Deepak Chopra: You can make a difference!

Bertemu langsung dengan Deepak Chopra adalah pengalaman yang sangat berharga. Tentu saja pertemuan ini tidak sama dengan pertemuan anak-anak kecil di akhir tahun 90-an dengan Joshua di Clubnya. Ini bukan pertemuan idola dengan fans-nya yang diwarnai jerit histeris.

Meski demikian, harus diakui bahwa mengidolakan seseorang dan kemudian berkesempatan bertemu muka tetap saja perlu dicatat. Setidaknya begitu menuru saya pribadi. Pertemuan dengan Deepak Chopra terjadi tangal 18 Desemember 2007 di Gedung Sekretariat PBB di Manhattan, New York ketika beliau memberi kuliah pencerahan seputar kesadaran dan kedamaian. Ini adalah sisi lain dari ‘being in New York in the right time‘.

Sudah cukup lama saya mengikuti pemikiran Deepak Chopra melalui buku dan penuturan orang lain yang mengidolakannya. Pemikiran Deepak Chopra mengalir sangat mulus lewat penuturan Gede Prama dalam ceramah maupun tulisannya. Juga lewat penuturan kawan-kawan saya tentang spiritualitas, kehidupan, keanehan, kejanggalan, harmoni dan apa saja.

Sebagai seorang ilmuwan sekaligus filsuf, Deepak dapat menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Analoginya tentang kehidupan dan peradaban menggunakan telepon genggam, misalnya, adalah bahasa yang sangat membumi untuk memahami sesuatu yang sangat filosofis. “Telekomunikasi yang kita nikmati sekarang berasal dari anggapan ilmiah dasar yaitu esensi dari materi adalah non-materi”, begitu dia menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah cara hidup kita. Orang bisa mengirimkan gambar dengan telepon genggam dari Amerika ke China dalam beberapa detik merupakan hasil dari asumsi dasar di atas. “Gambar bukanlah gambar [semata] tetapi dia bisa diubah menjadi gelombang dan seterusnya dan seterusnya” Seandainya saja gambar hanya dilihat sebagai gambar, apalagi yang dibingkai di atas meja ruang tamu, barangkali manusia tidak akan pernah berpikir untuk memindahkannya dalam waktu 5 detik dari Amerika ke China. Itu barangkali yang ingin disampaikan oleh Deepak dalam ceramahnya.

Ratusan peserta di Ruang Konferensi 2 United Nations Secretariat Building terkesima dengan pemaparannya tentang ide-ide besar yang dibahasakan dengan sangat tepat, sederhana dan pas. Kita ingin berbuat sesuatu, tetapi seringkali kita tidak berdaya karena kita berada di dalam system yang tidak sehat. “What can we do?“, begitu seorang perempuan bertanya.

Kita harus kembalikan persoalan ini kepada kaidah dasar bahwa organisasi merupakan representasi dari kumpulan individu. Organisasi tidak akan pernah salah, tanpa individu yang salah. Yang salah adalah ‘aku’. Yang menyebabkan organisasi tidak sehat adalah aku yang sakit. Begitu Deepak memulai jawabannya.

Ada tiga hal yang dia kemukakan secara singkat. Pertama, yakinlah bahwa saya bisa membuat perubahan. Believe me, you can make a difference dengan cinta dan kepercayaan. Tidak ada yang akan berubah tanpa ‘saya’ berubah. Kedua, take action, lakukan sesuatu yang nyata. Cinta tanpa aksi itu tanpa makna dan aksi tanpa cinta itu tidak relevan. Yang ketiga, berceritalah tentang ide-ide baik. Tell stories and give influences. Dengan bercerita tentang hal-hal yang baik termasuk gagasan-gagasan baik, kita telah menyebarkan kebaikan dan dengan ini dunia akan berubah.

Apa yang disampaikan Deepak mungkin sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, tetapi sangat menyentuh. Mengenalnya sebagai orang besar membuat gagasan ini menjadi lebih bermakna. Hal besar sesungguhnya tidak selalu harus terdengar wah dan rumit. Hal sederhana yang mudah dipahami juga bisa menjadi sesuatu yang besar sesungguhnya.

Begitulah Deepak Chopra membius pendengarnya dengan filsafat yang dalam tetapi mudah dipahami karena kejernihannya, sekaligus tidak terdengar menggurui. Pengetahuannya tetang ilmu teknis dan ilmiah membuat apa yang diucapkannya lebih mudah diterima. Terima kasih Dr. Chopra.

Kembali pulang

Aku kadang membiarkan diri tenggelam dalam kelupaan. Bergumul dalam hangatnya kenistaan cinta yang sesungguhnya semu. Juga dalam gemerlap dunia yang digerakkan ambisi berbalut dengki, iri dan keakuan. Begitulah aku membiarkan diri di dalamnya dan kusaksikan keindahan, kurasakan kenikmatan, kunikmati kehangatan. Tapi itu hanya sementara, kekasihku. Aku tak akan bertahan lama tanpamu.

Kini pengembaraanku sudah selesai, kenikmatan semu itu terasa hambar bagiku. Kehangatan itu sesungguhnya tiada dan tidak pernah ada untukku. Aku sadari benar, keindahan yang kulihat adalah fatamorgana yang tumbuh justru karena terik matahari dan ketiadaanmu di sekelilingku.
Ketiadaanmu yang memunculkan godaan, aku tahu itu. Namun begitu, aku nikmati. Pencapaian ini, meskipun duniawi, adalah juga kemenangan. Seperti kata seorang guru, memulai hidup mungkin memang harus dengan keangkuhan untuk dapat bersahabat dengan keberhasilan dan akhirnya kembali ke keheningan. Aku akan kembali pulang dengan cinta yang lebih dewasa.

Beragama

Saya sudah lama tidak menulis sesuatu yang serius seperti ini. Itupun kalau ‘beragama’ memang dianggap lebih serius dari bunga yang mekar di ruangan kerja atau kisah suatu malam di New Jersey. Apapun itu, saya masih yakin bahwa berbicara soal agama berarti bicara sesuatu yang serius. Walaupun menurut pemahaman sederhana saya, Tuhan juga pasti suka hal-hal lucu. Mengingat ada beberapa pemuka agama yang meyakinkan saya bahwa Tuhan bisa marah kalau kita berbuat dosa, tentu Tuhan juga bisa tertawa kalau saya melucu. Bagi teman saya yang pelawak, Tuhan tentu saja adalah salah satu sumber inspirasi, dan doanya pastilah kira-kira berbunyi “Ya Tuhan, semoga hamba dikaruiniai kelucuan hari ini”.

Beberapa kawan bertanya “apakah saya menjalankan tradisi agama dengan baik?”. “Are you really practicing your Hinduism?”, tanya kawan lainnya. Dalam sebuah acara makan siang di kafetaria United Nations, pertanyaan seperti ini bisa saya jawab dengan mudah sambil berkelakar: “I am a believer, I believe in God“. Cerita panjang lebar tentang film Contact kemudian dengan mudah membuat diskusi tentang agama dan Tuhan menjadi seru, menarik dan tidak menyakiti. Jujur saja, ditanya seperti itu saya teringat kepada Jodie Foster di Contact. Seorang Forster yang tidak percaya Tuhan dianggap tidak layak mewakili umat manusia ketika berhadapan dengan makhluk lain (aliens). Di saat hal kritis terjadi, sebenarnya agak berlebihan menurut saya mempertanyaan apakah seseorang beragama atau tidak untuk bisa mewakili suatu kelompok dalam urusan yang tidak terkait agama. Namun begitu, perjalanan menuju pada pertanyaan ini yang sesungguhnya istimewa. Jika diikuti, tidak ada satupun yang sesungguhnya “ridiculous”.

Di kesempatan lain, pengunjung blog ini pernah bertanya mengapa saya tidak pernah menulis sesuatu berbau Hindu. Pertanyaan ini sebenarnya bisa diartikan sebagai wujud keraguan. Meragukan status agama saya, kehinduan saya. Mungkin memang saya perlu diragukan dari sisi ini, saya tidak pernah keberatan. Seperti yang saya pelajari dari Contact, seorang ilmuan yang menemukan alasan ilmiah sebuah kejadian tidak akan meniadakan Tuhan yang menjadi penyebab segala penyebab. Demikian pula para pemuka agama yang menemukan alasan spiritual atas setiap kejadian, tidaklah bijaksana jika menafikan perjuangan ilmu pengetahuan.

Ijinkan saya berbagi pandangan, bagaimana saya melihat agama. Ada tiga aspek utama yang saya pegang secara sederhana. Pertama adalah aspek sakralitas. Agama memiliki aspek sakral yang memang demikian adanya, tidak perlu didiskusikan dan tidak perlu diusik. Di tingkat ini pasti ada perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya tetapi semestinya tidak perlu dibahas. Kalau saya menyebut Tuhan saya Hyang Widhi sementara yang lain dengan Allah atau lainnya, saya tidak pernah tertarik membahasnya.

Aspek kedua adalah spiritualitas. Masing-masing orang memiliki cara sendiri berhubungan dengan Tuhan. Jangankan agama berbeda, orang seagama pun bisa berbeda di tingkat ini. Spiritual adalah apresiasi individu yang ketika tidak diinstitusikan, tidak akan pernah menimbulkan masalah. Persoalan akan muncul ketika satu praktik spiritual mencoba menginstitusikan kelompoknya dan memaksakannya kepada yang lain. Sejauh ini ada di tingkat individu, tidak semestinya masalah spiritual muncul dan menghancurkan.

Aspek ketiga adalan moralitas. Menurut saya pribadi, ini yang sangat penting. Di tingkat ini, agama konon harus mampu membuat seseorang menjadi baik bagi orang lain. Bagi saya ini yang terpenting sekaligus sulit sekali. Bakti kepada Tuhan yang akhirnya menimbulkan permusuhan tak perlu dengan sesama manusia mungkin juga akan membuat Tuhan kecewa (itupun kalau Tuhan bisa kecewa). Di tingkat moralitas, saya tidak tertarik bertanya “apa agamamu?” karena sesungguhnya bukan itu alasan terjadinya kekerasan dan penindasan. Mengutip kalimat Einstein yang beredar melalui email, saya setuju bahwa kekacauan dan kejahatan tidak dibuat Tuhan, tetapi merupakan tanda ketiadaan Tuhan, setidaknya di hati manusia.

Jika ada yang bertanya apa agama saya, saya seorang Hindu. Menjadi Hindu tidak berarti menghalangi saya untuk mencintai mereka yang meneladani Muhammad, Yesus dan Budha. Saya yakin itu.

You had me at hello

Jerry: Hello. Hello. I’m looking for my wife.

Jerry: Wait. Okay, okay. Okay. If this is where it has to happen, then this is where it has to happen. I’m not letting you get rid of me. How about that? This used to be my specialty. You know, I was good in the living room. They’d send me in there, I’d do it alone. And now I just… I don’t know. But tonight, our little project, our company, had a very big night. A very, very big night. But it wasn’t complete, wasn’t nearly close to being in the same vicinity as complete, because I couldn’t share it with you. I couldn’t hear your voice, or laugh about it with you. I missed my wife. We live in a cynical world, a cynical, cynical world, and we work in a business of tough competitors. I love you. You complete me. And if I just had…

Dorothy: (interrupting) Shut up. Just shut up…..You had me at hello. You had me at hello.

Terbang

Begitulah kalau kita membiarkan keliaran imajinasi berkelana tanpa kendali. Kita memang bisa terbang. Tentu saja tidak dengan sayap seperti seekor merpati putih yang menaklukkan awan, tetapi seperti seorang manusia biasa yang seperti kata Hitch bahwa kita memang selalu bermimpi bisa terbang.

Saya baru saja terbebas dari sebuah tugas berat, menyelesaikan penelitian di United Nations, NY dengan hasil yang tidak mengecewakan. Presentasi sudah dilakukan dan mendapat respon yang sangat positif dari kolega maupun dari orang-orang PBB. Singkat kata, saya merasa layak untuk istirahat sebentar dan menyatakan kemerdekaan. Kemerdekaan ini ternyata bukanlah persoalan bebas melakukan apa saja, tetapi keberhasilan menyingkirkan beban dengan cara yang benar. Kemerdekaan bukanlah semata-mata berhenti melakukan tugas berat tetapi menyelesaikannya dengan baik dan hasil yang tidak mengecewakan. Dengan cara beginilah kebebasan dan kemerdekaan akan mendapatkan maknanya.

Di penghujung program, teman-teman dari 8 negara secara aklamasi memlih saya sebagai wakil mereka untuk menyampaikan pidato pernyataan terima kasih (vote of thanks) kepada petinggi Office of Legal Affairs United Nations. Kepercayaan ini adalah juga prestasi yang tidak bisa saya sembunyikan kebanggaan yang ditimbulkannya. Beberapa menit setelah saya menutup speech, koordinator program berkebangsaan Canada berbisik “It was really good”. Kalau saya memang bisa terbang, saya ingin terbang dengan sayap-sayap kebanggaan seperti ini.

Bunga

Keindahan dan keistimewaan memang sangat relatif. Mengingat cerita lama, kawanku selalu bilang “Cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak” katanya. Tentu saja ini lebih banyak ditujukan untuk gurauan, tetapi penggal pertama dari kelakar ini nampaknya benar.

Sejak minggu lalu, tanaman hias di ruanganku mulai berbunga. Di gedung PBB, kejadian seperti ini rupanya tidak sering sehingga menarik perhatian. Mencium aroma bunga yang semerbak dari ruanganku, hampir semua orang terusik dan penasaran. Setiap beberapa menit ada saja orang yang datang ke ruanganku untuk melihat bunga itu. Komentarnya senada, menunjukkan kekagumanan dan keheranan yang tinggi. Suatu saat Direktur Division for Ocean Affairs and Law of the Sea mampir dan menyatakan apresiasinya.

Ketika aku dan Sampan, perempuan Thailand yang seruangan denganku, tidak sedikitpun merasaan keistimewaan, orang-orang penting yang adalah petinggi PBB datang silih berganti menyaksikan kejadian “biasa” itu. Tentu saja memang tidak istimewa meyaksikan tanaman itu berbunga yang di kampung ada di mana saja dan bahkan menjadi tanaman pagar. Ketika sesuatu menjadi keseharian, dia bisa saja kehilangan keistimewaannya.

Setiap kali datang, masing-masing menyatakan apresiasinya yang serius. Ada yang membahas aspek biologisnya, ada yang mengulas Feng-Sui-nya sebagai tanaman keberuntungan, ada juga yang menyatakan keprihatinannya karena tanaman tersebut tidak berkembang leluasa karena sudah menyentuh langit-langit ruanganku.

Aku sendiri dan Sampan sering hanya tersenyum menyaksikan ulah para curator tanaman itu. Diam-diam belajar juga tentang makna keistimewaan dari sudut pandang berbeda. Mengapresiasi adalah satu dari kewajiban hidup yang tidak mudah dilakukan, ternyata.

Semalam di New Jersey

Dingin menusuk tulang, sepi seperti dunia yang mati dan malam seperti tak ingin ditemani. Gelap yang membungkam kota hanya membiarkan suara serangga mengusik lirih. New Jersey malam ini menggigil membiarkanku terabaikan di sebuah ruangan yang beku.
Dukuk di sofa merah mengarahkan pandangan ke TV yang dari tadi tidak bernyanyi sambil sesekali membuang pandangan ke luar membuat kesendirian nyata dan dalam terasa. Pohon natal yang baru saja dihias di sudut lainnya tak tersenyum sedikit jua. Christmas memang masih jauh untuk dibayangkan, walau lomba obral dan komersial sudah terasa sejak lama. Inilah makna natal yang paling terasa. Sale!

Laptop kesayangan setia bertengger di atas pangkuan, kini dia benar-benar sesuai namanya, on top of my lap, tidak seperti biasanya on top of the desk atau on top of the bed. Kasihan juga kalau harus menamainya bedtop, apalagi desktop, karena jelas-jelas yang terakhir sudah dimiliki pihak lain.

New Jersey malam ini merenggut kehangatan dan menyembunyikannya entah di mana. Tidak sedikitpun disisakannya untukku yang menggigil dan berharap kehangatan dari sapaan makhluk-makhluk manis penghuni dunia maya yang tak kunjung tiba.

Perempuan di layar kaca

Menikmati wajah itu di layar kaca, seperti bercermin di kolam yang jernih bening. Melihat matanya yang berbinar, pastilah bukan satu-satunya keindahan yang bisa dinikmati, pun dia bukan yang istimewa. Menyaksikan hamburan kecerdasan yang menari lewat kata-kata adalah kecemerlangan yang niscaya. Inilah yang menggetarkan hati.

Perempuan di layar kaca ini bukan sepupu, bukan juga anak sedarah. Dia bayang-bayang tinggi hasil rekayasa idealisme tentang keindahan dan kecerdasan. Begitulah dia yang indah tetapi seperti tidak terjangkau. Kepiawaian yang menjadi pergunjingan dan sorot mata yang bahkan melumpuhkan menjadi keniscayaan yang tidak terbantah.

Perempuan di layar kaca, manik-manik kecil menjadi bekal yang tak habis untuk dijarah. Pun ketika terik matahari mencoba mengeringkan hati. Kejayaannmu yang tak tergapai membuat tertunduk kesombongan ini, luruh dalam menyelusup di bawah langkahmu yang panjang.

Salju

Banyak sekali hal yang membuat orang terheran-heran bahkan terkagum-kagum. Yang menarik, hal yang sederhana bagi seseorang, bisa mencengangkan bagi yang lain, demikian pula sebaliknya.

Ketika masih pacaran, mengajak Asti pulang ke kampung di Bali adalah pengalaman menyenangkan. Bukan karena pacarannya [saja] tapi karena Asti sangat mudah terkesima dengan kejadian-kejadian kecil di desa. Bayu, sepupu umur 2 tahun yang terampil bermain perang-perangan di sawah bermandikan lumpur dan jerami yang busuk membuatnya terkesima. Tak pernah terbayang baginya ada anak sekecil itu bermandikan lumpur bau tanpa membuat orangtuanya khawatir.

Pengalaman lain banyak lagi. Bapak yang pernah ke Jakarta terkesima dengan jalan layang dan pencakar langit yang menjulang. Seandainya Bang Yos tahu itu, mungkin dia tersenyum geli. Begitulah hidup yang penuh rahasia. Tak mudah mengatakan sesuatu itu indah atau buruk karena selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ketika salju mengguyur New York, saya adalah satu dari sedikit yang terkesima. Mungkin seperti anak Kota Jakarta yang terbengong-bengong melihat anak desa memandikan kerbau, saya pun demikian. Ketika seorang kawan dari Italy meledek, saya pun hanya meringis. Tapi berhasil membuatnya terkesima ketika saya ceritakan tentang seorang perempuan tua penambang batu padas yang mengantarkan anaknya berkantor di Gedung PBB. Jika pernah terkesima, nikmatilah dan tidak usah berpikir betapa sederhana dan memalukannya seorang saya ketika itu.

Gadis cantik

“Orang ini benar-benar lambat dan bodoh. Masak untuk urusan seperti itu saja tidak bisa. Katanya orang penting, katanya utusan negara, katanya pejabat, katanya satu dari yang terbaik, tetapi kenapa kenyataannya sangat tolol. Kalau untuk melakukan hal sederhana itu saja tidak bisa, tidak layak dia disebut orang pintar, apalagi berprestasi. Apa artinya prestasi. Omong kosong itu semua. Waktuku sejam habis untuk melayani ketololannya.” Kondang menumpahkan kekecewaannya lewat cacian tanpa henti membuat kawannya, Genjo, tidak sempat berkata apa-apa. Genjo melongo menyaksikan Kondang yang tidak biasanya mengumpat seperti itu.

Genjo kemudian bertanya, “apa kabar si cantik Bunga?” Pertanyaan itu spontan membuat Kondang terdiam. “Hey, kamu tahu Bunga. Dari mana?” Kondang curiga. “Ya orang secantik dia, siapa yang tidak tahu!” Genjo menambahkan.

“Dia luar biasa. Cantiknya membuat siapa saja lupa akan kesedihan. Aku menghabiskan waktu seharian dengannya kemarin, mengajari cara ngeprint, cara mengubah warna tulisan di microsoft word, cara meratakan paragraf…” Kondang bicara tanpa henti memamerkan pengalamannya mengajari Bunga hal-hal yang menurut Genjo sangat bodoh dan tidak perlu.

“Kamu seharian menghabiskan waktu dengannya untuk hal-hal sederhana itu? Genjo setengah tidak percaya. “Ya, kenapa?” Genjo segera menyambar, “Aku yang harus tanya, kenapa kamu bisa menghabiskan seharian untuk semua nonsense itu dengan Bunga sementara mengumpat ketika menghabiskan sejam untuk seorang teman?” Kondang menjawab ragu, “mungkin karena Bunga cantik!?!” Genjo terdiam…