Kekasihku


Kekasihku,

Mungkin memang benar, waktu yang berlari bisa saja membuat kita lupa untuk mengatakan cinta. Betapapun aku tahu rasa ini tidak pernah berkurang, cinta itu perlu diucapkan. Berita kata-kata, dalam kekalutan hidup yang kian melanda, kadang menjadi penawar segar seperti air dingin musim panas yang diberikan dalam cawan besar. Begitulah cinta yang ketika baru tumbuh mungkin tak perlu diucapkan karena kekuatannya bergerak bersama angin yang terhirup dalam setiap tarikan nafas. Semangatnya terasa dengan sempurna dalam senyum-senyum simpul yang masih malu-malu. Kehadirannya bahkan nyata lewat kesunyian dan lamunan di sepinya malam.

Kini ketika cinta itu telah berumur, kita kadang lupa dengan keliarannya di masa muda. Tiba-tiba saja nafas, angin, dan kesunyian yang sesungguhnya dipenuhi cinta tidak lagi terasa perbawanya. Cinta seperti sesuatu yang terlanjur biasa dan tidak istimewa lagi. Saat itulah cinta perlu dinyatakan kembali. Saat itu, engkau kuingatkan dengan kata-kata betapa cinta ini tidak berkurang. Kata-kata ini akan menjadi bingkisian tradisional baru layaknya sepucuk surat cinta yang ditulis dan dikirimkan pada jaman kerajaan. Inilah cinta lama yang kubarukan dengan cara dan gaya masa lalu. Aku mencitaimu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s