Kartini Sekartaji

Kartini telah lama tiada ketika perempuan usia hampir tigapuluh tahun itu bergegas di suatu sore, menyusuri Tukad Sekartaji di pedalaman Tabanan. Kartini pastilah tidak tahu, kaumnya sedang berkejaran dengan gelap dan tak ingin terjebak dalam perjalanan panjang tanpa cahaya. Digendongnya seorang bocah belia yang belum paham akan keberadaan dan bahkan belum cakap membedakan tangan kiri dan kanan. Disusurinya senja yang temaram itu, berpacu dengan laju air di Tukad Sekartaji yang berlalu tak peduli.

Era delapanpuluhan masih belia dalam usia, perempuan itu hidup berjauhan dengan kemewahan dan bahkan tidak akrab dengan kecukupan. Desa Piling di Penebel dan Tegaljadi di Marga kerap ditempuhnya dengan lebih banyak berjalan kaki. Senja itu tiada istimewa karena perjalanan itu tidak terlalu jauh urusannya dari menggali atau membayar hutang atau menuai belas kasihan yang ditukar dengan sarapan pagi keluarga.
Continue reading “Kartini Sekartaji”

Enam tahun, 40 tulisan

The 40th

Musim gugur di Sydney tahun 2005 ketika itu, saya adalah mahasiswa master di tahun kedua. Indonesia dihebohkan oleh sebuah kasus yang di telinga saya terdengar asing: Ambalat. Saya yang adalah pemula di bidang batas maritim seperti mendapat mainan baru dan terutama alasan yang lebih baik bahwa bidang yang saya pelajari ini sangat menarik. Apa yang saya lakukan ternyata terkait erat dengan interaksi bangsa-bangsa yang dinamikanya sangat menantang, menarik dan menaikkan adrenalin. Mempelajari batas maritim adalah mempelajari sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi bangas-bangsa untuk berdamai atau bahkan berperang. Istimewa sekali.

Continue reading “Enam tahun, 40 tulisan”

Sewindu

The Arsanas

Kalau ada yang tahu lagu-lagu tahun 80an atau 90an yang di zaman sekarang bisa masuk dalam kategori lebay, kata ‘sewindu’ bisa didapati dengan mudah. Kalimat yang cukup gampang dijumpai misalnya adalah ‘seminggu tidak bertemu kamu, rasanya sewindu’ untuk menggambarkan betapa mudahnya orang menjadi rindu dengan pasangannya ketika sedang jatuh cinta. Sewindu, dalam kalimat itu untuk mewakili sebuah masa yang sangat amat lama. Kata orang pintar, ini termasuk gaya bahasa hiperbola atau ada juga yang mengatakan exaggerating. Benarkah sewindu itu lama?

Continue reading “Sewindu”

Insiden Selat Malaka

Ingin tahu duduk perkara insiden Selat Malaka yang melibatkan Indonesia dan Malaysia? Silakan kunjungi analisis saya www.borderstudies.info
Keterangan: Peta ini dibuat dengan Google Maps, menggunakan data koordinat yang dilansir oleh Mukhtar A.Pi. M.Si untuk tujuan ilustratif semata.

Anak zaman sekarang

http://www.moviebase.info/

Antingnya tidak saja di telinga, tetapi juga di hidung. Di panas terik, lelaki itu bertelanjang dada dengan celana yang melorot memperlihatkan sebagian celana dalamnya. Keringatnya mengucur melintasi gambar tato yang melingkar-lingkar di dada hingga punggungnya. Lengannya yang putih juga berhias tato semacam rantai atau kawat berduri yang melilit. Tangan kanannya memegang jepitan dan sibuk membolak-balik daging sapi yang dipanggang di atas kompor BBQ, sementara tangan kirinya memegang sebotol bir merek Tohey yang cukup terkenal di Australia. Mulutnya secara konstan melontarkan berbagai kalimat diselingi tegukan bir yang nampak begitu nikmatnya.

Continue reading “Anak zaman sekarang”

Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia


Prof. Rais

Ketika Presiden SBY dinobatkan menjadi salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Time, Anwar Ibrahim yang mendapat kesempatan menuliskan ulasannya. Obama, yang juga terpilih dari seratus itu, dibahas oleh Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. Yang mengulas dan diulas memiliki kapasitas yang sebanding, demikian saya melihatnya. Menuliskan tentang SBY atau Obama, tentu banyak yang bisa dan bahkan mungkin lebih baik dari yang mampu ditulis oleh Anwar Ibrahim atau Gordon Brown. Persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Tulisan itu mewakili sebuah atoritas, maka penulisnya disebut author. Menulis adalah persoalan authorship, persoalan legitimasi pengetahuan dan ‘pemegang hak’ yang layak dan diakui berpendapat tentang sesuatu.

Ketika Prof. Jacub Rais berpulang menghadap Sang Khalik, saya menunggu-nunggu seorang dengan otoritas yang cukup untuk menuliskan tentang beliau. Saya ingin sekali membaca sebuah obituari tentang Sang Perintis Geodesi Indonesia itu oleh seseorang yang punya otoritas. Siapa yang berhak menulis tetang Prof. Rais? Sekali lagi, siapapun bisa menulis, yang mempunyai ‘otoritas’ keilmuan ini yang penting, karena yang berpulang adalah seorang Ilmuwan. Seperti SBY yang disetarakan dengan Anwar Ibrahim dan Obama yang disejajarkan dengan Gordon Brown, maka Prof. Rais tentu punya padanannya. Jika ditanya satu persatu, mudah ditebak tidak akan ada yang dengan lantang mengakui kesetaraan itu. Bukan perkara kebiasaan orang Nusantara yang memang malu-malu menonjolkan diri, Prof. Rais memang sulit dicarikan padanannya di tanah air tercinta. Di kepala saya, sebagai orang muda di bidang geodesi-geomatika, sebenarnya mampir beberapa nama yang sekiranya layak menuliskan obituary ini. Akan saya simpan sendiri sebelum harapan itu menjadi kenyataan.

Continue reading “Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia”