atau saudara, terutama anak-anak muda, yang bertanya bagaimana caranya bisa ke Australia untuk bekerja. Jika saja pertanyaannya untuk liburan tentu saja tidak sulit menjawabnya. Visa turis adalah jalan keluarnya, meskipun hanya untuk tiga bulan. Untuk bekerja, urusannya tidak sesederhana itu. Umumnya, untuk bisa bekerja di Australia, seseorang harus menggunakan visa kerja atau visa pelajar. Sebagai pelajar, seseorang bisa bekerja 20 jam seminggu. Sementara itu, visa kerja biasanya bisa diperoleh jika sudah ada tawaran kerja dari perusahaan. Ini tentu saja tidak mudah. Di sisi lain, tidak banyak teman-teman dan saudara saya yang bisa datang ke Australia dengan status pelajar karena memang sangat mahal.
Mulai setahun atau dua tahun lalu, Australia mengeluarkan satu jenis visa baru yang disebut Working and Holiday Visa. Visa jenis ini berkode 462 dan selanjutnya saya sebut sebagai Visa 462. Dengan Visa 462 ini, seseorang bisa masuk ke Australia dengan tiga tujuan yaitu liburan, bekerja dan belajar pada saat yang sama. Pemegang visa 462 bisa berada di Australia selama satu tahun, bekerja pada satu perusahaan yang sama selama enam bulan dan belajar selama maksimal empat bulan. Selama setahun itu, pemegang Visa 462 bisa liburan di berbagai tempat/state di seluruh Australia.
Continue reading “Liburan dan bekerja di Australia, Mengapa Tidak!”
Kebetulan

Orang bijak mengajarkan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Yang ada adalah serangkaian kejadian yang keterkaitannya seringkali tidak atau belum kita pahami. Saya pernah mengalami beberapa kejadian yang sulit untuk dikatakan bukan sebagai kebetulan.
Suatu hari di akhir tahun 2011 saya sedang liburan di Bali sama Asti dan Lita, istri dan anak saya. Suatu sore kami berkunjung ke rumah nenek, ibu dari ibu saya. Sudah menjadi tradisi, kami berkunjung ke rumah saudara di beberapa rumah. Saat asik berbincang-bincang ringan tiba-tiba terdengar telepon berdering dari kamar tamu. Sore itu kami duduk di teras rumah sambil ngobrol. Salah seorang bibi saya bergegas menjawab telepon tersebut. Saya tidak mengikuti pembicaraannya dengan seksama meskipun samar-samar terdengar. Yang saya tangkap adalah bibi saya ini berbicara dengan orang asing dengan nada yang sopan, meggunakan Bahasa Bali halus. Beberapa saat kemudian dia tergesa keluar dan menyerahkan telepon itu pada saya. “Ada yang mau bicara” katanya dengan nada agak ragu-ragu. Saya tentu saja terkejut. Dengan pandangan mata ragu dan gerakan tidak yakin saya menyambut telepon itu. Jika Anda tidak sadar mengapa saya ragu-ragu, saya sarankan membaca ulang paragraf ini, terutama konteks saya di Bali yang sedang liburan dan bahwa saya ada di rumah itu dalam rangka berkunjung.
Pak Rektor yang Bersahaja

Rabu tanggal 4 April 2012, ANCORS, pusat studi tempat saya belajar S3, kedatangan tamu istimewa. Vice-Chancellor atau yang kalau di Indonesia setara dengan Rektor, datang berkunjung. Selanjutnya saya akan sebut saja beliau sebagai Rektor. University of Wollongong memiliki Rektor baru bernama Paul Wellings dan dalam beberapa minggu terakhir aktif “turun ke lapangan” melihat situasi sesungguhnya. Agak berbeda dengan di Indonesia, adalah sangat biasa bagi sebuah universitas di Australia memiliki rektor yang berasal dari luar kampus. Paul sebelumnya adalah Vice-Chancellor Lancaster University. Meskipun secara hukum hal ini dimungkinkan di Indonesia, saya belum pernah tahu ada universitas negeri besar yang rektornya berasal dari luar universitas tersebut.
Someone to rely on

Cooking is something good for hobby but it certainly can be a burden when you have to do it every day. I have learnt something by being alone in Australia that I appreciate Asti, my wife, even more for her cooking. No matter what, the show must go on and I have to cook. Buying meals everyday is undoubtedly not a financially good idea when you live in Australia. There you go, I cook. Another problem is that I am not very good at cooking. Whom do I come to when I have recipe questions? Asti is certainly one of the very first options. However, with all my respect and love to Asti, my mother sometime fits this role even better. Whenever and wherever I face cooking issue, I just dial her number and ask. She will always come with brilliant and specific answer. The good thing that I like about this ‘distance recipe’ is that my mother always says “that’s OK” whenever I said “but I don’t have that ingredient, I have only this”. With her advice, anything seems to be good enough to produce quality food.
Beasiswa ADS bagi orang awam
Tulisan ini telah dimodifikasi dan disempurnakan. Silakan lihat tulisan yang baru di sini.

First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries
For the very first time in the universal history, Planet Earth will send its delegation to Mars to negotiate its space boundary. Following a fatal incident taking place last month around overlapping space area causing death of 150 people and 120 Martians, the United Nations Agency for Solar System Affairs (UNASSA) took an immediate action. The delegation is the first to establish in Planet Earth to deal with space boundary between Planet Earth and its neighbouring planets. The mission is to establish space boundary with neighbours by advocating the need of people in Planet Earth pursuant to the Universal Convention on the Law of the Space (UCLOS) established about two decades ago.
The signatories to the convention are growing in numbers and Planet Earth is among the first few planets to ratify. A universal tribunal has also been established pursuant to UCLOS, consisting of 101 Judges elected from different planets representing around 40 galaxies in total. Even though the judges were elected from particular planets, they serve the tribunal in their personal capacity. The tribunal, which is called the Universal Tribunal for the Law of the Space, is based in Planet Tau Ceti. The building is made in such a way to accommodate judges from different planets with significant differences in biological properties. Due to expensive cost to maintain the universal building liveable to many creatures from different planets, most of the time judges work from their home planet and work collaboratively through inter-galactic telecommunication network. It seems that time and space travel has yet to be enhanced to make the collaboration possible and effective. Teleconference is by far viewed as the most possible solution for intergalactic interaction.
Continue reading “First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries”

