Delapan Januari


Enam belas tahun yang lalu, tepat hari ini. Sore yang merah, seperti matahari yang hari ini mulai malu-malu di ufuk barat. Bedanya, merah sore itu tidak hanya merah karena matahari yang mulai sayu dan mengantuk berajak ke peraduannya. Merah hari itu adalah merah darah. Darah perempuan-perempuan kesayangan karena kebengisan naluri lelaki pendendam.

Mereka, seperti hari lainnya melewati sore tanggung dengan berbagi. Berbagi cerita, berbagi air yang mengalir dan bahkan berbagi cairan pembersih rambut. Begitulah pembunuh dan korbannya beberapa menit sebelumnya bercengkrama menjalankan ajaran kebaikan dari leluhur mereka.

Tiba-tiba sang pembunuh yang adalah seorang paman, kalap dan menghujamkan belati itu ke dalam perut-perut kehidupan empat perempuan kesayangan. Tidak ada perlawanan yang berarti. Ratap tidak mampu menyadarkan sang paman dari kekalapan. Teriak pun kalah melengking dibanding rakusnya tebing dan kesepian yang menyerap kegaduhan bahkan hingga hampir tiada.

Begitulah, belati merobek-robek ruang hidup mereka dan meninggalkan tetesan kegelisahan. Kegelisahan itu seringkali berepresentasi menjadi ketakutan yang kadang tidak beralasan. Itulah kenyataan. Satu perempuan telah pergi. Pergi jauh 16 tahun yang lalu.

Ketiga perempuan yang nyaris pergi kini boleh tersenyum. Seperti senyum tetangga lain yang tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s