Takut

Di negeri Belanda, di misim gugur yang mulai menggigil, seorang kawan Indonesia bertanya perihal Amerika. Kawan ini ingin sekali berkunjung ke Amerika dan bahkan tertarik untuk melanjutkan pendidikan. “Di Amerika serem ya Bro?” tanyanya penuh selidik. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab. Menyadari kebingunganku, dia menambahkan “Ya, di sana sepertinya serem banget ya. Hidup tidak aman, banyak kejahatan. Penembakan di mana-mana dan mahasiswa tidak aman di kampusnya sendiri. Ngeri sekali membayangkan Amerika”. Aku yang baru saja menyelesaikan tugas di New York, hanya bisa tersenyum tertahan. Dalam jawaban setengah berkelakar, aku berkata “kamu terlalu banyak nonton film Hollywood”. Dia tidak paham, menatapku dengan sorot mata yang bingung.

Continue reading “Takut”

Harvard

harvard
Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa.

Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan muda yang bergerak cekatan, lincah dan trengginas. Beberapa dari mereka nampak berjingkat bergegas, sementara yang lainnya memegang segepok makanan dan menggigitnya sambil berlalu tergesa. Aku menyaksikannya saja. Di pojok yang agak jauh, ada sekelompok lelaki dan perempuan, membuka kotak pizza dengan antusias dan menyantapnya dengan penuh semangat. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki yang tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya entah ke mana. Sepotong sandwich yang digenggamnya, lenyap potong demi potong menyelinap ke dalam mulutnya bahkan mungkin tanpa dia sadari. Jiwanya sedang tenggelam bersama bacaannya yang memendarkan cahaya redup dari sebuah tablet yang nangkring di atas meja. Mungkin pikirannya telah tersandera kisah misteri cerdas sekelas karya John Grisham, atau melayang-layang bersama percikan rumus-rumus Kimia atau Fisika yang seakan beterbangan di sekitar kepalanya, atau hanyut bersama kasus-kasus hukum internasional yang diputuskan di gedung mentereng Mahkamah Internasional di The Hague. Entahlah, apa isi bacaan lelaki itu. Dia tenggelam sempurna dan tidak terusik oleh apa yang terjadi di sekitarnya.

Continue reading “Harvard”

Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?

Sore kemarin ada SMS masuk ke HP saya. Pengrimnya tak asing, beliau adalah kepala sekolah SMA 3 Denpasar, almamater saya sekitar dua puluh tahun silam. Nomornya masih sama dan sudah saya simpan dalam waktu sekitar lima tahun terakhir. Tanpa menunggu, SMS itu saya balas sambil bertanya. Beliau sedang ada di Jogja untuk suatu tugas dan dan saya segera menemui beliau di sebuah hotel lalu mengajaknya jalan-jalan menikmati Jogja di malam hari.

Continue reading “Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?”

Indonesia Laris Manis

Hampir setahun terlibat di Kantor Urusan Internasional UGM, kesibukan yang paling menyita perhatian dan waktu adalah menerima tamu. Setiap minggu, hampir tidak pernah tidak ada tamu dari luar negeri. Kawan sering berkelakar “kamu jadi kepala kantor atau among tamu sih?” Meski kadang lelah, selalu ada hal baru yang dipelajari dari masing-masing tamu. Yang sama dari hampir semua tamu adalah tujuan mereka untuk menjalin kerjasama dengan UGM. Sebagian besar dalam keadaan ‘ngebet’ untuk menjadi mitra UGM. Ini menarik dan berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Continue reading “Indonesia Laris Manis”

Beasiswa Luar Negeri Itu …

Kisanak mungkin pernah bertanya, mengapa ada sebuah negara berbaik hati memberikan beasiswa kepada warga negara asing untuk belajar S1, S2 dan S3 di negera mereka. Kadang kita menduga bahwa negara-negara yang demikian itu sangat dermawan dan menduga bahwa seluruh urusan ruwet dalam negerinya sudah selesai. Maka dari itulah mereka punya cukup waktu dan sumberdaya keuangan untuk diberikan kepada warga negara asing. Kisanak mungkin masih berpikir demikian.

Continue reading “Beasiswa Luar Negeri Itu …”