Perasaanku lega menyaksikan ada ban tergantung di batang kayu di depanku bertuliskan “tambal ban.” Syukurlah ada yang masih bersedia memberi pelayanan tambal ban di waktu yang sudah larut seperti ini. Setelah menuntun motor dengan ban bocor selama beberapa saat, kini perasaanku lebih tenang.“Nyuwun sewu Pak“, seorang lelaki menuntun sepeda yang dilengkapi kotak dagangan tahu goreng mendekat dan bertanya. “Gadah pompa dingge sepeda mboten nggih?” Lelaki setengah baya ini menanyakan pompa. Rupanya ban sepeda tuanya yang menjadi tumpuan bisnisnya juga bocor/kempes dan perlu dipompa. Sayang sekali bengkel tua ini tidak punya pompa sepeda sehingga lelaki penjual tahu goreng ini harus melangkah gontai tanpa harapan. Tubuhnya yang kurus kumal menghilang di kegelapan malam menuju tempat yang dia pun pasti tak yakin akan bisa menolongnya.
Lelaki kurus itu berwajah putus asa karena sepeda tua yang menjadi harapannya tidak bisa beroperasi. Di malam yang larut seperti ini, aku membayangkan dagangannya masih banyak dan dia pun pasti masih jauh dari rumah. Entah berapa nyawa yang setia menunggu di rumah dengan harap-harap cemas. Lelaki pahlawan keluarga ini pasti akan meresahkan keluarganya karena tidak pulang tepat waktu. Selain itu, pendapatannya pun tentu tidak sebagus biasanya. Ini akan membawa konsekuensi tersendiri pada keluarga dan orang-orang yang dicintainya.
Aku pernah becita-cita jadi presiden. Malam ini aku pikirkan lagi. Menjadi presiden rupanya terlalu sulit karena untuk menolong kedua lelaki malang di depan mataku saat ini pun aku tak kuasa. Aku pandangi punggung lelaki kurus yang menghilang di depanku tanpa bisa berkata sepatah katapun. Aku spontan merogoh kantong celana, hatiku teriris bukan kepalang, di kantongku tak ada sepeserpun untuk melegakannya. Sementara itu lelaki yang menyelamatkanku malam ini dengan ban dalam barunya, mungkin masih tidur di bawah gubuk reot beratap seng yang berisik hingga waktu yang akupun tidak tahu. Aku harus memikirkan ulang cita-citaku…



