Burung Gereja


Berjalan menapaki pinggiran masjid yang gelisah mengumandangkan pemujaan akan Allah menghadirkan kerinduan tersendiri akan suasana masa kecil. Putri-putri kerjaan hati yang turut serta, seperti tidak begitu peduli, bahkan tidak pernah tahu kalau kunjungan pagi ini adalah kunjungan yang tidak biasa. Kunjungan yang tidak seperti seharusnya untuk memuja tetapi untuk berwisata dan bercengkrama.

Ada burung gereja memekik di sela gema shalawat yang beradu waktu. Teriakan kecil si burung gereja lenyap ditelan kebisingan religi yang entah mengapa, terlanjur dianggap biasa dan bahkan wajib.

Satu yang menarik, burung gereja itu sudah tidak lagi bersarang di gereja. Burung gereja itu tidak merasa bersalah bersarang di atap masjid, padahal sejarah tentang sebutannya tidaklah seiring dengan itu. Anehnya, kicaunya tetap nyaring dan keceriaanya tidak berkurang. Burung gereja yang salah memilih rumah itu, biasa-biasa saja dan tidak pernah pusing. Seandainya saja dia tahu, menusia yang hebat ini bisa saja mengeluarkan Surat Keputusan untuk mengubah namanya menjadi Burung Masjid, Burung Pura, atau Burung Wihara.

Wahai burung, bersenang-senanglah selagi manusia belum terpikir meng-SK-kan nama barumu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s