Memaki dan Menghina


Siapa yang senang dimaki? Mungkin tidak ada satu orang normalpun akan menjawab “saya”. Tidak ada yang senang dimaki dan tidak ada yang senang dengan orang yang suka memaki. “Jangan suka memaki, yang sabar kalau menghadapi masalah ya!” begitu ibu saya biasanya menasihati. Orang yang suka memaki dan menghina tidak disukai orang. Begitu kira-kira anggapan umum masyarakat kita. Sopan dan baik hati sangat lekat dengan anggapan tidak memaki dan tidak menghina.

Apa benar orang benar-benar tidak suka dengan orang yang sering memaki dan menghina? Apakah Anda pernah menyaksikan acara Empat Mata yang dipandu oleh TUKUL? Saya yakin, Anda pasti tahu kalau ada teman Anda yang tergila-gila dengan acara ini. Saya bahkan hampir yakin, Anda mungkin juga suka dengan acara ini . Perhatikanlah gaya Tukul ketika memandu acara ini. Berapa banyak makian dan hinaan yang ditebarnya dengan gratis dalam satu jam acaranya. Perhatikanlah yang dihinanya bukan saja bintang tamu dan kru acara tetapi juga penonton di studio. Dari sekian banyak acara serupa, barangkali hanya Tukul yang berani mengatakan muka penonton di studio kayak penggorengan.

Bayangkan kalau Tukul tidak menghina dan tidak memaki. Bayangkan kalau Tukul tidak mengatakan “oo dasar ndeso!” atau “Tak sobek-sobek mulutmu” atau “Memang kamu katrok kok!” atau “Mukamu itu lo kayak knalpot” atau “Sorry ya, kamu gak akan ngerti, ini khusus pembicaraan orang intelek” dan seterusnya dan seterusnya.

Jika Anda suka Empat Mata, mungkin Anda akan setuju dengan saya bahwa acara ini akan terasa kering dan tidak menarik jika saja Tukul berhenti menghina atau memaki. Bayangkanlah kalau Tukul jadi sopan dengan setiap bintang tamu dan tidak lagi mengatakan “woo, cantik-cantik kamu itu ternyata culun juga ya”. Tentulah penonton di studio maupun di rumah tidak akan seheboh sekarang. Memaki dan mengina memang sudah menjadi “trade mark” bagi Empat Mata. Tanpa makian dan hinaan, Empat Mata bagaikan sayur tanpa garam bagi kita.

Sangat menarik menyimak fenomena ini. Mengapa Tukul bebas memaki bebas menghina dan tetap dicintai? Tukul seakan-akan menjadi orang yang bebas nilai dan terlepas dari belenggu nilai-nilai kesopanan. Hindaan dan makian Tukul seakan-akan kebal dari tuduhan pelanggaran norma kesopanan seperti yang dipegang banyak orang. Tukul orang yang bebas nilai. Mungkin ini kuncinya. Maklumnya orang lain dengan makian dan hinaan bisa jadi tidak selalu terkait dengan kelucuan yang ditimbulkan hinaan dan makian itu. Permakluman ini lebih pada kemampuan Tukul untuk menempatkan diri pada posisi yang bebas nilai. Tukul seakan bebas berbuat apa saja. Ketika Tukul ”gaptek”, orang tertawa dan memaklumi. Ketika Tukul memaki dan menghina, orang membalasnya dengan senyum bahkan tawa yang lepas.

Saya kadang-kadang ingin menjadi Tukul. Bebas nilai dan tetap dicintai pun ketika memaki, menghina atau terlihat bodoh.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s