Prof. Koesnadi: Sebuah Obituari

Ampunkan….

Alam sepertinya menggariskan aku untuk menjadi anak yang lalai pagi ini. Tidak sempat kusaksikan perjalananmu kali ini, yang ternyata untuk yang terakhir kali. Maafkan aku Ayah. Matahari seperti tidak ingin mempertemukan kita, pun hingga hari ini saat engkau tidak akan kembali. Kemalasan terlalu lama bercokol di sini hingga tak kusempatkan menyapa ketika engkau masih punya waktu. Kini terlambat sudah. Terlambat sudah dan habis sudah waktuku yang tidak pernah kugunakan dengan bijaksana. Engkau telah pergi dan tidak akan kembali seperti diharapkan anak cucumu. Haruskan aku marah pada pesawat yang menerbangkan dan menghempaskanmu dengan semena-semena? Haruskan aku
menghujat mereka yang memberitakanmu baik-baik saja tetapi ternyata engkau meregang nyawa? Haruskan aku sumpah serapahi teknologi yang serba cepat dan menbarkan virus kebohongan tentang keberadaanmu? Aku tidak tahu Ayah. Apapun yang aku lakukan, tidak satupun dari itu akan membawamu kembali padaku. Aku memilih untuk diam. Diam sambil meluapkan tangis yang kupendam jauh di dasar hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayah,
Cerita tentangmu terlalu banyak dan tidak bisa kuingat satu persatu. Aku pernah berhasrat akan menuliskan satu saja yang terbaik untuk mengantarkan kepergianmu. Ternyata aku gagal. Tidak ada cerita terbaik yang engkau punya. Semua sama. Sama dalam dan sama luas hingga aku tak sanggup memilih satu untuk kepergianmu hari ini. Barangkali tidak akan pernah cukup kata dan waktu jika harus kutuliskan semua, aku memilih untuk tidak menceritakannya. Kenangan orang-orang bersamamu dan cerita tentangmu telah menjadi akar dan urat serta darah dan daging bagi generasimu. Engkau bukanlah untuk dikenang, engkau untuk diteladani. Biarlah hati saja yang menilai dan kembali mewujudkannya menjadi nilai. Bagimu, alasan untuk dikenang bukanlan segalanya untuk melangkah jauh ke depan. Aku tahu itu.

Aku tahu, kepergianmu tidak akan sanggup memisahkanmu dariku karena di antara kita ada ikatan. Ada cinta yang kekuatannya abadi dan bahkan tidak sirna karena kematian. Engkau akan selalu hadir lewat ceramah-ceramah orang suci, juga lewat sapa sederhana pedagang jajan pasar di dudut jalan. Lewat teriak mahasiswa yang haus keadilan, lewat tangan-tangan yang direlakan kotor untuk menanam paru-paru alam. Kehadiranmu senantiasa niscaya, tidak saja lewat sesuatu yang besar tetapi juga yang kecil.

Pergilah ayah. Pergilah jauh menuju titik tertinggi, dari mana akan kaurestui perjalanan dan kaucermati perilaku kami. Tungganglah kuda sembrani itu yang dikhususkan bagi seorang pahlawan sepertimu. Helalah kencangnya menuju puncak tertinggi. Terima kasih telah mininggalkan panah dan busur untuk kami berburu. Karangan bunga ini adalah sayap untukmu mendekap orang-orang yang dikasihi dan meneteskan air mata melepas kepergianmu. Doa tulus generasimu adalah kekuatan untukmu
menuju sisi terbaik-NYA. Selamat jalan Ayah.

Seorang putra yang bangga.

The Lord of the Rings: Sebuah Alegori PhD?

Diterjemahkan bebas dari karya Dave Pritchard oleh I Made Andi Arsana

Kisah ini bermula dari cerita tentang Frodo: hobit muda yang cukup cerdas dan merasa sedikit kurang puas dengan apa yang telah dipelajarinya selama ini, termasuk atas pilihan teman-temannya di kampung halaman yang mementingkan bekerja dan bersenang-senang dengan minur bir. Dia juga merasa berhutang dengan mentor sekaligus gurunya,
Professor Gandalf yang sudah sedemikian senior. Maka ketika Gandalf menyarankannya untuk menangani sebuah proyek kecil (membawa cincin ke Rivendell), dia pun menyetujuinya.

Dalam waktu singkat, Frodo telah memasuki nuansa ketakutan dan depresi yang suram dan akhirnya menghantuinya di sepanjang perjalanan. Semua itu menyisakan bekas luka permanen di alam kesadarannya tetapi dia juga mendapatkan teman-teman baik dalam perjalanannya. Yang penting dicatat, dia sempat melewatkan suatu malam di sebua pub besama Aragorn, yang selama ini telah menjelajah dunia selama bertahun-tahun sebagai postdoc-nya Gandalf. Aragorn akhirnya menjadi pembimbing Frodo selama Gandaft tidak di tempat. Setelah Frodo berhasil menyelesaikan proyek pertamanya, Gandalf (bersama ketua jurusan, Elrond) menganjurkan agar proyek tersebut dikembangkan. Gandaf membentuk kelompok penelitian, yang terdiri dari mahasiswa tamu Gimli dan Legolas, postdoc asing Boromir, dan beberapa kawan S1 Frodo. Frodo pun setuju untuk menangani proyek yang lebih besar, meskipun sesungguhnya perasaannya tidak menentu (“‘Aku akan membawa cincin itu’, katanya, ‘meskipun aku tidak tahu jalannya.'”) Dalam waktu yang amat singkat, berbagai hal berjalan tidak sesuai rencana. Pertama, Gandalf menghilang dan tidak pernah lagi berinteraksi dengan Frodo bahkan sampai semuanya berakhir. (Frodo menganggap pembimbingnya telah mati: kenyataannya, Frodo kemudian menemukan topik lain yang lebih menarik dan akhirnya lebih memilih mengerjakan topik tersebut, bukan topik utama yang disepakatinya dengan Gandalf). Pada waktu Frodo menghadiri konperensi internasionalnya yang pertama di Lorien, Frodo mendapat pertanyaan kritis yang sangat menggentarkan hati dari Galadriel. Dia juga dikhianati oleh Boromir, yang sangat bernafsu untuk memperoleh penghargaan atas karya tersebut seorang diri. Frodo akhirnya memilih untuk memisahkan diri dari kelompok penelitiannya. Sejak saat itu, dia hanya mendiskusikan penelitiannya dengan Sam, seorang sahabat lama yang sesungguhnya tidak terlalu paham penelitian tersebut, tetapi dalam beberapa hal selalu memuji Frodo karena sedikit lebih pintar dari dirinya. Kemudian dia bergerak menuju Mordor.

Saat-saat terakhir yang paling suram dalam perjalanan Frodo adalah ketika dia menghadapi masa penulisan. Dia terseok-seok menuju Mount Doom (deadline penyerahan disertasi), menyadari bahwa bebannya bertambah berat seakan telah menjadi bagian dari dirinya; semakin dihantui oleh kegagalan; terbebani oleh adanya figur Gollum, mahasiswa yang membawa cincin sebelum dia dan terbukti tidak pernah berhasil menyelesaikan penulisan dan akhirnya tetap saja berkeliaran sebagai bayangan yang sudah usang dan penuh rasa iri. Frodo semakin sedikit berbicara, bahkan kepada Sam, sahabatnya. Ketika dia memasukkan cincin tersebut ke dalam api (menyerahkan disertasi), Frodo sesungguhnya tengah ada dalam kebingungan yang menjadi, bukan dalam keyakinan penuh. Dalam beberapa saat setelah itu, dunia terasa kosong.

Akhirnya selesai sudah: Cincin telah hilang, semua orang menyelamatinya, dan dalam beberapa hari dia berhasil meyakinkan dirinya bahwa berbagai persoalan telah selesai. Akan tetapi ada satu halangan lagi yang harus diselesaikannya: beberapa bulan kemudian, di Shire, dia harus mempertahankan karyanya di depan Saruman sebagai penguji eksternal (external examiner), musuh bebuyutan Gandalf, yang berusaha keras untuk menampik, menghina dan merusak bimbingan rivalnya. Dengan bantuan kawan dan koleganya, Frodo berhasil lolos dari ujian berat itu, tetai menyadari bahwa pada akhirnya keberhasilan dan kemenangan ini tidak menyisakan makna untuknya. Ketika kawan-kawannya kembali untuk hidup tenang dan mulai mencari pekerjaan termasuk menjalani kehidupan berumah tangga, Frodo tetap saja dalam persimpangan; akhirnya, bersama Gandalf, Elrond dan banyak rekan lainnya, dia memutuskan untuk bergabung dengan brain drain menyeberangi Samudera Barat menuju tanah baru yang entah di mana.

Sang Veteran itu Telah Berpulang

Malam sudah sangat larut ketika tubuh itu terbaring tenang setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Malam yang sepi dan dingin yang menyelimuti desa seaakan juga mendekap hati semua yang melepaskan. Adalah istri, anak, menantu, cucu dan buyut yang menjadi saksi kepergiannya. Pahlawan tua itu telah pergi. Sang Veteran itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Dia yang melewatkan hidup dengan nafas revolusi, kini terbujur kaku. Kepergiannya adalah apa yang berhasil ditundanya puluhan tahun yang lalu di medan laga.

Tidak terdengar isak tangis yang berlebihan, pun tidak ada jeritan pilu yang menghantarkan kepergiannya. Jelas bukan karena kepergiannya diharapkan. Bukan pula karena kehidupannya tidak diinginkan. Adalah karena perjuangannya sudah paripurna dan pengabdiannya yang sudah sampai pada titik terakhir yang wajar dicapai seorang pejuang. Kepergiannya yang tanpa tangis bukanlah karena dia tidak dicintai generasinya tetapi karena pengabdiannya yang memang telah usai. Generasi mengantarkan kepergiannya dengan kebanggaan yang tersimpan di dalam hati. Bahkan jauh di dalam ketertundukan mereka, ada senyum kemenangan yang dikulum. Senyum kebanggaan karena masih sempat mewarisi darah Sang Pemberani.

Pahlawan kami,
Tungganglah kuda sembrani itu. Terbanglah menuju langit yang terbentang luas, tempat dari mana akan kaulihat dan kaujaga generasimu. Keberanianmu yang bersahaja dan kepahlawananmu yang kautunjukkan dengan sederhana akan terwarisi oleh generasi ksatriamu. Kami tahu, kepergianmu tak akan sanggup memisahkanmu dari kami karena di antara kita ada cinta. Cinta yang bahkan tidak terhapuskan oleh kematian. Semangatmu akan hadir dan tetap ada bersama semangat para penggembala sapi yang mewarisi kegigihanmu. Keteladannmu akan hadir melalui semangat orang-orang tua yang tidak berhenti bekerja meskipun sakit dan terjepit. Akan terasa pelajaran darimu lewat matahari yang terbit setiap pagi, lewat lenguhan sapi yang hidup karena jasa orang-orang sepertimu dan lewat canda itik bercengkrama menikmati biah-biah buah tangan tetua-tetua bersahaja sepertimu.

Canang sari ini adalah bekal perjalananmu melewati lorong yang panjang. Sampian dan ceniga ini adalah sayap untukmu terbang menuju tempat tertinggi dari mana akan kauhidupi kami dengan cinta abadimu. Terbanglah tinggi wahai pahlawanku, kelak akan kami susul langkahmu dengan kebanggaan yang mungkin belum berhasil kauraih. Seandainya masih tersisa sedikit waktu untukku, akan kucium telapak kakimu dan lirih berucap maaf. Selamat jalan pahlawanku.

Bekasi, 24 Februari 2007- 23:53 WIB
Seorang Cucu yang bangga dan kini terbang tinggi

Romantis Geodetis

Genjo bingung. Pasalnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di hari valentine yang tinggal beberapa hari lagi. Bukan karena tidak punya pacar, mahasiswa Teknik Geodesi semester 8 ini merasa susah menentukan hadiah apa yang paling tepat untuk kekasih hatinya.

Mawar merah? Wah, melankolis sekali. Tidak sesuai dengan karakter Genjo, yang menurutnya, garang, tegas dan trengginas. “Bukan gue banget, gitu lo”, begitu katanya pada seorang kawan. “Lagian sama sekali tidak geodetis, dan sori aja ya, bagi gue itu bukan cara surveyor menyatakan cinta”, dia menambahkan.

Lalu apa?

Genjo yakin ada sesuatu yang romantis tapi tetap geodetis untuk kekasih hatinya. Akhirnya dia mencari-cari kemungkinan, mengingat kembali bahan-bahan kuliah yang pernah diikuti dan mencoba memformulasikan hadiah valentine yang romantis geodetis. Genjo teringat Google Maps dengan citra satelitnya yang kini berskala besar untuk Jogja. Dia tahu persis tempat kost pacarnya, termasuk warung makan tempat mereka ngedate pertama kali. Akhirnya Genjo memutuskan untuk membuat “Peta Cinta”. Peta dengan sumber data Google Maps, dicapture layar demi layar, dimosaik secara tak terkontrol dengan Adobe Photoshop, dan diolah sedemikian rupa dengan Corel Draw.

Tentunya Genjo tidak lupa meberi informasi tepi dengan panah arah Utara yang menembus hati berwarna merah :).

Yang menarik adalah Legendanya. Genjo tentu saja tidak menunjukkan posisi fasilitas umum atau fitur topografi lainnya, tetapi tempat-tempat bersejarah dalam cintanya. Sebuah simbol berbentuk hati berwarna pink menghiasi sebuah lokasi. Ya, ini adalah tempat pertemuan pertamanya dengan sang kekasih. Tanda-tanda serupa menghiasi berbagai lokasi yang ternyata adalah: angkringan, gedung bioskop, lembah UGM [hmm apa tuh?], perpustakaan pusat [Genjo rajin belajar di perpustakaan sambil pacaran], lokasi praktikum Ilmu Ukur Tanah, saat mana pacarnya biasa datang membawakan es jeruk dalam kantong plastik waktu dia berpanas-panas.

Tanda yang sama tentu saja juga menghiasi kost masing-masing, yang merupakan saksi bisu keakraban mereka. [seandainya kursi dan meja di kamar kost Genjo bisa bicara, banyak yang akan mereka laporkan kepada Ibu Bapaknya di kampung]. Genjo juga menambahkan warna-warna garis yang menyolok mewakili perjalanan yang sudah mereka tempuh selama pacaran.

Tidak berhenti di situ, dengan gambar yang sama Genjo melakukan georeferensi dengan koordinat seadanya yang diambilnya dari Google Earth. “Tidak teliti”, kata temannya memprotes. “Masa bodo, mana sempat orang Kedokteran Gigi ngurusin ketelitian”, jawab Genjo sambil tergelak.

Genjo merasa kurang puas kalau tidak menerapkan ilmu SIG berbasis Internet yang jadi mata kuliah baru di kampusnya. Dengan menggunakan ARCView untuk mengolah data dan menyajikan informasi yang cantik, Genjo akhirnya mempublikasikan Peta Cinta interaktifnya dengan MapServer. Tentu saja kali ini dia boleh merasa gagah karena domainnya adalah web.ugm.ac.id, gratis untuk setiap mahasiswa UGM. Beruntunglah Genjo karena dosen pengampu SIG berbasis Internet memaksanya untuk mendaftar domain dan membuat website pribadi. Kini ada manfaatnya.

Terpampanglah kini Web GIS sederhana (bagi pacar Genjo tentu saja sangat istimewa) yang menampilkan salah satu layer bernama “Sejarah Cinta”. Ketika layer ini diaktifkan, muncul simbol-simbol hati yang ketika diklik menghasilkan pop-up informasi. Salah satunya berbunyi “Di sini cinta dimulai“.

Begitulah Genjo, seorang [calon] surveyor yang bersikeras merayakan valentine yang romantis tetapi tetap Geodetis. Pada hari Valentine, dia mengirim email kepada pacarnya.

Dear Cinta,
Aku tidak ingin seperti kebanyakan orang yang menyatakan cinta dengan sekuntum mawar merah yang hari ini di depan RRI sudah mencapai 17 ribu setangkai. Sebagai gantinya, aku membuatkan Peta Cinta untukmu. Maaf aku kirimkan dalam format JPG karena ternyata ngeprint A3 di Prima dekat Mirota Kampus sama dengan 60 ribu selembar. Kita cetak kapan-kapan kalau sudah punya uang 🙂 Kalau kamu ingin menikmati peta yang interaktif sambil mengenang kisah cinta kita, silahkan kujungi http://genjo.web.ugm.ac.id/valentine

Salam sayang,

Aa’ Genjo

Cinta

Tiba saatnya harus menulis lagi, tetang topik lama yang umurnya sudah usang: CINTA. Cinta seperti ilalang di tegalan Made Kondang, pada saat tertentu sirna dari pandangan mata. Namun jangan salah, ilalang tak pernah hilang. Ia hanya bersembungi dari pandangan mata, terutama mata yang tidak awas dan tidak mau menelisik hingga ke bawah tanah. Akar ilalang tentap ada. Oleh karenanya, dia selalu bersemi kembali ketika hujan tiba. Ketika kesegaran menghampiri dan air cukup untuk membuatnya, hidup, ilalang bersemi tanpa diminta.

Begitulah Cinta, seperti ilalang di musim hujan, dia senantiasa dituliskan kembali, diucapkan dan dinyatakan. Barangkali cinta diam dan bersembungi untuk bertahan hidup. Cinta bersembungi dan lenyap dari pandangan mata untuk nanti kembali di musim hujan mengiasi alam. Cinta seakan menjadi pemandangan baru yang melegakan siapa saja yang melihatnya.

Barukah sang ilalang ini? Tentu saja tidak. Ilalang tidak baru, dia hanya muncul kembali setelah lama dilupakan. Begitu pula cinta yang kita mungkin sering abaikan sepanjang tahun perjalanan. Kesibukan, kedengkian, kompetisi dan semuanya, barangkali tanpa kita sadari telah membuat cinta terkubur beberapa saat, sirna dari keseharian kita.

Beruntunglah, orang Barat, yang menurut kakek dan tetangga saya adalah orang-orang biadab, menciptakan tradisi cinta yang mereka sebut Valentine. Biarlah bagi saya, tradisi barat ini menjadi saat yang tepat untuk mengingatkan saya tentang cinta. Tidak saja untuk mengingat, tetapi yang terpenting adalah untuk mengucapkan dan menyatakan kembali cinta kepada orang-orang yang memang saya cintai.

Ibu, aku mencintaimu, walau cinta ini pastilah jauh kadarnya dibandingkan cintamu yang tidak terbatas. “Tak mampu ku membalas, Ibu”

Bapak, “dalam hening sepi kurindu, untuk menuai padi milik kita” Keterbatasanmu barangkali niscaya, namun kewibawaanmu tak pernah kurasa kurang dari yang aku harapkan.

Cinta ini kepada istriku yang dengan cintanya telah menjadi pendukung paling setia, tempat aku belajar kesabaran dan arti saling mengerti. Saatnya aku menyatakan cinta untuk kesekian kalinya. Mawar yang kita tanam di halaman depan rumah kita, memang sudah mulai berbunga. Terima kasih telah melahirkan peri kecil kita, tempat menumpahkan cinta dan yang telah menjadi alasan kita untuk tetap bersama.

Cinta adalah kepada siapa saja dan kepada apa saja. Dan yang utama, cinta dalah kepada diri sendiri. Menerima kelebihan dan kekurangan, dengan senyum dan amarah dalam kadar yang tidak berbeda.

Cinta ini sesungguhnya tidak pernah hilang, tetapi seperti ilalang di tegalan Made Kondang, cinta itu kadang lenyap dari pandangan mata. Kini saatnya cinta dintayakan kembali. Saatnya cinta mendapat ruang yang cukup di tengah kerisauan hati yang kian hari kian tak punya waktu.

Aku mencintaimu.

Penerima ADS 2007

Pengumuman berikut diambil dari situs resmi ADS Jakarta. Ditampilkan di sini agar bisa dilihat langsung tanpa perlu mendownload. Jika ingin mendapatkan file aslinya, silahkan download dari website ADS Jakarta dalam format EXCEL.


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]

Kekasihku

Kekasihku,

Mungkin memang benar, waktu yang berlari bisa saja membuat kita lupa untuk mengatakan cinta. Betapapun aku tahu rasa ini tidak pernah berkurang, cinta itu perlu diucapkan. Berita kata-kata, dalam kekalutan hidup yang kian melanda, kadang menjadi penawar segar seperti air dingin musim panas yang diberikan dalam cawan besar. Begitulah cinta yang ketika baru tumbuh mungkin tak perlu diucapkan karena kekuatannya bergerak bersama angin yang terhirup dalam setiap tarikan nafas. Semangatnya terasa dengan sempurna dalam senyum-senyum simpul yang masih malu-malu. Kehadirannya bahkan nyata lewat kesunyian dan lamunan di sepinya malam.

Kini ketika cinta itu telah berumur, kita kadang lupa dengan keliarannya di masa muda. Tiba-tiba saja nafas, angin, dan kesunyian yang sesungguhnya dipenuhi cinta tidak lagi terasa perbawanya. Cinta seperti sesuatu yang terlanjur biasa dan tidak istimewa lagi. Saat itulah cinta perlu dinyatakan kembali. Saat itu, engkau kuingatkan dengan kata-kata betapa cinta ini tidak berkurang. Kata-kata ini akan menjadi bingkisian tradisional baru layaknya sepucuk surat cinta yang ditulis dan dikirimkan pada jaman kerajaan. Inilah cinta lama yang kubarukan dengan cara dan gaya masa lalu. Aku mencitaimu.

Memaki dan Menghina

Siapa yang senang dimaki? Mungkin tidak ada satu orang normalpun akan menjawab “saya”. Tidak ada yang senang dimaki dan tidak ada yang senang dengan orang yang suka memaki. “Jangan suka memaki, yang sabar kalau menghadapi masalah ya!” begitu ibu saya biasanya menasihati. Orang yang suka memaki dan menghina tidak disukai orang. Begitu kira-kira anggapan umum masyarakat kita. Sopan dan baik hati sangat lekat dengan anggapan tidak memaki dan tidak menghina.

Apa benar orang benar-benar tidak suka dengan orang yang sering memaki dan menghina? Apakah Anda pernah menyaksikan acara Empat Mata yang dipandu oleh TUKUL? Saya yakin, Anda pasti tahu kalau ada teman Anda yang tergila-gila dengan acara ini. Saya bahkan hampir yakin, Anda mungkin juga suka dengan acara ini . Perhatikanlah gaya Tukul ketika memandu acara ini. Berapa banyak makian dan hinaan yang ditebarnya dengan gratis dalam satu jam acaranya. Perhatikanlah yang dihinanya bukan saja bintang tamu dan kru acara tetapi juga penonton di studio. Dari sekian banyak acara serupa, barangkali hanya Tukul yang berani mengatakan muka penonton di studio kayak penggorengan.

Bayangkan kalau Tukul tidak menghina dan tidak memaki. Bayangkan kalau Tukul tidak mengatakan “oo dasar ndeso!” atau “Tak sobek-sobek mulutmu” atau “Memang kamu katrok kok!” atau “Mukamu itu lo kayak knalpot” atau “Sorry ya, kamu gak akan ngerti, ini khusus pembicaraan orang intelek” dan seterusnya dan seterusnya.

Jika Anda suka Empat Mata, mungkin Anda akan setuju dengan saya bahwa acara ini akan terasa kering dan tidak menarik jika saja Tukul berhenti menghina atau memaki. Bayangkanlah kalau Tukul jadi sopan dengan setiap bintang tamu dan tidak lagi mengatakan “woo, cantik-cantik kamu itu ternyata culun juga ya”. Tentulah penonton di studio maupun di rumah tidak akan seheboh sekarang. Memaki dan mengina memang sudah menjadi “trade mark” bagi Empat Mata. Tanpa makian dan hinaan, Empat Mata bagaikan sayur tanpa garam bagi kita.

Sangat menarik menyimak fenomena ini. Mengapa Tukul bebas memaki bebas menghina dan tetap dicintai? Tukul seakan-akan menjadi orang yang bebas nilai dan terlepas dari belenggu nilai-nilai kesopanan. Hindaan dan makian Tukul seakan-akan kebal dari tuduhan pelanggaran norma kesopanan seperti yang dipegang banyak orang. Tukul orang yang bebas nilai. Mungkin ini kuncinya. Maklumnya orang lain dengan makian dan hinaan bisa jadi tidak selalu terkait dengan kelucuan yang ditimbulkan hinaan dan makian itu. Permakluman ini lebih pada kemampuan Tukul untuk menempatkan diri pada posisi yang bebas nilai. Tukul seakan bebas berbuat apa saja. Ketika Tukul ”gaptek”, orang tertawa dan memaklumi. Ketika Tukul memaki dan menghina, orang membalasnya dengan senyum bahkan tawa yang lepas.

Saya kadang-kadang ingin menjadi Tukul. Bebas nilai dan tetap dicintai pun ketika memaki, menghina atau terlihat bodoh.

Burung Gereja

Berjalan menapaki pinggiran masjid yang gelisah mengumandangkan pemujaan akan Allah menghadirkan kerinduan tersendiri akan suasana masa kecil. Putri-putri kerjaan hati yang turut serta, seperti tidak begitu peduli, bahkan tidak pernah tahu kalau kunjungan pagi ini adalah kunjungan yang tidak biasa. Kunjungan yang tidak seperti seharusnya untuk memuja tetapi untuk berwisata dan bercengkrama.

Ada burung gereja memekik di sela gema shalawat yang beradu waktu. Teriakan kecil si burung gereja lenyap ditelan kebisingan religi yang entah mengapa, terlanjur dianggap biasa dan bahkan wajib.

Satu yang menarik, burung gereja itu sudah tidak lagi bersarang di gereja. Burung gereja itu tidak merasa bersalah bersarang di atap masjid, padahal sejarah tentang sebutannya tidaklah seiring dengan itu. Anehnya, kicaunya tetap nyaring dan keceriaanya tidak berkurang. Burung gereja yang salah memilih rumah itu, biasa-biasa saja dan tidak pernah pusing. Seandainya saja dia tahu, menusia yang hebat ini bisa saja mengeluarkan Surat Keputusan untuk mengubah namanya menjadi Burung Masjid, Burung Pura, atau Burung Wihara.

Wahai burung, bersenang-senanglah selagi manusia belum terpikir meng-SK-kan nama barumu.

Delapan Januari

Enam belas tahun yang lalu, tepat hari ini. Sore yang merah, seperti matahari yang hari ini mulai malu-malu di ufuk barat. Bedanya, merah sore itu tidak hanya merah karena matahari yang mulai sayu dan mengantuk berajak ke peraduannya. Merah hari itu adalah merah darah. Darah perempuan-perempuan kesayangan karena kebengisan naluri lelaki pendendam.

Mereka, seperti hari lainnya melewati sore tanggung dengan berbagi. Berbagi cerita, berbagi air yang mengalir dan bahkan berbagi cairan pembersih rambut. Begitulah pembunuh dan korbannya beberapa menit sebelumnya bercengkrama menjalankan ajaran kebaikan dari leluhur mereka.

Tiba-tiba sang pembunuh yang adalah seorang paman, kalap dan menghujamkan belati itu ke dalam perut-perut kehidupan empat perempuan kesayangan. Tidak ada perlawanan yang berarti. Ratap tidak mampu menyadarkan sang paman dari kekalapan. Teriak pun kalah melengking dibanding rakusnya tebing dan kesepian yang menyerap kegaduhan bahkan hingga hampir tiada.

Begitulah, belati merobek-robek ruang hidup mereka dan meninggalkan tetesan kegelisahan. Kegelisahan itu seringkali berepresentasi menjadi ketakutan yang kadang tidak beralasan. Itulah kenyataan. Satu perempuan telah pergi. Pergi jauh 16 tahun yang lalu.

Ketiga perempuan yang nyaris pergi kini boleh tersenyum. Seperti senyum tetangga lain yang tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi.