Mantu kepada mertua

Ibu tersayang,

Saya hanyalah seorang manusia biasa yang penuh dengan kelemahan, tetapi saya adalah anakmu. Ibu sudah saya anggap sebagai Ibu sendiri, bukan hanya mertua. Saya menyadari saya memang dikarunia sifat buruk yaitu cepat emosi. Tidak sepantasya saya berkata keras kepada Ibu yang sudah berusaha membantu saya dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari dan menyesal telah melakukan ini. Terimalah maaf anakmu yang penuh kelemahan ini.

Saya mengerti pasti Ibu sangat kecewa dengan saya dan tidak ingin bertegur sapa. Saya maklumi itu. Tapi saya mohon jangan pendam amarah lama-lama karena saya akan menderita karenanya. Berikanlah saya jalan untuk minta maaf dan bertobat karena saya tidak akan pernah tenang sebelum mendapatkan maaf dari Ibu. Seandainya saya ada di rumah saya akan berlutut mencium kaki Ibu pertanda saya menyesali kesalahan ini.

Silahkan Ibu memarahi saya, tetapi jangan menyiksa anakmu ini dengan dendam. Jalan saya bertemu Tuhan akan tertutup jika Ibu menyimpan amarah ini dan tidak memberi saya kesempatan bertobat. Maafkan anakmu ini Bu.

Salam sayang,
Saya

Hey there Delilah

Hey there Delilah
What’s it like in New York City?
I’m a thousand miles away
But girl tonight you look so pretty
Yes you do
Times Square can’t shine as bright as you
I swear it’s true

Hey there Delilah
Don’t you worry about the distance
I’m right there if you get lonely
Give this song another listen
Close your eyes
Listen to my voice it’s my disguise
I’m by your side

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me

Hey there Delilah
I know times are getting hard
But just believe me girl
Someday I’ll pay the bills with this guitar
We’ll have it good
We’ll have the life we knew we would
My word is good

Hey there Delilah
I’ve got so much left to say
If every simple song I wrote to you
Would take your breath away
I’d write it all
Even more in love with me you’d fall
We’d have it all

Oh it’s what you do to me
[Hey There Delilah lyrics on http://www.metrolyrics.com%5D

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me

A thousand miles seems pretty far
But they’ve got planes and trains and cars
I’d walk to you if I had no other way
Our friends would all make fun of us
and we’ll just laugh along because we know
That none of them have felt this way
Delilah I can promise you
That by the time we get through
The world will never ever be the same
And you’re to blame

Hey there Delilah
You be good and don’t you miss me
Two more years and you’ll be done with school
And I’ll be making history like I do
You know it’s all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here’s to you
This ones for you

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.

Oh oh
OOOoohhhh
Oh oh
Ooooooohhhhh
Oh Oh
OOOoohhhh
OOOOooohhhhh
Oh Oh

Pilihan sulit: Ketika harus menolak beasiswa

Saya tahu dari agak lama kalau hidup adalah pilihan. Begitu setidaknya dari buku-buku yang dibaca termasuk dari cerita orang-orang di sekitar. Ada juga satu kawan lain yang berfilsafat sambil berkelakar, “hidup adalah pilihan ganda”, katanya. Nampaknya saya setuju ini. Hidup memang rupanya adalah pilihan ganda. Walaupun boleh memilih, seringkali pilihannya terbatas. Yang membedakan orang yang satu dengan lainnya adalah jumlah pilihannya. Berbahagialah orang yang memiliki kesempatan memilih dari lebih banyak kemungkinan. Dengan begini semestinya seseorang bisa memilih yang lebih baik.
Saya baru saja dihadapkan pada dua pilihan yang selintas nampak menyenangkan. Saya mendapat dua beasiswa sekaligus untuk studi PhD dari negara yang sama. Satu adalah ALA dan satu lagi Endeavour. Saya sudah bercerita tentang ALA ini tapi mungkin belum banyak cerita tentang Endeavour. Silahkan Anda simak di websitenya jika ingin tahu lebih banyak.
Mengapa saya katakan ini adalah pilihan sulit? Pastinya karena keduanya sangat menggoda dan sepertinya saya tidak ingin melepaskan salah satu. Kalau saja saya boleh serakah, keduanya akan saya ambil. Namun, sekali lagi, hidup adalah tumpukan pilihan dan itupun pilihan ganda. Saya harus memilih.

Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.

Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.

Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.

PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour

Cod fish

Sudah menjadi kebiasaan, makan siang kami isi dengan percakapan yang kadang sangat jauh dari riset masing-masing. Makan siang menjadi saat yang menarik karena masing-masing bisa melepaskan diri dari rutinitas riset, walau sejenak. Siang itu, seorang kawan dari Brazil bercerita tentang Ikan Kod di negaranya. Ikan Kod adalah jenis ikan yang sangat mahal dan menjadi simbol status ekonomi yang tinggi bagi pemakannya.

Ibunya bercerita suatu saat. Dulu ketika ibunya kecil, Ikan Kod adalah ikan yang paling murah karena sangat mudah didapat di sekitar pemukiman. Saking mudahnya menadapatkan Ikan Kod, hampir tidak ada harganya, kalaupun ada yang menjual. Karena murah, ikan ini tidak memberikan gengsi yang tinggi kepada pemakannya. Keluarga yang makan Ikan Kod adalah keluarga miskin yang tidak bisa membeli jenis ikan lain yang lebih mahal. Kalau sebuah keluarga makan Ikan Kod di suatu sore, maka sang ayah akan memerintahkan sang ibu rumah tangga untuk menutup jendela ruang makan agar tetangga tidak tahu kalau mereka makan Ikan Kod. Mereka malu sekali kalau ketahuan, karena akan dicap bukan dari kelas menengah ke atas.

Sementara hari ini, kalau sebuah keluarga makan Ikan Kod maka mereka cenderung membuka jendela lebar-lebar seakan ingin menunjukkan pada dunia kalau mereka bisa makan ikan mahal ini. Kod memang kini sangat mahal di Brazil.

Begitulah kecenderungan bergesar setiap saat. Di tahun 70-an, konon di dunia barat orang merasa nyaman naik mohil, sementara di Asia masih menggunakan sepeda. Kini negara berkembang, terutama di Asia bangga menggunakan mobil sementara orang barat katanya semakin banyak yang menggunakan sepeda gayung. Begitulah kehidupan, trend menjadi sesuatu yang penting atau setidaknya dipentingkan.

Takut

Seorang kawan berkebangsaan Comoros mengirimkan email ke kawan lainnya dalam bahasa Prancis. Dia takut datang ke New York karena merasa Bahasa Inggrisnya tidak bagus. Dia melihat New York seperti kota menakutkan karena tidak bisa berbahasa Inggris. Apa yang akan dia lakukan di kota itu?
Kawan Comoros ini adalah seorang duta bangsa, dia masih mengalamai ketakutan, pun karena persoalan bahasa. Tidaklah berlebihan kalau seorang Made Kondang, ciut nyalinya waktu pertama kali harus datang ke Denpasar dari desanya di pojok Kabupaten Tabanan yang bahkan tidak terlihat di Peta Bali. Kali ini bukan karena bahasa tetapi karena Kondang melihat kemewahan yang menyeramkan.
Ketika mendatangi sebuah restoran China di bilangan Queens, New York, pengalaman menggelikan sekaligus menjengkelkan terjadi. Mbak China yang cantik ternyata tidak cakap berbahasa Inggris. Bahasanya membentak-bentak, nada tinggi dan volume keras, menawarkan menu yang tidak dimengerti. Hal yang sama juga terjadi ketika saya menanyakan menu yang diinginkan dan dia tidak mengerti. Tercampur baur antara “chiken”, “rise” dan semua istilah yang sesungguhnya sederhana menjadi ruwet. Saya kadang putus asa 😦

Tapi bukankah mereka berbisnis di New York?
Belasan restoran yang saya kunjungi, setengahnya menunjukkan hal serupa. Bahasa Inggris menjadi kendala. Bagaimana mereka bisa dan berani mendirikan bisnis di New York kalau Bahasa Inggris saja tidak lancar? Pertanyaan ini seringkali mengganggu pikiran saya.

Jadi ingat lagi kawan Comoros yang pernah ciut nyalinya. Saya jadi bertanya, “apakah ketakutan itu masih perlu?” Mungkin saatnya Comoros belajar dari China.

Serendipity

Sejak menonton filmnya pertama kali, saya memang telah menyukai Serendipity. Film yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale ini tergolong komedei yang romantis. Tema sentral film ini bukanlah sesuatu yang baru sesungguhnya. Adakah tema yang umurnya lebih tua dari cinta?

Yang menarik, ketika menonton pertama kali, adalah keberanian sutradara dalam mengetengahkan tema ‘tak masuk akal’ meyangkut kebetulan dan takdir di tengah kehidupan metropolitan New York City. Saya tidak akan bercerita tentang kisah dalam film ini tetapi tentang melihat sesuatu dari waktu dan sudut pandang bebeda.

Saya menonton film ini sekali lagi ketika berada di New York dan mendapati hal yang berbeda. Ketika menonton pertama kali, banyak sekali detail yang terlewatkan tanpa pemahaman. Kini ketika telah mengenal New York, banyak hal yang menarik untuk diperhatikan.
Setelah tahu di mana lokasi Toko Bloomingdale’s yang menjual pernak-pernik natal, bayangan tentang pertemuan Jonathan dan Sara menjadi lebih jelas dan bermakna. Setelah melihat sendiri Restoran Serendipity, anak-anak yang berlari dan bermain di dalam restoran ketika Jon dan Sara makan es krim jadi lebih bisa dimengerti. Restoran ini memang terkenal dikunjungi keluarga dan anak-anak betah walaupun tidak ada taman bermain seperti di McDonalds misalnya :).

Wajah lelah Jonathan yang berhimpitan di kereta api (subway) kini tergambar lebih nyata setelah mengalami bagaimana suasana subway di sore hari yang dipenuhi wajah-wajah lelah. Selain itu, suasana romantis di Central Park tempat orang ber-ice skating menjadi nyata setelah semalam menghabiskan waktu, duduk beberapa meter dari orang-orang yang berselancar di sana. Memandang dari sebuah tempat duduk sambil sesekali mengarahkan pandangan ke megahnya gedung yang gemerlap di kejauhan menjelaskan dengan tepat apa yang disaksikan Jonathan dan Sara ketika Jon menjelaskan tentang Caseopea di tangan kanan Sara. Serendipity hadir di depan mata dan bahkan terasa menjadi bagian darinya.

Begitulah cerita dan pelajaran yang sesungguhnya tidak akan terpahami sempurna sebelum mengalami sendiri. Belajar tentang sesuatu, kata seorang kawan, memang baik tetapi lebih baik lagi kalau kita bisa belajar sesuatu, terlebih mengerjakan sesuatu. Entah untuk disetujui entah tidak, Jon menasihatkan bahwa untuk bisa menjalani hidup dalam harmoni dengan semesta, kita hendaknya memiliki keyakinan yang kuat akan apa yang disebut nenek moyang manusia sebagai ‘fatum’ atau apa yang dewasa ini kita sebut sebagai ‘takdir’.

Tinggal di New York, Bekerja di Jogja

Setiap kali membaca tulisan Gede Prama di Kompas, saya selalu terkesima dengan kalimat terakhirnya, “bekerja di Jakarta, tinggal di desa Tajun, Bali Utara.” Tidak banyak yang memiliki kebebasan memilih seperti Gede Prama.

Meskipun masih jauh dari seorang Gede Prama, saya punya mimpi “Tinggal di New York, bekerja di Jogja”. Tulisan semodel ini pernah dibuat oleh Astri, seorang kawan maya saya. Tentu saja bukan berarti saya ingin tinggal di New York. Saya hanya ingin tetap mengajar di Jogja ketika sedang berada di New York atau di mana saja di belahan dunia lainnya. Setelah melakukan pencarian, lahirlah sebuah gagasan kuliah jarak jauh berbiaya rendah seperti pada gambar di atas.

Gagasannya muncul begitu saja dan saya sempat tuliskan menjadi sebuah dokumen yang cukup rapi sebelum akhirnya dicoba ke berbagai negara. Hari ini, mimpi itu tercapai juga, saya mengajar live dengan metode ini dari New York untuk mahasiswa satu kelas (hampir 40 orang) di Teknik Geodesi dan Geomatika FT UGM, Jogja.

Ini salah satu testimoni peserta kuliah:

Hai Pak Andi, bagaimana kabar Anda dsana?Semoga baik dan sehat selalu..
Langsung aja neh Pak Andi, terus terang kuliah PPBW jarak jauh yang Saya alami bener2 merupakan pengalaman baru dan menarik bagi Saya dan juga temen2 lainnya yang mengambil mata kuliah PPBW..Terlepas dari masalah koneksi yang terkadang terputus dan suara yang terkadang hilang, Saya lebih menarik memberi kesan tentang niat seorang dosen yang dengan semangat dan kepeduliannya untuk berbagi ilmu dan pengalamannya walau terpisah jarak jauh dari mahasiswanya..Salut dan Bangga, itulah kesan Saya Pak..Semoga Pak Andi tidak bosan berbagi ilmu dan pengalaman dengan Kami..Proud of You Mr.Andi..Semoga Sukses Study nya Ya Pak..
Saya berharap bisa mendapat ilmu dan pengalaman dari Bapak..

Selamat Berjuang Pak Dosen

Sepuluh tahun pertama

Aroma debu yang ditinggalkan oleh sepatu ratusan orang berkeliaran setiap hari di palataran Balairung masih tercium sempurna sore itu. Entah dari mana datangnya harap, seorang gadis manis berkaca mata duduk di pojok lain dalam kerumunan rapat mahasiswa. Itulah awal pertemuan kami sepuluh tahun yang lalu. Tak diawali dengan rencana, pun tak ada yang bermaksud menjodohkan, pertemuan sederhana itu berbunga dan akhirnya berbuah.

Ada banyak sekali tanggal yang biasa kami peringati. Tanggal 7 September adalah pertemuan pertama, tanggal 15 november adalah hari jadian, tanggal 14 April ulang tahun pernikahan, dan banyak lagi. Mungkin ada yang tidak setuju karena setelah menikah, hanya ada satu peringatan yaitu pernikahan. Tidak salah, tetapi tidak adil rasanya karena perjuangan dan sejarah yang terlibat dalam pertemuan, menyatakan cinta termasuk mengikat janji remaja juga sangat penting. Dalam beberapa hal mungkin bahkan terasa lebih penting.

Di sepanjang sejarah hidup kami, perjalanan menuju pernikahan adalah sesuatu yang sangat mudah, jauh dari tantangan. Tidak ada yang perlu berargumentasi menentang ketika kami nyatakan niat. Dunia seperti terbebas dari puasanya yang panjang dan para orang tua seperti terlepas dari ketegangan saat menyaksikan kedekatan kami yang mengarah bahaya. Begitulah ketika hubungan dua hati terjadi. Saat kedekatan tidak berhasil dibina, sakit hati mudah terjadi, cemburu menguasai dan curiga merongrong perasaan. Sebaliknya ketika kedekatan terpupuk sempurna, bahaya mengancam, setidaknya begitulah ketika orang-orang berpegang pada norma.

Sepuluh tahun yang lalu, di Pura Mandara Giri Jawa Timur, ada keputusan penting yang diambil oleh dua remaja kecil yang mungkin sesungguhnya belum seberapa paham akan hidup. Tetapi begitulah sang ego selalu meyakinkan bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik. Ketika niat sudah dibulatkan dan tekad sudah dinyatakan, arah angin, sinar bulan, dan para dewapun seakan dipaksa memberi restu. Begitulah dua remaja kecil, masa lalu kami, dengan ego yang kami sebut cinta, memutuskan sesuatu. Tak bijaksana barangkali, tapi tak sekalipun disesali.

Perjalanan dihiasi penyesuaian-penyesuaian yang diselingi gairah terlarang, sambil sekali dua kali belajar dari alam dan perjalanan. Ada kegagalan jika dilihat dari bingkai biasa tapi keberhasilan menumpuk saat dipandang dari sudut lainnya. Begitulah kami menjalani hari-hari dengan cara sendiri. Satu penuturan pastilah tidak sanggup menjadi saksi perjalanan itu, tapi catatan harus dibuat dan sejarah harus dituliskan betapapun sederhananya.

Seringkali sesuatu menjadi kurang bermakna ketika diceritakan dengan kata-kata. Biarlah senyum Lita dan kenakalannya yang bertutur lebih banyak tentang perjalanan sepuluh tahun pertama ini. Dalam setiap senyumnya, ada cerita yang bahkan sesungguhnya menjadi rahasia. Rahasia bagi kami berdua atau bahkan masing-masing. Selamat ulang tahun cinta, satu dekade adalah saat yang tidak berlebihan untuk bersulang.

Menabung

“Di mana kawan Comoros kita?” saya bertanya pada seorang rekan dari Columbia ketika mendapati sebuah kursi kosong di meja makan tempat kami biasa makan siang. “Dia tidak mau makan siang di kafetaria, dia bawa makan siang sendiri. Katanya ingin menabung sebanyak-banyaknya!”, kawan dari Cameroon menjawab sambil berkelakar sementara gadis Columbia yang saya tanyai hanya tersenyum.

Sepuluh orang dari kami yang berkesempatan melakukan penelitian di kantor PBB memang dari negara berkembang. Tidak sulit membayangkan kalau gaji yang diberikan memang layak ditabung untuk sesuatu yang berharga ketika pulang ke negara masing-masing. Fenomena seperti ini sangat tipikal rupanya, tidak hanya menghinggapi peneliti di tanah Indonesia yang konon menukar proposalnya dengan sekotak susu untuk anak bayinya atau menggadaikan paper ilmiahnya untuk SPP anak sulungnya yang baru masuk SMP.

Di sela-sela berisik sendok beradu piring kaca, saya diam-diam tersenyum. Sementara ada yang berpikir tentang susu dan SPP, kawan di samping saya bergumam “Thanks to the fellowship, I bought my first car“. Saya sendiri belum tertarik membeli mobil karena kebetulan uangnya tidak memadai. Setidaknya senang juga karena beberapa keping dolar sempat saya berikan kepada mahasiswa yang mempresentasikan makalahnya di sebuah forum terhormat di Indonesia. Semoga tabungan ini tidak salah arah dengan cara begini.

Kemakmuran

Seorang perempuan berkebangsaan Cina yang sudah menjadi penduduk tetap Amerika di suatu sore bercakap-cakap dengan saya. “Apakah kamu ingin tinggal di Amerika?”, begitu salah satu pertanyaannya. Memang sudah seperti keniscayaan bahwa orang dari negara berkembang yang datang ke Amerika ingin menetap dan hidup di negara ini. Pertanyaan dan termasuk kecurigaan seperti ini sangat umum saya dengar selama satu setengah bulan terakhir.
Saya katakan bahwa saya akan pulang dan saya adalah pekerja pemerintah. “Tapi pemerintah tidak memberimu imbalan yang cukup kan?”, begitu dia melanjutkan. Ucapan perempuan inipun tidak salah. Istilah “cukup” tentu saja bisa diperdebatkan. Begitulah percakapan itu menjadi semakin hangat dan mengarah ‘panas’ terutama karena terlalu banyak kata-kata yang apriori dan terkesan meremehkan Indonesia. Yang menyedihkan, dia tidak tahu dan belum pernah ke Indonesia, tahu sedikit-sedikit saja, itupun dari CNN 🙂

“Kamu di sini punya rumah berapa?”, saya bertanya di suatu kesempatan. “Satu”, katanya. “Aku punya dua di Indonesia. Kamu punya tanah nggak di sini?”, saya lanjutkan. “Tidak” katanya. “Aku punya tidak kurang dari setengah hektar lahan pemukiman”, saya tambahkan lagi. “Kamu masak sendiri, nyuci sendiri, nyetrika sendiri, cuci piring sendiri, nyiram tanaman sendiri, jemur baju sendiri, nyapu rumah sendiri, kan?” entah dari mana datangnya pertanyaan beruntun itu dan dia mengiyakan. Saya bilang “Aku tidak pernah melakukan itu sendiri! Gajiku cukup untuk membayar orang lain dengan imbalan yang terhormat.”

Tidak sepenuhnya baik, apa yang saya sampaikan kepada perempuan Cina ini tetapi rasanya ingin juga memberi wawasan lain tentang Indonesia kita. Saya tidak tahu mana yang lebih baik, setidaknya saya tidak kecewa dengan hidup di Indonesia dan tidak pernah bermimpi hidup di Amerika untuk selamanya. Biarlah hanya sekali dua kali menyaksikan gemerlap kunang kunang di Manhattan dari megahnya Brooklyn Bridge. Itu sudah cukup bagi saya.