Bunga

Keindahan dan keistimewaan memang sangat relatif. Mengingat cerita lama, kawanku selalu bilang “Cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak” katanya. Tentu saja ini lebih banyak ditujukan untuk gurauan, tetapi penggal pertama dari kelakar ini nampaknya benar.

Sejak minggu lalu, tanaman hias di ruanganku mulai berbunga. Di gedung PBB, kejadian seperti ini rupanya tidak sering sehingga menarik perhatian. Mencium aroma bunga yang semerbak dari ruanganku, hampir semua orang terusik dan penasaran. Setiap beberapa menit ada saja orang yang datang ke ruanganku untuk melihat bunga itu. Komentarnya senada, menunjukkan kekagumanan dan keheranan yang tinggi. Suatu saat Direktur Division for Ocean Affairs and Law of the Sea mampir dan menyatakan apresiasinya.

Ketika aku dan Sampan, perempuan Thailand yang seruangan denganku, tidak sedikitpun merasaan keistimewaan, orang-orang penting yang adalah petinggi PBB datang silih berganti menyaksikan kejadian “biasa” itu. Tentu saja memang tidak istimewa meyaksikan tanaman itu berbunga yang di kampung ada di mana saja dan bahkan menjadi tanaman pagar. Ketika sesuatu menjadi keseharian, dia bisa saja kehilangan keistimewaannya.

Setiap kali datang, masing-masing menyatakan apresiasinya yang serius. Ada yang membahas aspek biologisnya, ada yang mengulas Feng-Sui-nya sebagai tanaman keberuntungan, ada juga yang menyatakan keprihatinannya karena tanaman tersebut tidak berkembang leluasa karena sudah menyentuh langit-langit ruanganku.

Aku sendiri dan Sampan sering hanya tersenyum menyaksikan ulah para curator tanaman itu. Diam-diam belajar juga tentang makna keistimewaan dari sudut pandang berbeda. Mengapresiasi adalah satu dari kewajiban hidup yang tidak mudah dilakukan, ternyata.

Semalam di New Jersey

Dingin menusuk tulang, sepi seperti dunia yang mati dan malam seperti tak ingin ditemani. Gelap yang membungkam kota hanya membiarkan suara serangga mengusik lirih. New Jersey malam ini menggigil membiarkanku terabaikan di sebuah ruangan yang beku.
Dukuk di sofa merah mengarahkan pandangan ke TV yang dari tadi tidak bernyanyi sambil sesekali membuang pandangan ke luar membuat kesendirian nyata dan dalam terasa. Pohon natal yang baru saja dihias di sudut lainnya tak tersenyum sedikit jua. Christmas memang masih jauh untuk dibayangkan, walau lomba obral dan komersial sudah terasa sejak lama. Inilah makna natal yang paling terasa. Sale!

Laptop kesayangan setia bertengger di atas pangkuan, kini dia benar-benar sesuai namanya, on top of my lap, tidak seperti biasanya on top of the desk atau on top of the bed. Kasihan juga kalau harus menamainya bedtop, apalagi desktop, karena jelas-jelas yang terakhir sudah dimiliki pihak lain.

New Jersey malam ini merenggut kehangatan dan menyembunyikannya entah di mana. Tidak sedikitpun disisakannya untukku yang menggigil dan berharap kehangatan dari sapaan makhluk-makhluk manis penghuni dunia maya yang tak kunjung tiba.

Perempuan di layar kaca

Menikmati wajah itu di layar kaca, seperti bercermin di kolam yang jernih bening. Melihat matanya yang berbinar, pastilah bukan satu-satunya keindahan yang bisa dinikmati, pun dia bukan yang istimewa. Menyaksikan hamburan kecerdasan yang menari lewat kata-kata adalah kecemerlangan yang niscaya. Inilah yang menggetarkan hati.

Perempuan di layar kaca ini bukan sepupu, bukan juga anak sedarah. Dia bayang-bayang tinggi hasil rekayasa idealisme tentang keindahan dan kecerdasan. Begitulah dia yang indah tetapi seperti tidak terjangkau. Kepiawaian yang menjadi pergunjingan dan sorot mata yang bahkan melumpuhkan menjadi keniscayaan yang tidak terbantah.

Perempuan di layar kaca, manik-manik kecil menjadi bekal yang tak habis untuk dijarah. Pun ketika terik matahari mencoba mengeringkan hati. Kejayaannmu yang tak tergapai membuat tertunduk kesombongan ini, luruh dalam menyelusup di bawah langkahmu yang panjang.

Salju

Banyak sekali hal yang membuat orang terheran-heran bahkan terkagum-kagum. Yang menarik, hal yang sederhana bagi seseorang, bisa mencengangkan bagi yang lain, demikian pula sebaliknya.

Ketika masih pacaran, mengajak Asti pulang ke kampung di Bali adalah pengalaman menyenangkan. Bukan karena pacarannya [saja] tapi karena Asti sangat mudah terkesima dengan kejadian-kejadian kecil di desa. Bayu, sepupu umur 2 tahun yang terampil bermain perang-perangan di sawah bermandikan lumpur dan jerami yang busuk membuatnya terkesima. Tak pernah terbayang baginya ada anak sekecil itu bermandikan lumpur bau tanpa membuat orangtuanya khawatir.

Pengalaman lain banyak lagi. Bapak yang pernah ke Jakarta terkesima dengan jalan layang dan pencakar langit yang menjulang. Seandainya Bang Yos tahu itu, mungkin dia tersenyum geli. Begitulah hidup yang penuh rahasia. Tak mudah mengatakan sesuatu itu indah atau buruk karena selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ketika salju mengguyur New York, saya adalah satu dari sedikit yang terkesima. Mungkin seperti anak Kota Jakarta yang terbengong-bengong melihat anak desa memandikan kerbau, saya pun demikian. Ketika seorang kawan dari Italy meledek, saya pun hanya meringis. Tapi berhasil membuatnya terkesima ketika saya ceritakan tentang seorang perempuan tua penambang batu padas yang mengantarkan anaknya berkantor di Gedung PBB. Jika pernah terkesima, nikmatilah dan tidak usah berpikir betapa sederhana dan memalukannya seorang saya ketika itu.

Gadis cantik

“Orang ini benar-benar lambat dan bodoh. Masak untuk urusan seperti itu saja tidak bisa. Katanya orang penting, katanya utusan negara, katanya pejabat, katanya satu dari yang terbaik, tetapi kenapa kenyataannya sangat tolol. Kalau untuk melakukan hal sederhana itu saja tidak bisa, tidak layak dia disebut orang pintar, apalagi berprestasi. Apa artinya prestasi. Omong kosong itu semua. Waktuku sejam habis untuk melayani ketololannya.” Kondang menumpahkan kekecewaannya lewat cacian tanpa henti membuat kawannya, Genjo, tidak sempat berkata apa-apa. Genjo melongo menyaksikan Kondang yang tidak biasanya mengumpat seperti itu.

Genjo kemudian bertanya, “apa kabar si cantik Bunga?” Pertanyaan itu spontan membuat Kondang terdiam. “Hey, kamu tahu Bunga. Dari mana?” Kondang curiga. “Ya orang secantik dia, siapa yang tidak tahu!” Genjo menambahkan.

“Dia luar biasa. Cantiknya membuat siapa saja lupa akan kesedihan. Aku menghabiskan waktu seharian dengannya kemarin, mengajari cara ngeprint, cara mengubah warna tulisan di microsoft word, cara meratakan paragraf…” Kondang bicara tanpa henti memamerkan pengalamannya mengajari Bunga hal-hal yang menurut Genjo sangat bodoh dan tidak perlu.

“Kamu seharian menghabiskan waktu dengannya untuk hal-hal sederhana itu? Genjo setengah tidak percaya. “Ya, kenapa?” Genjo segera menyambar, “Aku yang harus tanya, kenapa kamu bisa menghabiskan seharian untuk semua nonsense itu dengan Bunga sementara mengumpat ketika menghabiskan sejam untuk seorang teman?” Kondang menjawab ragu, “mungkin karena Bunga cantik!?!” Genjo terdiam…

Mantu kepada mertua

Ibu tersayang,

Saya hanyalah seorang manusia biasa yang penuh dengan kelemahan, tetapi saya adalah anakmu. Ibu sudah saya anggap sebagai Ibu sendiri, bukan hanya mertua. Saya menyadari saya memang dikarunia sifat buruk yaitu cepat emosi. Tidak sepantasya saya berkata keras kepada Ibu yang sudah berusaha membantu saya dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari dan menyesal telah melakukan ini. Terimalah maaf anakmu yang penuh kelemahan ini.

Saya mengerti pasti Ibu sangat kecewa dengan saya dan tidak ingin bertegur sapa. Saya maklumi itu. Tapi saya mohon jangan pendam amarah lama-lama karena saya akan menderita karenanya. Berikanlah saya jalan untuk minta maaf dan bertobat karena saya tidak akan pernah tenang sebelum mendapatkan maaf dari Ibu. Seandainya saya ada di rumah saya akan berlutut mencium kaki Ibu pertanda saya menyesali kesalahan ini.

Silahkan Ibu memarahi saya, tetapi jangan menyiksa anakmu ini dengan dendam. Jalan saya bertemu Tuhan akan tertutup jika Ibu menyimpan amarah ini dan tidak memberi saya kesempatan bertobat. Maafkan anakmu ini Bu.

Salam sayang,
Saya

Hey there Delilah

Hey there Delilah
What’s it like in New York City?
I’m a thousand miles away
But girl tonight you look so pretty
Yes you do
Times Square can’t shine as bright as you
I swear it’s true

Hey there Delilah
Don’t you worry about the distance
I’m right there if you get lonely
Give this song another listen
Close your eyes
Listen to my voice it’s my disguise
I’m by your side

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me

Hey there Delilah
I know times are getting hard
But just believe me girl
Someday I’ll pay the bills with this guitar
We’ll have it good
We’ll have the life we knew we would
My word is good

Hey there Delilah
I’ve got so much left to say
If every simple song I wrote to you
Would take your breath away
I’d write it all
Even more in love with me you’d fall
We’d have it all

Oh it’s what you do to me
[Hey There Delilah lyrics on http://www.metrolyrics.com%5D

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me

A thousand miles seems pretty far
But they’ve got planes and trains and cars
I’d walk to you if I had no other way
Our friends would all make fun of us
and we’ll just laugh along because we know
That none of them have felt this way
Delilah I can promise you
That by the time we get through
The world will never ever be the same
And you’re to blame

Hey there Delilah
You be good and don’t you miss me
Two more years and you’ll be done with school
And I’ll be making history like I do
You know it’s all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here’s to you
This ones for you

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.

Oh oh
OOOoohhhh
Oh oh
Ooooooohhhhh
Oh Oh
OOOoohhhh
OOOOooohhhhh
Oh Oh

Pilihan sulit: Ketika harus menolak beasiswa

Saya tahu dari agak lama kalau hidup adalah pilihan. Begitu setidaknya dari buku-buku yang dibaca termasuk dari cerita orang-orang di sekitar. Ada juga satu kawan lain yang berfilsafat sambil berkelakar, “hidup adalah pilihan ganda”, katanya. Nampaknya saya setuju ini. Hidup memang rupanya adalah pilihan ganda. Walaupun boleh memilih, seringkali pilihannya terbatas. Yang membedakan orang yang satu dengan lainnya adalah jumlah pilihannya. Berbahagialah orang yang memiliki kesempatan memilih dari lebih banyak kemungkinan. Dengan begini semestinya seseorang bisa memilih yang lebih baik.
Saya baru saja dihadapkan pada dua pilihan yang selintas nampak menyenangkan. Saya mendapat dua beasiswa sekaligus untuk studi PhD dari negara yang sama. Satu adalah ALA dan satu lagi Endeavour. Saya sudah bercerita tentang ALA ini tapi mungkin belum banyak cerita tentang Endeavour. Silahkan Anda simak di websitenya jika ingin tahu lebih banyak.
Mengapa saya katakan ini adalah pilihan sulit? Pastinya karena keduanya sangat menggoda dan sepertinya saya tidak ingin melepaskan salah satu. Kalau saja saya boleh serakah, keduanya akan saya ambil. Namun, sekali lagi, hidup adalah tumpukan pilihan dan itupun pilihan ganda. Saya harus memilih.

Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.

Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.

Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.

PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour

Cod fish

Sudah menjadi kebiasaan, makan siang kami isi dengan percakapan yang kadang sangat jauh dari riset masing-masing. Makan siang menjadi saat yang menarik karena masing-masing bisa melepaskan diri dari rutinitas riset, walau sejenak. Siang itu, seorang kawan dari Brazil bercerita tentang Ikan Kod di negaranya. Ikan Kod adalah jenis ikan yang sangat mahal dan menjadi simbol status ekonomi yang tinggi bagi pemakannya.

Ibunya bercerita suatu saat. Dulu ketika ibunya kecil, Ikan Kod adalah ikan yang paling murah karena sangat mudah didapat di sekitar pemukiman. Saking mudahnya menadapatkan Ikan Kod, hampir tidak ada harganya, kalaupun ada yang menjual. Karena murah, ikan ini tidak memberikan gengsi yang tinggi kepada pemakannya. Keluarga yang makan Ikan Kod adalah keluarga miskin yang tidak bisa membeli jenis ikan lain yang lebih mahal. Kalau sebuah keluarga makan Ikan Kod di suatu sore, maka sang ayah akan memerintahkan sang ibu rumah tangga untuk menutup jendela ruang makan agar tetangga tidak tahu kalau mereka makan Ikan Kod. Mereka malu sekali kalau ketahuan, karena akan dicap bukan dari kelas menengah ke atas.

Sementara hari ini, kalau sebuah keluarga makan Ikan Kod maka mereka cenderung membuka jendela lebar-lebar seakan ingin menunjukkan pada dunia kalau mereka bisa makan ikan mahal ini. Kod memang kini sangat mahal di Brazil.

Begitulah kecenderungan bergesar setiap saat. Di tahun 70-an, konon di dunia barat orang merasa nyaman naik mohil, sementara di Asia masih menggunakan sepeda. Kini negara berkembang, terutama di Asia bangga menggunakan mobil sementara orang barat katanya semakin banyak yang menggunakan sepeda gayung. Begitulah kehidupan, trend menjadi sesuatu yang penting atau setidaknya dipentingkan.

Takut

Seorang kawan berkebangsaan Comoros mengirimkan email ke kawan lainnya dalam bahasa Prancis. Dia takut datang ke New York karena merasa Bahasa Inggrisnya tidak bagus. Dia melihat New York seperti kota menakutkan karena tidak bisa berbahasa Inggris. Apa yang akan dia lakukan di kota itu?
Kawan Comoros ini adalah seorang duta bangsa, dia masih mengalamai ketakutan, pun karena persoalan bahasa. Tidaklah berlebihan kalau seorang Made Kondang, ciut nyalinya waktu pertama kali harus datang ke Denpasar dari desanya di pojok Kabupaten Tabanan yang bahkan tidak terlihat di Peta Bali. Kali ini bukan karena bahasa tetapi karena Kondang melihat kemewahan yang menyeramkan.
Ketika mendatangi sebuah restoran China di bilangan Queens, New York, pengalaman menggelikan sekaligus menjengkelkan terjadi. Mbak China yang cantik ternyata tidak cakap berbahasa Inggris. Bahasanya membentak-bentak, nada tinggi dan volume keras, menawarkan menu yang tidak dimengerti. Hal yang sama juga terjadi ketika saya menanyakan menu yang diinginkan dan dia tidak mengerti. Tercampur baur antara “chiken”, “rise” dan semua istilah yang sesungguhnya sederhana menjadi ruwet. Saya kadang putus asa 😦

Tapi bukankah mereka berbisnis di New York?
Belasan restoran yang saya kunjungi, setengahnya menunjukkan hal serupa. Bahasa Inggris menjadi kendala. Bagaimana mereka bisa dan berani mendirikan bisnis di New York kalau Bahasa Inggris saja tidak lancar? Pertanyaan ini seringkali mengganggu pikiran saya.

Jadi ingat lagi kawan Comoros yang pernah ciut nyalinya. Saya jadi bertanya, “apakah ketakutan itu masih perlu?” Mungkin saatnya Comoros belajar dari China.