Ibu Tugas di Mana?

Ibu saya, karena pendidikan formalnya, seringkali malu dan minder kalau bertemu teman-teman saya. Beliau selalu merasa rendah diri karena tidak sekolah. Menyandang predikat lulus SD saja, itupun dengan ijazah yang tidak jelas di mana, membuat beliau seringkali merasa tidak pantas berada di antara teman-teman saya yang kebanyakan bersekolah tinggi. Itu pula sebabnya, ibu saya merasa cukup hanya dengan mendengar cerita saya ketika saya sekali waktu mengisi seminar, ikut konferensi atau mengisi workshop. Matanya akan berbinar-binar bahagia mendengar cerita saya soal peserta, soal diskusi di kelas dan soal apa saja yang terjadi. Ada kebahagiaan hanya dengan mendengar dan membayangkan.

Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi acara di Politeknik Negeri Bali (PNB) terkait batas maritim dan perdagangan internasional. Materinya cukup baru sehingga saya harus menyiapkan dengan usaha ekstra. Meski begitu, saya tentu tidak akan pura-pura menjadi ahli perdagangan internasional. Saya siapkan materi batas maritim dan mengajak peserta untuk melihat implikasinya terhadap perdagangan internasional.

Yang menarik bukan materinya tetapi rencana saya mengajak ibu saya untuk mengikuti seminar itu. Saya tiba di Bandara Bali sekitar jam 12 malam karena pesawat mengalami keterlambatan. Dijemput Komang, adik saya, kami langsung menuju rumah di Tegaljadi, Tabanan. Sebelum itu, saya sudah berusaha meyakinkan ibu saya agar esok harinya beliau mau ikut mendampingi saya mengisi seminar. Tentu saja tidak mudah meyakinkan beliau untuk berada di lingkungan teman-teman saya yang menurut beliau orang-orang hebat dan bersekolah tinggi.

Dengan berbagai cara saya meyakinkan. Saya menangkap ada kesan bahwa ibu saya ragu kalau saya akan risih atau malu jika didampingi beliau. Saya kira ini perasaan yang wajar. Melihat itu, tugas saya berarti hanya satu: meyakinkan beliau bahwa saya akan senang dan bangga jika ditemani. Selanjutnya, selesai perkara dan ibu saya pun mengiyakan meskipun dengan keraguan. Saya juga berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi esok hari dan bertanya-tanya apakah ibu saya akan berubah pikiran atau tidak.

Hampir jam dua subuh saya tiba di rumah di Tabanan dan ibu saya sudah menunggu. Masakan sambal bongkot dan sereh sudah menunggu. Meskipun sangat terlambat untuk makan malam yang normal, saya nikmati hidangan itu dengan lahapnya. Cinta ibu kepada anaknya tidak mengenal aturan makan malam, apalagi aturan diet. Tidak sama sekali.

Pagi jam enam saya dibangunkan ibu saya untuk segera berkemas. Dan dalam waktu singkat saya sudah siap. Adik saya yang akan bertugas sebagai sopir mengantar saya ke PNB. Ibu saya memantapkan hati untuk ikut meskipun saya tahu ada keraguan dan kegelisahan. Di sepanjang jalan kami berkelakar satu sama lain mengusir kekhawatiran. Perjalanan sangat menyenangkan meskipun lebih lama dari yang saya duga.
Hampir jam sembilan pagi, kami tiba di PNB dan segera di sambut panitia. Iwan, sahabat lama sejak SMA, adalah tokoh di balik kedatangan saya. Dialah yang mengundang saya hingga tiba di PNB pagi itu. Dunia memang kecil, dia sering kali dikendalikan oleh persahabatan. Selain itu ada juga Cahya, panitia lain yang selama ini saya kenal lewat email dan media sosial lainnya. Mereka dengan sigap mengarahkan kami ke ruang transit sebelum nanti pentas di acara utama. Saya lihat ibu saya canggung tetapi berusaha mematut-matutkan diri, berjalan dengan gelisah di samping saya. Saya sengaja membiarkan beliau menikmati kegelisahan dan kekhawatiran itu. Untunglah Iwan, kawan saya, melakukan langkah yang tepat. Dia paham posisi ibu saya karena tadinya saya kasih bocoran lewat WA tentang situasi ‘pengawal’ saya. Iwan berkomunikasi dengan baik sehingga membuat ibu saya jauh lebih tenang.

Semua berjalan baik hingga kami memasuki ruangan transit. Di situ telah duduk orang-orang hebat –setidaknya begitu menurut ibu saya- yang merupakan petinggi-petinggi PNB. Mereka duduk di meja melingkar dan mulai menyilakan saya duduk. Dari sekian itu ada ketua jurusan, ada kaprodi, ada moderator, ada dosen senior dan banyak lagi. Tentu saja ada juga pembicara lainnya yang sudah tiba duluan. Saya dipersilakan duduk di satu kursi kosong di dekat beberapa kursi kosong lainnya. Panitia mengarahkan agar ibu dan adik saya duduk di meja bundar itu juga tetapi saya segera mengambil langkah penyelamatan. Saya minta agar ibu saya diarahkan duduk di deretan kursi lain dekat tembok ditemani adik saya. Saya tahu persis, jika beliau harus duduk di meja bundar itu bersama ‘orang-orang hebat’ itu, tidak perlu menunggu lama untuk menyaksikan beliau berkeringat dan akhirnya pingsan. Saya tidak boleh kejam pada ibu sendiri.

Saya berbasa-basi dengan semua orang di meja itu, saling tukar kartu dan bercerita ringan tentang latar belakang pendidikan serta asal-usul. Sementara itu saya curi-curi pandang melihat ibu saya yang mulai menata diri meskipun dengan wajah yang masih tegang. Di sampingnya, adik saya nampak senyum-senyum karena merasakan kegundahan hati ibu saya berada di lingkungan yang asing dan tidak biasa bagi beliau. Ketegangan itu terasa sampai ke saya meskipun tidak saya tunjukkan.

Sejurus kemudian, acara dimulai dan pembukaan segera dilaksanakan. Saya duduk di deretan bangku depan bersama pejabat dan pembicara lain, sementara ibu saya memilih duduk di kursi agak belakang. Beliau sendirian karena adik saya harus melakukan satu hal di tempat lain. Inilah ujian sesungguhnya ketika ibu saya mungkin akan bertemu orang-orang dan harus bercakap-cakap. Pertanyaan yang paling ditakutkan adalah “Ibu tugas di mana?” karena pertanyaan itu tentu saja sulit sekali dijawab oleh seorang perempuan yang tidak tugas di mana-mana tetapi sibuk 24 jam sehari. Kekhawatiran ini sudah kami kelakarkan sejak di mobil tadi.

Waktu berjalan cepat, giliran saya presentasi pertama. Sejujurnya, ada ketegangan yang lebih besar ketika seorang anak presentasi ilmunya di depan ibunya sendiri, apapun situasnya. Si situlah saya merasa sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata. Seakan-akan presentasi saya ini khusus untuk ibu saya yang hanya lulus SD, tidak membaca Koran dan tidak melihat TV untuk berita-berita mancanegara. Sementara itu saya bicara soal batas maritim, pedadangan internasional dan konflik Laut Tiongkot Selatan. Adakah tantangan yang lebih hebat dari itu? Saya memastikan kosa kata asing seminimal mungkin. Jika pun ada, saya buru-buru menyertainya dengan istilah Bahasa Indonesia agar ibu saya mengerti. Hal ini menjadi lebih menegangkan karena ibu saya memasang wajah serius dengan perhatian seratus persen dan mimik yang berubah sesuai intensitas pembicaraan saya. Sekali waktu saya lihat ada senyum di bibirnya, kernyit dahi tanda gundah, atau anggukan tanda mengerti. Adakah yang lebih dasyat dari itu?

Singkat cerita, saya mengakhiri presentasi dengan normal dan dilanjutkan oleh dua pembiara lainnya. Sejurus kemudian ada sesi tanya jawab dan saya mendapat giliran menjawab pertama kali karena mendapat porsi pertanyaan paling banyak. Ada keseriusan, ada kelakar, ada juga emosi dalam jawaban saya. Peserta, terutama ibu saya, menyimak dengan seksama. Ruangan terasa hening dan penuh ketekunan. Saya menikmatinya.

“Pak Moderator, saya mohon izin satu menit untuk menambahkan sesuatu” kata saya setelah menjawab tiga pertanyaan. “Semalam saya pulang ke Tabanan karena kangen dengan keluarga saya dan kini saya ditemani Ibu saya di sini. Beliau baru pertama kali mengikuti seminar saya.” Ruangan jadi agak hening dan peserta mencari-cari perempuan yang saya ceritakan itu. “Saya beterima kasih pada ibu saya atas apa yang beliau lakukan dan terutama kesediaannya mendampingi saya hari ini. Ini tidak mudah bagi beliau dan juga bagi saya karena sehebat-hebatnya seorang anak, tetapi saja akan grogi berbicara di depan ibunya.” Peserta terdengar tertawa dengan lelucon itu. “Saya mohon ibu berdiri” kata saya setengah berkelakar dan diikuti gerakan ragu ibu saya, berdiri dari duduknya. Tiba-tiba terdengar gemuruh tepuk tangan hadirin menyambut momen itu. Saya bahagia tak terkatakan.

Di dalam mobil menuju banara kami berkelakar menceritakan ketegangan dan kekonyolan yang baru saya berlalu. Benar seperti apa yang ibu saya khawatirkan, ada beberapa orang yang bertanya “Ibu tugas di mana?” Konon dengan keterbataan yang diyakin-yakinkan, ibu saya bilang “saya tidak tugas di mana-mana, saya mengantar anak saya yang sedang bicara di depan itu.”

Orang Baik di Kota yang Baik

bussydney-1Pagi masih belia ketika aku tiba di Sydney. Cerah musim semi masih bersahabat erat dengan sisa musim dingin yang sepertinya belum tuntas berlalu. Bus biru nomor 400 segera membawaku dari Bandara Kingsford Smith menuju Kingsford, sebuah kawasan yang tidak jauh dari Univesity of New South Wales, amamaterku saat menempuh pendidikan S2. Kembali ke Sydney seperti melambungkan ingatan duabelas tahun silam. Semua masih terasa seperti dulu.

Continue reading “Orang Baik di Kota yang Baik”

Kembali ke Sydney

soh

Di tangga-tangga Sydney Opera House, aku duduk termenung. Sendiri dan merasa sepi di tengah keramaian. Jauh di sisi selatan, nampak gedung-gedung tinggi menjulang, angkuh berebut ruang yang dilatari langit biru, bersih tanpa noda. Sydney Tower nampak khas, mengingatkan orang-orang yang pernah gandrung dengan film animasi “Finding Nemo”. Di pelataran Sydney Opera House, orang berlalu lalang menikmati hari yang cerah dan sejuk. Meskipun matahari menikam bumi, nuansa musim dingin belum sempurna diambil alih musim semi. Bagi penduduk katulistiwa sepertiku, Musim semi masih menyisakan dingin yang menyengat. Matahari yang menikam dan hembusan angin dingin yang bersemangat adalah paduan yang menghadirkan kesejukan. Di sini, di tangga-tangga ini, aku terduduk menikmati. Memandang dan menjadi pengamat, berusaha tidak terlibat.

Continue reading “Kembali ke Sydney”

Menyingkap Misteri IP

  1. Soal IP ini sensitif, saya paham 🙂 Pesan ini bagi mereka yg blm lulus saja. Someone has to tell the truth bahwa IP penting.
  2. Pesan saya soal IP untuk mahasiswa baru agar sadar dari awal. Yg terlanjur IPnya gak sempurna, ayo berjuang dgn ‘kreatif’ untuk menutupi kekurangan.
  3. IP tinggi memang tidak menjamin kesuksesan tapi IP tinggi akan memberikan kita kesempatan yang lebih banyak. Artinya peluang suksesnya juga lebih besar 🙂
  4. IP rendah itu memang tidak hina kok cuma agak repot aja kalau 4 thn lagi mau cari kerja. Itu saja 🙂 Jadi kalau masih punya waktu untuk meningkatkan IP, kenapa tidak?!
  5. IP yg tdk sempurna bukan akhir segalanya. Jangan putus asa. Masalahnya, kita harus berjuang lewat cara yg tidak ‘umum’. Itu saja. So, be ready!
  6. Menurut saya, mending kuliah lebih lama (jika harus) untuk memperbaiki IPK daripada kehilangan banyak kesempatan gara-gara IP ga’ cukup.
  7. IP bagus tdk harus cumlaude. Tapi Ada batasan angka yg membuat kesempatan terbuka lebih lebar 🙂 Tergantung mau jadi/kerja apa.
  8. Kita ga selalu berprestasi di kampus. Kadang merasa down ga apa2. Yg penting jgn lupa bangkit.
  9. Transkrip saya ada D nya. Tentu sy tdk bangga tapi bersyukur. Jadi sy punya ‘otoritas’ kalau ngomong soal IP :))
  10. Yg paling top: lulus cepet IP tinggi tp jika ga bisa, harus kompromi. Berdamai dg diri sendiri demi kepentingan lbh besar
  11. Banyak yg pengaruhi keberhasilan. Ada yg di luar kuasa kita. Tugas kita menghindarkan kegagalan krn hal yg bs kita kendalikan. IP salah satunya.
  12. IP bukan segalanya krn yg penting adalah karakter. Tapi seringkali kita ditanya IP dulu sblm diuji karakternya 🙂
  13. IP bagus (cukup) itu perlu kalau nanti mau sekolah ke LN selain indikator lain seperti kemampuan bahasa internasional. Harus diingat oleh mahasiswa baru nih.
  14. IP tinggi tidak lebih penting dari iman yg baik. Tapi iman baik + IP bagus bukan dosa juga. Think about it 🙂
  15. Banyak yg IPnya tidak bagus jadi orang sukses tapi bukan berarti untuk sukses IP harus jelek 🙂 Lagipula jadi pengusaha sukses dg IP tinggi juga keren.
  16. Saya sering ditanya “IP saya jelek, masih bisa daftar beasiswa nggak?” Selagi blm lulus, usahakanlah skrg! Kalau terlanjur jelek, cari beasiswa yang tidak mengutamakan IP.
  17. IP jelek? Kalau memang masih ada waktu, coba perbaiki. Saya pernah kok IP 1,2 🙂 Tidak bangga, tapi tdk malu juga. Bukan soal seberapa sering jatuh, tetapi seberapa mau untuk bangkit lagi 🙂
  18. Ukuran IP bagus itu tergantung tujuannya. 3.0 blm tentu cukup untuk perusahaan/beasiswa tertentu. Check ya 🙂
  19. Ada perusahaan/beasiswa yg mensyaratkan IP min 3 ada jg 3.25 atu di atas itu. PNS ada jg yg bisa 2.75. Check ya 🙂
  20. IP tinggi tidak bikin kamu mulia tapi bikin lamaran kerja kamu 4 thn lagi kelihatan lebih menarik. Itu saja 🙂
  21. Harus IP tinggi ya? Tidak. Bill Gates aja kaya meski gak lulus. Tp bisa kaya dan lulus dg IP bagus juga keren kok 🙂
  22. IP tinggi tidak menjamin keberhasilan di masa depan. Sayangnya, IP rendah juga tidak 😉 Jadi?

Mandi Pertama

Royal Hospital for Women, Sydney, 14 September 2005

mandi1Pelan-pelan kudorong kereta bayi itu dari bangsal bayi menuju sebuah ruang besar. Di sepanjang koridor rumah sakit, kulihat tubuh mungil tergolek tenang. Matanya tertutup rapat namun sepertinya tidak tidur. Tubuhnya terbungkus rapi oleh selimut putih bergaris-garis biru dan merah vertikal. Kelopak matanya bergerak-gerak, tanda dia tak tidur. Lita, anakku, baru berumur dua hari sejak kelahirannya dengan operasi sesar Senin lalu. Sementara itu, Asti, ibunya, masih tergeletak di bangsal, menjalani masa pemulihan.

Di luar ruangan, September baru setengah umur dan musim semi mulai menampakkan diri. Bunga-bunga di sepanjang jalan High Street bermekaran, meskipun tidak banyak ragamnya. Burung-burung yang bersembunyi di sepanjang musim dingin kini bermunculan dan bermain berkelebat di sela-sela batang pepohonan. Rombongan burung penghisap sari bunga bercengkrama menikmati manisnya cairan madu yang mereka curi dari bunga-bunga yang bermekaran. Meski cerita, musim semi juga membawa serta wabah demam yang mengintip siapa saja. Spring fever, kata para perawat di rumah sakit, maka kami harus berhati-hati menjaga bayi.

Continue reading “Mandi Pertama”

Dipeluk UGM

Wajahnya lesu. Matanya berkaca-kaca dan berusaha keras menahan tangis. Dari wajahnya nampak jelas dia sedih, bingung dan kecewa. Ada ketidakpastian yang menyembul dari pandangan matanya yang gamang. Anak itu adalah bimbingan akademik saya, dia datang mengadukan apa yang terjadi padanya.

Saya memanggilnya khusus karena beberapa waktu sebelumnya saya membaca status di Facebook-nya yang mengharu biru. Anak ini merasa nasib sedang tidak berpihak padanya karena urusan beasiswa dari pemerintah daerah yang tak jelas juntrungannya. Konon dia dinyatakan menerima beasiswa dari pemerintah daerah yang sampai kini belum diterimanya. Urusannya tidak saja dengannya secara pribadi tetapi juga dengan UGM sebagai tempat kuliahnya. Kesepakatannya adalah bahwa pemerintah daerah akan membayar uang kuliah anak ini langsung kepada UGM tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Statusnya, anak ini nunggak uang kuliah kepada UGM karena pemerintah daerah yang tak menunaikan kewajiban.

Continue reading “Dipeluk UGM”