Windows dan Sunan Kalijaga


[cerita baru bahasa lama]

Jika ada deretan kata-kata seperti: windows, file, install, virus, wizard, dan seterusnya yang sejenis, saya berani bertaruh bahwa hal pertama kali muncul dalam benak kita adalah komputer. Saya yakin ini dialami oleh hampir semua orang yang telah mengenal komputer dan teknologi informasi.

Sekarang ini, semakin jarang kita jumpai orang mengaitkan windows dengan rumah (window sebagai jendela), file dengan berkas di kantor, install dengan pemasangan benda keras seperti meja, kursi, dan seterusnya. Hampir semuanya identik dengan istilah komputer. Jangan-jangan, lebih parah lagi, orang sudah lupa bahwa wizard itu adalah orang bijaksana yang ahli/terampil. Wizard dewasa ini lebih dikenal sebagai program komputer interaktif yang bisa menuntun seorang pemakai komputer menjalankan tahap komputasi yang kompleks.
Lihatlah pula istilah-istilah seperti explorer, recycle bin, my document, folder, dan lain-lain. Semua itu sebenarnya istilah yang sudah ada dan dipakai sebelum komputer ditemukan atau popular seperti sekarang ini. Namun sekarang tiba-tiba saja dia menjadi lebih dikenal sebagai istilah perkomputeran.

Apa yang bisa dipelajari dari sini?
Yang menarik adalah para marketer atau penjual teknologi ternyata tidak perlu susah payah menciptakan istilah baru untuk barang dagangannya. Menggunakan istilah yang sudah popular di masyarakat justru lebih ampuh dan membuat suatu produk lebih mudah dikenal. Bayangkan jika Microsoft harus menciptakan istilah baru untuk semua fungsi di windows, mungkin perlu dibuat kursus 40 jam, sekedar untuk mengingat istilah-istilah tersebut. Inilah lihainya Microsoft dengan windowsnya. Intinya adalah menawarkan sesuatu dengan bahasa yang sudah akrab di telinga masyarakat sehingga sedapat mungkin dihindari penolakan yang tidak perlu.

Lalu mengapa Sunan Kalijaga disebut-sebut dalam tulisan ini?
Jauh sebelum Microsoft menerapkan teknik marketing yang yahud ini, Sunan Kalijaga telah mempraktekkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Ketika menyebarkan Islam di Nusantara, beliau [konon] menggunakan jalur kesenian tradisional yang sebelumnya telah dikenal akrab oleh masyarakat Hindu Nusantara ketika itu. Alhasil, Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu Sunan yang berhasil mengislamkan tanah Jawa dan Nusantara. Masyarakat hindu bahkan mungkin tidak merasa sedang diajari agama baru karena penyampaiannya melalui kesenian yang mereka sukai: Wayang Kulit. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah ratusan tahun penyebaran itu terjadi, masih sangat banyak masyarakat (terutama Jawa) yang tidak paham bahwa Wayang Kulit adalah tradisi yang basis ceritanya Hindu. Mereka bahkan sudah sampai pada tahap bahwa Pandawa Lima memang sejak dulu memuja Gusti Allah J.

Anyway, lepas dari isu agama, Sunan Kalijaga adalah orang yang patut diteladani dalam hal penyebaran konsep dan ajaran baru. Beliau berhasil menyampaikan sesuatu yang baru dengan bahasa ‘lama’ sehingga terhindar dari resistensi.

Jika saja Sunan Kalijaga hidup di jaman sekrang, beliau pasti akan menyebarkan agama dengan email berantai, website dan blog.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s