Dewata

Asap dupa itu, seperti yang pernah aku kenal, sore tadi mengantarkan puja dan puji kepada Dia yang hanya untuk dipuja. Aroma cempaka yang pernah akrab kini tercium lagi, memberi warna tegas akan sakralnya hari ini. Aku mendatangi Dewata berbekal lilin yang sinarnya malu-malu menerangi. Ingin kupamerkan kepadamu, aku kembali ke pangkuan ibuku.

Gema genta bertalu menyambutku, aku labuhkan rindu yang lama tak tersirami. Seperti itulah aku yang kembali pulang, air sucimu menjadi pelipur lara yang lama dan perih. Kidung suci yang terdengar sayup membangkitkan kisah masa kecil saat pemujaan menjadi kenikmatan yang ditunggu 210 hari lamanya. Aku yang memuja di waktu kecil dengan gairah, kini pulang mencoba membangun hasrat dari puing-puing kegelisahan di masa lalu.

Para leluhurku, saksikanlah kepulanganku yang berbuah tangan penuh seperti doa ibu dalam setiap otonanku. Aku yang pergi dengan tangan hampa kini pulang menyangkil menyuwun, persis seperti harapan para tetua yang ketika itu menyentuhkan sampian di pundak dan kepalaku. Doa mereka nampaknya mendekati keterkabulannya, aku pulang berbuah tangan penuh seluruh. Kubawakan untukmu ilmu, harta, tahta, dan yang terutama harapan untukmu bangun di pagi hari yang tersenyum.

Sayup kudengar mantra Gayatri, persis seperti yang pernah kupelajari sambil bermain di masa silam. Kini mantra itu terdengar lagi, tetap menggugah dan masih berbisa seperti sedia kala. Gemanya menyambutku untuk memetik bunga kenanga dan menyelipkannya di rambut kekasihku yang sabar menunggu sembilan purnama.

Selamat Tahun Baru

Tahun baru menjadi hal yang menarik untuk dikisahkan. Meskipun berulang setiap tahun dan cenderung menjadi rutinitas, tahun baru selalu istimewa. Seperti itulah saya yang selalu bertekad menuliskan sesuatu di tahun baru. Sesuatu yang istimewa. Ucapan selamat tahun baru yang istimewa, kartu ucapan yang khusus, tulisan yang menyentuh dan menggugah, semua itu senantiasa menjadi cita-cita.

Tidak pernah berhenti bercita-cita, sekaligus tidak pernah berhenti saya merasa gagal. Membuat sesuatu yang istimewa di akhir tahun selalu menemui kegagalannya, menurut saya. Ketika terompet telah bergema, kembang api berhamburan menghiasi langit dan disiarkan ke seluruh penjuru negeri, saya masih termenung dan tidak berbuat apa-apa. Kartu, seperti halnya tahun lalu, belum terbeli dan bahkan kini emailpun tidak sempat ditulis. Kebiasaan saya membuat kartu ucapan sendiri dengan foto seadanya, kini bahkan tidak kesampaian. Apakah hidup sudah benar-benar berubah? Barangkali harus disadari dan diakui begitu.

Dengan persiapan yang mengenaskan, ucapan ini tetap harus saya utarakan. Seperti seorang murid di padepokan silat yang tidak bisa menghindarkan kesehariannya dari latihan, betapapun dibencinya, seperti itulah seorang blogger seperti saya selalu terpanggil menuliskan sesuatu.

Selamat tahun baru 2008.
Ucapan ini pastilah tidak terdengar istimewa sama sekali. Apa yang ada di dalamnya juga pastilah tidak istimewa karena diucapkan dengan persiapan seadanya. Namun begitu, ucapan ini adalah yang terbaik yang masih tersisa di tengah ketidakmungkinan yang saya alami saat ini. Semoga sesuatu yang sederhana namun tulus ini menghadirkan yang istimewa bagi pembaca sekalian. Tahun mendatang, seperti juga pagi yang pasti terjadi, adalah saat yang segera akan menjadi masa lalu ketika kita lewati dan waktu melesat seperti angin. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita akan menjadikannya bermakna?