Wayan

Made Kondang tergopoh-gopoh menemui Nak Lingsir, mengabarkan berita yang menggemparkan. Seorang pemuda di desanya diterima bekerja di kapal pesiar.

“Wayan diterima bekerja Nak Lingsir, sebulan lagi dia berangkat ke Amerika.”
”Astungkara” Nak Lingsir mengucap syukur lalu melanjutkan. ”Wayan memang berbeda dengan kebanyakan anak muda di kampug ini. Banyak orang yang tidak suka melihat kelakuanya, tetapi aku tahu, suatu saat dia akan berhasil. Saat masih kecil dia dikenal sangat kreatif. Dia biasa membuat sabung ayam tiruan dari daun keladi dan taji duri salak. Cerdas sekali bukan? Wayan juga sudah menunjukkan sifat mandiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Di saat teman-temannya menangkap capung dengan getah kamboja, dia sudah menggunakan getah nangka, meskipun waktu itu dilarang orang tuanya. Dia juga berani mengambil risiko, pernah mengusir bebek Kak Wi yang terkenal galak itu dari kolamnya. Dia tetap tenang walaupun akhirnya dimarahi. Pemberani sekali dia. Wayan memang sudah menunjukkan kelasnya dari dulu. Saat teman-temannya masih menggunakan sepeda gayung, dia sudah berhasil meyakinkan bapaknya untuk membelikannya motor. Memang luar biasa si Wayan. Aku turut senang mendengar berita ini.”

Continue reading “Wayan”

Happy Mother’s Day

Ibu
Oleh Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Cinta sederhana

Newcastle
Men Suda (sebut saja demikian), tetangga saya seberang jalan, patah tangannya. Sebuah kecelakaan kendaraan roda dua yang cukup parah membuatnya menderita patah tulang. Saat itu paruh akhir dekade 1980an, saya belum genap 10 tahun dalam usia. Setiap hari, tanpa diminta oleh siapapun, saya selalu berada di rumah Men Suda. Dek Cung, anaknya nomor dua, memang adalah sahabat saya. Sahabat untuk mancing lindung dan membuat layangan. Dek Cung adalah pahlawan tak tertandingi urusan membuat layangan: be-bean, bucu dua, kedis-kedisan pre-prean, ikut-ikutan. Semua jenis layangan dia bisa.

Continue reading “Cinta sederhana”

Para Sahabat

Noisy Mynah – Newcastle

Bocah itu berlari sekencang-kencangnya, keringatnya bercucuran membasahi baju seragam SD putih merah yang sudah lusuh. Di kepalanya bertengger sehelai topi berlambang Tut Wuri Handayani, lusuh tak terkira. Sepatu hitamnya tak kalah mengenaskan, berdebu dan sedikit camping.

Dia mendapati apit surang rumahnya dan mulai mendesis. Sejurus kemudian melompatlah seekor tupai mungil dari balik rerimbunan kembang kertas. Mahkluk kecil itu berlari dan memanjat kaki sang bocah, mencengkramkan kuku-kukunya di kaos kaki, lalu ke lutut, ke celana merah hatinya dan akhirnya bertengger di bahu. Tupai itu mengendus-endus seakan hendak mencium.

Belum puas melepas rindu dengan si tupai, sang bocah bersiul siul seperti memanggil ke arah pohon kamboja di jaba sanggah tak jauh dari apit surang. Melesatlah dari sebatang dahan, seekor burung tekukur nan jinak. Belum sempat disadari, kakinya sudah bertengger di kepala si bocah yang masih ditutup topi lusuhnya. Dua binatang itu adalah sahabatnya.

Continue reading “Para Sahabat”

Takdir, Bajaj dan Gus Dur

“Gitu aja kok repot!” adalah sebuah ucapan tenar yang sering dikemukakan Gus Dur di masa hidupnya. Dari kalimat ini, jelas terlihat bahwa beliau adalah sosok yang blak-blakan, lugas, cuek dan berani berbeda. Meskipun kontroversial, Gus Dur adalah sosok istimewa yang perlu lebih banyak jumlahnya di Indonesia yang bhineka. Sebagai seorang muslim, Gus Dur adalah tokoh yang menjunjung pluralisme.

Continue reading “Takdir, Bajaj dan Gus Dur”

Kaca mata minoritas

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

http://i.dailymail.co.uk

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.

Continue reading “Kaca mata minoritas”

Love Cartography

Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.

Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

Continue reading “Love Cartography”

Telur Colombus


columbus_egg
http://www.gutenberg.org

Di sebuah kamar kecil berukuran tak lebih dari 2,5 meter kali 2,5 meter, saya melihat seorang kawan sedang tertegun melihat setumpukan kertas di atas meja. Saya tidak melihat wajahnya terpesona apalagi terkesima. Dari air mukanya dan mimiknya yang hambar, saya bisa meyakini bahwa dia tidak bergitu kagum pada apa yang dilihatnya.

Mung koyo ngene iki kok bisa menang, Ndi!” demikian katanya yang kira-kira berarti tulisan jelek begini kok bisa menang! Dia baru saja menyelesaikan membaca tulisan saya yang berjudul “Menggugat Korea” yang dinyatakan sebagai salah satu pemenang lomba Essay tentang Korea bulan Oktober tahun 2000. Kawan saya ini tidak salah, tulisan saya memang tidak istimewa. Dia tidak lebih dari sekedar gumaman seorang manusia biasa yang melihat kenyataan dan kemudian menuliskannya. Tulisan itu bukanlah analisis seorang pakar, tak juga terlihat pintar dengan berbagai istilah yang sulit. Tulisan itu adalah ungkapan jujur yang sederhana, tidak lebih tidak kurang.

Continue reading “Telur Colombus”

Selamat Galungan & Kuningan

galungan

Menuliskan Sejarah

The Champion
The Champion

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.

“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.

Continue reading “Menuliskan Sejarah”