Sepuluh tahun pertama


Aroma debu yang ditinggalkan oleh sepatu ratusan orang berkeliaran setiap hari di palataran Balairung masih tercium sempurna sore itu. Entah dari mana datangnya harap, seorang gadis manis berkaca mata duduk di pojok lain dalam kerumunan rapat mahasiswa. Itulah awal pertemuan kami sepuluh tahun yang lalu. Tak diawali dengan rencana, pun tak ada yang bermaksud menjodohkan, pertemuan sederhana itu berbunga dan akhirnya berbuah.

Ada banyak sekali tanggal yang biasa kami peringati. Tanggal 7 September adalah pertemuan pertama, tanggal 15 november adalah hari jadian, tanggal 14 April ulang tahun pernikahan, dan banyak lagi. Mungkin ada yang tidak setuju karena setelah menikah, hanya ada satu peringatan yaitu pernikahan. Tidak salah, tetapi tidak adil rasanya karena perjuangan dan sejarah yang terlibat dalam pertemuan, menyatakan cinta termasuk mengikat janji remaja juga sangat penting. Dalam beberapa hal mungkin bahkan terasa lebih penting.

Di sepanjang sejarah hidup kami, perjalanan menuju pernikahan adalah sesuatu yang sangat mudah, jauh dari tantangan. Tidak ada yang perlu berargumentasi menentang ketika kami nyatakan niat. Dunia seperti terbebas dari puasanya yang panjang dan para orang tua seperti terlepas dari ketegangan saat menyaksikan kedekatan kami yang mengarah bahaya. Begitulah ketika hubungan dua hati terjadi. Saat kedekatan tidak berhasil dibina, sakit hati mudah terjadi, cemburu menguasai dan curiga merongrong perasaan. Sebaliknya ketika kedekatan terpupuk sempurna, bahaya mengancam, setidaknya begitulah ketika orang-orang berpegang pada norma.

Sepuluh tahun yang lalu, di Pura Mandara Giri Jawa Timur, ada keputusan penting yang diambil oleh dua remaja kecil yang mungkin sesungguhnya belum seberapa paham akan hidup. Tetapi begitulah sang ego selalu meyakinkan bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik. Ketika niat sudah dibulatkan dan tekad sudah dinyatakan, arah angin, sinar bulan, dan para dewapun seakan dipaksa memberi restu. Begitulah dua remaja kecil, masa lalu kami, dengan ego yang kami sebut cinta, memutuskan sesuatu. Tak bijaksana barangkali, tapi tak sekalipun disesali.

Perjalanan dihiasi penyesuaian-penyesuaian yang diselingi gairah terlarang, sambil sekali dua kali belajar dari alam dan perjalanan. Ada kegagalan jika dilihat dari bingkai biasa tapi keberhasilan menumpuk saat dipandang dari sudut lainnya. Begitulah kami menjalani hari-hari dengan cara sendiri. Satu penuturan pastilah tidak sanggup menjadi saksi perjalanan itu, tapi catatan harus dibuat dan sejarah harus dituliskan betapapun sederhananya.

Seringkali sesuatu menjadi kurang bermakna ketika diceritakan dengan kata-kata. Biarlah senyum Lita dan kenakalannya yang bertutur lebih banyak tentang perjalanan sepuluh tahun pertama ini. Dalam setiap senyumnya, ada cerita yang bahkan sesungguhnya menjadi rahasia. Rahasia bagi kami berdua atau bahkan masing-masing. Selamat ulang tahun cinta, satu dekade adalah saat yang tidak berlebihan untuk bersulang.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Sepuluh tahun pertama”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s