Childcare, Imunisasi dan Centrelink

Dear Liz,

I hope this finds you well.
I am writing to inform you that I will not be in tomorrow as I have to be in Sydney. I have to see Dr. Judith Salmon regarding immunisation certificate for Lita, my daughter. We need the certificate for her to be admitted in West Wollongong Preschool and also for getting childcare benefit from Centrelink. For anything I miss from your class, I will catch up from other members of the class.

Thank you, Liz. I will see you on Thursday.

Sincerely yours,
Andi

Aku buru-buru log off dari komputer di ruanganku dan berjalan setengah berlari ke stasiun kereta North Wollongong. Tujuh belas menit lagi kereta ke Sydney akan berangkat, biasanya aku memerlukan waktu sekitar 13-15 menit dari kampus ke stasiun itu.

Continue reading “Childcare, Imunisasi dan Centrelink”

Desak Made Sukri: Rest In Peace

Desak Made Sukri, meninggal di usianya yang sekitar 80 tahun. Memang tidak seorangpun mengetahui usianya yang sesungguhnya. Nenek tua ini memang lahir di suatu masa saat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti dan merasa perlu tentang makna penanggalan masehi. Begitulan jaman itu, saat ‘tegak oton’ menjadi cukup untuk mengenal kelahiran seorang manusia.

Setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan psikis agak lama, Desak Made Sukri menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008 pukul 5.42 WITA di rumah kediamannya yang tenang di Desa Tegaljadi, Tabanan, Bali. Tidak banyak yang dipesankannya saat kepergiannya karena beliau memang sudah tidak mampu berbicara sejak beberapa lama. Kepergiannya yang tenang di pagi yang sepi rupanya sudah diantisipasi oleh semua kerabat, terutama anak, menantu, cucu dan cicitnya. Tidak ada yang terlalu terkejut, pun tidak merasa perlu menangis. Bukan karena kepergian sang tua diharapkan kerabatnya, semata-mata karena semuanya bersepakat bahwa dharma bhaktinya telah paripurna.

Continue reading “Desak Made Sukri: Rest In Peace”

Form ADS 2009- editable

Kesempatan memang selalu ada dan datang setiap saat. Tahun ini, kesempatan untuk mendaftar beasiswa master dan doktor di Australia dibuka kembali. Bagi yang tertarik silahkan kunjungi websitenya dan unduh formulirnya. Seorang kawan yang alumni ADS, Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St, telah berbaik hati membuat formulir ADS yang semula tidak bisa diisi langsung secara digital menjadi editable. Formulir ini akan membuat para pelamar lebih mudah mengisi formulirnya dengan komputer.

Continue reading “Form ADS 2009- editable”

Berandalan itu buang sampah pada tempatnya

Pagi yang dingin, kami bertiga baru saja turun dari kereta yang membawa kami dari Wollongong ke Sydney. Suasana Sydney tentu saja lebih semarak dibandingkan Wollongong yang dingin. Sydney memang lebih happening kata temenku. Orang lalu lalang, kendaraan berisik, gedung tinggi, burung dara beterbangan, semuanya menambah suasana menjadi lebih hidup. Railway Square masih seperti dulu ketika kami tinggalkan dua tahun lalu.

Ini perjalanan keluarga pertama berlibur ke Sydney, Ode berjanji akan menjemput di Quay Street. Aku Asti dan Lita bergegas menuju Basement Book di lorong bawah tanah sambil menunggu saatnya ketemu Ode. Basement Book berada di bawah bus stop di Railway Square dan menjual berbagai buku. Ada yang bekas dan sangat murah, yang baru juga banyak. Sambil lalu aku menggamit sebuah novel merah, hanya $1. Meskipun belum yakin akan isisnya, nampaknya $1 terlalu sayang untuk dilewatkan.

Continue reading “Berandalan itu buang sampah pada tempatnya”

Ketika musim dingin tiba

Winter sesungguhnya belum lagi mulai. Barbara, seorang guru di kelasku bahkan mengatakan, “it is very hot today, isn’t it?” Dia tidak berkelakar karena dia berasal dari Skotlandia, tempat yang sangat dingin. Namun begitu, tidak demikian adanya untuk kami yang mayoritas dari Asia Pasifik. Kecuali Aero, Charlie, Fang dan Shane yang dari China, semuanya dengan setia berjaket tebal di kelas. Aero bahkan becanda, ”I am wearing my spring cloths during winter here!

Meski sudah pernah tinggal di Australia beberapa lama dan sempat menikmati dramatisnya musim salju di New York, winter bagiku tetaplah winter. Dinginnya tak terampunkan. Pagi setelah mandi kukayuh sepeda di Robson Road yang berbukit. Tidak hanya angin yang menjadikan semuanya lebih tragis, hujan bahkan turun tak memberi ampun, menandai datangnya musim baru. Sudah menjadi kebiasaan, datangnya winter akan ditandai dengan hujan hampir setiap hari. Minggu lalu bahkan tidak ada hari tanpa hujan. Bagiku yang bersepeda ke kampus, cuaca seperti tidaklah bersabahat.

Continue reading “Ketika musim dingin tiba”

Teman-temanku se-Asia Pasifik

Sebelum memasuki dunia universitas yang sebenarnya, hampir semua universitas di Australia mensyaratkan mahasiswanya mengikuti dan menyelesaikan pelajaran Bahasa Inggris pada level tertentu. Entah bagaimana ceritanya, aku harus terdampar lagi di kelas yang sesungguhnya sudah bosan aku ikuti. Kelas serupa pernah diikuti di Jakarta tahun 2003 dan di Sydney tahun 2004. Isinya juga tidak banyak berubah: critical thinking, article review, writing structure, presentation, powerpoint lesson dan sejenisnya. Meskipun tidak ahli-ahli amat, rasanya semua itu sudah aku tahu dengan cukup baik. Meski demikian, belajar dan belajar lagi memang tidak pernah ada salahnya. Kalau membuka diri terhadap segala sesuatu, banyak hal baru yang sesungguhnya bias diperoleh dari pelajaran yang diulang-ulang sekalipun. Kali ini aku lebih tertarik membahas teman-temanku yang berasal dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Continue reading “Teman-temanku se-Asia Pasifik”

Sebatang sere = 18 ribu rupiah

Kekhawatiran akan kesulitan mendapatkan makanan Indonesia selama di Australia memang tidak ada. Kalau tinggal di Mebourne, Brisbane, Adelaide, Sydney atau Wollongong, semuanya beres. Di setiap kota tersebut, toko makanan Asia mudah sekali dijumpai. Satu-satunya isu yang sering menjadi masalah adalah harga.

Aku yang gemar sekali makan sambel matah berbahan sere, kerap menjumpai masalah ini. Sere, yang dalam bahasa inggris disebut lemon grass, memang mahal sekali di sini. Oh ya, in case ada yang tidak tahu, sere terdiri dari dua suku kata. Suku kata pertama adalah se diucapkan seperti pada kata serentak, sedangkan suku kata kedua yaitu re diucapkan seperti pada kata mereka sehingga pengucapannya menjadi seré. Ini merupakan sejenis rumput yang dalam bahasa latin disebut Cymbopogon citratus. Bagian ini jujur saja diinspirasi oleh Laskar Pelanginya Andrea Hirata yang selalu menuliskan nama latin tumbuhan yang dibicarakannya.

Continue reading “Sebatang sere = 18 ribu rupiah”

Di Australia makan nasi juga?

Masih terngiang percakapan terakhir di desa sebelum keberangkatan ke Australia. Malam setelah meninggalnya Mangku Kompyang, kerabat banjar berkumpul melek seperti layaknya tradisi yang bejalan entah sudah berapa lamanya. Orang selalu berkerumun di manapun aku berada, mereka ingin mendengar cerita luar negeri. Wayan Koncong, salah seorang sahabat lama, bertanya ”di Australi ada beras nggak?” Belum lagi sempat aku menjawab, Mangku Ngurah yang memang terkenal vocal memotongnya ”Nasi? yang bener aja. Australi kan gak makan nasi. Orang makan roti di sana. Namanya juga luar negeri. Itupun bahannya gandum.” Aku sendiri tersenyum saja mendengar perdebatan keduanya. Keduanya antusias, keduanya tidak pernah ke luar negeri dan keduanya hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP. Menurut buku geografi kita jaman dulu yang diterbitkan oleh PT Intan Pariwara atu Ganesha Ecaxt Bandung, orang Australia memang makan gandum. Memang buku SD atau SMP kita gemar sekali menjeneralisasi 🙂

Continue reading “Di Australia makan nasi juga?”

Berburu rumah di Australia

Habis sudah masa bersuka cita menikmati nostalgia karena telah kembali ke Australia, kini urusan sesungguhnya mulai nampak. Hal pertama dan utama adalah bagaimana mendapatkan tempat tinggal secepat mungkin. Tidak mudah melakukan ini di Australia dan tidak akan pernah mudah, meskipun sudah berkali-kali datang dan pernah tinggal lama di negeri kangguru ini. Yang sedikit berubah hanya satu. Ya satu saja, kini aku tidak terlalu khawatir dibandingkan ketika datang ke sini pertama kali.

Continue reading “Berburu rumah di Australia”