Menabung


“Di mana kawan Comoros kita?” saya bertanya pada seorang rekan dari Columbia ketika mendapati sebuah kursi kosong di meja makan tempat kami biasa makan siang. “Dia tidak mau makan siang di kafetaria, dia bawa makan siang sendiri. Katanya ingin menabung sebanyak-banyaknya!”, kawan dari Cameroon menjawab sambil berkelakar sementara gadis Columbia yang saya tanyai hanya tersenyum.

Sepuluh orang dari kami yang berkesempatan melakukan penelitian di kantor PBB memang dari negara berkembang. Tidak sulit membayangkan kalau gaji yang diberikan memang layak ditabung untuk sesuatu yang berharga ketika pulang ke negara masing-masing. Fenomena seperti ini sangat tipikal rupanya, tidak hanya menghinggapi peneliti di tanah Indonesia yang konon menukar proposalnya dengan sekotak susu untuk anak bayinya atau menggadaikan paper ilmiahnya untuk SPP anak sulungnya yang baru masuk SMP.

Di sela-sela berisik sendok beradu piring kaca, saya diam-diam tersenyum. Sementara ada yang berpikir tentang susu dan SPP, kawan di samping saya bergumam “Thanks to the fellowship, I bought my first car“. Saya sendiri belum tertarik membeli mobil karena kebetulan uangnya tidak memadai. Setidaknya senang juga karena beberapa keping dolar sempat saya berikan kepada mahasiswa yang mempresentasikan makalahnya di sebuah forum terhormat di Indonesia. Semoga tabungan ini tidak salah arah dengan cara begini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s