22222

Belakangan saya jarang memperhatikan jumlah pengunjung blog ini. Jangankan mencermati pengunjungnya, posting pun kadang ‘libur’ bisa lebih dari sau minggu karena kesibukan. Subuh ini, iseng saya perhatikan counter, ternyata angkanya istimewa: 22222. Detik ketika saya lihat alat penghitung, blog saya sudah dikunjungi oleh dua puluh dua ribu dua ratus dua puluh dua pengunjung yang berasal dari 117 negara.

Saya tahu, ada banyak sekali blog yang dikunjugi lebih banyak orang karena kuantitas dan kualias informasi yang disajikannya. Blog ini, seperti yang pernah saya tulis, tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi favorit orang-orang, tidak juga bersikeras menarik banyak pengunjung. Saya tidak menjual apa-apa di blog ini. Kalaupun ada, itu hanya buku yang gambarnya dipajang di sisi atas dan kanan. Seperti yang saya sampaikan ke mahasiswa, tidak ada yang wajib membeli buku saya. Beli tidak beli, kita tetap berteman. Kalaupun ada mahasiswa yang memilih membeli pulsa dibandingkan buku pegangan kuliah, saya kira itu adalah sikap hidup yang layak dihormati. Salah atau benar itu? Saya tidak akan perna

Kembali ke masalah blog, saya menghargai siapa saja yang berkunjung dan membaca gagasan sederhana saya. Membawa manfaat ataupun tidak, bagi saya tulisan, betapapun sederhananya tetaplah bermakna. Sebaliknya, apresiasi, betatapun kecilnya, tetap membangkitkan semangat. Selamat datang, selamat membaca dan terima kasih.

Bali Exotic Meeting 2008

Sangat banyak yang sesungguhnya ingin saya ceritakan tentang gambar ini. Di saat yang sama, sangat banyak alasan untuk tidak melakukannya. Ada saja kesibukan sehingga menuliskan cerita yang baik, runut dan indah tidak selalu mudah dilakukan.

Foto ini adalah satu saja dari banyak sekali hal yang terjadi di Bali minggu lalu. Istimewanya, foto ini adalah juga pertanda momen penting karena minggu lalu saya melakukan presentasi ilmiah saya pertama kali di Pulau Dewata. Yang lebih hebat, cerita ini dipenuhi keberanian dan prestasi anak-anak muda, mahasiswa saya yang tampil sangat baik dalam sebuah acara bernama Bali Scientific Meeting 2008. Atas kreativitas mereka dan kiprahnya yang membanggakan saya berikan penghargaan kepada Farid Yuniar dan Krisna Arimjaya atas presentasi yang mengesankan di Bali. Selain itu kepada mereka yang telah bekerja keras mewujudkan dua makalah, saya juga memberikan apresiasi kepada Vito, Nyoman Nala, Febri Iswanto dan Listyo Fitri. Langkah berani mereka akan menjadi ispirasi teman dan adik-adik mereka di kampus Teknik Geodesi tercinta.

Lihat juga posting Farid untuk melihat papernya.

Rome was not built in a day but Prambanan was

Dalam sebuah percakapan santai dengan seorang kawan yang sedang berada di Malaysia, pembicaraan melebar ke mana-mana. Suatu ketika saya berucap “Rome was not built in a day” ketika kami berbicara tentang perjuangan di dunia penelitian dan penyelesaian studi. Penelitian memang bukan sesuatu yang mudah dan tidak boleh instan. Karena itulah saya mengutip pepatah termasyur itu, Roma memang tidak dibangun dalam sehari.

Secara mengejutkan, setidaknya bagi saya, kawan saya ini membalas kelakar filosofis saya dengan kelakar yang tak kalah cerdasnya, “but Prambanan was” Saya kaget bukan kepalang, karena kebetulan tidak pernah terpikir selama ini. Mungkin bagi banyak orang, hal ini biasa dan tidak istimewa, bagi saya ini luar biasa. Lontaran spontan kawan ini mengajarkan saya sesuatu. Meski saya yakin kawan ini tidak terobsesi dengan kelakarnya tentang Prambanan dan tetap percaya juga bahwa Rome was not built in a day, ucapan ini memberi saya inspirasi yang hebat.

Bangsa ini disuguhi berbagai legenda yang mencengangkan seperti Loro Jongrang yang akhirnya melahirkan Candi Prambanan. Indah, walaupun tidak masuk akal, setidaknya jika dilihat dengan kacamata ilmiah modern yang diyakini sebagian besar umat manusia saat ini. Apa bisa candi semegah Prambanan dibangun dalam sehari? Apapun penjelasannya, cerita Loro Jongrang telah menjadi bagian hidup sebagian orang di negeri ini. Jika saja cerita ini adalah dongeng belaka yang didengarkan seksama dan kemudian berlalu, mungkin tidak menjadi persoalan. Yang berbahaya adalah jika cerita ini benar-bener menjadi inspirasi bahwa sesuatu yang megah dan hebat itu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat.

Lebih parah lagi jika legenda ini yang membuat banyak sekali orang mau menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu. Yang ingin cepat kaya memilih untuk menyimpan sebagian uang yang bukan haknya. Yang ingin pekerjaan dan kedudukan memilih untuk mengeluarkan sebagian uang yang seharusnya tidak dikeluarkannya. Yang ingin sekolah di tempat hebat memilih untuk membelikan kepala sekolahnya sebuah mobil baru. Semua itu sangat tepat menggambarkan persetujuannya bahwa “Prambanan was built in a day.” Apakah memang sedasyat itu?

Kawan saya dalam kelakarnya pastilah bukan salah satu dari orang-orang yang percaya pada sesuatu yang instan. Guyon cerdasnya baru saja menghadirkan satu mata rantai yang selama ini hilang dan kepada saya pribadi telah menjelaskan banyak sekali hal. Terima kasih Mas Dedi Atunggal di UTP, Malayasia.

Nyetrika

Minggu lalu, saya kebagian tugas nyetrika baju. Berbagai pertimbangan membuat keluarga tidak memiliki pembantu yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadilah tugas-tugas rumah tangga menjadi ‘milik bersama’ alias ‘keroyokan’.

Menyetrika pakaian bukan pekerjaan baru bagi saya. Ketika tugas di luar negeri, terutama saat ngantor di gedung PBB New York, nyuci dan nyetrika jadi pekerjaan tetap. Kalau dinikmati, nyuci dan nyetrika bisa jadi menyenangkan. Setelah seharian atau mungkin seminggu bekerja dengan kepala, rasanya refreshing juga ketika sekarang kerja dengan tangan saja. Kalau boleh, kepala bisa ditinggal di kamar, supaya tidur 🙂

Yang menarik tentu bukanlah nyetrikanya. Saya mengamati betapa banyaknya pakaian saya yang bahkan banyak darinya terlupakan. Bukan apa-apa, tidak semua dari mereka saya pakai bahkan berbulan-bulan. Kami sekeluarga sebenarnya tidak suka belanja pakaian. Selain karena alasan finansial [sebenarnya ini yang utama he he], juga karena bukan pengikut tren fesyen. Meski begitu, tetap saja jumlah pakaian terasa terlalu banyak.

Saya jadi ingat tulisan Dwi Lestari yang berjudul Harta Karun untuk Semua. Betul memang, betapa banyaknya hal yang kita miliki dan sesungguhnya tidak kita perlukan. Kita terbiasa membeli sesuatu yang sesungguhnya jauh lebih banyak dari yang kita butuhkan dalam hidup. Pakaian hanyalah salah satu saja dari banyak hal. Memang hal ini tidak selalu terjadi karena keingingan sendiri, biasanya justru karena desakan pihak luar. Ibu mertua saya, misalnya, cukup sering menasihati istri saya agar membelikan baju kemeja yang bagus dan banyak untuk saya. “Masak dosen bajunya mung itu-itu saja”, kata beliau berkelakar. “Klambi kuwi swiwi, rumah itu projo”, katanya selalu menasihati. Penampilan memang penting, tidak bisa dipungkiri. Tapi apakah itu harus membuat kita memiliki baju jauh melebihi yang kita butuhkan? Saya tidak tahu.

Yang jelas, saya masih tetap membeli baju walaupun saya mengusahakan untuk menjadikannya minimal. Itupun, ketika saya nyetrika sendiri, sudah membuat saya kelebihan pakaian. Mungkin ini saatnya untuk mendermakan sebagian pakaian bekas layak pakai. Kini saya baru mengerti istilah itu. Dulu jaman kuliah, saya bingung ketika diminta mengumpulkan pakaian bekas layak pakai. Yang saya punya kebanyakan adalah pakaian tidak layak pakai, tapi jelas-jelas tidak bekas karena masih saya pakai kuliah 🙂

Pakaian yang jumlahnya melebihi kebutuhan adalah hal yang sangat biasa, tidak saja bagi orang kaya, tapi juga bagi yang tidak kaya. Entah kekuatan apa penyebabnya, sangat mudah bagi orang untuk membeli pakaian baru ketika pakaian yang dimilikinya masih sangat layak dipakai. Seperti itulah kekuatan mode. Ketika faktor internal tidak begitu kuat, desakan eksternal biasanya melumpuhkan. Tuntutan profesi, gengsi keluarga, dan lain lain adalah sedikit saja dari setumpuk alasan. Saya pribadi ingin mengurangi membeli pakaian, semoga bisa. Yang jelas, saya ingin mengajak siapa saja untuk tidak menilai buku dari kulitnya. Ijinkan saya tetap tersenyum dan percaya diri, walaupun baju saya tidak baru.

Dua lelaki

Dua lelaki itu, dulu besar dan kecil, kini sama wibawanya. Dua lelaki itu, dulu satu menghukum dan satu menjadi pesakitan dalam pergulatan norma-norma berwajah desa, kini sama ketajaman pikirnya. Dua lelaki yang dulu adalah langit dan bumi, kini adalah dua gumpalan awan yang berarak beriringan. Seperti itulah waktu yang dengan mudah tanpa persetujuan mengubah dua lelaki menjadi sama tanpa beda.
Dua lelaki itu, yang ketika dulu bertutur dan dituturi, kini bersilat lidah dalam kesetaraan. Dua lelaki yang dulu beda usia kini waktu mengampuni perbedaannya. Hilang sudah jurang yang pernah menganga, dua lelaki itu berdekatan karena pijakannya kini sama tinggi. Begitulan alam yang membuat waktu melesat cepat, terbang dan tanpa permisi. Dua lelaki itu berjalan bersebelahan, sama tinggi dan sama perkasanya.

Jalan keluar

Apapun pekerjaan kita, kebuntuan pasti pernah terjadi. Sehebat-hebatnya kita dalam bidang yang kita tekuni, suatu saat pasti ada hal yang tidak bisa diselesaikan. Setidaknya kebuntuan itu membuat kita terdiam, walau sejenak.

Ada seorang kawan yang rajin mengumpulkan artikel ilmiah di websitenya. Pekerjaan ini sudah dilakukannnya bertahun-tahun dan websitenya dikunjungi banyak orang. Suatu saat sang kawan kesulitan mencari gambar atau foto untuk dijadikan ilustrasi. Mencari gambar Newton yang sedang mengalisis garis cahaya atau Aristoteles yang sedang bercakap-cakap dengan Alexander tentu bukan pekerjaan mudah.

Saya pernah dikirimi file berekstensi mdi, Microsoft Document Imaging, yang jelas-jelas proprietary alias hanya bisa dibuka dengan Microsoft yang dilengkapi mdi viewer. Kebetulan semua komputer yang saya pakai tidak dilengkapi perangkat lunak yang saya perlukan. Ini merupakan kebuntuan tersendiri. Ketika permintaan untuk mengirimkan ulang dokumen tersebut dalam format lain yang lebih universal seperti jpg tidak direspon dengan cepat, maka persoalan jadi lebih runyam. Pasalnya saya harus segera mengetahui isi file tersebut.

Untuk mengatasi dua persoalan di atas, saya hanya mengandalkan Google. Selama ini, Google bagi saya adalah “Dewa Penolong”. Menemukan gambar yang spesifik sesungguhnya bukanlah hal yang sulit bagi Google. Hal pertama yang harus diingat adalah Google bisa mencari gambar. Hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Google sesungguhnya tetap menggunakan kata kunci dalam melakukan pencarian. Artinya, Google tidak pernah mengenal tema suatu gambar. Yang ditemukannya adalah gambar dari website yang mengandung kata kunci yang diinput oleh pengguna Google. Misalnya kalau Anda mengetikkan “Newton” di Google dan memilih mencari Gambar (images) dalam pencarian, maka yang akan ditampilkan Google adalah semua gambar di website yang memuat kata Newton. Google tidak peduli dengan tema gambar yang muncul. Artinya, bisa dimengerti kalau Google akan menampilkan hal-hal yang tidak diinginkan oleh pencari, seperti anak anak sekolah yang sedang praktikum gravitasi, cewek cantik bernama Thandie Newton dan lain-lain. Pahamilah ini, dan ubahlah kata kunci dalam pencarian.

Untuk persoalan kedua, saya cukup mengetik how to open mdi file di Google dan Google akan muncul dengan berbagai solusi. Dengan mengetikkan bentuk pertanyaan seperti ini, umumnya Google akan menampilkan isi forum diskusi yang membahas persoalan yang Anda cari. Tentu saja ada banyak opsi solusi dan belum tentu semuanya sesuai. Ada yang menyarankan “beli dan installah program x”. Jawaban ini mungkin saja bukan yang Anda cari. Jawaban lain misalnya adalah “lakukan penambahan plug-in atau add-on pada Ms Office Anda dengan melakukan reparasi instalasi. Gunakan CD installer Ms Office.” Jawaban ini juga mungkin tidak sesuai karena Anda tidak memiliki CD installer Ms Office. Kalau cukup teliti dan sabar, Anda akan mendapatkan jawaban. Misalnya untuk kasus mdi ini saya mendapatkan informasi bahwa ada satu perangkat lunak yang bisa diperoleh gratis dan bisa digunakan untuk membuka file mdi dan mengkonversinya menjadi jpg. Saya tidak memerlukan yang lebih hebat dari ini. Program inilah yang saya cari dan dengan segera menyelesaikan kebuntuan saya selama dua hari ini.

Pelajaran moral yang saya petik dari kejadian ini: malu bertanya sesat di jalan.

Nyepi

Sepi pun bisa berbicara, seperti halnya diam adalah seribu bahasa. Saat sepi, saat tidak bicara dan saat hanya hati yang dibiarkan menyimak dan bersuara, saat itulah kejujuran berkuasa. Dedaunan yang jatuh, awan yang berarak, semut yang berbaris diam dan malam yang tanpa suara adalah sesungguhnya pesan. Pesan untuk mereka yang tidak banyak bicara tetapi mau mendengarkan.
Setahun sudah tangan, kaki dan mulut ini digunakan dan bahkan mungkin secara berlebihan. Entah berapa kesalahan yang sudah diperbuatnya dan menjadi beban karma hidup yang nanti dipertanggunjawabkan. Syukurlah ada satu hari untuk berhenti, sepi, tidak bicara, tidak bekerja, hanya untuk mendengarkan pesan-pesan dari semesta. Saatnya sepi yang kini berbicara. Kalau ada yang harus disuarakan, biarlah sepi yang menyampaikan kejujurannya.

Seperti dedaunan jatuh, air yang mengalir dan sinar matahari yang menyibakkan pagi, keheningan itu membawa pesan yang bahkan berlaksa-laksa jumlahnya. Kadang bertumpuk dan menghimpit karena setahun tidak didengarkan. Syukurlah hari ini masih tersisa satu kesempatan untuk berdiam diri. Selamat menjalankan brata penyepian. Selamat berkuasa diam dan hening yang berbicara tentang kejujuran.

Sempurna

Calon alumni muda ini kecewa. Dari sorot matanya saya bisa menduga. “Pak Andi juga mikir dulu to buat translate judul skripsi saya” katanya memecah perenungan saya yang agak dalam. Saya, seperti biasa, diminta membantu mahasiswa yang sudah menyelesaikan seminar skripsi untuk menerjemahkan judul skripsinya ke dalam Bahasa Inggris. Entah bagaimana ceritanya, saya seperti menjadi petugas penerjemah tanpa lisensi, plus tanpa SK, apalagi gaji 🙂 Tapi saya nikmati betul pekerjaan ini.

Kali ini judulnya cukup istimewa sehingga saya berpikir agak lama dan rupanya membuat calon alumni di depan saya meragukan saya, dan kecewa. Kalimat spontannya mengisyaratkan semuanya. Saya hanya tersenyum singkat dan kemudian menyelesaikan tugas saya. Percakapan berakhir dan semua menjadi sejarah yang entah akan diingat entah tidak.

Di kesempatan lain, salah seorang sahabat sejawat berkomentar “Masa sih Pak Andi perlu latihan dulu sebelum presentasi?” Tidak mudah meyakinkan teman kalau saya tidak pernah bisa dan tidak mau presentasi tanpa latihan. Saya berlatih materinya, berlatih susunan kalimat, berlatih intonasi, memilih dan memilah istilah yang tepat dan yang terpenting berlatih menggunakan waktu agar tidak melebihi yang disediakan. Sampai hari ini pun, saat saya sudah presentasi bahkah hingga markas besar PBB, dan menjadi presenter terbaik di sebuah forum internasional, saya tetap berlatih.

Komentar calon alumni dan kawan sejawat saya ini memiliki benang merah. Di satu sisi, bisa jadi ini terdengar seperti sanjungan tetapi yang saya tangkap justru sesuatu yang berbahaya. Bahaya karena saya dianggap bisa sesuatu karena memang sudah bisa, bahaya karena di situ tidak ada apresiasi terhadap proses berusaha dan belajar. Mengapa harus heran melihat saya berpikir dan mengapa harus terkejut melihat saya berlatih? Rupanya mereka salah menduga, saya hanyalah orang biasa yang bisa sesuatu bukan karena keturunan, tidak juga karena hasil meditasi, tetapi hasil berpikir dan berlatih. Kalau harus ada penghargaan, saya kira lebih baik diberikan kepada mereka yang bodoh tapi menjadi pintar karena berusaha dengan semangat, bukan kepada mereka yang ketika lahir sudah sempurna, dan bahkan tidak tahu jalan menuju sempurna.

Kesalahan kecil

Tulisan ini tidak untuk menghujat, tidak juga menyalahkan. Yang terpenting, tulisan ini dibuat dengan kesadaran bahwa kesalahan adalah pertanda kemanusiawian, dan manusia memang katanya adalah tempatnya salah dan dosa. Tulisan inipun, meski dibuat untuk membahas kesalahan, bisa jadi tidak lepas dari kesalahan.

Memperhatikan iklan, selebaran, pengumuman, spanduk, baliho dan banyak hal di negeri ini memberikan pengalaman yang sangat menarik untuk diceritakan. Dalam media semacam itu, kesalahan kecil mudah sekali ditemukan. Lihat saja beberapa gambar yang barangkali sudah sering Anda lihat di internet atau beredar lewat milis. Cukup menggelitik, betapa mudahnya kesalahan kecil itu muncul dalam media publik di Indonesia. Bolehkan saya dan Anda berkata, betapa teledornya mereka yang membuat tulisan dalam media tersebut?

Untuk kesalahan pemakaian tanda baca pada “No! Corruption for better living”, alasan apa yang dapat membenarkanya? Tanda baca adalah pergaulan sehari-hari orang yang bisa membaca dan menulis. Untuk kesalahan Bahasa Inggris, mungkin bisa ditoleransi karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dengan baik. Apakah ini alasan yang cukup untuk membuat kesalahan kecil yang fatal pada sebuah baliho? Saya tidak tahu persis tapi rasa-rasanya tidak. Ke mana budaya kekeluargaan kita yang terbiasa bertanya pada teman atau bahkan orang yang tidak kita kenal? Konon kita lebih suka bertanya pada orang ketika ingin mencari alamat dibandingkan membaca peta. Mengapa untuk kasus Bahasa Inggris ini, kebiasaan bertanya menjadi kehilangan jati dirinya?

Masalah yang ada di balik kesalahan kecil ini sesungguhnya besar. Amat besar. Artinya, saya dan mungkin juga Anda adalah orang yang tidak serius dalam menghadapi dan menunaikan tugas. Seorang kawan pernah menasihati saya. Jika kamu memperlihatkan terlalu banyak kesalahan kecil, akan timbul persepsi pada orang lain bahwa kamu adalah orang yang teledor. Saat ada persepsi seperti ini maka keseluruhan karyamu akan dinilai secara teledor pula. Hal baik yang telah kamu usahakan bisa jadi tidak bermakna karena orang lain cenderung menganggapmu tidak serius dalam menyelesaikan sesuatu. Kerja baikmu menjadi sia-sia.

Wajarkah seseorang meragukan keberhasilan Visit Indonesia Year 2008 karena ketika membuat logo dan slogan saja, bangsa ini membuat kesalahan grammar dalam Bahasa Inggrisnya? Bolehkah saya mencibir tentang hukuman bagi calo tiket ketika melihat kalimat peringatannya saja salah tulis? Saya adalah orang yang dipenuhi kesalahan dan kekeliruan tapi rasanya wajar kalau saya tersenyum geli ketika mendengar pengumuman otomatis di busway Jakarta yang mengatakan “cheks your belonging“. Dari mana datangnya huruf ‘s’ dalam kata checks, saya tidak mengerti.

Kalau untuk hal-hal kecil saja bangsa ini melakukan kesalahan dengan mudah, optimiskah bangsa ini akan terjadinya perbaikan yang lebih besar? Jika kesalahan dan keteledoran ini sudah menjadi milik semua orang di negeri ini, pastilah saya yang telah ikut berkontribusi bagi keterpurukannya yang tak kunjung sembuh. Salam Indonesia.

Rethinking our borders with Malaysia

An Opinion in by I Made Andi Arsana (20/02/08)

The border issue between Indonesia and Malaysia has been an interesting topic lately. This is what, at least, has indicated by news in Indonesia’s mass media. The issue of Askar Wataniah has been a topic almost all media have covered in the last two weeks.

Commission I of the Indonesian House of Representative revealed that Indonesian people are recruited as members of Malaysia’s Askar Wataniah in the border area of Kalimantan. This has sparked controversy and questions of nationality and economic development. While the issue is yet to be confirmed, this reminds us the Indonesian government should pay more attention to those people residing along border areas.

Standing on the side of Niagara River in the edge of New York and staring at Canada on the other side was an interesting experience. It shows how physical and economic development in a border area does really matter. People living in New York can easily see the face of Canada and observe how well-developed Canada is.