Censored!


[Belajar dari B*g Br*th*r]

Big Brother (BB) tentu saja bukan sebuah acara ideal bagi seorang mahasiswa yang sedang kuliah postgraduate di Sydney. Tidak juga (seharusnya) bagi siapa saja yang tidak tertarik menyaksikan tontonan tanpa skrip menyajikan sekumpulan anak muda membicarakan persoalan-persoalan yang gak mutu. Namun begitu, kenyataannya acara ini (yang di Indonesia ditiru dengan Penghuni Terakhir) tetap ada dan bertahan hingga kini di sebuah stasiun TV terkemuka Australia. Diam-diam, saya pun masih menyempatkan diri menontonnya di sela-sela browsing bahan penelitian. Sangat tidak ideal memang.

Ada satu hal menarik yang (semoga) tidak terlalu buruk dipelajadi dari BB yaitu cross culture understanding. Bagi seorang Indonesia dengan bahasa Inggris biasa-biasa saja dan pola bergaul yang tidak terlalu outgoing, tidak mudah untuk menyelami kehidupan orang Australia yang sesungguhnya. Hubungan dengan mahasiswa lokal umumnya sebatas urusan formal kuliah. Ini menyulitkan kita untuk memahami budaya mereka lebih dalam.

BB hadir, salah satunya, untuk menjadi sebuah media di mana kita bisa mengenal kehidupan orang Australia, terutama generasi mudanya, karena kebetulan BB cukup natural dalam menyajikan fenomena kehidupan anak-anak muda Australia. Singkatnya, BB bisa menjadi representasi yang cukup layak menggambarkan cara hidup dan pola hubungan pemuda Australia. Silahkan dilihat acara uplate atau uncut.. oops!

Satu lagi yang menarik, BB menunjukkan secara tidak langsung bagaimana cara media Australia menyensor informasi. Sangat mengejutkan bahwa mereka lebih berhati-hati dengan informasi verbal dibandingkan visual. Bagi anda yang pernah menyaksikan BB, akan menyadari bahwa sangat sulit mendengar para peserta mengucapkan kata-kata kasar/jork. Suara ”bip” akan terdengar sepanjang siaran karena saking banyaknya kata-kata yang harus mereka sensor. Sementara di lain sisi, dengan mudahnya pemirsa bisa melihat seorang cewek mempertontokan (maaf) susu dan pantatnya, termasuk cowok tanpa sehelai benangpun menghadap kamera. Tidak sulit untuk melihat cowok cewek telanjang atau berciuman ketika mandi bersama di sebuah kolam air panas, misalnya.

Saya pribadi belum mengerti apa alasan kebijaksanaan ini. Masih cukup aneh ketika dilihat dari kacamata Indonesia. Atau jangan-jangan, Australia memang menganut prinsip ”setajam-tajamnya pisau masih lebih tajam mulut manusia. Pisau tajam melukai kulit, mulut tajam melukai hati”. Jadi inget kata-kata Sangut di wayang Cenk Blonk yang mengatakan ”Tidak ada yang menjual onderdil hati”. Barangkali!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Censored!”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s