Seperti malam pertama, apapun yang pertama hampir selalu menegangkan. Bepergian ke luar negeri pertama kali adalah salah satunya. Saya ke luar negeri pertama kali tahun 1999, waktu itu ke Pyongyang, Korea Utara. Betul, perjalanan saya ke luar negeri pertama adalah ke salah satu negeri paling kontroversial di dunia. Tegang? Pasti. Pertanyaan saya banyak sekali. Apa yang harus dibawa, apa yang tidak boleh dibawa, apakah makanan di sana cocok dengan saya, apakah petugas imigrasinya menyeramkan, apakah di sana ada mafia dan penjahat seperti di film-film Hollywood, dan seterusnya.
Untuk melamar beasiswa luar negeri guna meneruskan S2 atau S3, kadang diperlukan surat penerimaan dari salah satu universitas. Beasiswa ALA (Australian Leadership Awards) atau Endeavour, misalnya, mensyaratkan kandidat harus sudah diterima di sebuah universitas di Australia. Hal ini menandakan bahwa beasiswa akan diberikan hanya kepada orang yang layak secara akademik untuk meneruskan pendidikan di Australia. Dengan kata lain, penyandang dana beasiswa “ingin terima beres” bahwa orang yang diberi beasiswa pasti akan diterima untuk meneruskan pendidikan di institusi di Australia. Hal ini berbeda dengan beasiswa ADS (Australian Development Scholarship), misalnya, yang tidak mensyaratkan kandidat harus diterima di universitas di Australia terlebih dahulu.
Jika belakangan kita sering mendengar studi banding wakil rakyat yang tidak semestinya dan ditunggangi kepentingan pribadi, maka kisah tentang Hajriyanto Y. Thohari nampaknya berbeda. Dalam perjalanan pribadinya terkait studi putrinya di Sydney, Bapak Hajriyanto Y. Thohari yang adalah Wakil Ketua MPR dari Fraksi Golkar justru menyempatkan mengemban misi negara. Hal ini terlihat dari aktivitas beliau menghadiri berbagai acara, termasuk diskusi dengan mahasiwa Indonesia di Sydney tanggal 21 Mei 2012 di Konsulat Jenderal RI Sydney. Luhur Korsika, kawan yang duduk di sebelah saya berkelakar, “ini namanya perjalanan pribadi yang ‘ditunggangi’ kepentingan bangsa, bukan perjalanan negara yang ditunggangi kepentingan pribadi”. Saya kira ini tepat digunakan untuk menyimpulkan apa yang terjadi malam itu. Diskusi yang dipandu oleh Pak Nico, seorang diplomat KJRI Sydney, berlangsung menarik.
Kiprah seorang Hajriyanto bisa dilihat di media massa lewat tulisan dan pernyataan oralnya. Beliau juga memanfaatkan media sosial Twitter untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan memiliki situs pribadi www.hajriyanto.com. Penggunaan media komunikasi modern ini mengindikasikan niat beliau untuk berinteraksi dengan konstituennya. Sebagai seorang yang terlibat dalam memperjuangkan keterbukaan informasi publik, seorang Harjriyanto telah menjadi contoh yang layak ditiru.
Suatu malam saya diminta teman untuk membantu memasak dalam rangka sebuah pesta ulang tahun. Saya tersanjung sekali mendapat kehormatan ini karena ini adalah bentuk kepercayaan. Malam itu ada seorang kawannya yang ulang tahun dan mereka ingin menikmati malam dengan nyaman sehingga perlu orang lain untuk membantu memasak. Pekerjaan itu saya lakukan dengan senang hati. Bukan saja karena dibayar layak, pengalaman itu memperkaya dan menyempurnakan cerita saya bersekolah di negeri orang.
Pekerjaan kami sangat mudah, tinggal membakar atau menggoreng adonan yang sudah disiapkan sebelumnya. Yang lebih menyenangkan adalah para tamu sangat menikmati sajian kami. Saat pesta berlangsung, satu dua orang mendekat. Inilah yang menyentuh. “You guys, did the best job in the world” kata seorang lelaki mendekat dan mengajak kami ngobrol. Sama sekali tidak ada kesan perbedaan tukang masak dan tamu terhormat. Itulah yang menyenangkan di negeri Kangguru ini. Sebentar kemudian seorang perempuan datang dengan sate yang baru dihabiskannya setengah dan berteriak hampir histeris “oh my God, this is superb!” sambil mengangkat jempolnya. Entah berapa belas orang datang memuji malam itu, saya jadi bersemangat.
Generasi muda yang menghabiskan masa remajanya di pertengahan atau akhir 1990 mungkin mengingat Titanic sebagai sebuah film box office yang memenangkan sebelas penghargaan Oscar. Sebagian mungkin mengaitkan Titanic dengan adegan saat Rose DeWitt Bukater berteriak histeris “Jack I’m flying” saat Jack Dowson mendekapnya dari belakang di anjungan sebuah kapal. Meskipun banyak yang paham bahwa film Titanic memang didasarkan pada kisah nyata, banyak yang tidak tahu bahwa kecelakaan yang menimpa Titanic merupakan salah satu insiden maritim terpenting dalam sejarah modern umat manusia.
Ibu dan kaum perempuan adalah tiang peradaban yang kepadanya kita berharap. Selamat hari ibu untuk istri saya, Asti, dan semua ibu di seluruh dunia. Video dari Obama ini mungkin bisa mengingatkan kita lagi. Happy Mother’s Day!
Saya yakin, hampir setiap orang memiliki pertanyaan serupa tentang beasiswa luar negeri: bisa nabung nggak? Saya sering mendapatkan pertanyaan tentang ini dalam bentuk beragam. Ada yang bertanya sopan seperti “apakah selama ini jumlah beasiswa yang diberikan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang wajar di Austarlia?” Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling “bisa nabung berapa dollar sebulan?”. Saya mengerti, banyak orang penasaran tetapi semua orang punya alasan sendiri untuk memilih bertanya atau tidak bertanya. Untuk keduanya, saya bagikan pengalaman saya. Saya berikan peringatan, tulisan ini akan mengandung informasi tentang jumlah uang yang bagi sebagian orang dianggap sensitif tetapi saya rasa ini perlu dibagikan. Karena uang beasiswa ini bukan hasil kejahatan maka saya bisa sampaikan rinciannya tanpa merasa khawatir.
Peta sangat digdaya. Peta bisa menyajikan banyak hal secara menarik dan efektif sehingga penerima informasi bisa memahami lebih baik. Salah satu peta menarik yang disajikan oleh Guardian, UK adalah tentang perilaku masyarakat London dalam mengumpat lewat media sosial Twitter. Dengan merekam kata-kata umpatan yang diucapkan orang lewat Twitter yang berlokasi di London bisa dibuat sebuah peta menarik. Inti dari pemetaan perilaku ini adalah menyajikan data yang memiliki komponen lokasi. Berikut adalah peta yang dimaksud.
Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang bisa disajikan lewat peta. Sebagai pemantik gagasan, coba pikirkan hal-hal berikut:
Distribusi dan intensitas korupsi di Indonesia per kabupaten
Peta moralitas dengan menampilkan kasus beredarnya video porno oleh pejabat negara atau masyarakat
Tingkat kesabaran pemakai jalan dengan menyajikan jumlah kecelakaan di berbagai lokasi
dan banyak lagi…
Jika orang mengatakan “the sky is the limits” maka penggunaan peta atau informasi geospasial sesungguhnya hanya dibatasi oleh satu hal: imajinasi. Selamat melamun dan kemudian berkarya dengan peta.
Belakangan ini muncul isu terkait reklamasi pantai Singapura yang dipahami akan merugikan Indonesia karena batas maritimnya bergeser. Benarkah demikian, silakan simak video berikut: