Tsunami Early Warning

taken from: http://www.guardian.co.uk/tsunami

How earthquakes happen

taken from: http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/4126809.stm

Peta Bencana

Jurusan Teknik Geodesi UGM telah membuat dan menayangkan peta interaktif tentang korban jiwa dan bangunan akibat gempa yang terjadi di Jogja beberapa waktu lalu. Ini merupakan respon Teknik Geodesi UGM dari sisi keilmuan, sementara dari sisi kemanusiaan juga sudah mengerahkan segenap potensi yang ada untuk membantu para korban.

Peta bencana ini merupaan hasil kerja Tim Teknik Geodesi UGM bekerjasama dengan Pemda DIY sebagai penyedia data dan informasi. Dengan adanya peta ini, para pengguna bisa mendapatkan informasi yang rinci tentang jumla korban dan bangunan yang di-update setiap 6 jam sekali. Bagi yang ingin menyalurkan bantuan, peta ini juga memberikan informasi sumbangan. Gambar di atas adalah tampilan statik peta bencana yang dimaksud. Silahkan klik peta tersebut untuk mengunjungi situs peta interaktif.

Anak dan Istri yang ditinggal pergi

Aku janjikan kepadamu, malam ini adalah malam terakhir aku pulang terlambat. Kamu tahu, akupun tahu bakan anak kita tahu, aku akan mengingkarinya. Lagi dan lagi. Malam ini kupastikan bukanlah malam terakhir aku megigkari janji. Masih ada malam-malam lain engkau akan aku kecewakan.

Tetapi, aku tahu, kamu tahu dan bahkan anak kita tahu. Aku mengingkari juga karena cinta. Cinta yang berbeda dan walaupun lebih kecil tetapi sama pentingnya. Aku telah tertambat pada cinta yang lain dan membuatku menduakanmu. Cinta kepada kemanusiaan yang kita bicaraan hampir setiap malam di tempat tidur menjelang terlelap. Malam ini aku melakukannya lagi, dengan maaf yang sudah kukantongi darimu bahkan sebelum kesalahan ini kubuat. Terima kasih telah mengerti.

Surat Kepada Kawan

Dear Kawan,


Pertama saya berdoa untuk semuanya mudah-mudahan tragedi Jogja tidak menimbulkan korban bagi orang-orang yang kita cintai.

Seperti yang sudah teman-teman dengar di TV, Jogja kini sedang berduka. Rasanya baru beberapa hari lalu saya mengirimkan ucapan bela sungkawa ke teman-teman aceh, kini mereka yang giliran mengirim email dan sms untuk tujuan yang sama.

Syukurlah saya sekeluarga selamat. Memang ada pengalaman mendebarkan ketika menyelamatkan anak saya yang masih 8.5 bulan dan membawanya lari keluar rumah yang sudah gaduh. Jam dinding, lemari, lukisan, tv dan lain-lain berjatuhan menimbulkan kegaduhan dan kepanikan yang teramat sangat. Saya harus berlari menyelamatkan Lita menuju pintu yang susah dibuka (karena panik). Masih syukur saat itu kami nginep di
rumah mbahnya Lita di dekat Bandara dan tidur di ruang tamu. Akses menyelamatkan diri menjadi lebih mudah. Hal negatifnya adalah lokasi rumah mertua yang dekat selatan sehingga gempa sangat terasa. Seandainya kami tidur di rumah, mungkin tidak akan sebesar itu getaran yang dirasakan.

Seharian itu kami berada di lapangan dekat stasiun.
Saat itulah saya mengerti betul, bagaimana kecelakaan bisa terjadi karena kepanikan. Tidak satu orang pun mendapatkan informasi yang akurat. Listrik padam sehingga radio dan tv tdk berfungsi. Di saat ketidakpastian seperti itu, ada seseorang datang dengan wajah panik mengendarai sepeda motor dan mengatakan “TSUNAMI!, lari… selamatkan diri sendiri, air sudah sampai di pojok beteng”. Orang-orang yang memang panik kontan bereaksi tidak rasional. Yang memang membawa motor ke lapangan, langsung tancap tanpa tujuan yang pasti. Kecelakaan pasti tidak bisa dihindari dalam kekalutan seperti itu.

Saya sendiri, bukan karena sok tahu bahwa Jogja itu tinggi dan jaraknya yang lebih dari 30 kilo dari laut, melainkan karena pasrah, memilih untuk diam di tempat menggendong Lita. Saya minta keluarga tenang dan berdoa. Saya meyakini sekarang, kalau salah mengambil keputusan saat itu ceritanya akan lain.

Syukurlah keputusan saya tidak salah.
Setelah agak tenang, saya ingat akan radio kecil yang kami punya dan saya ambil dari dalam rumah dengan perasaan tegang takut ada gempa lagi. Radio itulah yang akhirnya kami dengarkan dengan tetangga sekampung yang secara rinci memberitakan perkembangan terakhir berdasarkan telepon masuk dari orang-orang seJogja. Semua menjadi
lebih tenang walaupun tetap tidak berani masuk rumah.

Akhirnya kami memutuskan untuk berkumpul di depan rumah masing2 hingga sore hari. Anehnya, telepon tidak mati sehingga setiap 2 menit ada telepon masuk dari keluarga jauh. Saya pun harus setiap saat masuk rumah menjawab telepon dengan perasaan was-was hanya untuk mengatakan “kami selamat, dan tolong tutup teleponyya SEKARANG”.

Demikianlah Jogja… mencekam sangat suasana hari ini.

Kini saya terlibat dalam penyaluran bantuan untuk para korban. Sangat banyak yang harus dilakukan. Kemaren kami berhasil mengumpulkan sumbangan untuk tetangga kampung yang menjadi korban. Dari hari pertama juga saya terlibah ti TIM UGM. Kepanikan terasa dan sepertinya tdak ada satu orangpun yang benar-benar tahu apa yang harus
dikerjakan. Memang tidak mudah menjadi penolong skaligus korban pada saat yang sama.

Berkali-kali keluarga di Bali dan Jakarta menghubungi dan meminta kami untuk mengungsi. Sepertinya itu bukanlah ide bagus di tengah kenyataan bahwa orang-orang sekitar memerlukan bantuan. Terima kasih atas email, sms dan telepon dari teman-teman semua. Simpatinya menambah energi saya untuk tetep bertahan.

Demikian update saya dari Jogja.

Salam damai
madeandi

Bercinta di rumah sendiri

Bercinta malam ini jelas bebeda dari sebelumnya. Bukanlah tetesan peluh yang berbeda jumlahnya, bukan juga nikmat yang tidak sama rasanya. Keringat itu berbau bahkan dari dinding dan lantainya, dari atapnya, dari debu yang berserakan di atas meja dan selimut yang kusam menutupi keterbukaan kita. Keringat sendiri yang kita teteskan untuk mewujudkan istana ini. Kecil tapi adalah milik kita.

Bercinta malam ini tanpa bayaran, yang kalau dulu, setiap malamya bisa 20 keping emas. Kini sewa tak lagi dihitung. Tagihan tak lagi datang karena alasan cinta. Pembayaran tak lagi dilakukan untuk tiap tetes kenikmatan yang kita panen setiap malamnya. Bercinta malam ini cuma-cuma karena kita lakukan di rumah sendiri.

PS. Gambar diambil dari http://www.detikportal.com/images/ikonkamasutra.gif

Para Guru

Kemaren sore aku berkumpul di ruang terhormat itu, bersama para guru. Mereka hari ini berbeda dari yang aku kenal sepuluh tahun yang lalu. Mereka kini tidak lagi bercerita tentang segitiga siku-siku yang istimewa, tidak juga tentang diagram rumit yang menggerahkan. Hari ini mereka berbicara tentang seorang murid perempuan. Murid yang selalu duduk di depan ketika kelas berlangsung dan menyingkapkan roknya sehingga terpamer keindahan. Para guru kini bercerita tentang panasnyanya ruangan kelas karena keindahan sang murid yang memang menggoda. Para guru juga manusia, pikirku.

Formulir Beasiswa APS 2006 format Ms. Word

Anda mau ngelamar beasiswa APS 2006, tapi males ngisi formulir manual? Mau cari yang versi Ms. Word tapi nggak ada di websitenya?
Jangan bingung, saya sudah berbaik hati dan menyulap formulir APS menjadi format Ms. Word. Silahkan download di:
http://madeandi.staff.ugm.ac.id
Klik “Downloads” di sidebar sebelah kiri.

Selamat berburu!

Suasana Jogja…

Lagu salah satu grup musik kenamaan Indonesia, KLA Project, yang berjudul “Jogjakarta” nampaknya tidak mudah mati dimakan waktu. Meskipun kelompok yank dulu pernah berkibar itu kini sudah “tiada”, lagunya masih saja hangat di telinga.

Begitulah lagu itu seperti mengiringi langkah setiap orang yang pulang kembali ke Jogja, entah karena rindu, entah karena tugas. Memang ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, kata Katon Bagaskara. Bagiku ini penuh selaksa makna karena kepulangan kali ini adalah untuk “selamanya” setelah berguru di negeri orang selama lebih dari dua tahun.

Jogja, seperti dulu ketika aku tinggalkan, tidak terlalu liar berubah mengikuti jaman. Berbeda dengan kota lain seperti Denpasar misalnya, Jogja termasuk kalem. Hanya saja kali ini lebih banyak mall yang memenuhi pinggir jalan Solo. Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu lazim di Jogja. Tapi itulah dinamika, sesuatu boleh berubah karena tuntutan. Barangkali mahasiswa sekarang memang jauh lebih gaul dan lebih mapan dibandingkan dulu sehingga memerlukan lebih banyak mall di Jogja. Oh ya, selama dua minggu di sini, belum pernah sekalipun sempat jalan-jalan ke mall. Mungkin ini tanda-tanda gaya hidup konservatif.

Apapun itu, Jogja tetap menjanjikan sejuta harapan. Harapan yang selalu besar sehingga membuat hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasa selalu ingin untuk pulang lagi….

Ingin kugantikan sakitmu

Jika ada sakit yang ingin kurebut dan kumiliki, pastiah itu sakitmu. Bukan karena aku mencintai sakit itu tetapi karena cintaku kepadamu yang tak tertahankan. Menyaksikan lemas tubuhmu yang disarangi penyakit adalah penyakit sejatiku. Karena itu ingin kugantikan tubuhmu menjadi sarang bagi sakitmu.

Apa dayaku, aku bukanlah sang pengatur bagi hidupmu. Dengan tangis jauh di dasar hati, terpaksa harus kusaksikan juga deritamu. Menringkuk di bangsal rumah sakit serba putih, nafasmu adalah gelisahku. Setiap gerakmu adalah kekhawatiranku, karenanya ingin selalu kugantikan. Apa daya aku tak berhak. Tapi jangan ragu, aku akan mendampingimu menjalani ujian ini, hingga tamat kauselesaikan pelajaran.