Makan Malam

Di hari yang istimewa ini, Jogja hujan seperti hari-hari kemarin. Meski harus rela berbasah-basah walaupun sudah mengenakan jas hujan, saya tetap harus melaju. Ada janji makan malam istimewa dengan istri hari ini, untuk memperingati hari yang juga istimewa. Berdua kami melaju di atas Vega R kesayangan dengan masing-masing mengenakan jas hujan. Inilah bedanya ketika sudah bersuami istri dengan ketika pacaran. Waktu pacaran, lebih menyenangkan dengan satu jas hujan, perjalanan bisa lebih dinikmati. Tapi ini bukan cerita tentang jas hujan.
Hari ini kami sengaja memilih resto yang agak mewah, tidak seperti biasanya di warung tenda batagor di depan pom bensin Sagan, langganan kami sejak tahun 1997. Resto ini terlihat mewah, sebenarya tidak cocok dengan selera kami, tak juga cocok dengan kantong saya, itu yang pasti. Tapi begitulah naluri hidup yang kadang liar dan bisa saja sedikit lepas kendali.

Otonan

Sepuluh ribu sembilan ratus dua puluh adalah angka yang menunjukkan umurku dalam hari, tepatnya hari ini, 4 April 2008. Apa yang istimewa dengan ini? Bagi mereka yang menghitung waktu hanya dengan kalender masehi, jumlah hari ini tentu saja tidak penting. Hari ini bukan ulang tahunku, itu pasti. Tetapi hari ini adalah birthdayku. Apa bedanya ulang tahun dengan birthday? Ada bedanya, walaupun tidak terlalu banyak tapi bisa sangat prinsipil. Ulang tahun adalah peringatan hari kelahiran setiap tahun menurut perhitungan kalender masehi. Artinya, ulang tahun adalah birthday juga. Meski begitu, tidak semua birthday adalah ulang tahun, tergantung basis perhitungannya. Hari kelahiran yang diperingati dengan kalender lunar, misalnya, tentu adalah juga birthday, walaupun tidak akan sama dengan ulang tahun dalam konteks masehi. Hari kelahiran yang diperingati berdasarkan pasaran dalam budaya Jawa, misalnya, adalah juga birthday, tetapi berbeda dengan ulang tahun dalam masehi ataupun birthday menurut kalender lunar/bulan.

Dua Puluh

Tanggal 12 April tiga tahun silam saya berjingkrak di depan komputer, girang bukan kepalang. Pasalnya, untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat di The Jakarta Post (JP), koran internasional yang terbit di Jakarta. Kini JP telah berusia setengah abad, menulis pun menjadi langganan bagi saya. Mesti jujur harus diakui bahwa saya tidak pernah lagi menemukan perasaan segembira mendapati tulisan pertama ketika menyaksikan satu demi satu tulisan saya bermunculan di halaman JP, pencapaian ini juga layak dicatat.

Iseng-iseng, ketika tulisan saya tentang Global Warming dipublikasikan di penghujung Maret 2008, saya menghitung jumlah tulisan saya di JP. Ternyata jumlahnya sudah mencapai 20, ya dua nol, double digit, big two o, kalau mengutip gaya Alex the Lion di Madagascar. Bagi seorang kawan penulis kolom Analisis di KR, angka 20 pastilah bukan apa-apa karena baru saja dia memberitakan kalau artikelnya sudah mencapai 150-an di koran tersebut. Bagi Gede Prama yang sudah menulis puluhan buku dan ratusan artikel, angka 20 juga pastilah bukan berita. Tapi bagi saya ini berita. Berita yang tidak kecil bahkan.

Harus diakui bidang ilmu geospasial (geodesi dan geomatika) bukanlah sesuatu yang populer. Tidak mudah menjumpainya di media umum seperti koran, dan tentu saja tidak selaris berita pemerkosaan atau bencana alam. Berhasil menuliskannya sebanyak 20 artikel dalam waktu kurang dari 3 tahun rasanya tidak berlebihan jika disyukuri. Tulisan ini saya kira boleh dijadikan bukti bahwa saya tidak sedang bermarturbasi ilmiah. Banyak peneliti yang kadang meriset sesuatu sendiri, menuliskannya sendiri kemudian mempublikasikannya di media sendiri yang eksklusif untuk dibaca oleh kolega dari kalangan sendiri sehingga yang mengalami kepuasan pun adalah kalangan sendiri yang terbatas. Tidak beda dengan bermarturbasi.

Banyak yang bertanya, bagaimana strateginya agar bisa produktif berkarya. Jawabannya sederhana saja. Saya selalu menyiapkan setidaknya dua jenis publikasi untuk satu tema. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah, saya tentunya harus mempublikasikan penelitian saya dalam bentuk makalah yang ditujukan kepada masyarakat ilmiah (jurnal, konperensi, seminar, dll). Di saat yang sama saya akan membuat tulisan berisi 1000 kata yang sifatnya populer untuk tema yang sama. Meski tidak selalu berhasil diterbitkan di media massa, setidaknya tulisan itu nampang di blog saya yang dikunjungi setidaknya 100 orang setiap harinya dari 100 lebih negara. Ini juga termasuk publikasi efektif saya kira.

Apa yang saya dapat dari semua ini? Banyak. Banyak sekali. Saya tidak mengatakan angka 12 juta dari honor tulisan tentu saja. Itu belum apa-apa.

22222

Belakangan saya jarang memperhatikan jumlah pengunjung blog ini. Jangankan mencermati pengunjungnya, posting pun kadang ‘libur’ bisa lebih dari sau minggu karena kesibukan. Subuh ini, iseng saya perhatikan counter, ternyata angkanya istimewa: 22222. Detik ketika saya lihat alat penghitung, blog saya sudah dikunjungi oleh dua puluh dua ribu dua ratus dua puluh dua pengunjung yang berasal dari 117 negara.

Saya tahu, ada banyak sekali blog yang dikunjugi lebih banyak orang karena kuantitas dan kualias informasi yang disajikannya. Blog ini, seperti yang pernah saya tulis, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi favorit orang-orang, tidak juga bersikeras menarik banyak pengunjung. Saya tidak menjual apa-apa di blog ini. Kalaupun ada, itu hanya buku yang gambarnya dipajang di sisi atas dan kanan. Seperti yang saya sampaikan ke mahasiswa, tidak ada yang wajib membeli buku saya. Beli tidak beli, kita tetap berteman. Kalaupun ada mahasiswa yang memilih membeli pulsa dibandingkan buku pegangan kuliah, saya kira itu adalah sikap hidup yang layak dihormati. Salah atau benar itu? Saya tidak akan perna

Kembali ke masalah blog, saya menghargai siapa saja yang berkunjung dan membaca gagasan sederhana saya. Membawa manfaat ataupun tidak, bagi saya tulisan, betapapun sederhananya tetaplah bermakna. Sebaliknya, apresiasi, betatapun kecilnya, tetap membangkitkan semangat. Selamat datang, selamat membaca dan terima kasih.

Dumb Blonde

Made Kondang terhenyak dalam duduknya. Kelelahan menguasainya hingga habis dan tak tersisa semangat untuk beridiri. Kondang tenggelam dalam kenikmatan diam yang melegakan. Dalam mimpinya yang setengah sadar, Kondang mengingat perempuan cantik yang diselidikinya pagi tadi.

Gadis cantik itu, yang sepatunya berhak tinggi ternyata menderita kebodohan tak tertahan. Parasnya yang seperti Dewi Bulan, luruh seketika saat dicurinya pekerjaan kawannya dalam sebuah ujian hitung dagang suatu sore. Perempuan cantik itu, yang jika duduk di taman selalu dengan HP terbarunya dan tidak peduli dengan lingkungannya karena sibuk berSMS, ternyata rela menggadaikan kehormatannya dengan mencurangi petugas penjaga ujiannya.

Gadis belia yang kalau bicara sudah tidak seperti nenek moyangnya itu, dan lebih barat dari mereka yang lahir dan besar di dunia barat, ternyata menderita pendek akal yang tak terampunkan. Entah ke mana terbangnya kecantikan yang tak berwibawa seperti itu. Si perempuan mempesona lahirnya itu, yang sudah tidak kenal lagi makanan leluhurnya dan senantiasa berkelana di mall-mall mempertontonkan belahan dadanya yang mengundang penasaran, ternyata kebingungan mengerjakan tugas sederhana dari guru mudanya. Ke mana kau bawa keangkuhan duniawi itu? Pantaskan kecantikan yang dipadankan dengan kemewahan busana itu disandingkan dengan kebodohan yang bahkan kau pelihara dengan sengaja? Gadis ayu itu, yang lebih nyaman membeli pulsa HP dibandingkan buku kanuragan, ternyata menghina dina dirinya dengan bermesraan dengan kebodohan dan kerendahan yang dicumbunya dengan sadar.

Lelaki tua

Lelaki tua ini tersenyum tenang. Sangat berwibawa bibir tuanya menebar kehangatan yang bersahaja. Siapa sangka, di balik kulit keriputnya tersimpan misteri yang pernah ditakuti oleh siapapun yang pernah berguru di padepokan ini. Dialah Sang Tua yang kata-katanya bahkan harus dituruti oleh punggawa padepokan yang kini menyandang mahkota tertinggi. “Boleh saja kamu mendapat restu dari baginda raja padepokan ini tetapi kamu tidak akan mendapatkan apapun tanpa persetujuanku”, begitulah pernah diucapkannya sabda dari mulut berbisanya.

Hari ini Sang Tua nampak anggun, tenang menghempaskan tubuhnya yang mulai ringkih. Tenang ia terduduk di lembutnya kursi berlapis kulit rusa di ruang tengah kehormatan. Kepadaku yang muda, dia tidak henti-hentinya meluncurkan nasihat yang menggugah perasaan. Nasihat yang lebih sering dimanifestasikannya lewat bentakan kecil menjadi ciri yang tak kan dilepasnya sampai kapanpun. Telunjuknya menari tanpa henti menunjuk diri dan lawan bicaranya tanpa lelah. Ingin sepertinya dipindahkannya Gungung Merapi dengan gerakan tangannya. Aku terpesona dalam kewibawaan dan kebersahajaan yang terangkum sempurna dari paras, kata dan keyakinannya. Seperti itulah aku mengangguk sederhana menghayati setiap kata yang disabdakannya. Aku tenggelam dalam lautan pelajaran yang dalam dan luas tak bertepi.

“Melihatmu aku merasa tenang” katanya. “Aku bahkan bisa melihat watak seseorang dari wajahnya, meskipun itu hanya citra. Melihatmu aku merasa tenang”, katanya mengulangi. “Berapa umurmu sekarang?” sang tua bertanya dan kujawab dengan taksim. “Masih ada 10 tahun lagi untukmu. Setelah itu, sikap dan perilakumu akan memberi warna terhadap hidupmu. Hitam atau putih jalanmu akan kamu tentukan di dekade kelima. Aku kira kamu akan mencapai sesuatu” imbuhnya tanpa jeda.

Aku sendiri menerawang tidak percaya sekaligus tersanjung melayang hingga langit ketujuh. Entah ini pujian entah cacian, bagiku terdengar tidak berbeda sore itu, sampai sang tua mengeluarkan kalimat pamungkasnya. “Kalau tak seagama ya saya tidak komentar. Kalau Tuhannya sudah salah ya susah!” Lelaki berwibawa ini, selain lihai karena silat lidahnya, kini memberikan pelajaran yang paling berarti bagiku. Mendengar ucapan pamungkasnya aku tersenyum dan tidak sedikitpun terkejut. Dalam hati aku lepaskan tawa yang paling hebat yang pernah kumiliki. Pak Tua, biarlah aku mencatat namamu dan tesenyum oleh kelakarmu. Tak pantas luka, apalagi marah karena kelucuan sederhanamu sebab Tuhanku pun pstilah sedang terpingkal-pingkal.

Bali Exotic Meeting 2008

Sangat banyak yang sesungguhnya ingin saya ceritakan tentang gambar ini. Di saat yang sama, sangat banyak alasan untuk tidak melakukannya. Ada saja kesibukan sehingga menuliskan cerita yang baik, runut dan indah tidak selalu mudah dilakukan.

Foto ini adalah satu saja dari banyak sekali hal yang terjadi di Bali minggu lalu. Istimewanya, foto ini adalah juga pertanda momen penting karena minggu lalu saya melakukan presentasi ilmiah saya pertama kali di Pulau Dewata. Yang lebih hebat, cerita ini dipenuhi keberanian dan prestasi anak-anak muda, mahasiswa saya yang tampil sangat baik dalam sebuah acara bernama Bali Scientific Meeting 2008. Atas kreativitas mereka dan kiprahnya yang membanggakan saya berikan penghargaan kepada Farid Yuniar dan Krisna Arimjaya atas presentasi yang mengesankan di Bali. Selain itu kepada mereka yang telah bekerja keras mewujudkan dua makalah, saya juga memberikan apresiasi kepada Vito, Nyoman Nala, Febri Iswanto dan Listyo Fitri. Langkah berani mereka akan menjadi ispirasi teman dan adik-adik mereka di kampus Teknik Geodesi tercinta.

Lihat juga posting Farid untuk melihat papernya.

Rome was not built in a day but Prambanan was

Dalam sebuah percakapan santai dengan seorang kawan yang sedang berada di Malaysia, pembicaraan melebar ke mana-mana. Suatu ketika saya berucap “Rome was not built in a day” ketika kami berbicara tentang perjuangan di dunia penelitian dan penyelesaian studi. Penelitian memang bukan sesuatu yang mudah dan tidak boleh instan. Karena itulah saya mengutip pepatah termasyur itu, Roma memang tidak dibangun dalam sehari.

Secara mengejutkan, setidaknya bagi saya, kawan saya ini membalas kelakar filosofis saya dengan kelakar yang tak kalah cerdasnya, “but Prambanan was” Saya kaget bukan kepalang, karena kebetulan tidak pernah terpikir selama ini. Mungkin bagi banyak orang, hal ini biasa dan tidak istimewa, bagi saya ini luar biasa. Lontaran spontan kawan ini mengajarkan saya sesuatu. Meski saya yakin kawan ini tidak terobsesi dengan kelakarnya tentang Prambanan dan tetap percaya juga bahwa Rome was not built in a day, ucapan ini memberi saya inspirasi yang hebat.

Bangsa ini disuguhi berbagai legenda yang mencengangkan seperti Loro Jongrang yang akhirnya melahirkan Candi Prambanan. Indah, walaupun tidak masuk akal, setidaknya jika dilihat dengan kacamata ilmiah modern yang diyakini sebagian besar umat manusia saat ini. Apa bisa candi semegah Prambanan dibangun dalam sehari? Apapun penjelasannya, cerita Loro Jongrang telah menjadi bagian hidup sebagian orang di negeri ini. Jika saja cerita ini adalah dongeng belaka yang didengarkan seksama dan kemudian berlalu, mungkin tidak menjadi persoalan. Yang berbahaya adalah jika cerita ini benar-bener menjadi inspirasi bahwa sesuatu yang megah dan hebat itu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat.

Lebih parah lagi jika legenda ini yang membuat banyak sekali orang mau menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu. Yang ingin cepat kaya memilih untuk menyimpan sebagian uang yang bukan haknya. Yang ingin pekerjaan dan kedudukan memilih untuk mengeluarkan sebagian uang yang seharusnya tidak dikeluarkannya. Yang ingin sekolah di tempat hebat memilih untuk membelikan kepala sekolahnya sebuah mobil baru. Semua itu sangat tepat menggambarkan persetujuannya bahwa “Prambanan was built in a day.” Apakah memang sedasyat itu?

Kawan saya dalam kelakarnya pastilah bukan salah satu dari orang-orang yang percaya pada sesuatu yang instan. Guyon cerdasnya baru saja menghadirkan satu mata rantai yang selama ini hilang dan kepada saya pribadi telah menjelaskan banyak sekali hal. Terima kasih Mas Dedi Atunggal di UTP, Malayasia.

Nyetrika

Minggu lalu, saya kebagian tugas nyetrika baju. Berbagai pertimbangan membuat keluarga tidak memiliki pembantu yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadilah tugas-tugas rumah tangga menjadi ‘milik bersama’ alias ‘keroyokan’.

Menyetrika pakaian bukan pekerjaan baru bagi saya. Ketika tugas di luar negeri, terutama saat ngantor di gedung PBB New York, nyuci dan nyetrika jadi pekerjaan tetap. Kalau dinikmati, nyuci dan nyetrika bisa jadi menyenangkan. Setelah seharian atau mungkin seminggu bekerja dengan kepala, rasanya refreshing juga ketika sekarang kerja dengan tangan saja. Kalau boleh, kepala bisa ditinggal di kamar, supaya tidur 🙂

Yang menarik tentu bukanlah nyetrikanya. Saya mengamati betapa banyaknya pakaian saya yang bahkan banyak darinya terlupakan. Bukan apa-apa, tidak semua dari mereka saya pakai bahkan berbulan-bulan. Kami sekeluarga sebenarnya tidak suka belanja pakaian. Selain karena alasan finansial [sebenarnya ini yang utama he he], juga karena bukan pengikut tren fesyen. Meski begitu, tetap saja jumlah pakaian terasa terlalu banyak.

Saya jadi ingat tulisan Dwi Lestari yang berjudul Harta Karun untuk Semua. Betul memang, betapa banyaknya hal yang kita miliki dan sesungguhnya tidak kita perlukan. Kita terbiasa membeli sesuatu yang sesungguhnya jauh lebih banyak dari yang kita butuhkan dalam hidup. Pakaian hanyalah salah satu saja dari banyak hal. Memang hal ini tidak selalu terjadi karena keingingan sendiri, biasanya justru karena desakan pihak luar. Ibu mertua saya, misalnya, cukup sering menasihati istri saya agar membelikan baju kemeja yang bagus dan banyak untuk saya. “Masak dosen bajunya mung itu-itu saja”, kata beliau berkelakar. “Klambi kuwi swiwi, rumah itu projo”, katanya selalu menasihati. Penampilan memang penting, tidak bisa dipungkiri. Tapi apakah itu harus membuat kita memiliki baju jauh melebihi yang kita butuhkan? Saya tidak tahu.

Yang jelas, saya masih tetap membeli baju walaupun saya mengusahakan untuk menjadikannya minimal. Itupun, ketika saya nyetrika sendiri, sudah membuat saya kelebihan pakaian. Mungkin ini saatnya untuk mendermakan sebagian pakaian bekas layak pakai. Kini saya baru mengerti istilah itu. Dulu jaman kuliah, saya bingung ketika diminta mengumpulkan pakaian bekas layak pakai. Yang saya punya kebanyakan adalah pakaian tidak layak pakai, tapi jelas-jelas tidak bekas karena masih saya pakai kuliah 🙂

Pakaian yang jumlahnya melebihi kebutuhan adalah hal yang sangat biasa, tidak saja bagi orang kaya, tapi juga bagi yang tidak kaya. Entah kekuatan apa penyebabnya, sangat mudah bagi orang untuk membeli pakaian baru ketika pakaian yang dimilikinya masih sangat layak dipakai. Seperti itulah kekuatan mode. Ketika faktor internal tidak begitu kuat, desakan eksternal biasanya melumpuhkan. Tuntutan profesi, gengsi keluarga, dan lain lain adalah sedikit saja dari setumpuk alasan. Saya pribadi ingin mengurangi membeli pakaian, semoga bisa. Yang jelas, saya ingin mengajak siapa saja untuk tidak menilai buku dari kulitnya. Ijinkan saya tetap tersenyum dan percaya diri, walaupun baju saya tidak baru.

Dua lelaki

Dua lelaki itu, dulu besar dan kecil, kini sama wibawanya. Dua lelaki itu, dulu satu menghukum dan satu menjadi pesakitan dalam pergulatan norma-norma berwajah desa, kini sama ketajaman pikirnya. Dua lelaki yang dulu adalah langit dan bumi, kini adalah dua gumpalan awan yang berarak beriringan. Seperti itulah waktu yang dengan mudah tanpa persetujuan mengubah dua lelaki menjadi sama tanpa beda.
Dua lelaki itu, yang ketika dulu bertutur dan dituturi, kini bersilat lidah dalam kesetaraan. Dua lelaki yang dulu beda usia kini waktu mengampuni perbedaannya. Hilang sudah jurang yang pernah menganga, dua lelaki itu berdekatan karena pijakannya kini sama tinggi. Begitulan alam yang membuat waktu melesat cepat, terbang dan tanpa permisi. Dua lelaki itu berjalan bersebelahan, sama tinggi dan sama perkasanya.