Sydney: Sebuah Laporan Pandangan Mata


[bagian 1 dari banyak tulisan]

Pengantar

Sydney merupakan salah satu capital city di Australia, ibukota dari New South Wales. Sydney adalah kota terbesar di Australia, berada di belahan tenggara Benua Australia. Sebagai kota besar, Sydney menjadi tujuan banyak orang untuk berbagai kepentingan; bisnis, wisata dan pendidikan. Tidak mengherankan jika Sydney kemudian menjadi sebuah kota dengan budaya yang sangat beragam. Hampir semua orang dari lima benua ada di Sydney. Yang menarik adalah, Sydney menjadi tempat yang diminati orang Asia. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan pekerja sektor riil.

Tulisan singkat ini mencoba menggambarkan suasana kota Sydney secara umum dengan kehidupan orang-orang Asia yang akan menjadi titik berat diskusi. Tulisan ini murni mengambarkan pengalaman pribadi dengan analisa dan sudut pandang pribadi pula tentu saja dengan dasar pemahaman penulis sebagai orang Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat memberi sedikit informasi dan akhirnya inspirasi bagi siapa saja yang berminat mengetahui Sydney lebih jauh.

Kota dengan Pelayanan

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sydney Airport, kesan pelayanan yang serius dan total mulai terasa. Sebagai orang Indonesia, pegalaman saya meunjukkan bahwa pelayanan yang baik adalah sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh. Para petugas bandara nampak serius dengan tugasnya tanpa menjadi sok penting. Nampak jelas dari wajah mereka, ini adalah pekerjaan mereka dan berarti ini adalah hidupnya. Mungkin karena dengan bekerja seperti ini mereka memang bisa hidup :). Sangat berbeda dengan suasana pelayaan public di Indonesia secara umum. Seorang Ketua RT atau pegawa tata usaha di kampus seringkali mudah menjadi sok penting dan berlagak seakan-akan dunia akan berhenti berputar tanpa peran mereka. Setidaknya inilah yang sering saya rasakan ketika berhadapan dengan pelayanan publik di negeri kita. Kalau bisa dipersulit mengapa harus dimudakan? Seakan itulah yang masih menjadi prinsip sebagian besar orang yang terlibat dalam pelayanan di Indonesia. Hal inilah yang kemudian memancing timbulkan kolusi dan pungutan liar.

Tulisan ini bukan sama sekali tulisan politis yang sarat dengan protes, tapi demikianlah adanya. Barangkali terlalu banyak orang yang tidak bisa hidup layak dengan ‘hanya’ memeri pelayanan prima penuh senyum. Mungkin masih perlu tampang sok penting setidaknya untuk mendapatkan bayaran lebih berupa penghormatan. But anway, kembali ke Sydney, inilah yang barangkali membedakan pekerja di Sydney dengan di Indonesia secara umum.

Surga Bagi Pencinta Makanan Asia

Mendapatkan berbagai makanan Indonesia dan makanan Asia lainnya adalah hal yang sangat mudah di Sydney. Di sepanjang jalan Anzac Parade (jalan di mana UNSW berada), misalnya, sangat mudah menemukan resoran dengan plang ‘nasi goreng’, ‘empek-empek pelembang’, ‘ayam goreng’, ‘indonesian food’ dan sejenisnya (saya belum menemukan ‘gudeg jogja’ sampai hari ini). Tidak hanya itu, banyak toko juga menyediakan bahan makanan khas Asia, mulai dari sambal Thailand hingga terasi :). Menemukan bahan makanan bahkan dengan merek Indonesia adalah hal yang sangat mudah karena bahan tersebut memang didatangkan langsung dari Indonesia atau Negara Asia lain yang memproduksinya.

Ketika suatu saat Anda berkunjung ke mini market IGA atau White Lotus di Kingsford, Anda mungkin terkejut karena pertanyaan bahasa Inggris Anda akan dijawab dengan Bahasa Indonesia yang fasih. Bukan, mereka bukan bule yang belajar Bahasa Indonesia tapi memang orang Indonesia (Chinese Indonesia, tepatnya) yang telah menjadi penduduk tetap (permanent resident) bahkan warga negara Australia. Singkat kata, semuanya terasa di rumah. Tapi hati-hati, ‘kenyamanan’ semacam ini akan membuat Anda terperangkap pada lingkungan ‘Berbahasa Indonesia’ yang tentunya tidak baik terutama bagi yang memang mau serius memperdalam Bahasa Inggris.

Bus Kota Yang Nyaman dengan Travel Ten

Jika Anda ingin bepergian, naik bus adalah pilihan paling baik. Bukan hanya karena lancar dan anti macet tapi juga karena relatively tepat waktu. Di setiap halte terdapat jadual kedatangan bus yang cukup akurat dengan ketelitian 10 menit. Misalnya dalam jadual (terdapat di setiap halte), bus akan tiba pukul 4:27 pm, Anda harus siap untuk naik bus pukul 10:37 atau kadang-kadang 3:17, tergantung keadaan lalu lintas pada hari tersebut. Selain itu, menemukan parkir yang sesuai keinginan Anda di Sydney sangatlah sulit sehingga tidak nyaman untuk mengendarai mobil sendiri. Denda untuk salah parkir atau melebihi waktu parkir sangat besar, bisa mencapai di atas AUD 100 (jangan mencoba mengkoversi ke rupiah karena akan ‘terasa’ lebih mahal lagi).

Untuk sewa bus, kebanyakan orang menggunakan travel ten yaitu kartu magnetic (seperti kartu telepon magnetic di Indoesia) yang berkapasitas 10 kali perjalanan dengan harga kira-kira sama dengan 7 kali perjalanan. Harga untuk kartu travel ten ini berbeda-beda tergantung zone perjalanan yang bisa dilintasi dan jenis penggunanya. Seorang pekerja professional dewasa akan membeli kartu travel ten coklat (untuk perjalanan hingga 5 section -kira-kira sama dengan 5 kali bus stop-) dengan harga hampir AUD 20, sementara seorang mahasiswa hanya membayar AUD 9,8. Sangat nyaman menjadi mahasiswa di Australia :). Harga yang juga murah berlaku untuk pensiunan. Travel ten ini digunakan setiap kali naik bus, seperti kartu absent yang ‘digesek’ di mesin perekam di dalam bus. Berbeda dengan di Indonesia, tidak ada kondektur di setiap bus. Sopir melakukan semuanya mulai dari menerima pembayaran hingga membantu seorang penumpang cacat untuk naik dan turun dari bus.

Kota dengan Aksesibilitas yang Mengagumkan

Nampaknya pemerintah Australia memberi perhatian yang sangat baik bagi masyarakat penyandang cacat. Hal ini nampak dari rancangan semua fasilitas umum yang dilengkapi dengan aksesibilitas yang sangat baik. Kampus UNSW, misalnya, menyediakan fasilitas untuk pemakai kursi roda untuk bisa mengakses hampir semua sudut kampus dan memanfaatkan semua fasilitas yang memang seharusya mereka dapatkan sebagai mahasiswa.

Di setiap bus atau kereta, beberapa tempat duduk telah dirancang untuk pemakai kursi roda dan selalu ada pengumunan menyatakan prioritas untuk pelayanan mereka. Di kereta atau bus misalnya, sopir akan dengan senang hati (setidaknya kelihatan begitu dari senyumnya) membantu para penderita cacat (biasanya pemakai kursi roda) naik dan turun dari bus.

Telepon Lokal Sepuasnya, 20 Cent

Setiap rumah/flat dilengkapi dengan port koneksi telepon. Ketika Anda menyewa seuah flat unit atau rumah, cukup menelpon provider telepon yang Anda sukai (di Australia ada beberapa provider dengan kelebihan masing-masing) dan keesokan harinya telepon Anda suda berdering. Begitu mudah. Untuk koneksi semacam ini Anda membayar AUD 59 dan mendapat handset untuk disewa seharga AUD 3 per bulan. Sewa handset akan dimasukkan dalam tagihan bulanan Anda.

Biaya telepon lokal di Sydney, untuk provider Telestra, adalah 20 cent sepuasnya. Tidak ada bedanya Anda menelpon setengah menit dengan setengah bulan non stop :). Bisa dibayangkan, untuk koneksi internet Anda nyaris tidak perlu berpikir tentang pulsa telepon.

Telepon Ke Indonesia Rp 550 Per Menit

Menelpon ke tanah air bukan sesuatu yang luar biasa dari Sydney. Anda bisa mendapatkan kartu telepon untuk international call seperti voucher yang dilengkapi dengan sandi tertentu. Jika Anda membeli kartu telepon ini, Anda perlu mengosok bagian belekangnya untuk mendapatkan kode/sandinya. Selanjutnya Anda harus menelpon operator lokal dari teleopon rumah (20 cent) ataupun telepon umum (40 cent) dan memasukkan kode yang terdapat di kartu dan kemudian mendial nomer Indonesia yang ingin dihubungi. Kartu merek “sunshine” dengan harga AUD 10, misalnya, bisa Anda gunakan untuk menelpon Jakarta selama dua jam. Jika kurs AUD 1 adalah Rp 6500, berarti Anda mengabiskan hanya Rp 550 per menit untuk menelpon orang-orang yang Anda cintai di Jakarta. Ini bahkan mungkin lebih murah dari menelpon lokal di Jakarta dari wartel :).

Kalau Bisa Mulung, Kenapa Harus Beli?

Sangat umum bagi masyarakat Sydney membuang barang rumah tangga yang masih sangat layak pakai, jika mereka sudah tidak menyukainya. Alasan membuang barang ini bisa jadi karena mereka sudah tidak menyukai modelnya, akan pindah rumah dan dirasa lebih mahal memindakan dibandingkan membeli baru atau space rumah yang sudah tidak nyaman untuk jumlah barang mereka. Jika mereka membuang sebuah barang (kulkas, radio, sofa, microwave, dll), mereka cukup meletakkan di pinnggir jalan di depan rumah. Jika tiba jadualnya, petugas kebersian akan mengangkut dan membawanya ke tempat pembuangan. Sebelum petugas kebersian tiba, inilah saat yang tepat bagi pemulung intelek terutama mahasiswa untuk melakukan aksinya. Barang-barang tersebut bisa diambil kapan saja dan ini legal. (hanya kadang sedikit malu, mendorong troli berisi sofa atau bahkan kasur dan kursi yang jelas-jelas hasil pulungan). Tentang kualitas dan kondisi barang, sering kali kita tidak perlu khawatir karena si pembuang sudah baik hati menempeli label ‘This fridge is still working properly’ atau ‘Don’t take! It’s out of order’. Betapa baik hati mereka. Jadi, kalau bisa mulung, kenapa harus beli?

[bersambung]

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Sydney: Sebuah Laporan Pandangan Mata”

  1. kebanyakan orang2 australia keseharianya spt apa sih,apa masih menjinjung tinggi adat kesopanan?trus biasanya orang2 indo bekerja di sana sbg apa?

  2. Australia mana ya? Kalau Sydney mungkin tidak jauh beda dengan jakarta, cuma tidak terlalu macet :). Kalau adat kesopanan, ini yang agak sulit dinilai. Tergantung kacamata yang melihat. Kalau misalnya berpakaian mini dianggap tidak sopan, mereka jelas tidak sopan karena kalau summer tidak mungkin pakai pakaian serba tertutup. Panas sekali. Tapi di sisi lain mereka sangat toleran, tidak mencampuri urusan orang lain kalau tidak diperlukan dan sangat menghormati hak orang lain, misalnya dalam hal antrian dll.

    Indonesia bekerja sebagai: IT profesional, pegawai pemerintah, dosen, pekerja di restoran, tukang bersih2 toko, jaga toko, asisten peneliti, bankers dll.

  3. kalo…. (seandainya saja lho), saya kan ada di indonesia, kepingin beli rumah di Aussie bagaimana caranya dan setelah punya rumah disana apa bisa saya mendapatkan PR

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s