Made Kondang mencoba merenung-renungkan apa saja yang baru dibacanya di koran. Negara yang bertetangga bisa berseteru. Indonesia dan Malaysia sering berselisih. Belum tuntas itu, dua Korea bersaudara beradu senjata. Belum sampai kelar keduanya, kini Thailand dan Kamboja bersitegang. Tak saja materi, nyawa telah menjadi bayaran ketegangan antar tetangga. Kondang tak habis pikir mengapa tetangga bisa begitu rupa.
Month: February 2011
I = V / R
Kawan, kalau saja keberhasilan itu seperti kuat arus (I) yang memang harus kamu capai, maka kamu punya Voltase (V) dan Resistensi (R) yang harus dikelola. Voltase itu kemampuanmu dan Resistensi itu segala hambatan yang harus kamu hadapi. Tahukan engkau kawan, Voltase itu bertengger di atas dan Resistensi itu nangkring di bawah. I = V/R, demikianlah dunia menyepakati. Makin besar kekuatan yang kamu miliki maka makin besar pula potensi keberhasilannmu. Sebaliknya, hambatan yang besar akan mengecilkan peluang keberhasilanmu.
The power of women

Ada satu kisah menarik yang disampaikan seorang kawan. Di sebuah kantor, katanya terdapat puluhan lelaki. Suatu saat, bos di kantor itu mengumpulkan semua lelaki di gedung itu dan berucap “siapa yang merasa takut dengan istrinya, segera pindah ke sebelah kiri!” Meskipun terdengar aneh, para karyawan mengikuti perintah bos yang terkenal galak itu. Satu per satu, para lelaki itu berpindah ke sebelah kiri. Awalnya ragu-ragu dan malu, akhirnya semakin banyak yang pindah dan lambat laun mereka bergerak mantap ke sebelah kiri. Puluhan lelaki itu berlarian dari sisi kanan ke sisi kiri. Bosnya tentu saja terpana dengan kenyataan itu, ternyata sebagian besar anak buahnya takut kepada istri masing-masing. Sebuah fakta yang baginya tidak terlalu menggembirakan. Di tengah kekecewaannya itu, dia melihat ada satu lelaki tersisa di sisi kanan, duduk dengan tenang. Rupanya ada satu orang yang tidak takut dengan istrinya.
Broadcast yourself by publishing – a scholarship journey
It has been a while for me to be an amateur consultant of scholarship. I am puzzled why. Some people asked me tips on getting scholarship for studying overseas, especially Australia. While I am always happy to share whatever I know, deep inside, I still believe that getting a scholarship is a mystery. There is no guarantee that one will get a scholarship no matter how good she/he is. However, there are steps that one can follow; there are requirements that need to be met.
Continue reading “Broadcast yourself by publishing – a scholarship journey”
Berkelakar dengan Tuhan
Dadong Eka seorang pemangku. Layaknya pemuka agama tradisional di desa, Dadong Eka tidak melalui sertifikasi untuk menjadi pemangku. Beliau jadi pemanggu karena dipingit, karena Ida Betara menghendaki. Dadong Eka menjalankan tugasnya tidak dengan surat ijin tetapi dengan keyakinan segenap kerabat yang dilegitimasi dengan pewintenan. Tak ada yang menghormatinya berlebihan, karena Dadong Eka toh manusia biasa saja. Selepas merafalkan mantra-mantra, beliau tetap sibuk ngalih dagdag, menyelusuri sungai dan parit untuk memastikan babi piaraannya tidak kelaparan. Di saat lain, beliau berbusana centang perenang dan menghunus sabit. Layaknya perempuan Bali tradisional, Dadong Eka tetap menyiangi padi, meski panggilan untuk muput karya, mengantarkan kerabat bertemu Sang Pencipta, sudah di ambang waktu.
Belajar Bahasa Inggris

Tulisan ini bukan tentang tips belajar Bahasa Inggris. Jika itu yang Anda cari, silakan untuk tidak melanjutkan. Kisah ini diceritakan oleh seorang kawan. Bapaknya memiliki semangat yang hebat, beliau memulai kursus Bahasa Inggris saat usia sudah tidak muda lagi. Layaknya belajar Bahasa Inggris di Indonesia, semua dimulai dengan huruf dan kosakata. Sang Bapak belajar melafalkan huruf lalu berlanjut pada kata ganti orang. Beliau mulai memahami kata ganti orang untuk berbagai subyek. Bahwa, misalnya, she itu adalah untuk cewek, he itu untuk cowok, mereka diganti they, saya itu I dan seterusnya.
Setelah beberapa saat mengikuti kurus, tibalah saatnya guru melakukan pengujian sederhana dengan melemparkan pertanyaan. Satu per satu murid disuguhi pertanyaan sederhana, misalnya “what is your name?” atau “how old are you?” ataupun sekedar “how are you?”. Melihat satu peserta kursus yang sudah berumur, sang guru memberikan pertanyaan yang agak berbeda kepada Bapak kawan saya ini, “how many children do you have?” Bagi sang Bapak, pertanyaan ini tidaklah sulit. Tentu saja beliau bisa menjawab dengan mudah bahwa anaknya ada empat. Untuk menunjukkan kemampuannya, beliau bahkan berniat mengelaborasi bahwa beliau memiliki dua anak cowok dan dua anak cewek. Dengan mantap dan percaya diri dijawablah, “four! two she two he.” Moral of the story: kemampuan kosakata boleh bagus, yang juga penting adalah konteks makna.
Bakat
Saya sedang jalan-jalan di sebuh swalayan di Jogja. Asti perlu membeli beberapa barang untuk keperluan laboratorium. Sebagai pengantar, saya dan Lita hanya mengikuti di belakang, sampai pada satu lokasi. “Ayah, wait for second” Lita tiba-tiba berteriak dan berhenti. Dia menunjuk satu barang dan mulai nyerocos “You know what, that is Rinso. If we use only soap, the dirt won’t get off, but if we use Rinso, the dirt will get off our shirt” Saya melongo saja melihat Lita yang sudah jadi ‘korban’ iklan. The very very happy victim, kalau boleh saya bilang. Belum lagi sempat saya tanya lebih jauh, dia sudah menunjuk barang lain dan nyerocos. “This is called Molto ultra. If we use Molto Ultra, the cloth will smell nice all the day!” Gubrak! Saya kaget bukan kepalang. Benar-benar deh Lita jadi korban iklan.
Salah duga

Di tepi jalan di Jati Mulya, Bekasi, saya melihat berbagai jenis buah dijajakan dan tertarik. Terlihat seorang bapak-bapak dengan peci dan baju koko sedang memindahkan biji-biji salak dan diterima oleh seorang pemuda gaul, rambut spike, celana jeans dan sepatu keren yang memegang tas plastik. Rupanya pemuda ini menyukai salak, dia membeli hampir satu tas penuh. Saya menduga-duga. Tanpa banyak berpikir saya mampir dan bertanya “pepayanya berapa Pak?” seraya memandang wajah si Bapak yang masih sibuk memindahkan salak ke tas plastik. Dia memandang saya, tidak menjawab. “Duabelas ribu sekilo Mas” kata pemuda gaul itu. Di dunia yang semakin maju ini, kadang kala tidak mudah membedakan penjual dan pembeli. Hanya dengan melihat penampilan dan ditambah asumsi, seringkali saya salah menduga.