Sang aku boleh saja bersikeras tentang kebisaannya, tentang kepiawaiannya dalam berkarya dan menebarkan asa. Sang ego boleh saja berbusa bibirnya ketika meyakinkan kesendiriannya untuk tetap berpesona. Ada yang tidak bisa dikesampingkan. Adalah kekuasaan sang waktu yang terbagi tepat adil kepada setiap yang sering membuat sang aku menyerah. Luluh lantaklah sang ego ketika harus menghadapi masa. Duapuluh empat masa, mohon ampun, tidak bisa ditambahkan kepada siapapun. Pun tidak untuk mereka yang bercita-cita menjadikan sang dewa sebagai karibnya. Ada kalanya kita harus menyerah, tunduk dan mengaku kalah kepada sang waktu.
Perempuan Luar Biasa
Dalam hidup yang baru bejalan beberapa saat ini, aku beruntung telah bertemu dengan banyak sekali orang hebat. Di antara mereka yang hebat, aku telah bertemu dengan setidaknya empat perempuan yang luar biasa.
Perempuan pertama adalah dia yang kusebut Ibu (atau Meme’ dalam Bahasa Bali). Kehebatannya terletak pada kesederhanaan dan ketulusannya. Kasih sayang yang tidak muluk-muluk telah mengantarkan aku melompat tinggi, melampaui apa yang pernah bisa diimpikannya. Meme’ adalah perempuan luar biasa.
Perempuan luar biasa kedua adalah istriku. Keluarbiasaannya adalah keberaniannya membiarkan aku memilih jalan yang terjal curam penuh risiko dengan tetap tersenyum menyaksikan setaiap kegagalan dan keberhasilanku. Kehebatannya terletak pada keaslian pribadinya yang kata seorang kawanku ”genuine” dengan tidak pernah berusaha menjadi orang lain. Dia tersenyum karena memang baik, bukan karena terpaksa tersenyum. Istriku menjadi alasan untuk tetap kuat dan mencapai lebih banyak hal.
Ibu mertua adalah perempuan hebat ketiga yang mengisi hidupku. Kehebatannya bersandar pada ketelitian dan ketelatenannya, memberikan contoh kepadaku tentang makna persiapan hidup. Kepadanya aku menyandarkan diri akan banyak persoalan kecil rumit yang hanya memerlukan ketabahan dan kesediaan. Kepadanya aku memasrahkan segala urusan kecil yang tak akan terselesaikan tanpa menggerakkan tangan dan kaki yang sederhana. Ibu mertua, kadang menjadi bayangan tinggi yang aku inginkan semua perempuan menjadi sepertinya.
Putriku adalah hasil dari semua banyangan perempuan yang di mataku luar biasa. Dilahirkan jauh dari tanah sendiri, perempuan kecil ini telah menunjukkan kerjasama yang luar biasa bahkan sejak dalam kandungan ibunya. Perempuan ini, meskipun, masih terlalu hijau untuk dinilai, telah menunjukkan kesungguhannya mendukung pencapaianku dengan meminimalisir keruwetan dan kegaduhan yang ditimbulkannya karena ke-bayi-annya. Putriku adalah perempuan luar biasa.
Hidup di antara empat perempuan luar biasa memberiku inspirasi. Mungkin saatnya untuk berpikir bahwa kalki awatara sebaiknya perempuan, agar terbebas dunia ini dari dominasi kaum adam.
Kebenaran yang bersinggasana di dalam
Selamat Galungan, begitu seorang kawan mengirimkan sms pagi ini. Ini adalah Galungan yang kesekian kalinya terlewatkan di luar Bali, di mana umumnya orang berpesta dan beritual di saat yang sama. Suasana yang senantiasa membangkitkan kerinduan.
Apa makna Galungan kini? Kemenangan Dharma atas Adharma, itu jawaban standar yang dipelajari bahkan sejak dalam kandungan. Makna ini kini berterbangan di angkasa melalui sms dan di belantara maya melalui email, website dan blog. Mudah ditemukan dan mudah dingat. Ketika teknologi sudah merambah bilik-bilik spiritual, berbagai kemudahan ternikmati. Sms yang hanya 300 rupiah membawa ucapan Selamat Galungan lintas benua. Dia membawa makna kemenangan Dharma atas Adharma ke manapun pikiran sempat singgah. Kartu ucapan yang dulu harus dikirim pos seminggu sebelum hari raya, kini menjelma menjadi kartu elektronik yang dikirim dalam hitungan detik tepat pada hari h. Tidak ada lagi pak pos yang sumringah mengantar kartu ucapan di sebuah gang kecil di pelosok Bali Utara atau Bukit Jimbaran di ujung Selatan Bali. Semuga instan, cepat, murah dan canggih.
Surat yang dulu ditulis satu atau dua halaman dengan berpikir dan mencurahkan perhatian, kini berganti sms yang bahkan hasil forward dari pengirim sebelumnya. Isinya pun kadang tidak sempat kita lihat, apalagi maknanya. Yang pasti tujuannya pasti sama, mengucapkan Galungan kepada orang yang dicintai.
Kecanggihan dan kebudayaan yang serba instan menawarkan kemudahan. Meski demikian, bukan berarti membuat kita tidak lagi mempertanyakan kebenaran alias Dharma itu sendiri. Kemenangan Dharma atas Adharma ini harus dicari konteksnya dalam tatanan hidup yang lebih modern, serba cepat dan instan seperti sekarang ini. Pun dalam dunia yang sakit di mana orang semakin susah membedakan baik dan buruk, dharma dengan adharma, pemaknaan Galungan senantiasa harus dilakukan.
Seorang sahabat muda bertanya di suatu pagi. Mengapa ketika kita berbuat baik (baca: dharma) kita justru mendapat imbalan yang tidak menyenangkan? Kalau memang benar hukum Tuhan bahwa kebaikan akan melahirkan kebaikan, mengapa ini tidak selalu terjadi?
Dalam konsep Hindu, pertanyaan ini mudah sekali dijawab. Karma Pala adalah kuncinya. Jangan lupa, perbuatan bisa berbuah di masa kini atau masa depan. Sebaliknya, apa yang kita nikmati masa kini bisa jadi adalah buah perbuatan masa kini, bisa juga perbuatan di masa lalu. Jawaban ini jelas cukup ampuh. Kebenaran akan menjelma, meski tidak harus hari ini. Itu pasti!
Di mana kita mencari kebenaran? Jika berhasil menemukan, silahkan cari di deretan sms, serangkaian email atau blog yang dibaca setiap hari. Mungkin benar jika orang mengatakan the truth is out there atau up there. Setelah cukup lama membiarkan diri menikmati kebenaran dan ketidakbenaran, saya sampai pada kesimpulan yang barangkali bukan yang terarkhir bahwa kebenaran bersinggasana di dalam diri. Barang siapa yang membiarkan dirinya merenung sekali waktu, berdialog secara damai dengan hati nuraninya dan berkonsultasi tentang kebaikan dan kebenaran, maka kepada dialah akan diingatkan bahwa kebenaran itu sesungguhnya ada di dalam hati.
Ketika para tetangga hanya bisa menyaksikan kita di pagi dan sore hari saat mulut dihiasi senyum, wajar jika dia melihat kita sebagai orang baik. Tetapi, jika dalam keadaan merenung dan bertanya kepada sang diri, kita tetap menemukan jawaban bahwa kita adalah orang yang baik, itulah barangkali penilaian terjujur yang harus dipercaya. Kebaikan itu ada di dalam diri, tidak perlu mencari ke mana-mana. Persoalannya adalah sang diri seringkali tidak kita biarkan berekspresi, kita tutup dengan segala macam identitas yang mungkin kadang tidak perlu. Mari berbaik hati pada kebenaran yang bersinggasana di dalam diri. Selamat Galungan!
Menangislah sekali lagi
Menangislah sekali lagi, seperti ketika kamu belum terbiasa berjalan tegak dan belum dagumu mendongak tak pernah jatuh. Menagislah sekali lagi, karena mungkin ini kesempatan terakhir untukmu menjadi orang biasa. Tangisanmu adalah kejujuran yang mungkin tak kau peroleh lagi di tempat baru.
Air matamu adalah pertanda kesahajaanmu yang sesungguhnya mahal. Air mata adalah perwakilan cinta yang sesungguhnya tidak pernah kering dalam telaga hatimu. Keluarkanlah. Wakilkan keharuan dan kebaikan putihmu yang sebenarnya tidak pernah ternoda. Wakilkan semua ketulusan itu dengan isak dan senggukmu yang berlinang air mata. Jangan. Jangan kau tahun, pun kau seka. Jangan pula biarkan perasaan malu dan kelelakianmu terhina hanya karena air matamu.
Air matamu, sesungguhnya adalah siraman untuk tanaman cintamu dan bibit keperkasaanmu sebagai lelaki. Jangan perhah hinakan tetasannya yang sesungguhnya melegakan dadamu. Menangis, dan sadarlah.
Pintu Sorga
Satu lebaran lagi terlewati. Pintu maaf dibuka lebar-lebar, tidak saja bagi yang puasa sebulan penuh seperti Cak Mamat, tetapi juga bagi Kondang yang tidak pernah puasa karena kebetulan bukan muslim. “Kosong-kosong, ya Cak”, Kondang tergopoh mendekati Cak Mamat sambil menyalaminya. Cak Mamat kontan menjadi terkenal karena dia satu-satunya orang yang merayakan lebaran di desa itu. Dengan Bahasa Arab terbata, Kondang pun menirukan ucapan selamat lebaran di TV yang kurang lebih artinya “mohon maaf lahir dan batin”. Kodang juga sering menambahkan dengan kalimat “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”.
Lebaran kali ini, Kondang rajin mendengarkan kasetnya GIGI terbaru yang bertajuk Pintu Sorga. Ada rasa teduh ketika mendengar suara Armand melantunkan lagu rohani. Kondang semakin terbius karena teringat salah satu pentolan band mapan Indonesia itu adalah Dewa Budjana yang orang Bali dan Hindu. Inilah kolaborasi lintas iman yang menyentuh hati Kondang. Semestinya semua orang begitu, pikirnya.
Selain Pintu Sorga, Kondang juga mendengarkan Nyanyian Dharma 2 yang diprakarsai Dewa Budjana. Yang menjadikannya istimewa adalah Nyanyian Dharma kali ini merupakan kolaborasi yang juga lintas iman. Dengar saja Trie Utami yang melantunkan Gayatri Mantram dan mengumandangkan Karma. Juga Emil, penyani cilik yang jauh-jauh dari Palembang mengumandangkan ajaran Tri Kaya Parisudha. Betapa indahnya! Toleransi yang sebenarnya lewat seni.
Di sela sumringah hatinya menyambut lebaran, Kondang sedikit terusik. Seorang kawannya mengeluh karena ditegur oleh temannya ketika mendengarkan lagu rohani di kantornya. Kondang bertanya-tanya apakah si teman yang kebetulan puasa ini juga wajib puasa dalam hal menikmati lagu? Atau jangan-jangan karena lagu rohani itu tidak termasuk dalam lingkaran kitab sang teman? Kondang hanya bisa menyimak, tidak tahu karena sayang sekali Kondang bukan pemuka agama.
Menyebut nama Tuhan
Kondang belakangan ini rajin nonton TV. Salah satu dampaknya adalah dia mulai menyerap berbagai kata gaul dari dunia luar. Kondang yang sehari-hari membajak dan mencangkul, tidak segan-segan mengatakan “kasihan, deh lu” kepada seorang pengangon bebek yang menceritakan bebeknya malas betelur. Begitulah kondang, telah dicapainya banyak kemajuan dalam hidup dari menonton TV.
“Sh*t!” begitu kondang sering berujar kalau sedang kesal. Tak jarang pula dia berujar “f*ck” kalau sedang kecewa pada temannya. Kontan temannya yang lugu dan rata-rata sopan menasihatkan. “Kamu jangan terbiasa mengucapkan kata-kata kasar begitu. Biasakanlah mengucapkan nama Tuhan, pun saat kita kesal.” “Om Sairam”, “Oh my God”, “Masya Allah” pasti terdengar lebih baik.” begitu nasihat kawannya.
Kondang tersentuh.. benar juga ya… pikirnya.
Hari-hari berikutnya, Kondang mulai mempraktikkan 🙂
“Oh my God!” ucapnya ketika sedang kesal. Satu yang terasa aneh, Kondang merasakan kekesalan yang sama, kedongkolan yang tak berkurang dan kebencian yang juga tidak tertawarkan ketika menyebut nama Tuhan ini. Terasa agak janggal ketika Kondang menyadari, perasaan yang persis sama terjadi ketika dia menyebut nama Tuhan dan mengatakan “f*ck”. Mungkin ada yang salah…
Penerima Australian Partnership Scholarship (APS) 2006
Pengumuman berikut diambil dari situs resmi APS Jakarta. Ditampilkan di sini agar bisa dilihat langsung tanpa perlu mendownload. Jika ingin mendapatkan file aslinya, silahkan download dari website APS Jakarta dalam format EXCEL.
[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]
[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]
[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]
[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]
Pujian
Pujian bagaikan bola salju yang mengelinding di lautan salju kebaikan. Gelindingannya akan menyambar dan membawa serta kebaikan dalam pelariannya yang panjang. Bola salju kebaikan ini akan membesar, membesar dan membesar. Gemuk dengan kebaikan yang melekat di sepanjang jalan.
Begitulah pujian itu membuat si bola salju mengambil lebih banyak kebaikan, dan menempuh lebih jauh penjelajahan. Akibatnya, bola raksasa kebaikan yang siap membawa kesejukan kepada lebih banyak burung yang melintas, kangguru yang melompat-lompat di sekitarnya dan bahkan orang-orang perkampungan salju yang kadang hidupnya gerah dalam kedingingan.
Adalah pujian yang membuat bola salju kebaikan menjadi lebih kuat dan berlari lebih jauh sehingga menebar kesejukan kepada lebih banyak pihak. Adalah pujian yang menguatkan dan meyakinkan si bola salju untuk bertahan lebih lama. Sampaikanlah pujian, bukan saja untuk membesarkan bola salju, tetapi juga untuk mendapatkan kesejukan bagi dirimu sendiri.
Opera Zaman
Petualangan tentu saja tidak selalu berarti penjelajahan di alam dengan mendaki gunung, menyusuri gua, menaklukkan karang terjal dan melintasi tepian pantai yang panjang. Petualangan juga adalah perjalanan bathin dalam mencari jati sang aku melalui proses yang panjang dan pasti melelahkan.
Opera Zaman adalah kumpulan cerita pendek yang memuat 20 kisah petualangan dan ditulis oleh 20 penulis yang berbeda. Saya cukup beruntung karena salah satu dari 20 cerpen itu adalah karya sendiri. Keduapuluh cerpen ini ada dalam buku tersebut setelah melalui seleksi yang ketat dan telah menyisihkan tidak kurang dari 150 karya cerpen lainnya. Sebagai pemula, tidak berlebihan kalau saya bersenang hati.
Kumpulan cerpen ini sudah bisa dinikmati di berbagai toko buku di sekitar Anda. Saya sebagai salah seorang penulis tidak akan mendapatkan satu rupiahpun dari penjualannya. Semua akan disumbangkan untuk pengadaan buku-buku sekolah di Indonesia. Walau sedikit, semoga sumbangsih ini ada manfaatnya.
Apa yang bisa Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi ini? Belilah bukunya, baca dan dapatkan manfaatnya, walau setitik debu tak berarti. Harganya Rp 20.000,-. Sepintas terdengar mahal. Tapi percayalah itu sama dengan hanya menghemat 2 sms sehari selama satu bulan. Anda akan bisa membelinya tanpa bersusah-susah. Bagaimana caranya menghemat sms? Manfaatkan batas jumlah karakter yang 160 itu 🙂 Selamat berpetualang!
Abdi
Made Kondang tersenyum menatap dirinya di cermin. Lelahnya sepulang kerja di ladang perlahan sirna, setelah meneguk teh panas di sore hari. Minum teh panas tentu saja bukan hal yang baru dalam hidupnya. Teh panas sore ini berbeda karena tidak seperti biasa dibuat oleh Nyoman Sumi, istrinya. Teh itu dibuat oleh mbak Nem, pembantu rumah tangganya. Hal kecil ini, bagi Kondang, sangat istimewa. Adalah tidak lazim bagi seorang petani seperti Kondang memiliki pembantu rumah tangga. Bukan saja karena penghasilannya yang tidak cukup untuk membayar gaji seorang pembantu, Kondang juga tidak dilahirkan untuk menjadi seorang majikan, apalagi bos. Tidak sama sekali. Kondang, lagi-lagi, tersenyum dalam hati.
Situasi telah berubah, seorang Kondang pun kini memiliki abdi. Menggelikan!
Kondang masih tidak terbiasa menyebut dirinya Bapak ketika berbicara kepada pembantunya. Ketika berteriak di depan rumah meminta pintu dibukakan, pembantu bertanya “siapa ya?” Kondang dengan polosnya berujar “Kondang!”. Tentu saja mbak Nem, yang memang tidak diwajibkan tahu nama majikannya itu membalas, “Kondang siapa ya?”. Kondang tersadar, hm rupanya dia harus menggunakan sebutan lain. “Ini Bapak”, katanya dengan sedikit terbata. Bergegas mbak Inem dengan wajah pucat membukakan pintu dan membungkuk mempersilahkan Kondang masuk rumah. Dengan langkah ragu Kondang melangkah masuk dan tidak kuasa menahan geli. Hidup telah berubah.