Serendipity


Sejak menonton filmnya pertama kali, saya memang telah menyukai Serendipity. Film yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale ini tergolong komedei yang romantis. Tema sentral film ini bukanlah sesuatu yang baru sesungguhnya. Adakah tema yang umurnya lebih tua dari cinta?

Yang menarik, ketika menonton pertama kali, adalah keberanian sutradara dalam mengetengahkan tema ‘tak masuk akal’ meyangkut kebetulan dan takdir di tengah kehidupan metropolitan New York City. Saya tidak akan bercerita tentang kisah dalam film ini tetapi tentang melihat sesuatu dari waktu dan sudut pandang bebeda.

Saya menonton film ini sekali lagi ketika berada di New York dan mendapati hal yang berbeda. Ketika menonton pertama kali, banyak sekali detail yang terlewatkan tanpa pemahaman. Kini ketika telah mengenal New York, banyak hal yang menarik untuk diperhatikan.
Setelah tahu di mana lokasi Toko Bloomingdale’s yang menjual pernak-pernik natal, bayangan tentang pertemuan Jonathan dan Sara menjadi lebih jelas dan bermakna. Setelah melihat sendiri Restoran Serendipity, anak-anak yang berlari dan bermain di dalam restoran ketika Jon dan Sara makan es krim jadi lebih bisa dimengerti. Restoran ini memang terkenal dikunjungi keluarga dan anak-anak betah walaupun tidak ada taman bermain seperti di McDonalds misalnya :).

Wajah lelah Jonathan yang berhimpitan di kereta api (subway) kini tergambar lebih nyata setelah mengalami bagaimana suasana subway di sore hari yang dipenuhi wajah-wajah lelah. Selain itu, suasana romantis di Central Park tempat orang ber-ice skating menjadi nyata setelah semalam menghabiskan waktu, duduk beberapa meter dari orang-orang yang berselancar di sana. Memandang dari sebuah tempat duduk sambil sesekali mengarahkan pandangan ke megahnya gedung yang gemerlap di kejauhan menjelaskan dengan tepat apa yang disaksikan Jonathan dan Sara ketika Jon menjelaskan tentang Caseopea di tangan kanan Sara. Serendipity hadir di depan mata dan bahkan terasa menjadi bagian darinya.

Begitulah cerita dan pelajaran yang sesungguhnya tidak akan terpahami sempurna sebelum mengalami sendiri. Belajar tentang sesuatu, kata seorang kawan, memang baik tetapi lebih baik lagi kalau kita bisa belajar sesuatu, terlebih mengerjakan sesuatu. Entah untuk disetujui entah tidak, Jon menasihatkan bahwa untuk bisa menjalani hidup dalam harmoni dengan semesta, kita hendaknya memiliki keyakinan yang kuat akan apa yang disebut nenek moyang manusia sebagai ‘fatum’ atau apa yang dewasa ini kita sebut sebagai ‘takdir’.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s