An inspirational video on ICT… in the not very far future
Indera keenam
An inspirational video on ICT… in the not very far future
An inspirational video on ICT… in the not very far future

Made Kondang telah berusia lima tahun hari ini. Bagi pembaca yang kadang mengunjungi blog ini, mungkin kerap bertemu dengan Made Kondang dan mengikuti pemikiran dan keluguannya. Made Kondang saya ciptakan sebagai tokoh virtual pada tanggal 18 Januari 2005, ketika saya ada di Jakarta. Saat itu, saya berstatus sebagai mahasiwa di UNSW, Sydney dan sedang melakukan penelitian (field work) di Indonesia.
Menjadi dan berperan sebagai diri sendiri kadang membuat saya tidak mudah dalam menyampaikan gagasan. Ada saja yang membatasi dan tidak mudah untuk dijelaskan. Untuk itulah, saya menciptakan tokoh yang bisa mewakili pemikiran-pemikiran saya atau mimpi-mimpi yang tidak memerlukan terlalu banyak justifikasi. Made Kondang, lahir karena alasan dan kebutuhan itu. Dia kadang mewakili saya sendiri, meskipun lebih sering mewakili sosok imajinatif yang ada dalam angan-angan saya. Made Kondang kadang menjadi simbol gagasan, seringpula menjadi obyek penumpahann rasa senang atau tidak senang yang saya miliki. Dia kerap mewakili orang lain di sekitar saya yang menarik perhatian dan saya rasa penting untuk dibahas perilaku atau sifatnya.
Sepertinya baru kemarin sore saya menulis sebuah posting dengan judul yang terakhir di blog ini untuk memperingati berakhirnya tahun 2008, sekarang tiba-tiba saya sudah harus menulis sebuah ‘rekap’ untuk tahun 2009. Waktu memang cepat sekali berlalu, kadang saya tidak sempat menikmatinya, apalagi memetik pelajaran. Meski mungkin tidak banyak yang terjadi, tahun 2009 tetap layak saya catat sebagai masa yang penting dalam hidup.
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.
Disadari atau tidak, diakui maupun tidak, setiap ‘aku’ telah hidup berdampingan dengan kesalahan yang bahkan sudah tidak dirasakan kejanggalannya. Demikianlah tanda-tanda kemerosotan peradaban.


https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/
Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.
Di Jatimulya, Bekasi, saya mampir di sebuah jasa Vermak Jeans di pinggir jalan untuk memotong celana jeans yang baru saja dibeli. Saya selalu mengatakan celana jeans itu kepanjangan, walaupun yang sesungguhnya terjadi adalah kaki saya yang kependekan. Tapi ini bukanlah cerita tentang ukuran tubuh, tetapi tentang abang yang bekerja sebagai tukang vermak jeans.
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/12/natal-bulan-dan-laut/
Sebagai seorang blogger, saya sering merasa kehabisan ide dan kehilangan kata-kata untuk dituliskan. Sering sekali seperti tidak ada hal penting dalam hidup sehingga tidak ada yang layak ditulis. Sayapun sering menelantarkan blog ini, mati suri dalam waktu yang cukup lama.
Dalam interaksi saya dengan orang lain dan pengamatan saya terhadap lingkungan, saya kadang menemukan hal menakjubkan. Suatu saat saya berpikir tentang fenomena Natal. Hari keagamaan ini sudah dirayakan sekian tahun, lebih dari seribu tahun. Menariknya selalu saja ada film baru yang dibuat tentang tema Natal. Bagi yang menggali, Natal tidak pernah kering sebagai sumber inspirasi padahal dari dulu Natal tetaplah maknanya.
Fenomena lain adalah tentang bulan. Bulan berperilaku sama sejak jutaan tahun. Bagi mereka yang aktif, bulan tetap bisa menjadi puisi ketika usianya sudah tak terhitung. Di abad 21, tetap ada puisi tentang bulan seakan bulan baru muncul kemarin sore. Bagi orang yang kreatif, benda boleh sama perilakunya, tetapi inspirasi yang ditimbulkannya bisa senantiasa mengalir.
Laut juga serupa. Keberadaannya entah sudah berapa juta tahun. Tetap saja ada pelukis yang menjadikannya tema dan pujangga menjadikannya puisi. Laut, selama airnya masih ada, memang tidak akan pernah lelah menjadi sumber inspirasi.
Saya bertanya pada diri sendiri, betulkah saya kehabisan ide untuk sekedar mengisi blog yang sederhana ini?

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menawarkan cara-cara baru dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak saja dalam urusan kerja, TIK bahkan mempengaruhi cara kita menjaga persahabatan. Selain itu, cara bersilaturahmi atau menjaga hubungan kekerabatanpun berkembang karena TIK. Mengucapkan selamat hari raya kini berbeda caranya dibandingkan 15 tahun lalu. Jarang orang menggunakan kartu ucapan yang dikirim oleh Pak Pos. Ucapan selamat disampaikan dengan sms atau email. Kalaupun ada kartu, itu pastilah kartu elektronik alias e-card.
Kini, mengucapkan selamat hari raya bukanlah sesutu yang istimewa karena usaha yang diperlukan sangat minimal. Hanya dengan sekali klik, ucapan sudah diterima oleh kolega yang terpisah bahkan di seberang benua. Oleh karena itulah saya kadang merasa bahwa sekedar mengirim ucapan, sudah tidak istimewa lagi. Kalau pengiriman ucapan selamat sangatlah mudah dilakukan, maka isi ucapan itu yang harus dibuat istimewa.
Continue reading “Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif”