Peta Cuaca Australia Interaktif

Berikut ini adalah file FLASH yang menunjukkan Peta Cuaca Australia. Ini adalah peta interaktif yang bisa diubah tampilannya sesuai dengan keinginan Anda. Silahkan Klik “Next” untuk memulai. Klik icon lingkaran di setiap layer yang tersedia di kolom paling kanan untuk menampilkan atau menyembunyikan layer tertentu. Misalnya jika Anda ingin melihat citra satelit, silahkan klik icon lingkaran di sebelah “Satellite Image”. Untuk mendapat penjelasan yang lebih detail tentang citra satelit ini, silahkan klik icon “?” di sebelah “Satellite Image”

Selamat menikmati!

http://www.bom.gov.au/info/ftweather/resources/weather_map.swf

Tentang sebuah Dendam

[akhirnya kompas]

Ya ini adalah perihal sebuah dendam yang berkepanjangan. Dendam kepada sebuah harian nasional yang bernama KOMPAS. Yan, Anda benar, KOMPAS yang itu, bukan KOMPAS yang lain. KOMPAS yang pastinya akrab Anda baca sejak jaman bahula mungkin dari nenek moyang Anda 🙂

Pada pertengahan Juni 2003, ntuk pertama kalinya saya mengirimkan artikel ke harian KOMPAS tentang sesuatu yang saya kira sangat menarik. Pada tanggal 2 Juli 2003 pukul 12:27:18 +0700 saya menerima email dari redaktur opini yang isinya “maaf, artikel Anda yang berjudul “…” tidak dapat dimuat karena topik kurang aktual. Sedih dan kecewa. Inilah cikal bakal dendam itu.

Dua tahun berjalan, tidak ada kesempatan membalas dendam yang semakin menjadi hingga akhirnya sebuah artikel dikirim lagi. Kali ini tentang isu yang sangat hot di negeri Indonesia. Lagi-lagi ada balasan penolakan, walaupun kali ini lebih memacu semangat karena diikuti dengan nasihat harapan “tetaplah menulis dan meningkatkan kualitas”. Kecewa lagi dan bertambah lagi dendamnya. Email pertama kali 2 tahun yang lalu belum dihapus hingga hari ini, sebagai pertanda seriusnya dendam ini 🙂

Perasaan dendam menjadi semakin memuncak tatkala ada harian lain yang konon tidak kalah bergengsinya (kalau tidak boleh dibilang lebih bergengsi) telah memuat tulisanku. KOMPAS memang jual mahal!!!

Hari ini, 23 Juni 2005 akhirnya dendam itu terobati sudah. Sebuah artikel tentang Pilkada dan penetapan kewenangan daerah di wilayah laut telah dimuat. Dendam ini telah melahirkan energi postif yang luar biasa untuk terus berkarya dan akhirnya membuahkan hasil. Jika ada perasaan bangga, barangkali tidak ada kebanggaan yang melebihi kebanggaan yang sekaligus bisa mengobati dendam.

Terima kasih KOMPAS yang terlah mengajarkan cara mengelola dendam menjadi energi pencapaian.

Sea Territory an Agenda Item for Regional Elections

I Made Andi Arsana [The Jakarta Post] The local leadership elections currently taking place are one of the most important current issues in Indonesia.

This article will not dwell on the politics behind the elections or issues of democratization, but instead look at the powers of local governments as regards maritime territory.

A candidate standing in a local election needs to fully understand the rules governing maritime territory, aside from other important matters, as two-thirds of the country consists of ocean. [read….]

Sang Penjawab

Nampaknya Pak Google kini punya saingan yang cukup berarti. Setelah malang melintang sebagai sang penjawab utama di dunia maya, Google kini dibayang-bayangi setidaknya oleh dua rival yang tidak kalah canggihnya dalam hal menjawab kesulitan di dunia maya.

Sebut saja twingine, bukan nama sebenarnya [kayak koran lampu merah aja], adalah sebuah mesin pencari yang memadukan potensi google dengan yahoo sekaligus. Jika Anda menggunakan twingine.com untuk melakukan searching, secara otomatis pencarian akan dilakukan oleh yahoo dan google. Jadi akan ada dua hasil, satu dari google dan satu dari yahoo. Pada awalnya twingine mengidentifikasi dirinya dengan YAGOOHOOGLE sebagai gabungan dari yahoo dan google. Nama yang lucu 🙂 Namun karena alasan tertentu, akhirnya diganti menjadi TWINGINE yang kira-kira berasal dari TWIN ENGINE, dua engine yang bekerja sekaligus. Bagaimanapun juga, twingine tidak akan pernah lebih canggih dari google karena pada prinsipnya menggunakan potensi google (dan yahoo) untuk melakukan pencarian. Dengan kata lain, tidak ada fitur baru yang istimewa.

Sang pencajawab yang juga canggih adalah answers. Answers, berbeda dengan google, tidak hanya sekedar mencari URL yang mengandung sesuatu yang kita cari, tapi langsung memberi penjelasan. Misalnya ketika kita mengetikkan nama orang yang populer, secara otomatis answers akan menampilkan biografi orang tersebut. Lihat saja Soekarno, misalnya. Saya pun telah mencoba mencari Gandhi dan nama lain. Sekarang saatnya mencoba sesuatu yang akrab dengan Anda. Tapi kali ini jangan diklik langsung di sini. Silahkan coba nama Anda sendiri?

Pencarian juga disertai gambar dan ilustrasi sehingga menjadi lebih jelas. Misalnya Anda bisa mencoba mengetikkan tae kwon do untuk mendapatkan penjelasan dan gambar tentang olah raga bela diri tae kwon do. Tapi kalau Anda belum 18 tahun plus, jangan mencoba-coba mengetikkan “sex posititons“. Mulai saja dari hal-hal ringan seperti cara membuat pizza misalnya dengan mengetikkan pizza atau hal-hal ringan lainnya.

Kini semakin banyak sang penjawab bertebaran di dunia maya, siap 24 jam untuk menjadi teman curhat maupun supervisor riset. Semakin sedikit alasan untuk telat mengerjakan tugas dan laporan karena kekurangan resources 🙂

Jakarta Post lagi

Senang sekali, tulisan kedua dimuat di Jakarta Post. Kali ini, tulisan dibuat berdua sama Clive. Not bad lah, walaupun honornya gak terlalu tinggi 🙂

Silahkan lihat screen capture-nya atau baca di Jakarta Post

Apakah ini Pembajakan?

Hari ini saya melihat tulisan saya dipampang di situs Menkopolkam. Sekilas ada rasa bangga, karena bagaimanapun juga ini artinya tulisan saya layak dimuat oleh sebuah situs kementrian di Indonesia.
Setelah saya perhatikan ternyata ada hal yang kurang memuaskan:

  1. Tulisan ini, walaupun mengkopi secara keseluruhan tulisan saya, tidak sama sekali menyebut nama saya sebagai penulis. Padahal dalam tulisan asli yang ada di blog ini, jelas saya menulis nama saya.
  2. Di situs menkopolkam, alamat tulisan dibuat madeandi.blogspot.com sebagai sumber tulisan. Ini saya pikir sangat baik, walaupun penulisan URL inipun tidak lengkap karena tidak mengacu kepada URL tulisan yang dimaksud tetapi URL umum. Tetap saja, saya belum menemukan alasan mengapa nama penulis tidak dicantumkan.
  3. Tulisan ini dikutip bahkan hingga footnote-nya di mana footnote itu merupakan identitas saya sebagai penulis yang digunakan untuk menjelaskan nama saya sebagai penulis. Aneh sekali kelihatannya karena identitas saya (profesi dan institusi) sebagai penulis ada di sana tetapa nama saya tidak terkopi. Akhirnya saya berharap ini sebuah keteledoran biasa, lupa mengkopi, walaupun sesungguhnya hampir tidak mungkin.
  4. Sayapun berniat untuk memberikan komentar dan kritik atas kejadian ini. Bukan apa-apa, hanya sekedar mengingatkan agar kekeliruan kecil seperti ini tidak terjadi lagi. Bagaimanapun juga menurut saya ini adalah sebuah pelanggaran kode etik ilmiah.
  5. Seperti halnya anekdot yang berkembang saat ini, bahwa semua situs pemerintah memiliki link untuk “kritik dan saran” tetapi link tersebut tidak aktif. Demikian pula halnya dengan situ Menkopolkam ini, sayang sekali.
  6. Saya telah meng-capture semua tampilan situs Menkopolkam yang terkait dengan tulisan ini

Saya yang bangga menjadi orang Indonesia, menjadi sedikit kecewa dan akhirnya terpaksa menuliskan ini di sini. Semoga menjadi pelajaran buat kita semua. Jika kebetulan Anda memiliki akses ke Menkopolkam, ada baiknya hal ini diingatkan. Saya tentu saja tidak semangat memperpanjang perkara “kecil” ini namun setidaknya kita saling menghargai hasil karya masing-masing. Ada pendapat?

She can sing for you!

Disclaimer
This is taken from http://www.yonkis.com/mediaflash/timida.htm just for fun. However, you might not find it funny nor interesting because it may SURPRISE you. Never ever PLAY unless you really are ready for the surprise!

This beatiful girl can sing for you with astonishing voice. Have you got speaker ready? Turn it loud to get the best effect! Click play button to enjoy! It is not a good idea to click somewhere on the picture as it is linked to a site you might not like.

Did you find it interesting or shocking? Tell your friends; give them a break from their boring day 🙂

Windows dan Sunan Kalijaga

[cerita baru bahasa lama]

Jika ada deretan kata-kata seperti: windows, file, install, virus, wizard, dan seterusnya yang sejenis, saya berani bertaruh bahwa hal pertama kali muncul dalam benak kita adalah komputer. Saya yakin ini dialami oleh hampir semua orang yang telah mengenal komputer dan teknologi informasi.

Sekarang ini, semakin jarang kita jumpai orang mengaitkan windows dengan rumah (window sebagai jendela), file dengan berkas di kantor, install dengan pemasangan benda keras seperti meja, kursi, dan seterusnya. Hampir semuanya identik dengan istilah komputer. Jangan-jangan, lebih parah lagi, orang sudah lupa bahwa wizard itu adalah orang bijaksana yang ahli/terampil. Wizard dewasa ini lebih dikenal sebagai program komputer interaktif yang bisa menuntun seorang pemakai komputer menjalankan tahap komputasi yang kompleks.
Lihatlah pula istilah-istilah seperti explorer, recycle bin, my document, folder, dan lain-lain. Semua itu sebenarnya istilah yang sudah ada dan dipakai sebelum komputer ditemukan atau popular seperti sekarang ini. Namun sekarang tiba-tiba saja dia menjadi lebih dikenal sebagai istilah perkomputeran.

Apa yang bisa dipelajari dari sini?
Yang menarik adalah para marketer atau penjual teknologi ternyata tidak perlu susah payah menciptakan istilah baru untuk barang dagangannya. Menggunakan istilah yang sudah popular di masyarakat justru lebih ampuh dan membuat suatu produk lebih mudah dikenal. Bayangkan jika Microsoft harus menciptakan istilah baru untuk semua fungsi di windows, mungkin perlu dibuat kursus 40 jam, sekedar untuk mengingat istilah-istilah tersebut. Inilah lihainya Microsoft dengan windowsnya. Intinya adalah menawarkan sesuatu dengan bahasa yang sudah akrab di telinga masyarakat sehingga sedapat mungkin dihindari penolakan yang tidak perlu.

Lalu mengapa Sunan Kalijaga disebut-sebut dalam tulisan ini?
Jauh sebelum Microsoft menerapkan teknik marketing yang yahud ini, Sunan Kalijaga telah mempraktekkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Ketika menyebarkan Islam di Nusantara, beliau [konon] menggunakan jalur kesenian tradisional yang sebelumnya telah dikenal akrab oleh masyarakat Hindu Nusantara ketika itu. Alhasil, Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu Sunan yang berhasil mengislamkan tanah Jawa dan Nusantara. Masyarakat hindu bahkan mungkin tidak merasa sedang diajari agama baru karena penyampaiannya melalui kesenian yang mereka sukai: Wayang Kulit. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah ratusan tahun penyebaran itu terjadi, masih sangat banyak masyarakat (terutama Jawa) yang tidak paham bahwa Wayang Kulit adalah tradisi yang basis ceritanya Hindu. Mereka bahkan sudah sampai pada tahap bahwa Pandawa Lima memang sejak dulu memuja Gusti Allah J.

Anyway, lepas dari isu agama, Sunan Kalijaga adalah orang yang patut diteladani dalam hal penyebaran konsep dan ajaran baru. Beliau berhasil menyampaikan sesuatu yang baru dengan bahasa ‘lama’ sehingga terhindar dari resistensi.

Jika saja Sunan Kalijaga hidup di jaman sekrang, beliau pasti akan menyebarkan agama dengan email berantai, website dan blog.

Rapuhnya Batas Wilayah Negara Kepulauan Indonesia: Refleksi masyarakat kita untuk Ambalat

[Sebuah catatan kecil dari Seminar Nasional]

I Made Andi Arsana

Seminar yang diprakarsai oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi dan didukung sepenuhnya oleh Bakosurtanal ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Indarto pada pukul 9.00 pagi, 3 Mei 2005. Ada beberapa catatan penting yang perlu disimak dari seminar ini dan merupakan fenomena menarik sekaligus refleksi masyarakat Indonesia dalam menyikapi sebuat sebuah konflik antarnegara.

Sekali lagi, Ambalat bukan pulau.
Seperti kekeliruan yang umum terjadi di masyarakan, ternyata masih banyak yang menganggap bahwa Ambalat adalah sebuah pulau. Hal ini tercetus tidak saja dari peserta seminar bahkan juga dari Dekan Teknik selaku pembuka seminar, dan juga seorang pembicara bidang hukum. Ini adalah sebuah kesalahan serius, apalagi ketika diungkapkan oleh seorang akademisi yang tutur bahasanya selayaknya dipercaya. Memandang Ambalat sebagai sebuah pulau tentu saya memberi konsekuensi legal yang sangat berbeda. Dalam konsep kedaulatan, dikenal istilah kedaulatan penuh (sovereignty) dan hak untuk berdaulat (sovereign rights). Keduanya adalah hal yang benar-benar berbeda dan perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Kedaulatan penuh berlaku terhadap wilayah darat (termasuk pulau) dan wilayah perairan pedalaman (atau perairan kepulauan, untuk kasus Indonesia) dan laut teritorial. Jika Ambalat dianggap pulau oleh sebagian orang, artinya mereka pun berpikir bahwa pada Ambalat berlaku kedaulatan penuh. Ini berarti bahwa jika sebagain orang menganggap Ambalat adalah milik Indonesia, Malaysia akan dianggap merebut kedaulatan penuh tersebut dan wajar jika ‘perang’ dan ‘ganyang’ adalah jawabannya.

Sekali lagi, Ambalat bukanlah pulau melainkan wilayah dasar laut yang diduga (dengan data) mengandung cadangan minyak dan gas bumi. Hal ini ditegaskan oleh Arif Havas Oegroseno dari Polkamwil Deplu. Dengan kata lain, berbicara tentang Ambalat, berarti berbicara tentang wilayah dasar laut/seabed. Melihat jaraknya dari pulau Kalimantan (Borneo), Ambalat berada pada Zona Ekonomi Eksklusif kedua negara atau bahkan Landas Kontinen, karena berkaitan dengan dasar laut.

Malaysia tidak berhak mengklaim Ambalat?
Ada sebuah pendapat yang dinyatakan oleh seorang petinggi negara kita bahwa Malaysia bukanlah negara kepulauan sehingga tidak berhak atas laut teritorial. Ini pernyataan yang sangat keliru.
Menurut Konvensi hukum laut, sebuah negara pantai (negara yang wilayah daratannya secara langsung bersentuhan dengan laut) berhak atas zona maritim laut teritorial, EEZ, dan landas kontinen sepanjang syarat-syarat (jarak dan geologis) memungkinkan. Dalam hal ini, tidak diragukan lagi bahwa Indonesia dan Malaysia yang sama-sama telah meratifikasi UNCLOS III memang berhak untuk mengklaim wilayah laut. Hanya saja, seperti dapat diduga, memang akan terjadi pertampalan atau tumpang-tindih klaim antar kedua negara. Ambalat, di satu sisi, berada pada klaim tumpang tindih ini. Dengan demikian, Malaysia secara hukum memang berhak atas klaim tersebut.

Sipadan Ligitan, bagaimana perannya?
Diberikannya kedaulatan atas Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia oleh ICJ pada tahun 2002 melahirkan potensi berubahnya konfigurasi garis pangkal Indonesia dan Malaysia. Garis pangkal Indonesia kini tidak lagi menggunakan kedua pulau tersebut sebagai titik pangkal sehingga zona laut yang bisa diklaim akan berubah dan cenderung menyempit. Sementara itu, Malaysia bisa saja menggunakan kedua pulau tersebut sebagai titik pangkal yang konsekuensinya adalah wilayah laut yang bisa diklaim akan melebar ke bagian selatan. Ini juga yang memperkuat dasar klaim Malaysia terhadap ambalat. Namun demikian, tetap ada kemungkinan Indonesia menolak memberikan peran penuh (full effect) kepada kedua pulau tersebut sehingga tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap klaim malaysia.

Dasar Klaim dan Klaim sepihak
Pendapat umum mengatakan bahwa klaim Indonesia lebih kuat dibandingkan klaim Malaysia karena klaim Indonesia berdasarkan UNCLOS III sedangkan klaim malaysia berdasarkan Peta 1979 yang dibuat secara sepihak. Hal ini benar adanya, namun tidak berarti bahwa Malaysia tidak mengacu kepada UNCLOS III mengingat Malaysia juga telah meratifikasinya. Di sisi lain, peta tahun 1979 memang dibuat sepihak dan Indonesia telah memprotesnya bahkan pada bulan Februari 1980. Perlu diingat lagi bahwa pada dasarnya Malaysia boleh saja mengajukan klaim sepihak, tugas Indonesia dan negara lainlah untuk menolak atau menyetujui klaim tersebut. Intinya adalah negosiasi dan kesepakatan bilateral. Bukankah Indonesia juga melakukan hal yang sama terhadap si kecil Palau yang mana klaim kita jauh melampuai garis tengah antara Indonesia dan Palau. Sepanjang Palau tidak/belum memprotes, toh tidak ada yang emosi karenanya. Rakyat Indonesiapun tidak begitu peduli dan tidak mau tahu dengan hal ini. Namun tentu saja dosa tidak boleh dibayar dosa. Kesalahan Malaysia yang mengklaim sepihak tidak bisa diampuni hanya gara-gara Indonesia juga mengklaim sepihak atas Palau.

Ajukan ke Mahkamah Internasional?
Clive Schofield, pembicara dari CMP, University of Wollongong, mengatakan bahwa negosiasi adalah jalan keluar terbaik menyelesaikan masalah ini. Dengan negosiasi, akan dimungkinkan mencapai apa yang diinginkan tanpa ada yang kalah dan menang. Tentu saja, menurutnya, dalam bernegosiasi kita tidak bisa berharap akan memperoleh seluruh keinginan kita. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa Malaysia memang juga berhak atas klaim wilayah laut.

Dengan menyerahkan kasus ini kepada Mahkamah Intenasional (ICJ) kedua pihak akan kehilangan kendali terhadap kasus ini. Sederhanaya, kita menyerahkan segala keputusan kepada pihak ketiga yang belum tentu bisa sepenuhnya memahami histori dan emosi hubungan kedua negara. Hal ini tentu akan diperburuk dengan kelemahan kita dalam menyediakan bukti-bukti hukum.

Indonesia dengan para ahlinya
Ada hal menarik dari seminar ini bahwa Indonesia ternyata telah melakukan cukup banyak hal berkaitan dengan penyelesaian perbatasan laut internasional dengan negara tetangga. Dari rangkuman Clive Schofield, terlihat setidaknya ada 8 perjanjian yang telah disepakati dengan negara tetangga. Sebuah prestasi yang luar biasa. Hal semacam ini nampaknya perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar lebih menghargai usaha pemerintah. Masih menurut Clive, Indonesia adalah Bapak dari Negara Kepulauan yang telah berkontribsi signifikan dalam pembentukan UNCLOS III. Konsep negara dan garis pangkal kepulauan adalah wujud kontribusi Indonesi dalam konvensi tersebut.
Mengingat Indonesia telah berpengalaman dalam penyelesaian perbatasan laut dengan negara tetangga, adalah wajar jika Indonesia seharusnya percaya diri dalam menyelesaikan masalah Ambalat dengan Malaysia. Pengalaman ini tentu saja akan menjadi nilai tambah dalam bernegosiasi dengan Malaysia nantinya. Dengan tegas, Clive Schofield bahkan menyatakan bahwa sesungguhnya Indonesia tidak perlu ahli asing dalam hal ini. ”I am cofused what I am doing here now”, begitu dia berkelakar.

Catatan Akhir
Seminar ini mengigatkan setidaknya tiga hal:

  1. Indonesia memiliki ahli dan pengalaman yang memadai, namun sayang tidak banyak ahli memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan persoalan seperti kasus Ambalat dengan bahasa yang populer dan dipahami masyarakat.
  2. Kasus Ambalat, seperti halnya kasus antar negara lainnya, bersifat rahasia karena masih belun dirundingkan. Hal ini menyebabkan pemerintah harus merahasiakan strateginya. Ini harus dipahami masyarakat bukan sebagai ketidakterbukaan pemerintah terhadap informasi namun sebagai upaya menyelamatkan rencana negosiasi. Masyaratakat harus memahami kapan saatnya transparan dan kapan pemerintah boleh merahasiakan sesuatu.
  3. Pemerintah, tokoh masyarakat, ahli dan media, dengan semangat kebangsaan harus saling mendukung. Pernyataan ekstrim di satu sisi memang sangat mendongkrak penjualan oplah, namun di satu sisi juga meresahkan masyarakat. Petinggi pemerintah juga harus sangat berhati-hati mengeluarkan pernyataan jangan sampai melemahkan posisi Indonesia di dunia internasional karena mengeluarkan pernyataan yang tidak benar secara legal dan ilmiah.

Censored!

[Belajar dari B*g Br*th*r]

Big Brother (BB) tentu saja bukan sebuah acara ideal bagi seorang mahasiswa yang sedang kuliah postgraduate di Sydney. Tidak juga (seharusnya) bagi siapa saja yang tidak tertarik menyaksikan tontonan tanpa skrip menyajikan sekumpulan anak muda membicarakan persoalan-persoalan yang gak mutu. Namun begitu, kenyataannya acara ini (yang di Indonesia ditiru dengan Penghuni Terakhir) tetap ada dan bertahan hingga kini di sebuah stasiun TV terkemuka Australia. Diam-diam, saya pun masih menyempatkan diri menontonnya di sela-sela browsing bahan penelitian. Sangat tidak ideal memang.

Ada satu hal menarik yang (semoga) tidak terlalu buruk dipelajadi dari BB yaitu cross culture understanding. Bagi seorang Indonesia dengan bahasa Inggris biasa-biasa saja dan pola bergaul yang tidak terlalu outgoing, tidak mudah untuk menyelami kehidupan orang Australia yang sesungguhnya. Hubungan dengan mahasiswa lokal umumnya sebatas urusan formal kuliah. Ini menyulitkan kita untuk memahami budaya mereka lebih dalam.

BB hadir, salah satunya, untuk menjadi sebuah media di mana kita bisa mengenal kehidupan orang Australia, terutama generasi mudanya, karena kebetulan BB cukup natural dalam menyajikan fenomena kehidupan anak-anak muda Australia. Singkatnya, BB bisa menjadi representasi yang cukup layak menggambarkan cara hidup dan pola hubungan pemuda Australia. Silahkan dilihat acara uplate atau uncut.. oops!

Satu lagi yang menarik, BB menunjukkan secara tidak langsung bagaimana cara media Australia menyensor informasi. Sangat mengejutkan bahwa mereka lebih berhati-hati dengan informasi verbal dibandingkan visual. Bagi anda yang pernah menyaksikan BB, akan menyadari bahwa sangat sulit mendengar para peserta mengucapkan kata-kata kasar/jork. Suara ”bip” akan terdengar sepanjang siaran karena saking banyaknya kata-kata yang harus mereka sensor. Sementara di lain sisi, dengan mudahnya pemirsa bisa melihat seorang cewek mempertontokan (maaf) susu dan pantatnya, termasuk cowok tanpa sehelai benangpun menghadap kamera. Tidak sulit untuk melihat cowok cewek telanjang atau berciuman ketika mandi bersama di sebuah kolam air panas, misalnya.

Saya pribadi belum mengerti apa alasan kebijaksanaan ini. Masih cukup aneh ketika dilihat dari kacamata Indonesia. Atau jangan-jangan, Australia memang menganut prinsip ”setajam-tajamnya pisau masih lebih tajam mulut manusia. Pisau tajam melukai kulit, mulut tajam melukai hati”. Jadi inget kata-kata Sangut di wayang Cenk Blonk yang mengatakan ”Tidak ada yang menjual onderdil hati”. Barangkali!