Setangkai mawar


mawar tua
mawar tua

Malam ini kita bercinta lagi sayang. Bercinta untuk memperingati hari penting saat makhluk manusia merayakan gelora jiwa. Kita lupakan sejenak kerumitan hidup tanpa meninggalkannya. Percayalah, kita akan kembali lagi nanti untuk mengurainya lalu menjalin menjadi selimut rindu bagi buah cinta kita. Kita terbiasa dengan keringat ini, juga dengan dinginnya malam yang pekat. Semua memang biasa tetapi malam ini istimewa. Istimewa karena kuganti segenggam rangkaian bunga yang telah mengering dengan sekuntum mawar merah darah yang merekah segar sempurna. Bukan karena rangkaian bunganya telah layu dan lantak binasa, tetapi karena cinta memang perlu diremajakan. Perlu kita ingat lagi detak jantung yang berpacu seperti ketika kunikmati kelebatmu di taman-taman yang jauh. Perlu kita lantunkan lagi lagu-lagu usang pertanda pertemuan kita di masa lalu. Perlu kita buka kembali catatan janji kita untuk membangun beranda rumah masa depan.


Keringatmu masih yang dulu, demikian pula lenguhku. Jeritmu masih yang kemarin demikian pula nafasku yang memburu. Lelahmu masih sama demikian pula darahku yang bergemuruh meninggalkan kepala menuju titik rahasiaku. Ingin sekali lagi kulambungkan sukmamu meninggalkan bumi. Kita melayang merasakan dramatisnya malam yang oleh Kamaratih dan Kamajaya selalu dirahasiakan hanya untuk mereka yang memuja cinta.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Setangkai mawar”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s