Category: Personal
Empat Belas April

Aku memandang ke luar jendela, mataku menerawang menyapu julangan pencakar langit yang malas berselimut dingin. Tokyo pagi ini menggigil, meski belum pula tuntas musim semi dipentaskan. Satu dua pohon sakura masih setia dengan kembangnya, menghiasi sudut-sudut kota yang tak lagi sumringah. Sakura yang gugur, orang yang melintas dingin dan pagi yang beku membuat suasana tak bersahabat.
Setangkai mawar
Malam ini kita bercinta lagi sayang. Bercinta untuk memperingati hari penting saat makhluk manusia merayakan gelora jiwa. Kita lupakan sejenak kerumitan hidup tanpa meninggalkannya. Percayalah, kita akan kembali lagi nanti untuk mengurainya lalu menjalin menjadi selimut rindu bagi buah cinta kita. Kita terbiasa dengan keringat ini, juga dengan dinginnya malam yang pekat. Semua memang biasa tetapi malam ini istimewa. Istimewa karena kuganti segenggam rangkaian bunga yang telah mengering dengan sekuntum mawar merah darah yang merekah segar sempurna. Bukan karena rangkaian bunganya telah layu dan lantak binasa, tetapi karena cinta memang perlu diremajakan. Perlu kita ingat lagi detak jantung yang berpacu seperti ketika kunikmati kelebatmu di taman-taman yang jauh. Perlu kita lantunkan lagi lagu-lagu usang pertanda pertemuan kita di masa lalu. Perlu kita buka kembali catatan janji kita untuk membangun beranda rumah masa depan.
Yang terakhir

Ini adalah posting yang ke-104 tahun 2008 dan mungkin akan menjadi yang terakhir tahun ini. Karena terlibat dalam sebuah penelitian di tengah laut selama sebulan, saya akan meninggalkan dunia maya sejak tanggal 20 Desember 2008 dan kembali pertengahan Januari 2008. Belum yakin apakah akan ada akses internet memadai di tengah samudra nanti.
Surat untuk Lita

Lita, ayah bukanlah seorang awatar yang maha sempurna, tetapi ayah memiliki cinta. Cinta yang sayang sekali mungkin pernah salah ayah terjemahkan dan tunjukkan. Cinta ini juga yang mungkin pernah mewujud menjadi teriakan yang menciutkan hati kecilmu. Tapi jangan lupa, cinta ini juga yang membuat ayah melupakan wibawa, tiarap membuang malu menangis dan tertawa dalam dunia kecilmu yang liar. Cinta ini, yang mungkin kadang salah ayah terjemahkan, yang juga membuat pelajaran-pelajaran kecil menjadi bermakna. Maafkanlah ayah.
Lita, hidup di masa depan lebih rumit dari sekedar Nick Jr. tetapi dia bisa lebih menggairahkan dari petualangan Dora dan Diego. Lebih menantang bahkan dari penjelajahan si Curious George. Untuk itulah Lita harus beriap-siap. Bersiap untuk menghadapi pagi yang datang dengan kesungguhan seperti Sportacus melakukannya. Jadilah seperti Stephanie yang tidak saja pintar dan cantik tetapi juga baik hati. Atau seperti Ulagan anaknya Siap Selem, yang mudah mengerti situasi di usia yang sangat muda. Hidup memang akan dihiasi oleh tokoh-tokoh seperti Gobrag yang sombong dan Kuwuk yang culas, tetapi akal dan kebaikan hati akan membuat kejahatan bertobat, percayalah.
Sahabat

Saya punya seorang sahabat baik. Sahabat ini melebih siapapun bagi saya, dia sangat istimewa. Ijinkan saya bercerita tentangnya.
Kami bertemu pertama kali tanggal 7 September 1997, sebelas tahun yang lalu. Waktu itu kami masih sama-sama muda, penuh semangat dan gairah. Sahabat saya ini seorang gadis yang cantik.
Nampaknya pertemuan kami direstui oleh primbon dan juga dewasa seperti kata orang Bali, persahabatan kami tumbuh dengan baik.
Aku ingin melukismu

- diambil dari http://www.wildnatureimages.com
Aku ingin melukismu. Itulah mimpi yang belum sempat aku wujudkan sejak lama. Bukan karena aku tak sempat, semata-mata karena kanvas yang tak kunjung kutemukan. Tinta emasku runtuh, pucat binasa dan lenyap cantiknya. Demikianlah setiap kali aku hendak melukismu. Kuas yang bergururan, tinta yang runtuh dan kanvas yang tak pernah cukup halusnya, semua itu tak pernah sepadan untukmu.
Lama aku bertanya tapi tidak seperti pujangga kenamaan itu. Aku tak mencegat rumput yang menari atau bintang yang bersinar jenaka. Aku tak mau seperti itu karena kutahu mereka tak kan mampu mngisahkanmu. Aku perlu yang magis dan mistis. Aku perlu asap dupa yang mengepul dan bersatu dengan merahnya senja, sepertimu yang datang dan pergi, tak kurang misteri yang tersisa. Aku perlu bintang yang jatuh memberi harapan dan lenyap sesaat sebelum sempat kupeluk. Seperti itulah anganku tentangmu yang nampak dan sirna silih berganti. Aku tak cukup menjadi seniman kebanyakan untuk menuangkan wajahmu dalam puisi. Tak akan tega bulan melantunkan tembangnya karena ia pun pasti merasa hina. Seperti itulah sulitnya berpuisi tentangmu.
Selamat Galungan…
Menggugat Indonesia?

- Bendera Merah Putih
I Made Andi Arsana , Heidelberg – Jerman
“Oh, Indonesia?! I know Susi Susanti. She is a very good badminton player!” Seseorang berteriak setengah histeris di Stasiun Kereta Api Frankfurt, Jerman ketika saya mengenalkan diri dari Indonesia. Tentu saja Susi Susanti yang lebih dikenalnya karena dia adalah penggemar bulu tangkis. Cerita ini senada dengan kejadian sebelumnya ketika saya baru saja menyelesaikan presentasi di Oslo, Norwegia. “I know Hasjim Djalal very well. He is one of the veterans of the law of the sea from Indonesia.” Tomas Heidar, ahli hukum laut berkebangsaan Islandia ini tentu saja familiar dengan Prof. Hasjim Djalal dibandingkan siapapun di Indonesia, karena reputasinya di bidang hukum laut yang tidak diragukan. Saya semakin teryakinkan bahwa “aku” lah sebagai anak bangsa yang bisa menjadi identitas bagi bangsa sendiri.
Childcare, Imunisasi dan Centrelink
Dear Liz,
I hope this finds you well.
I am writing to inform you that I will not be in tomorrow as I have to be in Sydney. I have to see Dr. Judith Salmon regarding immunisation certificate for Lita, my daughter. We need the certificate for her to be admitted in West Wollongong Preschool and also for getting childcare benefit from Centrelink. For anything I miss from your class, I will catch up from other members of the class.
Thank you, Liz. I will see you on Thursday.
Sincerely yours,
Andi
Aku buru-buru log off dari komputer di ruanganku dan berjalan setengah berlari ke stasiun kereta North Wollongong. Tujuh belas menit lagi kereta ke Sydney akan berangkat, biasanya aku memerlukan waktu sekitar 13-15 menit dari kampus ke stasiun itu.

