Selamat Jalan

Ibu saya, meskipun jauh dari dunia glamor musik modern ternyata menaruh perhatian terhadap selera musik anaknya. “Idolamu meninggal, kasihan ya!” demikian kata beliau saat mendengar Michael Jackson berpulang.

Mungkin saya bukanlah fans fanatik Michael Jackson tetapi saya adalah orang yang secara sadar angkat topi untuk dia. Dia mengajarkan bahwa peran bisa dijalankan lewat apa saja. Yang terpenting adalah totalitas. Meski tidak semua kiprahnya menginspirasi, saatnya berfokus pada kebaikannya karena porsi untuk menghakimi kini bukan lagi milik kita. Selamat jalan Michael.

Netral

eggi168.wordpress.com
eggi168.wordpress.com

Made Kondang pening kepalanya memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dia yang kisah hidupnya tak pernah istimewa, tiba-tiba menjadi perhatian. Entah apa alasannya, Made Kondang terpilih menjadi Kelian Banjar, sebuah profesi yang bahkan tak pernah dimimpikan oleh leluhurnya akan disandang oleh anak cucu mereka. Singkat kata, Kondang yang adalah rakyat jelata, lahir dari rahim ibu yang tak kenal kata ‘leadership’ kini tergagap-gagap menjadi pejabat.

Continue reading “Netral”

Semangat baru

Teman-teman Mahasiswa Indonesia,

Delivering a speech
Delivering a speech

Dari awal saya berkeyakinan bahwa kita, mahasiswa Indonesia, yang ada di University of Wollongong memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baik. Di sisi lain, kita memiliki kerinduan yang sama untuk menjaga persahabatan di negeri rantau. Kemarin, Jumat tanggal 5 Juni 2009, sekitar 45 orang mahasiswa berkumpul dan telah mengambil satu langkah maju.

Saya berterima kasih kepada semua pihak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) UoW periode 2009-2010. Kepercayaan ini bagi saya adalah amanah yang harus dijunjung tinggi. Melihat antusiasme teman-teman dalam acara kemarin, saya optimis kita akan mampu bekerjasama menghasilkan sesuatu yang baik. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Sdr. Yudhistira Rifki atas pengabdiannya sebagai Presiden PPIA periode lalu.

Continue reading “Semangat baru”

Beda satu huruf

Ambalat di Kompas
Ambalat di Kompas

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.

Continue reading “Beda satu huruf”

Ambalat

Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Continue reading “Ambalat”